Alive But Dead Inside

Alive But Dead Inside
The New Student



Pagi itu, angin bertiup pelan, membawa daun keemasan melintasi gedung sekolah terbesar untuk saat ini, mengingat hampir semua gedung yang ada hancur akibat perang melawan Vampire.


Dunia yang awalnya tenang, selalu akan berubah seiring terjadinya sebuah perubahan yang tak bisa diterima oleh orang-orang berpikiran picik, yang tak bisa menerima kenyataan dan takut menghadapi masa yang akan datang.


Ya, itu memang benar, Vampire haus akan darah, namun mereka mampu menahan nafsunya itu agar dapat hidup berdampingan dengan manusia, sedangkan manusia dengan sengaja memancing dan menjebak mereka hanya karena mereka berbeda. Betapa ironi nya, menggunakan dalih 'Demi Keselamatan Umat Manusia' mereka menjadi sosok iblis yang sebenarnya.


Angin kembali berhembus. Kali ini sedikit kencang. Sudah berapa lama diriku tidak menghirup udara sesegar ini? Membuatku ingat akan kejadian beberapa tahun belakangan.


Media sosial gempar akan kemunculan spesies baru tersebut. Ada yang menerima mereka dan ada yang menolak keberadaan mereka.


Dunia terpecah kembali, perang kembali muncul menghancurkan segalanya... Tidak mempedulikan kehidupan orang-orang tak bersalah, tua-muda, perempuan, laki-laki. Intinya adalah membasmi, 'Menyelesaikan Tugas'.


Padahal hanya 10 tahun, tapi terasa sudah begitu lama terjadi..


Aku merasa kasihan terhadap orang-orang yang hanya menginginkan kedamaian, tapi tidak berhasil bertahan hingga perdamaian ditetapkan.


Setidaknya aku bisa merasakan kedamaian tersebut sekarang. Aku berharap kedamaian ini akan terus berlanjut tanpa harus adanya perpecahan, baik itu manusia maupun vampire.


Melihat gedung sekolah berdiri tak jauh di hadapanku, membuatku tersenyum. Tidak kusangka masih ada tempat seperti ini berdiri, bahkan terlihat lebih seperti sebuah base pasukan elit dibanding sekolah.


"Baiklah, kenangan apa yang menunggu untuk ditemukan disini?"


Bel sekolah berdering, menandakan waktunya bagi para murid untuk beristirahat. Murid-murid mulai pergi bersama temannya, entah itu ke cafetaria, taman, rooftop, ruang olahraga, lapangan atau sekadar berjalan-jalan mengitari sekolah yang kebetulan besar dibanding sekolah biasa.


Namun jam istirahat kali ini tidak sama seperti jam istirahat biasanya, perhatian setiap murid teralihkan dengan kemunculan seorang laki-laki dengan tinggi tubuh 182cm, memiliki rambut seputih salju dilengkapi warna mata biru-keunguan yang indah namun tajam.


Berita itu tersebar sangat cepat seperti api menjalar di rerumputan kering, sebab para murid laki-laki entah mengapa merasa tersaingi namun bagi murid perempuan, terlihat seperti sinar mentari di pagi hari.


Banyak yang bertanya-tanya, siapakah dirinya? Darimana ia berasal? Dan yang lebih penting lagi, manusia atau vampire?


Tanpa terasa bel kembali berdering, sudah waktunya pembelajaran kembali dimulai.


Aku melangkahkan kaki, menyusuri koridor sekolah yang mulai sepi. Terkadang aku bingung, apa yang membuat mereka menatapku seakan aku adalah spesies terakhir di bumi? Terlebih, murid laki-laki nya terlihat membenciku.


"Ohh, kau murid baru itu'kan? Alzent Montaque" tanya seorang guru yang kebetulan lewat.


"Oh, iya itu benar. Boleh tolong beritahukan aku dimana ruang guru? Aku tampaknya sedikit terlambat"


Di dalam ruangan sebuah kelas...


