
Merpati di samping Zeon mulai bercahaya terang. Merpati itu kemudian berubah menjadi sosok seorang Immortal dengan sebuah topeng. Immortal yang sama di dunia Frozenland. Immortal tersebut melayang pelan ke arah Alzent yang juga sedang menatapnya sembari tersenyum. Zeon tak dapat menahan senyuman, melihat dua orang itu pada akhirnya akan saling bertarung.
"Alzent, sebelum kita bertarung, aku akan memperkenalkan diri, sebagai Lestra, seorang Immortal yang menguasai kerajaan Luminar di belahan daratan selatan" ucapnya, mendarat pelan di hadapan Alzent, mengeluarkan aura yang hampir sama kuatnya.
Alzent melipat lengan "Karena kau seorang Immortal, aku berharap kau dapat bermain denganku jauh lebih lama dibanding orang-orang sebelumnya"
"Sesuai permintaanmu"
Mereka berdua saling menatap, menunggu saat yang tepat. Keduanya memiliki kekuatan yang hampir sama besar, namun Lestra tahu ia tak bisa bermain-main menghadapi laki-laki ini. Ia tak ingin kembali dalam keadaan penuh luka karena mahluk Mortal. Bisa-bisa ia menjadi bahan tertawaan bagi semua orang di dunianya. Tanpa merapalkan sihir, Lestra memunculkan dua lingkaran sihir berwarna hijau, menarik keluar sebuah pedang pendek dari dalamnya. Alzent menjulurkan tangan kanan ke samping, membentuk sebuah pedang putih bersemu merah dari energi yang ada di sekitar.
Awan badai mulai terbentuk di atas langit kerajaan, petir berwarna merah mulai menyambar disertai guntur menggelegar. Angin berhembus kencang, membawa hawa dingin menusuk seperti nyeri dari sebuah jarum. Raja Erslaz dan kapten Leo sudah kembali sadar, namun tak ingin mengganggu pertarungan yang melibatkan seorang Immortal tak dikenal. Sang raja mungkin dapat mengatasi seorang Immortal kelas bawah, tetapi melihat dari kekuatan yang terpancar dari Immortal itu, ia adalah seorang Immortal kelas atas yang kemungkinan besar adalah seorang raja.
Saat sebuah daun berwarna putih melayang jatuh di tengah-tengah mereka, keduanya maju menerjang, saling bertukar serangan dengan cepat. Dampak akibat serangan tersebut membuat akademi menjadi hancur berantakan dan hanya berupa puing-puing bangunan. Mereka tidak menahan diri untuk lanjut bertarung di area di luar akademi hingga mulai merusak seperempat dari kerajaan dengan kawah besar dan retakan dalam di atas tanah. Tak sedikit juga penduduk sekitar mati akibat serangan nyasar, namun siapa yang bisa menghentikan dua mahluk berkekuatan besar seperti mereka? Tentu tak ada yang berani.
Alzent menangkis ayunan pedang Lestra yang ganas menggunakan dua pedang, seperti melihat bendera yang sedang berkobar-kobar tertiup angin kencang, sulit diterka polanya. Kapten Leo melihat ini sebagai sebuah kesempatan, lalu mengarahkan empat lingkaran di belakangnya, ke depan, merapalkan sebuah mantra. Keempat lingkaran sihir itu berputar kencang kemudian menembakkan sebuah sinar panas yang Alzent tahan menggunakan lingkaran sihirnya, namun karena itu juga, Lestra berhasil menemukan celah untuk melancarkan sebuah serangan dan memberikan sebuah tendangan keras di dada Alzent. Ia terhempas kuat ke tanah, terguling-guling hingga menghancurkan beberapa dinding bangunan, lalu terseret di sebuah tanah lapang yang tampaknya adalah taman kerajaan.
Lestra berbalik ke arah Leo, mengangguk pelan sebagai ucapan terima kasih dan melesat cepat menuju tempat Alzent berada. Berkat itu, Sang raja pun tahu bahwa Immortal tersebut berada di pihak mereka, setidaknya untuk sekarang. Ia memerintahkan Leo untuk segera ikut dengannya menyusul Lestra, mereka akan membantu Immortal itu, lalu menyegel kembali kekuatannya.
