
Semenjak layar laptop menunjukkan hal yang tidak biasa itu, beberapa squad diminta untuk menyelidiki kawah raksasa tersebut dari jarak yang cukup jauh terlebih ketika melihat sebuah tornado besar terus berputar dari bagian tengahnya, menjalar tinggi ke langit disertai badai petir.
"Capt, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya salah seorang anak buahnya.
"Aku juga tidak mengerti prajurit, namun mengetahui mahluk mitos seperti Vampire ternyata benar-benar ada, tidak menutup kemungkinan ini adalah mahluk mitos lainnya yang kuharap hanyalah imajinasiku semata" jelasnya sambil terus mengawasi badai besar itu.
Tidak lama, para tentara mulai memasang tenda serta peralatan dengan jarak 2km dari badai tersebut, sementara beberapa team kecil yang baru saja dibentuk, dikirim untuk mengawasi badai tersebut dari jarak yang cukup dekat.
Baru saja mereka mencapai titik tujuan, sesuatu terjadi di dalam tornado, sebuah gemuruh keras membuat tanah bergetar, bahkan squad yang berjarak 2km pun dapat merasakannya.
"Capt, apakah terjadi pergeseran lempeng disana?"
Captain menggeleng "Aku tidak yakin, namun suara itu lebih mirip seperti rauman seekor mahluk besar"
"Bukankah itu hanya imajinasi anda saja? Maafkan aku jika ini tidak sopan" kata anak buahnya cepat, takut dimarahi.
"Aku juga berharap begitu prajurit" raut wajahnya mengeras "Tapi, apapun yang terjadi kita harus siap untuk menghadapinya"
Di rooftoop sekolah, Alzent dan Lucan dapat merasakan perasaan aneh bersamaan dengan gemuruh dari dalam tornado, meskipun jarak mereka begitu jauh.
"Lucan, kau merasakannya?" tanya Alzent.
"Ya. Apa-apaan itu?" tanya Lucan balik.
"Aku tidak tahu, namun entah mengapa aku teringat dengan penjelasan dari orang tua gila itu"
Lucan menatap Alzent aneh "Hah? Maksudmu mengenai mahluk-mahluk yang akan datang dari dimensi lain? Itu hanya ada dalam film Zent, tidak mungkin ada di dunia nyata"
Menghela napas "Luke, kau tahu kita juga awalnya hanya ada di dalam film-film bukan? Bisa saja yang dikatakan kakek itu benar, meskipun aku harap dia benar-benar berhalusinasi"
Seorang laki-laki muncul di samping mereka, mengenakan jaket bomber besar berwarna putih dengan rambut hitam mengilap berhias mata berwarna coklat "Sepertinya kita harus menemui orang tua itu kembali" katanya.
Alzent dan Lucan terdiam melihat sosok itu, sosok yang awalnya mereka kira telah tiada kini muncul dan bahkan berbicara pada mereka.
"Umm, Veron?" sapa Alzent bingung.
"Ya ini aku dan aku masih hidup, berhenti terkejut seperti itu, ada hal yang jauh lebih mendesak"
"Sebaiknya kau menjelaskannya pada kami begitu ini selesai" kata Lucan geram.
Dengan cepat mereka pergi menuju sebuah tempat yang cukup jauh, tempat yang kini menjadi reruntuhan akibat perang. Berjarak sekitar 3km namun karena mereka adalah vampire jadi mereka dapat sampai tanpa perlu memakan banyak waktu.
"Apakah kalian masih mengingat apa yang dikatakan oleh orang tua itu?" tanya Veron.
"Dia menjelaskan jika tidak lama lagi akan terjadi badai yang menciptakan retakan dimensi sehingga kita tidak lama lagi menghadapi mahluk-mahluk aneh dari mitos seperti naga, wyvern, minotaur dan sebagainya" jelas Alzent.
"Dan kalian ingat apa yang dikatakannya mengenai tanda-tandanya?"
Kali ini Lucan yang menjawab "Dia bilang para vampire akan merasakan perasaan tidak nyaman saat retakan mulai terjadi sedangkan para manusia akan mendengar suara gemuruh keras di sekitar badai tersebut"
"Tunggu sebentar, jadi yang baru saja kita rasakan adalah tandanya?" tanya Alsent kaget.
Veron mengangguk "Benar, namun retakan itu berada jauh dari sini, di kawah raksasa Elarton, tempat dimana Alzent menusuk jantung Yuna"
Raut wajah Alzent berubah sejenak sebelum akhirnya kembali seperti biasa. Ia menghela napas dalam-dalam, menghembuskannya "Sebaiknya kita bergegas sebelum terjadi sesuatu yang buruk"
Tidak lama, mereka sampai di sebuah tempat penuh dengan reruntuhan. Sebuah kota besar yang kini ditinggalkan dan hanya dihuni oleh burung-burung pemakan bangkai.
3 tahun sebelumnya...
Serangan artileri dari arah bukit tak jauh dari kota terus menghujani team Fox 1, salah satu team elit Vampire yang bertugas di garis depan.
Alzent, Lucan, Veron serta 7 orang lainnya berlindung di dalam sebuah ruang bawah tanah bar, menunggu datangnya perintah dari Captain yang entah mengapa tidak bisa dihubungi sehingga rencana awal terpaksa gagal.
"Hoi Alzent! Kalau kita tidak melakukan sesuatu, para manusia akan memukul mundur kita cukup jauh dan akan terlambat bagi kita untuk menyerang balik!" desak Ethan, salah satu dari anggota Fox 1.