"Hey, kau sudah dengar? Ada murid pindahan yang terlihat begitu tampan" sahut seorang murid perempuan, heboh dan berlanjut ke murid perempuan lainnya yang mulai menjerit tidak jelas seperti orang kesetanan.


"Ahhhh, aku sudah melihatnya! Dia benar-benar tampan! Tulang pipi yang tinggi, tatapan tajam menggoda, serta wajah yang membuat hatiku meleleh" jelas salah satu dari mereka sambil memeluk dirinya sendiri, membayangkan sosok tersebut.


"Cih, apa bagusnya dia? Cuma karena terlihat tampan bukan berarti dia akan terpilih sebagai salah satu Squadron terbaik" cibir seorang murid laki-laki bertampang ganas dan dengan santainya mengangkat kaki ke atas meja.


Para pengikutnya mulai mengangguk setuju sambil bersorak memanasi situasi.


Begitu perang antara perempuan dan laki-laki dimulai, pintu terbuka, guru melangkah masuk, meletakkan buku di atas meja "Sebelum kita memulai pelajaran hari ini, kita kedatangan seorang murid baru, Alzent silahkan masuk"


Sepertinya aku sudah bisa menebak apa yang akan terjadi sesudah ini. Mengapa para murid perempuan itu harus menjerit? Keluh Alzent.


Begitu ia melangkah masuk, setiap mata memandang dirinya, tatapan tergila-gila dari para perempuan dan tatapan mematikan dari para laki-laki.


"Perkenalkan, namaku Alzent Montaque, seorang murid pindahan dari Prancis, semoga kita semua bisa berteman"


"Ahhh, Alzent nikahi aku!"


"Jadilah pacarku!"


"Alzent aku mencintaimu!"


Alzent tertawa gugup. Begitu menoleh pada murid laki-laki, tatapan tajam menusuk mengarah padanya.


"Baiklah, Alzent silahkan duduk, kita akan memulai pelajaran" kata guru.


Yup, begitulah ceritaku dimulai hari ini, tapi mengapa? Mengapa aku tiba-tiba berada di arena pertarungan seperti ini!?


"Hoi Alzent, kalau kau bisa menang dariku, aku tidak akan menggangumu hingga lulus, namun jika dirimu kalah, kau harus menjadi babu ku, paham?"


"Haiyahh"


"Baiklah, tapi kau akan menepati janji bukan?" tanya Alzent kembali.


Murid tersebut mengangguk mantap dengan senyuman penuh percaya diri di wajahnya, mungkin karena ia menggenggam sebuah machine gun.


Oh, benar juga. Sekolah ini sebenarnya adalah sebuah akademi yang sengaja diciptakan untuk membentuk murid-murid menjadi sebuah satuan khusus yang akan menangani berbagai macam situasi perang di dunia, terlebih perang terhadap mahluk mitos seperti vampire, sehingga mereka diperbolehkan menggunakan senjata api asalkan menggunakannya di dalam arena atau dalam situasi mendesak, bahkan kendaraan perang pun ada disini.


Layar hologram mulai menghitung mundur dari angka 10... 9... 8


Tatapan laki-laki itu, ia bersemangat akan pertarungan ini? Aku akan sangat kasihan pada dirinya jika telah melihat situasi perang yang sebenarnya, dimana tidak peduli dirimu kehilangan seseorang yang begitu penting, kau tetap harus melangkah maju tanpa berbalik ke belakang atau masa lalu menghantui dan mengakhiri di hidupmu.


Semoga murid-murid ini tidak terlibat dalam perang yang terlalu keras, aku tidak ingin melihat senyuman di wajah mereka tergantikan dengan tatapan kosong dan hampa.


3... 2... 1


Mungkin aku akan menunjukkan sedikit yang namanya pertarungan hidup dan mati itu seperti apa agar mereka tidak menganggap remeh.


Begitu pelatuk ditekan, ratusan peluru mulai melesat sangat cepat hingga sulit ditangkap oleh mata.


Untungnya bagian dalam arena telah terpasang sebuah barier pelindung yang dapat menahan bom nuklir sekalipun, sehingga tidak mengenai penonton.


