Alive But Dead Inside

Alive But Dead Inside
The Frozenland



Lucan dan Lightnar menelusuri jejak darah dari pedang darah milik Lucan yang kini terlihat mulai memudar. Mereka sudah mengikutinya selama dua jam lebih semenjak mereka pergi dari kerajaan, namun gua itu masih belum terlihat.


"Apa ini benar jalan yang kau telusuri? Tampaknya daritadi kita hanya memutar-mutar di tempat yang sama" kata Lightnar sembari memerhatikan pepohonan di samping kiri-kanan.


"Tentu saja, jejak darahku takkan pernah salah mengikuti buruannya, kecuali jika buruannya itu berjalan memutar di tempat beberapa kali" jawab Lucan.


Raut wajah Lightnar berubah, seperti mengatakan 'kau baru saja bilang hal sepenting itu sekarang?'. Lightnar menghela napas, lalu memunculkan sayapnya dan terbang ke atas dengan kecepatan tinggi. Ia memerhatikan sekeliling, mencari sesuatu yang berbentuk seperti gua.


"Apa kau masih belum menemukannya?" tanya Lucan "Sudah kubilang! Hanya jejak darahku yang bisa!" sahutnya keras agar dapat didengar oleh orang yang tampak seperti menghiraukan Lucan.


Lightnar bukannya tidak mendengar sahutan itu, namun ia menemukan sesuatu yang mirip seperti sebuah gua di kejauhan. Ia dengan cepat melaju ke sana, meninggalkan Lucan sendiri di bawah yang terpaksa menggunakan pedang darahnya untuk ikut terbang mengikuti naga itu.


Saat mereka mencapai mulut gua, Lightnar dapat merasakan hawa dingin kuat dari dalamnya. Ia memeriksa sekitar, mencari jika seseorang memasang sebuah jebakan, sihir atau semacamnya. Lucan melangkah masuk sambil mengatakan "Tak perlu takut, aku sudah masuk tanpa terlibat sebuah masalah. Aku hanya bingung kenapa terdapat begitu banyak bebatuan besar diluar gua, seakan sesuatu sudah menghancurkannya lebih dulu"


"Justru karena itu aku mencari-cari apakah ada jebakan atau tidak. Bagaimana kalau sosok yang berhasil menemukan gua ini kemudian memasang sebuah sihir berbahaya? Kita tidak pernah tahu hal itu bukan?" jelas Lightnar seperti orang tua yang kelewat khawatir.


"Sudah kubilang, tenang saja. Aku juga ingin menunjukkan sesuatu padamu, jadi cepatlah masuk" sahut Lucan yang ternyata sudah tak lagi terlihat dari luar, sebab bagian dalam gua itu terlalu gelap.


Lightnar menggunakan penglihatan naganya, mulai menyusul Vampire muda yang tampak tak takut sama sekali. Semakin jauh mereka berjalan ke dalam, liontin milik Lucan menjadi semakin bersinar terang. Lightnar tak lagi menggunakan penglihatan naganya karena penerangan dari liontin tersebut. Lalu, sesuatu mengejutkan dirinya.


Mereka menemukan begitu banyak Lifestone yang masih memiliki kekuatan sihir besar. Tumpukan Lifestone itu mengisi kedua sisi gua, mulai dari tempat mereka berada, hingga mencapai sebuah gerbang besar berwarna putih. Lightnar melihat sebuah kolam yang cukup besar untuk tiga Syren berenang bebas, lalu merasakan air tersebut.


"Jadi ini alasan para Syren datang menyerang. Mereka telah lebih dulu menemukan gua ini sebelum kita" Lightnar berpikir sejenak, melihat ke arah datangnya mereka yang tampak redup karena kurangnya cahaya "Aku dapat berasumsi, sebelumnya bebatuan di luar gua tadi adalah bebatuan yang menutup rapat gua ini, itulah mengapa kita tak bisa menemukannya, bahkan aku tak dapat merasakan sihir kuat dari dalam sini, sementara tumpukan Lifestone sebanyak ini akan membuat daratan Risenland kaya akan mana"


"Berarti seseorang dengan sengaja menutupnya, lalu membukanya" pikir Lucan "Tapi apakah mereka orang yang sama?"


Lightnar menggeleng pelan "Aku tidak bisa memberi jawaban. Jejak sihir di gua ini telah menghilang. Aku hanya dapat melihat bekas mana Syren ketika menemukan tempat ini, namun tidak dengan orang yang menutup maupun membuka gua"


Lightnar menghela napas berat "Karena itulah kita harus selalu mengecek sesuatu sebelum memegang, menyentuh atau memasukinya. Dunia Frozenland jauh lebih dingin dibanding daratan milik para Harpy. Sekali kau menginjakkan kaki, tubuhmu akan langsung membeku dalam tiga detik. Kau membutuhkan sihir khusus untuk masuk ke dalamnya dan untungnya, aku punya sihir tersebut"


"Biar kutebak, sihir terlarang"


"Ya" jawab Lightnar kesal, lalu mulai merapalkan mantra. Dua buah lingkaran sihir muncul di atas kepala dua orang itu, lalu turun ke bawah menyelimuti mereka dengan cahaya keemasan, lalu cahaya itu meredup, meninggalkan kulit mereka berdua yang tampak mengeluarkan aura emas redup.


Lucan lalu menyentuh pilar dengan perlahan dan tangannya masih aman "Dengan begini kita bisa masuk ke dalam" sahutnya penuh semangat, tak memedulikan peringatan Lightnar, melewati gerbang itu, tiba di sebuah dunia yang baru, langsung gemetaran "Brrr... dunia ini terlalu dingin"


"Apa yang kau lakukan? Sudah kubilang untuk bersabar" Lightnar mengacak-acak rambutnya, menatap langit yang tertutupi oleh awan kelabu "Kita dalam masalah besar sekarang"


Terdengar suara raungan keras dari langit tersebut. Dibalik kumpulan awan kelabu, dapat terlihat bayangan besar seekor naga. Kedua mata Lucan melebar saat melihat wujud naga itu keluar dari balik kumpulan awan "Jangan bilang.. dia seekor Alpha"


"Seandainya aku bisa bilang tidak"


Alpha dengan kulit berwarna putih bergaris-garis biru itu mendarat keras di hadapan mereka. Kedua sayap besarnya sama seperti sayap milik Lightnar, namun beberapa bagian terbuat dari es di barisan bawah sayap tersebut. Dua tanduk miliknya juga terbuat dari bongkahan es besar, seperti dipahat dengan sempurna. Napas miliknya mengeluarkan embus es dan terasa benar-benar dingin.


"Apa yang kau lakukan di wilayahku, Lightnar!" sahutnya marah.


"Eh? Dia betina?" tanya Lucan begitu mendengar suaranya.


"Astaga.." keluh Lightnar pasrah, ia seharusnya tahu membawa Lucan ke dunia ini adalah sebuah kesalahan.


Tatapan Alpha itu berubah tajam, ia menatap Lucan, menyahut "Aku perempuannnn!!"