Alive But Dead Inside

Alive But Dead Inside
Another Mystery



Di belahan dunia lain, Captain Troy Humphrey, mencoba untuk mendekati tornado yang terus berputar kencang di satu tempat itu. Bersama beberapa anggota yang dipilihnya, mereka ingin mencari tahu benda apakah yang membuat tornado tingkat 8 ini terus berputar di tempat.


Namun anginnya yang begitu kencang serta daya tarik yang begitu kuat, membuat mereka masih harus menjaga jarak aman, mengetahui inilah tornado tingkat 8 pertama yang pernah muncul di bumi.


Mereka memasang sebuah robot berbentuk laba-laba, seukuran laptop, berkamera dengan 6 pasang kaki besi dapat dengan kuat mencengkeram tanah, mampu membuat jalannya melalui bawah tanah untuk mencapai kawah raksasa tersebut. Mungkin saja tanah di sekitar yang telah di bor akan terbawa oleh angin kencang, namun setidaknya mereka harus melihat sesuatu yang tersembunyi di dalam sana.


Sudah 15 menit terlewati semenjak robot tersebut menggali dan laptop salah satu anggota Capt menderingkan alarm. Squad tersebut mulai berkumpul dalam ruangan, memerhatikan sesuatu yang ternyata bukanlah sebuah benda maupun sesuatu yang berasal dari bumi, sebuah fenomena aneh, sulit dijelaskan dengan kata-kata.


Capt memerhatikan video berdurasi 5 detik sebelum robot laba-laba tersebut terhisap masuk oleh kekuatan angin. Ia terus mengulang-ulangnya, namun tetap saja tak dapat ia mengerti.


"Itu terlihat seperti sebuah pecahan kaca, namun dalam mode 3 dimensi dan terletak di tengah-tengah kawah dimana bagian tengah pecahan tersebut kosong, tak berisi apa-apa" gumam salah satu anggotanya.


Captain mengangguk setuju meskipun penjelasan itu terdengar tak masuk akal dan anggotanya tak bermaksud untuk membuat satu ruangan mendengar gumaman tersebut, namun melihat hal yang sulit dijelaskan oleh mata seperti ini, membuat penjelasan se absurd apapun lebih mudah diterima.


Alzent, Veron dan Lucan telah tiba di Eropa, lebih tepatnya di depan pintu masuk sebuah hotel besar berbintang lima dengan nama 'Santa's Hotel' di Finlandia.


Mereka bertiga speechless melihat kemegahan hotel tersebut dan masih bertanya-tanya benarkah Gerald meminta mereka untuk menginap dalam hotel ini hanya menggunakan sebuah kartu?


"Apa Gerald mempermainkan kita?" tanya Lucan, masih terus menatap hotel tersebut.


"Aku rasa tidak, apalagi nasib seluruh dunia bergantung pada kita, tapi entah mengapa melihat hotel ini membuatku memikirkan hal yang sama" balas Alzent.


Sementara itu Veron menggigil kedinginan tidak mampu menahan dinginnya udara di Finlandia, padahal ia sendiri sudah menggunakan mantel salju tebal yang melapisi sweater tebal dan pakaian berbahan wool.


"Aku lupa kalau udara disini itu jauh lebih dingin dibanding saat di Amerika" keluhnya.


Alzent lalu melangkah masuk, meninggalkan kedua orang yang masih ragu, tapi melihat Alzent masuk akhirnya mereka ikut memaksa melangkahkan kaki, tidak perduli dengan masalah yang mungkin akan terjadi.


Karena mereka Vampire, mereka dapat menguasai banyak bahasa sehingga berbicara dengan resepsionis terasa seperti bicara sehari-hari namun menggunakan bahasa berbeda.


"Eh apa?" tanya Alzent kaget.


"Maafkan aku tuan, aku benar-benar tidak menyangka seorang VVIP seperti anda tidak mendapatkan sambutan hangat disini. Kami memohon maaf" katanya cepat, lalu segera menelepon manager, memberitahukan kedatangan seorang tamu VVIP, yang dimana Sang manager sendiri menelepon pemilik hotel dan memberitahukan hal ini.


Tidak butuh waktu lama, seorang laki-laki berumur, pemilik dari hotel ini datang, meminta maaf atas kesalahan yang membuat ketiga pemuda di hadapannya benar-benar bingung.


