Alive But Dead Inside

Alive But Dead Inside
White Rose



Beberapa hari selanjutnya, di malam hari, dibentuk team khusus untuk mengintai perkemahan dari bangsa Orc, yang ditemukan oleh para mata-mata, tak jauh dari Risenland. Mereka telah memindahkan persembunyian mereka dari bukit di belakang istana, ke sebuah daratan yang lebih rendah, di gerbang selatan kerajaan. Perkemahan mereka tersembunyi cukup baik dibalik pepohonan serta semak-semak tebal, namun salah satu dari mereka cukup bodoh untuk meninggalkan jejak dari kaki berukuran besar itu, mengarah tepat ke perkemahan.


"Kita harus mengintainya sekarang juga, sebelum bangsa Orc membuat pergerakan" perintah Alzent, jiwa kepemimpinannya telah kembali "Lightnar, dapatkah kau menggunakan sayapmu dalam wujud manusia?" tanya Alzent. Sekarang mereka berada di dalam ruang rapat istana yang besar dan mampu menampung hingga 100 orang, juga tentu saja, megah dalam cara Elf.


"Tentu saja" jawabnya.


"Kau, ikut denganku mengintai perkemahan tersebut. Yang lainnya, segera latih para pasukan untuk mempersiapkan diri menghadapi perang. Lightnar, kita berkumpul di halaman belakang istana, kebetulan kabut lumayan tebal hari ini, mereka akan sulit melihat kita terbang dari sana. Aku minta kehadiranmu dalam 2 jam lagi, bubar"


Lucan datang mendekat pada Alzent "Hey hey, tak kusangka kau bisa berperan sebagai seorang pemimpin kembali" pujinya sesudah meninju pelan bahu Alzent "Aku ada rencana bersama Reyla" Lucan menunjuk si gadis Elf yang sementara menunggunya di depan pintu.


"Pergilah, sudah menjadi impianmu selama ini bukan? Untuk mengencani seorang gadis dari bangsa Elf. Aku benar-benar tak mengira impian konyolmu itu berhasil" balas Alzent sambil tertawa, lalu mendorong sahabatnya ke arah pintu "Sudah pergi sana, jangan membuantya menunggu"


Alzent melangkah keluar ruangan, menuju ruang musik istana yang sebenarnya sudah lama ingin ia kunjungi, namun selalu terhalang oleh masalah maupun tugas. Kini, selagi ia memiliki waktu bebas, Alzent berencana memainkan sebuah piano yang terdapat di dalam. Entah bagaimana bangsa Elf bisa mengetahui alat musik tersebut, Alzent hanya ingin menyentuh dan memainkan lagu indah. Ia sudah sangat tidak sabar mendengar lantunan melodi lembut dari alat musik favoritnya itu.


Ia membuka dua pintu besar serta berat ruangan tersebut, terpukau dengan bagian dalamnya yang tampak berbeda dari ruangan lainnya. Di ruangan ini, atmosfer terasa seperti sebuah mimpi, mimpi yang akan menciptakan sebuah gambaran dari alat musik yang dimainkan. Dindingnya berwarna putih, lantainya berwarna biru navy berhiaskan kaca transparan. Sebuah kolam besar terdapat di bawah ruangan ini, sehingga ketika sinar rembulan masuk sela-sela atap seperti sebuah jalinan benang dengan lubang-lubang kecil, sinar tersebut akan memantulkan permukaan dari air ke atas.


Alzent duduk di atas bangku yang tercipta dari beberapa akar pohon berbeda ukuran yang saling menyatu. Bangku tersebut terasa nyaman meskipun tanpa menggunakan sebuah bantal. Alzent meraba piano dari kayu jati kehitaman itu, merasakan halusnya piano ini, lalu mulai menemukan satu not nada.


Ia tak menyangka, dari dalam piano tersebut, sebuah cahaya keluar, mengalir melalui akar pohon, masuk ke dalam kolam di bawah yang langsung sedikit bergetar, membuat permukaan air bergejolak, menciptakan pantulan indah di dinding. Begitu memainkan sebuah nada simple, Alzent benar-benar terpukau melihat langit-langit ruangan perlahan terbuka, membiarkan makin banyak sinar mentari masuk, menyinari kolam di bawah, namun tak terbuka beberapa meter dari dinding, sehingga pantulan sinar masih dapat terlihat jelas di dinding tersebut.


