Alive But Dead Inside

Alive But Dead Inside
Dark Path #7



Mereka tiba di dalam sebuah ruangan yang dipenuhi oleh tabung-tabung kaca besar, berisi seekor mahluk gaib yang tampak telah digabungkan dengan sihir kegelapan para Arkbyss, sehingga terlihat lebih menakutkan serta berwarna abu-kehitaman. Tabung-tabung tersebut tampak dihubungkan oleh pipa besar yang semuanya saling berbaris rapi di langit-langit, menjulur masuk ke dalam kaca berbentuk pigura bersegi dua belas, dimana terdapat enam berlian berbentuk segi delapan berputar di atas sebuah pilar hitam tinggi, mengitari kaca besar itu.


Luna memerhatikan tabung di kiri-kanan mereka dengan sedikit rasa takut bercampur penasaran, sementara Alzent lebih tertarik pada kaca besar yang tampak di ujung ruangan itu. Entah mengapa, sesuatu di dalam sana, seakan berusaha menghipnotis, mencoba agar ia membebaskan mahluk apapun yang tersembuyi dibalik kaca berwarna ungu-kehitaman tersebut.


"Jangan melihatnya terlalu lama" ucap Yuna sambil memegang bahu kanan Alzent dengan raut wajah khawatir "Ada sesuatu yang jauh lebih penting bukan?" tanyanya, berusaha menyadarkan laki-laki yang pernah menjadi kekasihnya itu.


"O-Oh, maaf. Kau benar, kita harus fokus" balas Alzent, menggeleng-gelengkan kepalanya.


Luna menatap keduanya dari belakang, memerhatikan sosok mereka yang tampak sempurna bersama. Warna rambut yang sama, tatapan mematikan yang sama, tampan dan cantik. Bukan berarti Luna tak menyadari dirinya juga cantik, namun ia dapat merasakan sesuatu dari dalam Yuna, membuatnya mampu menghipnotis mata para lelaki hanya dalam sekali tatapan, entah itu inner beauty ataukah tingkat self esteem yang tinggi. Tetapi, tanpa kedua hal itupun, Luna tetap dapat merasakan cahayanya perlahan dikalahkan oleh sinar indah dari dalam gadis itu.


Yuna menuntun mereka berdua keluar dari dalam ruangan yang ia jelaskan adalah sebuah lab untuk meneliti sejauh apakah monster gaib dapat berkembang sesudah diberi cairan dari sihir kegelapan Arkbyss, sebuah cairan yang didapatkan dengan mengekstrasi energi sihir besar dari sebuah batu bernama 'Deathstone', batu yang sama bentuknya seperti Lifestone milik para Elf, namun berwarna ungu gelap. Monster-monster ini adalah monster yang sama seperti yang pernah mereka lawan sebelumnya ketika Arkbyss pertama kali datang menyerang, monster dengan kekuatan mengerikan hingga mereka membutuhkan bantuan Gerald untuk menghadapi mereka.


Lalu, tak lama mereka sampai di sebuah lapangan luas, lapangan yang tampaknya adalah tempat bagi para murid untuk bersantai, dapat dikatakan mirip seperti sebuah sekolah. Mereka berjalan beberapa langkah dan benar saja, Alzent serta Luna dapat melihat logo milik para pasukan elite Arkbyss, logo dengan lambang seekor naga berwarna hitam yang tampak sedang mencengkram sebuah mahkota berwarna putih-keemasan yang tampak sudah rusak hingga dapat terlihat retakan di tiap permukaannya.


"Apakah kita berada di akademi pelatihan pasukan khusus Arkbyss?" tanya Luna, menoleh ke sana-ke mari, mencoba mencari segala macam bahaya yang mungkin sedang mengintai dari balik bayangan.


"Benar" jawab Yuna sambil mengangguk pelan "Inilah akademi pelatihan tempat diriku, Zeon, bahkan Alzent pernah dilatih. Mengejutkan bukan?" ucapnya.


Yuna menghela napas "Sayangnya itu benar. Memori mu telah disegel untuk menghindari segala sesuatu yang tak diinginkan terjadi. Aku berharap kau mengingat masa-masa itu" gumamnya, menatap di kejauhan, sedang memutar kembali memori yang ada.


