Alive But Dead Inside

Alive But Dead Inside
Dread Sight



Tern kembali bangkit berdiri, seluruh kekuatan berkumpul di tubuhnya, menciptakan tekanan kuat memengaruhi seluruh medan peperangan. Tekanan tersebut membuat Alzent hingga bertekuk lutut di tanah, menahan beban seperti 1000 kg di punggungnya. Beberapa anak buahnya termasuk pasukan Elven tak dapat menahan tekanan tersebut dan remuk masuk ke dalam tanah, tidak lagi berbentuk.


"Akhirnya, aku bisa menggunakan kekuatan ini, kekuatan yang telah kusimpan bertahun-tahun untuk melawan seseorang sepertimu" ucap Tern dengan suara menggelegar, seakan langit mewakili dirinya. Awan-awan gelap mulai berkumpul disertai petir dan guntur keras. Medan perang menjadi hening menyaksikan sosok Orc di tengah-tengah medan pertempuran kini terlihat menakutkan. Kedua mata Tern berubah kuning menyala, setiap urat di tubuhnya mengeluarkan sinar keemasan, lalu sepasang Brass Knuckle terbentuk di masing-masing tinju dari sinar keemasan tersebut.


"Last Soul" ucap Lightnar, melihat Orc tersebut "Sebaiknya kau berhati-hati Alzent"


"Alzent, karena telah menggunakan Lost Soul, aku berharap kau juga dapat serius. Aku tahu kau menahan diri semenjak awal, aku ingin melihat kekuatanmu yang sebenarnya, akan kubuktikan kalau aku pantas menghadapimu!" sahut Tern, lalu melompat tinggi ke arah Alzent. Dari lompatan tersebut, tercipta angin kuat disertai suara dari dorongan udara yang memekakkan telinga.


"Alzent!" jerit Luna begitu Tern sudah mencapai tempat Alzent dan kepulan debu tebal tercipta disana, bersamaan dengan suara benturan yang sangat keras.


Di sela-sela tipis kepulan debu tersebut, cahaya keunguan terlihat. Kepulan debu mulai berputar keras mengelilingi Alzent, kepulan yang kemudian berubah menjadi aura gelap, aura yang membawa hawa kematian bagi setiap orang, aura yang mengatakan 'hidupmu adalah milikku'. Terjadi ledakan energi berwarna ungu-kehitaman, Alzent tampak menahan serangan dari Tern dalam bentuknya yang menggunakan energi gelap dari Zeon. Kedua tangan mengeluarkan api hitam membara, begitu pula masing-masing matanya. Awan menjadi semakin gelap dan tampak akan terjadi badai besar.


"Dengan begini, aku rasa kita bisa bertarung sepuasnya" ucap Alzent, mengalahkan suara Tern yang menggelegar hingga ke udara. Suara Alzent tak hanya keras, tapi juga memberikan rasa takut serta suara yang tidak seperti suara mahluk hidup, suara yang begitu hampa, menyeramkan dan gelap, seperti sebuah bisikan di malam yang sepi, membuat seluruh bulu kuduk berdiri.


Begitu mereka saling memberikan pukulan, energi mereka yang bertabrakan membuat ledakan besar di medan pertempuran dan setiap pukulan maupun tendangan tersebut menciptakan hempasan energi kuat yang dapat langsung menghancurkan apapun di sekitar mereka. Pertarungan mereka terus berlanjut, para pasukan dari kedua kubu juga tak mau kalah dan mengeluarkan kemampuan terbaik. Dalam waktu singkat, medan perang tersebut telah berubah menjadi neraka hidup.


Akibat serangan keduanya, bangsa Gigant bergerak lebih cepat lagi menuju Risenland, sementara Syren sudah memasuki daerah Elven melalui perairan yang akan terhubung dengan sungai besar Risenland, lalu dibalik pegunungan, pasukan utama bangsa Orc telah bergerak maju semenjak merasakan energi Lost Soul milik Tern. Dengan kata lain, Tern sudah siap membayar energi tersebut dengan nyawanya ketika pertarungan berakhir.


Pertarungan tersebut merubah susunan tanah di tempat mereka berpijak, merubah situasi medan perang dan merubah pandangan kedua kubu terhadap mereka. Bangsa Elven tak pernah menyangkan Alzent memiliki kekuatan gelap sekuat itu, jauh lebih kuat dibandingkan sihir milik ratu Ezra, sementara bangsa Orc menganggap Tern sebagai sosok ksatria yang sudah siap menyerahkan nyawanya hanya karena berhadapan dengan Alzent.


Pukulan demi pukulan, tendangan demi tendangan, mereka bertarung sekuat tenaga dengan sebuah senyuman di wajah mereka. Serangan mematikan dari keduanya sungguh membuat udara terasa lebih berat dan sulit untuk bernapas, tak seorang pun menyangkan hari berdarah seperti ini akan tiba di dunia yang seharusnya damai.


