Alive But Dead Inside

Alive But Dead Inside
Dark Path #5



Pertarungan antara Alzent dan Cyclops itu sudah berlangsung selama lebih dari tiga puluh menit. Namun, dapat terlihat dengan jelas siapa yang akan kalah tak lama lagi. Begitu banyak luka terdapat di tubuh Cyclops, tidak hanya luka dalam yang membiru di kulit karena tendangan atau pukulan kuat Alzent, juga luka sayatan yang tercipta oleh angin kencang dari tiap serangan laki-laki itu.


Si Cyclops mengayunkan palu dengan kuat dan liar, rasa takut mulai menguasai hatinya. Alzent dengan mudah menghindari tiap serangan tersebut sembari tersenyum senang, seakan menikmati apa yang sedang terjadi saat ini. Begitu ia mendarat di tanah, palu itu sudah berada di sebelah kirinya, tapi dengan mudah Alzent menahannya hanya menggunakan satu tangan hingga muncul retakan di palu, membuat si Cyclops tercengang.


Kedua mata Alzent mulai berubah warna seperti ketika kekuatan Hellheim dalam dirinya aktif. Aura oranye kemerahan mulai terbentuk diluar tubuh, memberikan Alzent kekuatan besar. Lantai tempat mereka berpijak mulai bergetar karenanya, mengirim rasa takut yang terasa seperti beribu semut menjalar naik dari kaki hingga ke leher Cyclops itu. Jantungnya berdegup kencang, seluruh tubuhnya mulai gemetar hebat. Meskipun ia tak dapat melihat, ia tahu dirinya telah melawan orang yang salah.


"Ada apa denganmu? Bukankah kau ingin menghabisiku? Dimana keberanian yang kau tunjukkan tadi?" Alzent berjalan mendekat. Tiap langkahnya menggetarkan lantai, mengeluarkan aura kuat dari sosok mengerikan "Ayolah, aku ingin melihat dengan cara apa kau akan menghabisiku. Aku benar-benar penasaran, mungkin kau bisa memberitahuku karena melihatmu meringkuk ketakutan seperti seorang anak kecil, membuatku tak tega untuk melukaimu lebih lanjut" Alzent berhenti tepat di depan Cyclops, menatapnya dengan tajam.


"Alzent awas!"


Sebelum ujung tombak itu berhasil menusuk tubuh Alzent, ia sudah melompat ke belakang, meraba gagang tombak dan melemparnya balik mengenai laki-laki yang tampak seperti dari Dark Soul. Tubuhnya langsung jatuh tak lagi bernyawa menerima serangan kuat dari tombak yang penuh akan energi hitam, sama seperti di Crossbow yang Alzent gunakan saat masih berada dalam pengaruh ilusi Zeon.


"Apa-apaan? Dia mampu menahan serangan tombak milik Erthas? Bahkan kapten saja mesti mengeluarkan kekuatan yang tak sedikit untuk melakukannya" sahut salah seorang dari mereka dengan wajah penuh keterkejutan sekaligus rasa takut akan sosok laki-laki di hadapan Cyclops.


Lima orang mengenakan pakaian sama seperti Dark Soul turun dari atas, mendarat dengan mulus di atas lantai dan memberikan Alzent tatapan tajam. Salah seorang dari mereka, seorang laki-laki bertampang garang dengan bekas luka cakar di wajah, maju beberapa langkah, menarik keluar pedang satu sisi besarnya dari belakang punggung dan dihantamkan kuat ke lantai dengan maksud menakuti Alzent "Mengapa orang luar sepertimu bisa berada di dunia kami?" tanyanya.


Alzent berbalik, kembali pada Cyclops di depan "Kapan kau akan menjawabku? Aku sudah menunggumu daritadi, jangan biarkan para cecunguk di belakang itu mengganggu urusan kita yang belum selesai" perintah Alzent, sengaja menekankan kata 'belum selesai' sambil melirik sedikit lima orang yang tampak tersinggung.