"Tunggu sebentar, jika aku pernah berada disini dan dirimu juga, mengapa kita muncul di bumi? Lalu justru menyelamatkannya dari bangsa yang dulunya pernah menampung kita? Ini tidak masuk akal" tukas Alzent "Apakah kau benar-benar Yuna yang aku kenal? Kau tampak jauh berbeda dibanding Yuna sebelum kejadian itu, padahal kau tampak begitu mirip saat pertama kali muncul di Risenland" dapat terdengar nada sedih di dalam perkataan Alzent yang membuat Luna merasa ingin menggenggam tangannya dan memberi ia semangat serta sandaran yang ia butuhkan.


"Tidak ada gunanya membahas masa lalu, apa yang sudah terjadi biarlah terjadi. Kau memiliki sesuatu yang lebih penting dibanding kenangan itu" balas gadis itu cepat, kemudian melanjutkan langkah.


Mulut Alzent terbuka, ia ingin memanggil namanya, menanyakan apa yang telah terjadi selama dua tahun ini, namun kata-kata itu tertahan di tenggorokan, seakan mencekiknya dari dalam, membuat ia merasa sesak. Tangan Alzent terkepal kuat, hatinya belum siap untuk menerima semua ini. Ia mungkin memiliki kekuatan besar yang mampu menghancurkan sebuah dunia dengan mudah, tetapi ketika telah bersangkutan dengan perasaan, bahkan kekuatan yang besar itupun tak berarti apa-apa.. hanya membuatnya merasa lebih lemah.. kecil... dan tak berarti.... sesuatu yang sudah lebih dari cukup untuk menghancurkan jiwa seseorang. Itulah yang Zeon cari.


"Sudah kubilang padamu, persiapkan diri, kau mungkin akan kehilangan segalanya disini" kata laki-laki itu pelan, menatap mereka dari seberang lapangan, bersandar di sebuah pilar penyangga, melipat kedua lengan dengan sebuah senyuman yang menunjukkan tanda kemenangan "Waktunya akan tiba, tak lama lagi"


Seekor burung merpati berbulu putih bersih, di samping Zeon, mengepakkan sayapnya dan terbang tinggi ke udara sebelum akhirnya menghilang menjadi beberapa bulu putih bersinar keemasan. Zeon membuka telapak tangan, sebuah bulu melayang pelan, jatuh di atas. Zeon membaca kata-kata yang tertulis disitu, lalu menatap Alzent kembali. Tetapi, senyuman di wajah tampannya seketika menghilang, begitu merasakan kehadiran sesosok pengganggu yang muncul dari dalam portal. Laki-laki itu tampak sedang mencari sesuatu, terlebih ia membawa beberapa orang yang termasuk dalam anggota pasukan elite Arkbyss, pasukan yang sebaiknya dihindari dibanding mencari masalah dengan mereka.


Zeon berdecak kesal, berjalan pergi sebelum laki-laki tersebut melihatnya atau ia mungkin bakalan diminta untuk ikut bergabung. Begitu telah aman dari pengawasan mereka, Zeon menggunakan portal untuk segera berpindah tempat, ia harus merencanakan sesuatu yang baru demi mengganggu mereka. Rencana yang telah disusun tak boleh dibiarkan jatuh berantakan hanya karena kedatangan pasukan yang bahkan tak memiliki peran apa-apa selain menjadi pasukan penjaga istana.


"Bagaimana bisa mereka mengetahuinya begitu cepat? Apakah ayah sudah dapat merasakan kekuatan kegelapan Alzent? Tapi, Alzent cuma menggunakan kekuatan Hellraiser-nya, bagaimana bisa ayah memerintahkan pasukan elite kerajaan untuk turun tangan langsung?" kedua matanya melebar "Kecuali, ada seseorang yang melaporkan hal ini pada ayah, tapi siapa? Seharusnya tiap orang yang terlibat merahasiakan ini, mungkinkah penghianat?" Zeon mempercepat langkahnya menyusuri koridor panjang yang tampak tak ada ujungnya itu, ia berniat menemui seseorang yang selalu menghabiskan waktu di perpustakaan akademi, seseorang yang mungkin akan membantunya menyelesaikan masalah ini dengan cepat.