
Veron dan Lucan dipentalkan oleh lingkaran sihir hitam tersebut. Sebuah petir merah kembali menyambar mereka, lalu laki-laki itu berbalik pada Alzent yang masih meronta-ronta untuk melepaskan diri "Kau ini benar-benar tidak mau menyerah yah?" Senyumannya makin melebar "Aku suka itu, aku bisa menyiksamu sepuasnya!" petir yang semenjak tadi mengalir di tiap bagian tubuhnya, kini ia gunakan untuk menyetrum Alzent tanpa berhenti, membuat cahaya kemerahan terang yang cukup terang hingga mampu menerangi medan perang. Suara dari listrik yang menyetrum tersebut juga dapat terdengar jelas bahkan dari kejauhan, membuat tiap orang yang melihat, berharap Alzent baik-baik saja, meskipun itu tampaknya tidak mungkin. Namun mereka juga tidak dapat membantu, sebab memiliki masalah masing-masing.
Laki-laki tersebut kemudian melempar Alzent ke tempat Veron serta Lucan berbaring lemah. Ia melangkah mendekati mereka bertiga, berlutut di hadapan mereka "Apakah kalian masih ingin melanjutkan ini.. atau aku habisi kalian tanpa ada rasa sakit?" tawarnya "Aku sarankan kalian memilih pilihan kedua, meskipun aku sendiri lebih suka menyiksa kalian lebih dahulu, sayangnya aku sudah harus kembali" katanya santai, berlagak seperti teman dekat.
Lucan tiba-tiba bangkit, bertekuk lutut, menyatukan kedua telapak tangannya yang terarah pada laki-laki itu. Seketika setiap darah di medan perang, membentuk sebuah tombak, mengurung serta menusuk tubuhnya, kemudian Veron bertekuk lutut, menekan kedua telapak tangan di tanah, membuat sebuah ombak raksasa mengguyur laki-laki itu dan mengurungnya di dalam sebuah bola air besar berisi ombak kuat yang mampu menghancurkan tubuh Arkbyss. Alzent memunculkan dua pedang, berwarna putih dengan aura keemasan, lalu berwarna hitam dengan aura hitam pekat. Zirah di tubuhnya ikut berubah sesuai warna kedua pedang itu, begitu pula kedua matanya.
Alzent melempar pedang hitam di tangan kirinya ke belakang bola air tersebut, membentuk begitu banyak lingkaran sihir di sisi pedang itu, lalu melempar pedang putihnya ke bagian depan. Pedang itu melayang disana, bersinar terang memunculkan lingkaran sihir dengan jumlah yang sama. Alzent kemudian terbang tinggi ke atas bola air yang masih mengurung laki-laki itu. Alzent membuka telapak tangan kanannya di atas bola air, menerbangkan beberapa butir cahaya ke langit, membentuk sebuah lingkaran besar, campuran dari cahaya serta kegelapan, mengeluarkan sebuah pedang raksasa setengah putih, setengah hitam, menusuk masuk bola air milik Veron, bersamaan dengan begitu banyak pedang yang keluar dan melesat cepat dari tiap lingkaran sihir.
Lucan menutup telapak tangannya dengan kuat, mengubah setiap tombak di dalam sana menjadi duri-duri tajam berukuran besar. Veron memakai kekuatan pinjaman dari Alzent saat ia menyentuh pundak sahabatnya itu, sebelumnya, memberikan daya gravitasi besar di dalam bola air yang kini tampak mengganas, menciptakan sebuah badai mini namun menakutkan.
Begitu semuanya tenang, setiap serangan mereka menghilang, laki-laki itu tak tampak lagi wujudnya "Uhh, hampir saja aku terluka dalam serangan itu"
Ketiga Vampire muda berbalik, menemukan laki-laki tersebut masih hidup dan tampak tak terluka sama sekali. Ia bahkan masih memasang senyuman yang sama, kemudian menyarungkan katana "Sayang sekali, kalian gagal" cibirnya "Kekuatan yang lumayan besar jika dilihat dari seberapa banyak energi serta mana yang kalian habiskan untuk menggunakan kekuatan tersebut. Apa kalian lupa?" ia muncul di hadapan tiga orang itu "Tak semudah itu" melampiaskan sebuah energi gelap yang besar hanya untuk mereka bertiga, membuat tiga orang itu terpental mundur jauh, lalu terbanting dan terseret, menghantam kuat beberapa pohon.
