Alive But Dead Inside

Alive But Dead Inside
Sounds Of War



Di kejauhan, genderang perang telah didentumkan membawa suara peringatan pada bangsa Elven. Setiap pasukan bersiap dalam posisi, Holy Knigth berjaga di garis depan bersama Alzent, Veron, Lucan serta Ligthnar. Dapat dilihat, dari arah pegunungan, begitu banyak bangsa Orc menuju Risenland.


Pertarungan terakhirnya dengan Garc membuat Alzent berharap ia tidak bertemu dengan dia di medan perang, ia tidak ingin kehilangan sosok teman seperti itu, meskipun Alzent tahu kemungkinannya kecil bagi mereka untuk berteman di situasi seperti ini, namun tak ada salahnya berharap dalam situasi hidup dan mati, bukan?


Nyanyian dari para Elven mulai terdengar, nyanyian perang dalam bahasa kuno yang kini telah dimengerti oleh Alzent dan teman-temannya, jadi mereka ikut mendengungkan suara tersebut, membangkitkan rasa percaya diri serta semangat.


Tak lama, Sang pemimpin pasukan Orc, seseorang yang disebut sebagai Tern, Orc dengan ukuran badan lebih besar dibanding Garc dan terlihat lebih ganas, menyahut "Siapakah di antara kalian yang bernama Alzent?"


Alzent melangkah maju "Aku"


Tern mengarahkan palu besarnya pada pemuda tersebut "Aku menantikan aksimu di medan perang kali ini, Alzent Sang pembawa kedamaian. Saudara-saudaraku! Sekarang, kita berada di hadapan bangsa Elven! Bangsa yang kuat, bangsa yang pantas menjadi lawan kita! Namun, sekarang.. kita akan melihat, apakah mereka benar-benar pantas melangkah di sisi, ORC! MAJU!"


Bangsa Orc mulai berlarian ke arah dinding, langkah berat mereka menyebabkan tanah sedikit bergetar, namun bangsa Elven sama sekali tak gentar. Mereka menyiapkan panah, mulai membidik, kemudian menembakkan panah ke atas, menciptakan hujan panah menusuk masuk kulit para Orc, namun mereka masih belum tumbang dan semakin mempercepat langkah.


Alzent dan yang lainnya menunggu hingga bangsa Orc benar-benar sudah dekat, lalu Lightnar memukul tanah di hadapannya, menciptakan gelombang tanah yang mengubur serta melempar banyak Orc ke belakang. Veron serta Lucan maju menghabisi para Orc yang sementara melayang di udara tersebut, kali ini tanpa adanya ilusi maupun sihir tipuan lainnya. Para Holy Knight ikut masuk dalam medan pertarungan, mengerahkan segenap kemampuan, membunuh bangsa Orc yang ternyata sekuat penjelasan Alzent.


Sang tokoh utama, terbang ke atas, langsung mengincar Tern yang sedang duduk mengawasi jalannya peperangan dengan santai. Begitu Alzent sudah berada sangat dekat dengannya, Tern langsung mengayunkan dua palu raksasanya, memukul Alzent hingga menghantam dinding kerajaan sampai retak. Seketika peperangan terhenti sejenak melihat hal tersebut, bangsa Orc bersorak dan melanjutkan penyerangan, sementara pihak Alzent tampak khawatir.


Alzent terjatuh ke tanah, darah segar mengalir keluar dari dalam mulut. Ia menyekanya dengan punggung tangan, menatap Tern "Orc itu, jauh lebih kuat dibandingkan Garc. Aku harus berhati-hati untuk tidak membuat kegelapan itu bangkit" ucapnya pada diri sendiri, lalu bergerak maju, menghadapi Tern kembali yang berhasil dilempar Alzent ke tengah-tengah pertempuran.


Di antara ayunan pedang, kapak, palu serta hujan panah, Alzent berdiri menghadap Tern, seorang Orc dengan tubuh dua kali lebih besar darinya dan kekar. Dua palu di tangan Orc tersebut tampak siap meremukkan setiap tulang Alzent menjadi serpihan-serpihan kecil. Namun, semenjak melawan Gerald, Alzent masih belum menemukan lawan yang jauh lebih kuat dibanding kakek tua itu selain Zeon. Tern? Ia masih jauh lebih lemah dibanding pukulan keras Gerald yang hampir membuatnya kehilangan kesadaran.


"Jadi, kau benar-benar berniat bertarung denganku?" tantang Tern.


