Alive But Dead Inside

Alive But Dead Inside
An Icy Journey #1



Beberapa hari kemudian, mereka bertiga pergi menuju tempat dimana cincin tersebut berada. Namun hal yang ditakutkan adalah jika cincin itu telah diambil oleh bangsa Arkbyss dalam penyerangan, sebab bangsa kegelapan itu juga tahu mengenai The Frost Ring. Tidak mungkin Arkbyss membiarkan cincin seperti itu begitu saja, mereka akan memanfaatkan kekuatan besar apapun hanya untuk menutup seluruh dunia dengan kegelapan, bahkan sampai berani menggunakan bangsa Hellheim. Entah mereka bodoh atau terlalu percaya diri.


Perjalanan tersebut tidak memakan waktu begitu lama, tetapi karena mereka harus menggunakan wujud manusia agar tak terlihat oleh bangsa Frostheim, perjalanan yang seharusnya hanya memakan dua jam, menjadi beberapa jam lebih.


Saat mencapai tempat tersebut, tak ada lagi yang tersisa disana kecuali reruntuhan bangunan yang telah rusak akibat penyerangan Arkbyss. Masih dapat terlihat mayat-mayat dari bangsa Frtosheim yang kemudian membeku dalam bongkahan es, kemudian akan pecah perlahan menjadi bunga-bunga salju.


Benar kata Esrene, tak seorang pun dari bangsa Arkbyss yang mati, dengan kata lain, pasukan yang muncul disini kemungkinan besar sama dengan pasukan yang muncul di dunia Elf. Mereka adalah pasukan normal para Arkbyss, namun dibantu oleh hewan-hewan besar berkekuatan gelap yang sama seperti Uhro, mengetahui masih terlihat bekas jejak kaki mereka yang membekas di salju menjadi warna hitam dengan aura-aura gelap keluar dari dalamnya.


"Aku masih belum mengerti, mengapa Arkbyss sangat ingin menutup seluruh dunia dengan kegelapan?" tanya Lucan sembari memandang pemandangan yang membuat dahinya terus mengerut, semenjak mereka menginjakkan kaki di tempat tersebut.


"Aku tidak tahu jelasnya, tapi dari desas-desus yang kudengar, raja bangsa Arkbyss, Arslaz, berniat mengambil seluruh kekuatan dari tiap mahluk yang ada untuk membentuk sebuah pasukan kegelapan yang besar dan berada dalam kendalinya. Jika ia sampai berani mencoba untuk memanfaatkan bangsa Hellheim, mungkinkah ada sesuatu yang membuatnya ketakutan?" jelas Lightnar, lalu mencoba memikirkan bangsa dari dunia mana yang mampu membuat raja kegelapan itu takut.


"Arslaz, raja kegelapan takut? Tidak mungkin" bantah Esrene "Raja yang kejam serta sadis itu, takut pada sesuatu? Aku sulit mempercayainya"


Lightnar melipat lengan "Tapi untuk apa lagi ia membentuk pasukan kegelapan yang begitu banyak, kalau tidak untuk menghadapi sesuatu? Tidak mungkin hanya untuk hobinya. Setiap pemeran antagonis di sebuah cerita pastinya memiliki sebuah tujuan besar dibalik rencana jahat"


Lucan bergumam pelan, menarik perhatian dua orang di sampingnya. Ia langsung menyadari hal tersebut dan mengatakan "Bagaimana kau tahu jika Arslaz adalah pemeran antagonis nya? Bisa saja dia sedang berusaha melindungi kita semua dari sesuatu, namun menutupi hal tersebut dengan perbuatan kejamnya agar kita tak menyadari bahaya besar yang sedang mengancam dari balik bayangan"


"Kau membicarakan itu seolah-olah kau tahu apa yang akan terjadi" kata Lightnar sedikit curiga "Memangnya apa yang membuatmu berpikir seperti itu? Seharusnya kau punya sebuah alasan atau ide gila apapun yang terlintas di benakmu untuk mendapatkan sebuah penjelasan seperti itu bukan?"


Vampire muda tersebut, tertawa canggung, berdeham beberapa kali, kemudian menjelaskan "Sebenarnya, aku berpikir.. bagaimana kalau selama ini kita dibutakan oleh peperangan yang pernah terjadi beberapa ratus tahun lalu? Bagaimana kalau sebenarnya peperangan beberapa ratus tahun lalu itu tidak ada dan setiap dunia terputus hubungannya karena disebabkan oleh sesuatu? Itu bisa saja terjadi"


Esrene mendengarkan sambil mengangguk pelan "Hmm, itu ada benarnya. Kita tak benar-benar tahu apa yang terjadi di masa lalu itu terjad,i ataukah hanya sebuah cerita yang dibikin secara terperinci dan bukti-bukti untuk menunjukkan keberadaan sesuatu tersebut dimanfaatkan sebagai penguat cerita, sehingga kita mempercayainya sampai sekarang"


Lucan tersenyum penuh arti "Kau tak tahu Lightnar, sebenarnya dunia ini jauh lebih rumit dibanding apa yang bisa kau pikirkan dengan otakmu itu" lalu menunjuk Alpha muda di sampingnya "Dan bumi pasti akan baik-baik saja!"


"Ya ya ya, terserah kau mau bilang apa"


Tanpa keduanya sadari, Esrene tertawa melihat tingkah laku Lucan dan merasakan sesuatu yang baru di hatinya, yang mungkin dapat membuat ia merasa tenang setelah kehilangan adik tersayangnya, namun akan menimbulkan masalah yang cukup rumit.


Tiba-tiba, tanah di bawah mereka bergetar disertai suara keras. Ketika menyadari apa yang akan terjadi, mereka terlambat untuk bertindak dan terjatuh ke bawah bersama bongkahan es yang ternyata tertutupi salju itu. Lightnar dan Esrene juga sudah mencoba untuk memunculkan sayap mereka, sayangnya tak bisa, begitu pula dengan pedang darah Lucan yang bukannya membuat ia terbang, melainkan membasahi wajahnya menjadi warna merah.


Mereka terjatuh ke sebuah ruangan besar yang terasa sangat dingin, hingga darah di wajah Lucan membeku, membuat ia jatuh menimpa es. Lightnar bergegas menghancurkan es tersebut sebelum Lucan kehabisan napas, lalu memberikannya sihir penguat fisik agar mampu bertahan dalam hawa yang begitu membeku, sampai membuat kedua Alpha muda gemetaran dan Lucan terus bersin yang mengubah ingusnya menjadi kristal es indah.


"Uuu.. aku bisa memberikan ini pada Reyla" ucapnya sambil mengambil kristal-kristal es tersebut.


"Kau mau memberikan Reyla ingusmu sendiri?" tanya Lightnar dengan raut wajah yang mengatakan 'eww jijik'.


"Reyla siapa?" tanya Esrene penasaran.


"Pacarku" jawab Lucan, lalu menyimpan krsital-krsital es itu, menyusul Lightnar menyusuri koridor besar, lebar serta panjang yang sepenuhnya terbuat dari es dan berukiran indah.


Senyuman manis Esrene sedikit memudar mendengar hal tersebut. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba untuk tidak memikirkannya, lalu ikut berjalan mengikuti mereka berdua.