Alzent yang saat itu berperan sebagai wakil ketua team tidak ingin mengambil langkah yang salah sebab para Vampire sama sekali tidak bertujuan untuk memperbudak umat manusia, jika disini ia salah dalam mengambil langkah, kehancuran di masa depan telah menunggu.
"Alzent! Kami butuh perintahmu" sahut Ray, anggota Fox 1.
Apa yang harus kulakukan? Masa depan umat manusia serta Vampire berada di genggamanku sekarang, namun kalau aku salah memilih, tidak ada jalan untuk kembali.
Kepalan tangannya menguat, ingin rasanya Alzent menyerahkan diri agar tidak terjadi pertumpahan darah sia-sia, tapi bagaimana dengan nasib anggota team nya?
"Sialan"
"Zent" panggil seorang gadis cantik bersuara lembut. Ia menggenggam tangan Sang wakil yang langsung melemah. Gadis itu menatap mata Alzent lalu tersenyum "Apapun pilihanmu, kami akan mengikutinya, bukankah kita semua telah berjanji untuk bekerja sebagai satu team? Oleh karena itu, kami percaya padamu"
Alzent memejamkan mata, menghela napas panjang "Baiklah, aku tidak tahu apakah pilihan ini berakhir baik atau buruk bagi kita.. bahkan bagi seluruh Vampire, namun Commander telah memercayakan garis depan pada kita, apapun yang akan terjadi.. bersama, kita pasti bisa melewatinya sebagai satu team" tatapannya berubah serius "Bersama! Kita Fox 1, pasti dapat menyelesaikan ini"
Begitu Alzent mengarahkan kepalan tangannya ke depan, anggota yang tersisa ikut disertai senyuman penuh percaya diri, kemudian Alzent bersorak "Fox 1!"
Bersama-sama mereka menjawab "We work together as a team! And as a team we conquer anything that gets in the way!"
"Hey Alzent, Alzent!"
Alzent tersadar dari lamunannya "hah? Maaf, ada apa?"
Veron mengernyitkan dahi, berhenti berlari dan melipat lengan "Apa kau tidak mendengar penjelasanku?" tanyanya kesal.
Lucan memerhatikan wajah sahabatnya itu, lalu tersenyum ketika memperhatikan tempat mereka berada sekarang "Fox 1! We work together as a team! And as a team we conquer anything that gets in the way!" sahutnya membuat Alzent terkejut sekaligus malu "Kau sedang mengingat kejadian yang merubah segalanya itu bukan?"
Veron memperhatikan tempat ia berpijak, teringat akan situasi yang tanpa sengaja merubah alur perang "Oh, pantas saja kau melamun" ia ikut tersenyum "Tempat ini, tempat dimana Fox 1 menciptakan sejarah baru, meskipun tantangan yang mesti kita lewati terasa seperti neraka hidup"
"Ya, itu benar" balas Alzent "Awal mulanya perdamaian, operasi yang kini dinamakan 'The Pacifist'. Entah mengapa aku merasa aneh sekaligus bangga dengan pilihan yang kita lakukan saat itu, meskipun mesti dicap sebagai penghianat, namun akhirnya kita dapat mencapai tujuan awal perang dimulai"
"Sebuah perdamaian serta kebersamaan dengan umat manusia" kata Lucan menyelesaikan kalimat Alzent.
The Pacifist, sebuah operasi yang awalnya ditujukan untuk menjatuhkan garis depan umat manusia berubah menjadi awal perdamaian antara kedua ras, walaupun masih dihantui dengan ketidakpercayaan, kedua ras mampu melewatinya bersama.
Situasi dimana Alzent serta seluruh Fox 1 membantu umat manusia menghentikan serangan tiba-tiba para pemberontak yang anehnya saat itu terdiri dari masing-masing ras.
Pemberontak yang jumlahnya mencapai 100 orang lebih itu tidak setuju dengan adanya perdamaian dari kedua belah pihak dan lucunya mereka menyerang di saat yang bersamaan sehingga menciptakan situasi dimana Fox 1 mesti bekerja sama dengan squad Wolf 3 manusia.
Semenjak itu, kedua ras mulai membangun kepercayaan, bersama menghancurkan markas para pemberontak yang selama ini mengadu domba. Semua terselesaikan dalam kurun waktu 3 tahun dan kedamaian yang kini mereka rasakan adalah berkat pilihan Team Fox 1 saat itu.
Alzent diberi gelar The Alpha Wolf oleh Commander berkat aksinya yang mengejutkan di medan perang, mampu membuat pasukan musuh pingsan dengan cepat tanpa menghabisi mereka, meskipun caranya terbilang sedikit kejam karena setidaknya ada satu tulang patah, tapi Alzent tidak pernah berniat menghabisi mereka, tulang yang dipatahkannya pun adalah tulang lengan yang dapat tersambung kembali sebab tidak terlalu parah meskipun butuh waktu cukup lama.
"Lebih baik dibanding mati dalam perang sia-sia ini bukan?" begitulah katanya dalam konferensi pers.
Alzent tersenyum mengingatnya hingga kedatangan seorang kakek tua yang terlihat masih bugar serta 10 tahun lebih muda mengejutkan mereka semua. Tak seorangpun mendengar langkah kaki maupun menyadari kehadirannya.
"Tampaknya kalian mulai mempercayai dongeng anak-anakku" sindirnya sambil tersenyum sinis.