
Alzent dan Luna memasuki sebuah gedung besar. Disana mereka dapat melihat begitu banyak murid akademi dalam balutan seragam hitam bergaris emas. Seragam mereka mirip sepertiĀ seragam pasukan Nazi, namun dengan sedikit campuran seragam pasukan Prancis era peperangan Napoleon. Mereka tampak bingung dengan kehadiran dua orang yang tampak asing di akademi, namun bagi murid tahun ke-3, mereka merasa familiar saat melihat wajah milik Alzent.
Tak sedikit juga murid perempuan yang terpaku pada sosok laki-laki itu. Mereka sampai lupa apa yang sedang mereka lakukan karena terbius akan ketampanannya, lalu murid laki-laki juga terpesona dengan kecantikan Yuna serta Luna. Tetapi, di mata mereka, sosok Luna lebih bercahaya sebab mereka sudah terlalu sering melihat Yuna berada di sekitar akademi dan jarang ditemukan sosok gadis seperti Luna dengan balutan pakaian berbeda.
Namun, semua itu berakhir begitu seorang murid laki-laki menunjuk Alzent, meneriakkan namanya, lalu mendatangi mereka bertiga. Murid itu memiliki tubuh yang besar dan tampak kekar. Ia juga memiliki mata yang melambangkan semangat. Ia memperkenalkan dirinya sebagai Aren, seorang murid tahun ke-3 dalam akademi yang tak lama lagi lulus "Aku sudah lama mendengar tentangmu, kak Alzent! Seorang murid akademi dengan nilai tertinggi yang pernah tercatat dalam sejarah, juga memiliki kekuatan yang begitu besar dan menakutkan hingga Yang Mulia sendiri harus turun tangan untuk merekrut anda! Anda adalah panutan hidupku hingga aku berhasil mencapai tahun ke-3 dengan nilai yang sangat baik" jelasnya penuh semangat dengan mata berbinar-binar.
Alzent tak tahu ia harus bereaksi seperti apa, sebab dirinya sama sekali tak mengingat apapun yang pernah terjadi dalam dunia ini. Namun, ia juga tak ingin mengecewakan seseorang yang telah menjadikannya sebagai panutan hidup, terlebih menatap sepasang mata itu, Alzent tampak teringat dengan Lucan yang selalu berapi-api ketika akan mengunjungi dunia yang baru.
Untungnya Yuna mengambil alih situasi, mengatakan bahwa Alzent memiliki sesuatu yang sangat penting untuk ia kerjakan. Aren tampaknya memahami hal itu, wajahnya berubah serius, ia menganggukkan kepala sekali dan mengucapkan selamat tinggal serta permintaan maaf karena sudah mengganggu.
Sebelum Alzent memanggil kembali laki-laki itu, Yuna mengatakan "Jangan khawatir, setiap murid di akademi sudah tahu peraturan mengenai para alumni yang akan datang mengunjungi akademi. Mereka tidak akan datang mengganggu kecuali alumni itu sendiri memanggil dan ingin berkenalan dengan mereka. Kebetulan kau bertemu dengan salah satu fans mu, kemungkinan besar ketika kita memasuki ruangan berikutnya, kau akan bertemu lebih banyak dari mereka dan sudah menjadi tugasku untuk membuat perjalananmu kali ini berjalan lancar, jadi serahkan saja padaku, oke?" Yuna mengedipkan mata sekali, kembali melangkah menuju sebuah pintu besar di ujung ruangan.
Luna meraba dadanya yang mulai terasa sesak semenjak melihat Alzent dan Yuna bersama. Ia sangat ingin menarik lengan laki-laki nya untuk menjauh, namun ia juga tahu inilah pertama kalinya Alzent serta Luna memiliki waktu banyak untuk saling berbicara tanpa harus mengingat masa lalu, seperti yang sudah dikatakan oleh Yuna. Namun, entah mengapa hatinya terasa sakit hanya dengan melihat mereka jalan berdampingan sembari membicarakan sesuatu yang tak begitu penting, seperti melihat sebuah lukisan indah, menceritakan beribu kisah yang tak dapat tergapai..