Sang pemilik hotel mengangguk cepat, lalu bergegas mengantar mereka ke Santa's Igloos Artici Circle, sebuah kamar hotel berbentuk igloo, sebuah rumah dari salju berbentuk kubah, melihat kartu yang menunjukkan nama Gerald T. W, atau Gerald The Watcher.


Jika saja mereka hanyalah tamu VVIP biasa, mungkin ia tidak akan mau menerima mereka karena sikap Lucan yang terlalu berlebihan, namun kalau Gerald yang mengirim mereka, itu artinya ada masalah dengan dunia dan ia tidak ingin hidupnya berakhir terlalu cepat.


Saat sudah berada di dalam kamar, Sang pemilik hotel menutup pintu dan menguncinya, membuat ketiga pemuda kaget, dengan cepat memasang kuda-kuda untuk mempertahankan diri.


Sang pemilik hotel mengangkat kedua tangan, menjelaskan "Aku tidak bermaksud jahat, tapi aku tahu alasan kalian berada disini. Kalian dikirim oleh Gerald untuk menyelidiki salah satu retakan dimensi yang berada disini bukan?" tanyanya.


"Ya, itu benar" jawab Lucan.


"Aku adalah salah satu dari The Guardian, seorang penjaga yang menjaga retakan dimensi dari para pemerintah" ucapnya, membuat ketiga pemuda itu mengernyitkan dahi "Sepertinya Gerald belum menjelaskannya pada kalian" ia menarik napas dalam, menghembuskannya, lalu menjelaskan "Setiap retakan dimensi yang akan terjadi di bumi ini akan dijaga atau disembunyikan oleh The Guardian dari pemerintah atau orang-orang biasa. Pertanyaan kalian, kenapa? Karena manusia di dimensi ini masih belum dapat menerima kedatangan mahluk lain, sebab mereka takut jika mahluk tersebut akan membinasakan mereka"


"Kau berbicara seakan dirimu itu berasal dari dunia lain" tukas Veron.


"Aku memang tidak berasal dari sini, aku berasal dari dunia yang sama dengan Gerald, hanya saja aku ditugaskan olehnya untuk menjadi The Guardian" jawab Sang pemilik, pelan "Dan itu memang benar, kemunculan Vampire sendiri sudah mengundang perang yang berlangsung selama 10 tahun, bagaimana jika tiba-tiba ada mahluk lain muncul dari dimensi berbeda ke dunia ini? Tentu saja kalian dapat memikirkan jawabannya bukan?


Itulah tugas dari The Guardian, untuk mencegah terjadinya peperangan atau kehancuran lebih lanjut. Sayangnya retakan dimensi akan terjadi kedua kalinya di kawah raksasa Vredevort, Afrika Selatan dan kali ini retakan dimensi tidak dibuka oleh The Key melainkan dipaksa masuk oleh mereka dari dunia yang lain" kata Sang pemilik dengan nada saat menceritakan kisah horror.


"Ya, kami sudah paham. Kami benar-benar meminta maaf atas sikap sahabat kami ini dan kami mohon untuk memberitahukan dimanakah bekas retakan dimensi disini pernah terjadi. Kami harus bergegas agar waktu yang termakan tidak terlalu banyak" pinta Veron, membuat Lucan cemberut.


"Sayang sekali, kalian tidak bisa melihatnya untuk sekarang. Kalian mesti melihatnya saat aurora terjadi dan kalian beruntung itu akan terjadi di esok hari ketika malam" jawab Sang pemilik terlihat cukup bersemangat "Bagaimana kalau kalian menikmati tempat wisata di Finlandia? Seperti Santa Claus Village, Art Museum Korundi, Ounasvaara Forest, Arktikum Museum and Pilke Science Center?"


Ketiga pemuda akhirnya mengangguk setuju karena tidak tahu ingin melakukan apa selagi menunggu aurora muncul.


Begitu Sang pemilik hotel keluar, mereka mulai mengatur barang masing-masing lalu kembali terpukau dengan interior kamar yang begitu wow dan sulit dijelaskan oleh kata-kata.


Dua Queen Size Bed dengan interior mewah dan indah serta dinding luar kamar terdiri dari kaca dimana kita dapat menatap aurora menghias angkasa sambil berbaring nyaman di tempat tidur.


"Bahkan gorden nya begitu haluss" sahut Lucan sembari mengelus gorden tersebut terus-menerus.


Alzent berbaring di atas kasur, mengalas kepala menggunakan kedua tangan, di atas bantal, berharap Yuna ada di sampingnya sekarang. Mungkin ini akan menjadi salah satu kenangan terindah mereka.