Tanpa menunggu lagi, Alzent memainkan sebuah lagu, lagu yang sama dengan yang dimainkannya di sekolah serta disenandungnya. Setiap bunga dalam ruangan musik bercahaya terang, cahaya-cahaya terus mengalir melalui akar dalam piano masuk ke bawah kolam dan langit-langit ruangan kini terbuka seperti sebuah bunga yang mekar, dimana cahaya dari serbuk-serbuk bunga melayang keluar, perlahan menghiasi langit istana, menuju seluruh bagian kerajaan Risenland.


Setiap orang dapat mendengar lantunan melodi indah tersebut, melodi yang menyimpan begitu banyak perasaan. Namun, sebuah perasaan yang jauh lebih kuat dapat dirasakan dalam hati, yaitu cinta. Tak lama, perhatian setiap orang mengarah pada ruang musik istana, mereka menyaksikan gemerlap cahaya-cahaya tersebut menghias langit. Bahkan bangsa Orc yang melihatnya, harus mengakui musik tersebut terdengar begitu indah. Mereka menyayangkan jika bangsa Elven harus mati di tangan mereka.


"Siapa yang memainkan lagu ini?" tanya Reyla penasaran. Saat ini mereka berada di sebuah restoran termewah kerajaan, duduk berhadapan dalam ruangan berpencahayaan redup dengan sebuah lilin di tengah meja.


Lucan tersenyum tanpa mengalihkan pandangannya dari ruang musik istana "Itu Alzent. Hanya dia seseorang yang kukenal, mampu memainkan sebuah melodi yang dapat membuatmu terpana dan ikut merasakan apa yang dirasakan olehnya"


Pertanyaan yang sama dikatakan oleh ratu Urvi pada Veron, di taman istana "Oh, itu Alzent. Melodinya memang sangat indah sekaligus mengandung kesedihan mendalam di hatinya"


"Aku harap Luna dapat membantu Alzent" balas ratu Urvi.


Lightnar yang sementara ini berada tidur di pangkuan Merith, di sebuah bangku taman istana, sedikit jauh dari pasangan tersebut, menutup mata, mendengarkan lantunan nada tersebut, ikut merasakan kepedihan yang telah lama ditahan oleh Alzent.


"Mengapa kau menutup mata? Kerlap-kerlip cahaya yang keluar dari dalam ruang musik lebih indah dilihat bersamaan dengan mendengarkan lagunya" menurut Merith.


"Jika kau menutup matamu dan memasukkan lagu tersebut dalam hati, aku yakin kau akan menemukan sesuatu yang jauh lebih indah dibanding penglihatan mata. Lihatlah menggunakan hatimu, kau akan merasakan hal yang sama denganku" jelas Lightnar sekaligus merayu, ia sudah siap untuk menganggap gadis di masa lalunya menjadi sebuah kenangan, kini saatnya menghadapi masa depan.


Merith melakukannya, lalu setetes air mata jatuh mengenai wajah Lightnar, mengejutkan laki-laki itu. Lightnar tersenyum ketika Merith mengatakan "Seperti sekuntum mawar"


Benar, lagu yang dimainkan oleh Alzent seperti sekuntum mawar putih, indah untuk dilihat, menyakitkan untuk digenggam. Bahagia rasanya membayangkan masa lalu untuk diingat, namun menyakitkan untuk dipendam.


Begitu Alzent selesai bermain dan tersenyum ke arahnya, Luna merasakan ada yang aneh dalam hatinya, sebuah perasaan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Ia ingin berada di sisi Alzent, ingin menjadi sandaran untuknya, ingin menemani dirinya, ingin terus bersama menghabiskan waktu berdua. Ia meraba dadanya, menatap Alzent, berharap untuk dapat memastikan, apakah ia dapat menjadi seseorang yang berharga dalam hatinya.