Oh dan satu hal lagi, setiap murid disini telah disuntikkan cairan khusus yang membuat mereka lebih kuat dari manusia biasa, mendekati kekuatan para vampire, itulah alasan murid laki-laki gila di hadapan Alzent mengangkat machine gun berat seperti mengangkat sebuah pensil.


"Bukankah ini sedikit berlebihan? Menggunakan machine gun sebagai alat untuk bertarung? Sekolah ini jauh lebih mengerikan dibanding kelihatannya" keluhnya sambil menghindari setiap peluru dengan kecepatan yang luar biasa.


Murid tersebut berdecak kesal, mengganti machine gun dengan sebuah mini gun dari kotak senjata di sebelahnya.


"Hahaha, aku pastikan kau tidur di rumah sakit selama beberapa bulan!" sahutnya, mulai menghujani Alzent.


"Aku bisa terbunuh jika aku adalah manusia!"


"Justru karena itu aku berani menggunakan senjata ini! Hahahaha!"


Alzent terus menghindar dan menghindar, tanpa disadari ia semakin dekat dengannya. Begitu murid tersebut sadar, ia telat melindungi diri, hanya menggunakan sedikit tenaganya, pukulan dari Alzent sudah membuatnya terlempar tinggi ke atas, menabrak barier pelindung yang menghempasnya kembali ke tanah.


"Sudah selesaikah?" tanya seorang murid yang menonton.


"Jangan mengatakan kata tabu seperti itu!!" bentak Alzent.


"Haha, belum pernah aku merasa seperti ini"


"Tuh kan" keluh Alzent, melompat mundur melihat murid itu bangkit berdiri dari kawah kecil akibat benturan dengan tubuh penuh otot serta urat yang jujur saja, sedikit menakutkan.


"Alzent! Aku berterimakasih kau muncul di sekolah ini, sudah lama aku tidak merasakan pertarungan yang membuat darahku meluap-luap, seakan ingin menghisap darah seperti vampire"


"Umm bukan itu yang kami rasakan"


Menunjuk Alzent "intinya, karena kau sudah membuatku seperti ini, aku akan membalasnya dengan bersikap serius seperti akan membunuh seseorang" sahutnya sambil tertawa lantang.


Seketika wajah Alzent berubah, aura ceria di sekitarnya berubah menakutkan dan tatapannya tidak lagi tajam menggoda, namun tajam menusuk dengan warna ungu yang sedikit berubah merah.


Dalam sekejap ia sudah berada di depan murid tersebut tanpa menimbulkan bekas debu maupun suara "Jangan membicarakan membunuh semudah itu, kau tidak akan mengerti bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang sangat berharga terlebih ketika seseorang tersebut mati di tanganmu sendiri"


Hanya dengan sedikit dorongan di kepala, Alzent membuat murid itu terlempar jauh, mengejutkan seisi arena.


"Haha, jangan kira aku kalah karena sentuhan manis seperti itu" ia kembali bangkit, melompat, melesat cepat dan melayangkan tinjunya pada Alzent.


"Terkadang kau harus tahu batasan dirimu sendiri agar tidak terluka di medan perang, jangan pernah menganggap remeh lawanmu dan satu lagi"


Alzent yang tidak berkutik akan tinjuan keras itu, menjatuhkannya ke tanah, meninju tanah di samping kepalanya yang langsung berubah menjadi kawah besar menutupi setengah arena.


"Jangan pernah tersenyum di medan perang, kecuali jika telah menang"


Dengan begitu pertarungan selesai, Alzent keluar sebagai pemenang dan disoraki setiap murid, namun ia sama sekali tidak merasa sebagai seorang pemenang, ia merasa lebih seperti seseorang yang menyedihkan, yang masih terikat masa lalu.


Karena... ia juga pernah menikmati rasa membunuh seseorang dan merasa sebagai penguasa.


Alzent tersenyum sedih "Tidak ada mahluk yang sempurna, benarkan?"