"Misiku disini sudah selesai, waktunya kembali"
"Siapa yang bilang kau bisa kembali?" tanya Gerald, menghalangi jalan laki-laki tersebut.
"Wah wah, lihat siapa ini, The Watcher. Aku tak menyangka, kehadiran kami bahkan sampai mengundang The Watcher, aku benar-benar menghargai itu" balasnya.
Ia mengambil kembali katananya, memasang posisi bertarung "Karena aku tahulah, aku berani menghadapimu" jawabnya.
Gerald membalas dengan sebuah seringai kecil. Tanpa menunda lagi, Gerald maju menghadapi Arkbyss itu dengan kosong. Tinjunya bertemu dengan katana tajam itu, namun tinju Gerald yang telah dilindungi oleh sebuah aura putih, membuat tinjunya sekuat baja zirah para Watcher, lebih kuat dibanding besi hitam Arkbyss yang jauh lebih kuat lagi dari baja biasa.
Tinju tersebut berhasil memukul mundur Arkbyss, suara hantaman keras dari tinjunya menanamkan rasa takut pada orang yang mendengarnya, seakan tinju tersebut bukanlah milik mahluk biasa. Pada dasarnya The Watcher memang bukan mahluk biasa, namun mereka masih lebih lemah daripada dewa, tetapi tinjuan milik Gerald sudah sekuat tinju dewa itu sendiri.
Ada satu hal yang membuat Arkbyss tersebut tak gentar menghadapi tiap tinju milik kakek tua di hadapannya. Ia sudah pernah merasakan sebuah tinju yang begitu kuat, lebih kuat dibanding Zeon, tinju yang hampir membuatnya mati hanya dalam sekali serang tanpa menggunakan kekuatan sama sekali. Raja dari para Arkbyss, Arslaz. Mahluk paling menakutkan yang bahkan tak berani disentuh oleh para dewa, mahluk dengan kekuatan mengerikan, Sang pembawa malapetaka.
"Memang benar.. seorang Watcher itu kuat" ucap laki-laki itu. Napasnya mulai tak beraturan. Sesekali ia melirik ke belahan langit yang masih terpampang jelas di belakangnya.
"Oh, tentu saja. Kau pikir The Watcher dipilih karena apa? Sudah pasti karena mereka adalah salah satu mahluk terkuat di alam semesta" balas Gerald, memberikan serangan bertubi-tubi, mengetahui Arkbyss itu sedang mencari cara untuk kabur.
Laki-laki tersebut berdecak kesal, ia melompat jauh setelah melemparkan sebuah pisau dipenuhi aura kegelapan pada Alzent yang masih belum sadar dari pertarungan sebelumnya. Mau tidak mau, Gerald berteleportasi ke depan Alzent, menangkap pisau yang terasa akan menguasai jiwanya itu, lalu menghancurkannya dengan tangan kosong. Ia melihat laki-laki tadi sudah berlari masuk dalam belahan langit bersama para pasukannya.
Tak lama, belahan langit tersebut tertutup rapat, mengembalikan langit seperti semula, seakan tak pernah terjadi sesuatu. Para pasukan terduduk lemas, menarik napas dalam-dalam. Setiap orang merasa begitu lelah dengan begitu banyak peperangan yang terjadi, tak hanya lelah fisik, tapi juga lelah mental. Jika mereka harus menghadapi perang sekali lagi, mungkin mereka lebih memilih untuk menyerah dan bertahan di dinding kerajaan.
Gerald mengangkat tiga orang Vampire itu, Veron serta Lucan di masing-masing tangan, diangkat seperti sebuah karung ringan yang diimpit dengan ketiak, lalu Alzent di bahu kanan Gerald. Ia membawa mereka kembali ke dalam kerajaan bersama para pasukan lain, teman serta pasangan mereka yang tampak begitu khawatir melihat luka yang diterima ketiga orang tersebut, terutama Luna dengan kedua mata bengkak akibat air mata yang terus mengalir, melihat Alzent disiksa terus-menerus oleh Arkbyss.