"Beraninya kau menghiraukan kami! Apa kau tahu kami siapa?!" sahut laki-laki itu.


Seketika Zeon muncul di depan Alzent, menggunakan lingkaran sihir ungunya untuk melindungi kelima orang tersebut sekaligus mendorong laki-laki tersebut beberapa meter ke belakang. Alzent menatapnya dengan penuh ketertarikan, sebuah senyuman terbentuk di wajahnya "Oh? Aku tidak menyangka ada yang mampu mendorongku hingga sejauh itu. Ini cukup menarik"


Zeon dengan cepat mengucapkan rapalan mantra sihir, menciptakan sebuah pembatas ruangan berwarna ungu transparan antara mereka dengan Alzent. Alzent menerjang maju, memukul pembatas itu namun dampak dari pukulannya justru berbalik pada dirinya sendiri "Hey Alzent, aku yakin kau masih belum bisa mengingat masa lalumu, bukan?" tanya Zeon sambil tersenyum lebar "Kalau kau mau mengetahuinya, kau harus bisa mengendalikan kekuatan di dalam dirimu itu, jangan biarkan kekuatan tersebut mengendalikanmu seperti yang terjadi sekarang"


Tiba-tiba pembatas itu maju ke depan, membungku diri Alzent dan menghempaskannya dengan kuat sesudah meledak. Alzent menghantam dinding hingga retak, ia berusaha bangkit berdiri dengan salah satu matanya kembali berubah seperti biasa, namun mata Hellheim di bagian kiri masih berkedip-kedip. Kepala Alzent terasa begitu pusing, seakan ingin pecah. Dadanya terasa sesak dan sakit.


"Aku akan membalasmu suatu saat nanti" ucap Alzent dengan suara Hellheimnya kemudian sosok tersebut menghilang. Tubuh Alzent terasa lemah, namun ia tetap memaksa untuk berdiri dan dilihatnya, Zeon telah menghilang, hanya tersisa lima orang Dark Soul dengan senyuman lebar di wajah mereka.


"Kini kau telah kehilangan kekuatanmu, akan kami berikan rasa dari kekuatan kami!"


Alzent berdecak kesal, ia benar-benar tak ingin bertarung sekarang. Tubuhnya terasa berat dan sulit untuk digerakkan, tetapi melihat lima orang itu sudah berlari maju, mau tidak mau Alzent harus menghadapi mereka semua dengan apa yang ia miliki saat ini, yaitu keinginannya untuk tak pernah menyerah.


Luna melihat dari atas, ia berusaha menerka apa yang sebenarnya Zeon coba lakukan pada Alzent dengan membuat ia melalui semua ini. Mungkinkah ia sedang mencoba untuk mengubah Alzent menjadi sosok yang lain? Ataukah ia punya tujuan yang jauh lebih besar dibanding itu?


Luna menghela napas panjang, menarik keluar sebuah pedang dari ruang hampa udara dan mulai merapalkan mantra hingga sebuah lingkaran sihir berwarna putih-keemasan turun mengelilinginya dari kepala hingga kaki, mengubah pakaian yang ia kenakan menjadi sebuah zirah putih indah yang tampak anggun di tubuhnya. Sebuah tiara emas muncul, mengelilingi kepala gadis itu dengan sebuah batu permata berwarna emas di tengahnya. Luna melompat turun, mengeluarkan aura yang tak hanya mendominasi namun juga keagungan.


Kelima orang itu langsung berbalik, menyiapkan senjata masing-masing. Sementara Alzent menatap Luna dengan penuh kebingungan. Ia tahu Luna memiliki kemampuan untuk menarik senjata atau apapun itu dari ruang hampa udara miliknya, tetapi ia tak pernah tahu jika Luna memiliki kemampuan seperti ini. Lalu Alzent mengingat perkataan Gerald mengenai Luna ketika mereka pertama kali bertemu. Namun, mengapa selama ini gadis itu menyembunyikan kekuatannya?