Tern terus memberikan serangan kuat terhadap Alzent dan kini refleknya juga makin cepat berkat Lost Soul, sementara serangan Alzent mampu membelah udara dan menciptakan serangan-serangan setajam pisau belati yang berhasil membuat tubuh Tern dipenuhi oleh luka. Sayangnya, Alzent tak bisa menggunakan kekuatan ini lebih lama lagi atau ia akan kembali termakan oleh kegelapan dan berubah menjadi monster. Alzent tak ingin siapapun melihat sosoknya yang menyeramkan seperti itu.


Alzent sengaja memberikan kesempatan bagi Tern untuk melancarkan serangan pada tubuhnya tanpa Tern sepengetahuan Tern. Alzent kemudian dilempar ke udara, lalu ditendang ke bawah menggunakan tumit, menghantam tanah dan diinjak keras oleh Orc tersebut hingga memuntahkan darah segar. Tern lalu menarik kerah baju Alzent, menghantam wajahnya, menghantamnya lagi, lagi, lagi dan lagi sampai Alzent tampak mulai kehilangan kesadaran, barulah Tern melempar ia, terpelanting kemudian terseret jauh di tanah "Ayolah, tidak mungkin kekuatan menyeramkan tadi hanya untuk menggertak saja bukan?"


Alzent berusaha bangkit berdiri, namun Tern melompat tinggi ke arahnya dan menginjak, kembali membenturkan tubuh Alzent ke tanah, dilemparnya ke dinding hingga dinding tersebut pecah membentuk dirinya. Alzent terjatuh lemah dari dinding itu, berusaha sekuat mungkin untuk berdiri "Alzent Sang pembawa kedamaian, Sang penyatu dua bangsa, Sang pahlawan... tidak mungkin selemah ini!" Tern berlari cepat, menendang Alzent kembali ke dinding, menariknya dan membanting pemuda itu ke tanah "Ayo! Tunjukkan dirimu yang sebenarnya!"


"Haha.. aku tidak akan menggunakan kekuatan kegelapan tersebut untuk mengalahkan dirimu\, aku hanya membutuhkan kekuatan pada diriku sendiri.. untuk membuktikan *uhuk* bahwa aku *uhuk*.. bisa. Aku.. cuma menunjukkan *uhuk* kekuatan t-tersebut padamu\, kalau.. *uhuk* aku memlikinya\, namun! Aku akan buktikan *uhuk* jika aku mampu.. berusaha\, menggunakan apa yang ada di dalam.. diriku\, yaitu hati" kedua mata Alzent berubah normal\, ia menghempaskan tubuh Tern ke dinding begitu mengeluarkan energi gelapnya\, kembali pada wujudnya semula.


Tern menggelengkan kepala, keluar dari dinding tersebut, menatap pemuda di hadapannya "Aku akui kau adalah seorang ksatria yang berhak disebut sebagai pahlawan, tapi kau benar-benar bodoh untuk tidak menggunakan kekuatan tersebut" dalam selangkah, Tern sudah berada di depan Alzent, memberikan tinjuan keras ke ulu hatinya.


Kali ini, begitu banyak darah keluar dari mulut Alzent, ia dapat merasakan organ dalamnya luka akibat serangan tersebut. Alzent terjatuh ke tanah, kemudian mendapatkan tendangan kuat di tempat yang sama dari Tern, membuat ia terlempar jauh, menabrak beberapa pasukan entah dari kubu yang mana, lalu terseret dan berhenti tak jauh dari Lucan.


"Alzent! Hey Alzent!" Lucan melirik sekitar, berteriak "Healer! Aku butuh Healer sekarang juga!" ia kembali menatap wajah Alzent yang tampak pucat tanpa darah, menepuk-nepuk pipinya "Hey, hey, hey! Sadar! Alzent!! Healer!!!" teriaknya bercampur amarah.


Luna lalu datang, ia menutup mulut, terkejut melihat Alzent yang tak lama lagi kehilangan kesadaran "A-Alzent? Astaga, astaga. Bertahanlah, aku akan segera menyembuhkanmu, oke?" Luna kemudian memusatkan seluruh energinya ke masing-masing telapak tangannya, kemudian menekan dada Alzent disertai cahaya hijau-keemasan "Aku mohon bertahanlah, bertahanlah.." tanpa disadari, air mata mulai mengalir di pipinya "Alzent.. Alzent... Alzent!"


Lucan bangkit berdiri, menoleh pada sahabatnya itu sekali lagi, kemudian menatap tajam Orc besar yang sedang melangkah ke arahnya sambil tersenyum lebar "Tunggulah Alzent, kali ini biar aku yang melindungimu. Beristirahatlah terlebih dahulu, kawan" sebuah pedang berwarna merah gelap, tercipta dari darah Alzent yang tanpa sengaja terkena telapak tangannya, terbentuk di tangan kanan Vampire muda tersebut.