Tern tersenyum, lalu mengayunkan dua palu besar tersebut dari arah yang berlawanan. Tak disangka, Alzent berhasil menahan keduanya hanya menggunakan tangan kosong. Keringat dingin mulai muncul di kening Orc tersebut, saat melihat tatapan tajam Alzent. Ia mulai berpikir apa yang dikatakan oleh Garc itu benar, bahwa Alzent dapat mengalahkan Warchief jika ia bertarung serius.


Tanpa berbasa-basi lagi, Alzent langsung menerjang maju, menggunakan lutut Tern yang tertekuk untuk melakukan serangan sebelumnya, melompat ke atas dan menendang wajahnya beberapa kali, berteleportasi ke belakang, mencekik leher Orc tersebut, berniat untuk menjatuhkannya ke tanah, tapi Tern berhasil menarik kepala Alzent, membantingnya ke depan, lalu ke belakang, ke depan lagi, ke belakang dan seterusnya sampai ia puas, mengambil palu besarnya, mengayunkan palu tersebut ke tempat Alzent berbaring diam sekarang.


Tepat sebelum palu tersebut mengenai tubuh Alzent, Alzent menendangnya menggunakan satu tangan sebagai tumpuan untuk memutar tubuh, membuat Tern kehilangan keseimbangan dan melompat meninju wajahnya hingga ia terjatuh ke tanah "Jika ingin mengalahkanku, sebaiknya kau menggunakan kedua tanganmu dibanding senjata berat itu"


Tern tersenyum, melepaskan kedua palunya, lalu menutup kedua tinju "Baiklah, kau yang memintanya, jangan salahkan aku jika dirimu mati"


Tiba-tiba saja salah satu tinju Tern sudah berada di depan wajah Alzent. Alzent melompat ke samping, namun tinju lainnya berhasil mengenai tubuh laki-laki itu, membuat ia terlempar beberapa meter ke belakang. Sisi kiri tubuh Alzent terasa nyeri, ia berpendapat jika tinju itu mengenai tempat yang sama, ia yakin tulang rusuknya akan patah dan menusuk paru-paru "Haha, ternyata kedua palu tersebut hanyalah alat untuk menyembunyikan kekuatanmu yang sebenarnya. Namun.." Alzent bangkit berdiri, wajahnya berubah serius "Aku tidak akan bermain-main lagi sekarang"


Tern terkejut, ia sudah mengerahkan sebagian dari kekuatannya yang berhasil mematikan seekor naga, tapi tak berhasil pada laki-laki di hadapannya. Tern mulai menjaga jarak, merasakan hawa membunuh dari dua mata yang sedang menatapnya tajam sekarang.


Alzent menerjang, memberikan sebuah pukulan yang berhasil ditahan oleh kedua tangan Tern, tapi ia dapat merasakan tulang lengannya retak akibat pukulan tersebut. Tern melompar mundur ke belakang, meraba lengan itu, kemudian tersenyum "Aku sudah salah menilaimu, ayo kita selesaikan ini"


"Dengan senang hati" Alzent berteleportasi ke depannya, meninju wajah Tern. Mereka berdua saling bertukar serangan tanpa memedulikan pasukan di sekitar mereka yang terkena dampaknya. Mau tidak mau, para pasukan dari kedua kubu harus menjaga jarak dari pertarungan mematikan yang sedang terjadi. Mereka terus menyerang tanpa henti, memberikan pukulan maupun tendangan berbahaya. Tak lama, mulai terlihat siapa yang akan keluar sebagai pemenang.


Tern semakin didesak oleh setiap serangan Alzent, ia terus bergerak mundur, bertahan tanpa bisa membalas sedikit pun. Laki-laki itu tampak masih menyimpan sebagian kekuatannya dan itulah yang membuat Tern tak berani mengambil langkah untuk menyerang. Meskipun sebenarnya, jika Alzent menggunakan kekuatan kegelapan dalam dirinya, ia mampu menghabisi seluruh pasukan yang berada disini. Tapi, pertarungan ini adalah untuk membuat bangsa Orc dapat menerima bangsa Elven sebagai sekutu mereka, bukan sebagai musuh abadi. Oleh karena itu, Alzent menahan diri untuk tidak sampai membunuh Tern dan membuat ia sengaja terkena pukulan Tern pertama kali itu, agar Tern berpikir Alzent masihlah seorang mahluk biasa yang berjuang keras.


Alzent terus memberikan serangan bertubi-tubi, mendesak Tern hingga mencapai batas, lalu menjegal Orc tersebut, menendangnya ke atas, tinggi dari permukaan tanah, lalu memberikan sebuah tendangan keras yang membuat tubuh Tern melesat cepat, menciptakan suara nyaring dari gesekan udara yang terjadi, lalu menghantam tanah hingga bergetar kuat, menimbulkan kepulan debu.