Begitu mereka sampai di ruangan yang dimaksudkan oleh Yuna, setiap murid yang sedang menikmati santapan makan siang mereka seketika berhenti begitu merasakan hawa kehadiran seseorang. Mereka berbalik, menatap Alzent di depan pintu, mencoba menerka-nerka dimanakah mereka pernah melihatnya. Mereka bertiga berjalan santai, melewati tiap meja menuju sebuah pintu yang terletak di seberang ruangan, lalu seorang murid laki-laki melemparkan sebuah pisau tepat ke belakang Luna yang sebelum mengenai gadis itu, telah ditangkap oleh Alzent menggunakan tangan kosong. Ia menatap tajam sosok yang kini sedang tersenyum sombong sambil melipat lengannya "Kau butuh sesuatu?" tanya Alzent dingin.
Laki-laki berambut merah seperti api itu, mengangkat bahu seakan tak ada apa-apa, lalu menunjuk Alzent "Seorang murid yang dulunya pernah menjadi kebanggaan akademi, kini berpihak pada musuh dan berani menginjakkan kaki di tempat ini lagi?" Ia menggelengkan kepala, mendengus geli "Apa kau tak tahu malu, Alzent?"
Yuna melangkah ke depan Luna, mengeluarkan aura besar hingga membuat tiap murid dalam ruangan itu merasa pusing, kecuali laki-laki berambut merah yang masih tampak biasa saja, lalu mengeluarkan aura yang sama kuatnya, namun ia juga melindungi murid-murid lain sehingga mereka dapat bernapas normal kembali "Apa yang kau inginkan, Feurig?"
"Oh? Mengapa kau melindungi mantan pacarmu itu, Yuna? Apa kau tidak melihat dia telah memiliki seseorang yang baru? Alzent bahkan tampak begitu marah tadi" sahutnya keras, tertawa terbahak-bahak. Begitu selesai, ia menarik napas, membuangnya, kemudian memunculkan api di masing-masing telapak tangan, api yang berwarna merah, seperti api biasa "Mungkin aku harus menyadarkanmu terlebih dahulu"
Sebelum api-api itu mengenai Yuna, Alzent menciptakan sebuah lingkaran sihir besar berwarna oranye-kemerahan. Feurig dapat merasakan adanya tekanan kuat dari dalam perisai tersebut yang sengaja diarahkan padanya. Ia tak tahu kekuatan apa itu, tetapi darahnya terasa panas, ia ingin melihat sudah sejauh apakah kemampuan Alzent. Sedangkan, Alzent tak merasakan apa-apa dengan kedatangan pengganggu ini, namun tampaknya pertarungan sudah tak dapat terhindari melihat tatapannya yang membara "Mungkin aku yang harus menyadarkanmu, dimana posisimu sekarang berada"
Yuna menggenggam tangan Alzent yang sudah mulai mengumpulkan energi Hellraiser tanpa ia sadari, lalu mengucapkan "Serahkan yang ini padaku, kau memiliki sesuatu yang jauh lebih besar untuk diselesaikan. Jangan biarkan masalah sepele menghentikanmu, meskipun kita sudah tak seperti dulu lagi, namun ingatlah, aku akan selalu berada di sampingmu ketika kau membutuhkanku, apakah kau lupa itu?" Yuna tersenyum, melangkah maju menghadapi Feurig "Cepat pergi!" desaknya sembari menahan api milik laki-laki itu yang sudah mulai membakar ruangan.
Mereka berdua berlari, keluar dari dalam ruangan, tiba di sebuah koridor panjang lagi, namun kali ini dengan begitu banyak perempatan menuju beberapa pintu. Luna memerhatikan sekitar, mencoba mencari sebuah tanda penunjuk jalan atau tanda apapun yang menunjukkan letak mereka berada sekarang, tetapi tak dapat menemukan apa-apa selain ukiran pada dinding yang terlihat indah itu, bahkan dalam dunia yang seperti ini masih ada orang-orang yang menyukai keindahan.
"Jadi ke mana kita sekarang?" tanyanya bingung.
"Aku tidak tahu, tapi instingku mengatakan, ada sebuah pintu di antara begitu banyak pintu disini yang memiliki sebuah lambang api, namun lambang itu terasa samar dalam kepalaku" jawab Alzent pusing.