Alzent bangkit berdiri, membersihkan kotoran yang menempel di pakaian, merogoh kembali pedangnya, lalu berpindah tempat ke depan Lestra yang baru saja mendarat. Sebuah tinju keras mengenai perutnya hingga ia terlempar tinggi ke atas, Alzent berteleportasi ke belakang laki-laki itu, menendangnya kembali ke bawah dan menciptakan kawah besar akibat gelombang energi besar dari tubuh Lestra ketika menghantam tanah. Ia menjentikkan jari, memunculkan ratusan lingkaran sihir berwarna merah terang. Masing-masing lingkaran sihir tersebut berputar cepat, menembakkan sinar panas yang sama tetapi dengan kekuatan yang jauh lebih besar. Semuanya mengarah tepat ke arah Lestra. Ia baru saja membuka mata dan sudah menemukan begitu banyak sinar panas melesat ke arahnya.
"Tunggu aba-abaku dan lepaskan sihirmu itu, percayalah padaku" ucap Lestra.
Sang raja dan kapten Leo mengangguk mantap. Mereka mengerahkan segalanya, berhasil mendorong mundur sinar panas tersebut. Ketika Alzent akan menambahkan lebih banyak energi untuk membuat sinarnya makin besar, Lestra menyahut "Sekarang!". Raja Arslaz melepas sihirnya itu, menyaksikan sinar panas sedikit lagi mengenai tubuhnya hingga sebuah lingkaran sihir hijau melindungi mereka. Saat itu juga, Lestra melemparkan salah satu pedang ke arah Alzent yang ia hindari dengan mudah, namun yang Alzent tak tahu adalah Lestra dapat menarik kembali pedang itu menggunakan energinya.
"Tamatlah riwayatmu!" sahutnya keras, bersamaan dengan pedang miliknya yang tampak menembus masuk tubuh Alzent dari belakang. Sang raja dan kapten Leo baru saja akan tersenyum bangga, begitu pula Lestra, namun ketika melihat pedang tersebut ternyata terus berputar dan kembali ke tangan Lestra, mimpi buruk terlihat di depan mata. Tubuh yang mereka lawan semenjak awal bukanlah tubuh asli milik Alzent, melainkan sebuah belahan diri dengan kekuatan yang bahkan tak sampai setengah dari kekuatan sebenarnya.
"Kalian mencariku?" tanya sebuah suara di belakang.
Mereka berbalik, menemukan sosok Alzent yang sedang melipat lengan sambil tersenyum. Ia hanya menjulurkan tangan kanan ke depan, membuka telapak tangan dan mengeluarkan energi kecil yang sudah berhasil menghempaskan mereka jauh ke belakang. Ketiga orang itu mencoba untuk bangkit berdiri kembali, kepala mereka terasa pening dengan pandangan kabur. Saat pandangan mereka perlahan membaik, mereka dapat menyaksikan sosok seorang laki-laki, berjalan tegap dengan penuh percaya diri, berlatar belakang kehancuran yang dipenuhi api, asap hitam, puing-puing bangunan, badai dan kematian.
Tatapan Alzent kini mulai menyala terang dibalik siluet gelap dirinya. Angin kembali berhembus kencang disertai suara gemuruh dari petir yang menyambar tepat di kiri dan kanan laki-laki tersebut. Seumur ketiganya hidup, mereka belum pernah melihat sosok orang, Mortal maupun Immortal yang begitu mencerminkan bencana seperti dirinya. Mungkin, inilah salah satu alasan bangsa Hellraiser dihapuskan dari dunia. Bahkan Lestra yang adalah seorang Immortal kelas atas, kini mulai dipenuhi rasa takut saat menatap sepasang mata yang seakan melihat langsung ke dalam jiwa dan menghancurkannya secara perlahan.
Dari kejauhan, Gerald serta yang lain dapat melihat sosok Alzent yang sudah dalam wujud Hellraiser sepenuhnya. Mereka harus mencari dimana Luna berada untuk menghentikan Alzent sebelum ia menghancurkan dunia ini hingga tak bersisa. Tetapi, langkah mereka juga dihadang oleh anggota pasukan elite milik kapten Leo serta seseorang yang seharusnya mereka tahu adalah dalang dibalik semua ini.
"Apa kalian merindukanku?" tanya Zeon dengan sebuah senyuman.