Alive But Dead Inside

Alive But Dead Inside
Beautiful and Dangerous



Begitu para Syren menyerang, mereka tak lagi menggunakan serangan seperti plasma air atau apapun yang berjarak jauh. Mereka menggunakan dua pedang di punggung mereka, menari indah denganĀ  sayatan berbahaya, seperti seorang assassin yang mahir dalam membunuh, namun mempesona dan menghayutkan. Kemampuan mereka itu, membuat pasukan Elven kewalahan dalam menghadapinya. Mereka selalu tersihir oleh tarian serta nyanyian merdu Syren, tetapi begitu sadar, kepala mereka sudah tak lagi berada di tubuh.


Lightnar dan yang lainnya terpaksa mundur sembari menghindari serangan-serangan berbahaya tersebut, mereka harus mencari tahu cara agar tidak termakan oleh tarian maupun nyanyian mereka, namun melihat situasinya, Lightnar mengumpulkan bola api di tangan, lalu ditembakkannya ke udara dan pecah seperti sebuah kembang api.


Dari balik dinding kerajaan, para Harpy terbang tinggi, meluncur dari udara masuk dalam pertempuran. Dua bangsa dengan hobi yang sama akhirnya bertemu, pertempuran antara perempuan, pertempuran yang tak diduga berubah menjadi lautan berdarah.


Para Harpy menggunakan kemampuan mereka terbang di udara, bermanuver cepat dan lincah, menyayat tubuh Syren dengan cepat dan sulit ditebak, sementara para Syren menggunakan zirah kuat mereka untuk menangkis serangan-serangan tersebut dan melompat tinggi, menyerang Harpy di udara, membelahnya menjadi beberapa bagian.


Peperangan kedua bangsa tersebut, memukau sekaligus menyeramkan. Kedua bangsa adalah bangsa yang dikenal akan kecantikan wanitanya sekaligus betapa berbahayanya mereka. Masing-masing menggunakan cara berbeda, bertarung dengan indah namun mematikan.


Bangsa Elven sebisa mungkin membantu dengan menembakkan panah ke arah para Syren yang langsung terpental, mau tidak mau mereka harus menggunakan panah yang telah diukir oleh rapalan sihir, panah yang dapat dengan cepat membuat 'mana' dalam tubuh mereka habis. Namun, panah tersebut akhirnya dapat menembus zirah hijau itu, memperlambat refleks para Syren, sehingga para Harpy dengan mudah membunuh mereka.


Lightnar sebenarnya tak ingin menggunakan para Harpy terlebih dahulu, sebab para Harpy dapat menjadi senjata andalan mereka untuk menghadapi sesuatu yang jauh lebih gawat, tapi situasi yang tidak baik, membuat Lightnar terpaksa memanggil mereka menggunakan kode sinyal itu. Kini, ia takut bagaimana Alzent akan bertindak sesudah melihat bangsa yang seharunya menjadi sekutu, sekarang saling menghabisi di medan perang.


"Ingatlah Lightnar, demi membuktikan siapa sebenarnya Alzent" ucap Uhro dalam pikirannya.


Lucan memerhatikan Lightnar yang bersikap sedikit aneh, berbicara pada dirinya sendiri sampai mengepalkan tangan dengan kuat dan menggigit bibir. Lucan lalu menggelengkan kepala untuk tidak memikirkannya, mencoba fokus pada peperangan di depan, mencari kesempatan untuk membantu para Harpy sebab mereka tak mungkin dibiarkan berperang sendiri.


Tern bersiul "Aku tidak menyangka menyaksikan para Harpy berperang membuatku dapat melihat hal-hal indah" ucapnya sembari memerhatikan bentuk tubuh Harpy yang tak dipungkiri dapat membangkitkan nafsu, ditambah pakaian mereka yang terbuka "Sayang sekali bangsa Orc tinggal sangat jauh dari sini, sehingga jarang bertemu mereka"


Lucan lalu melempar sebuah batu ke kepala Tern "Berhenti memerhatikan bagian itunya, kita dalam perang, bukan pantai. Meskipun harus kuakui kau ada benarnya, tapi mereka butuh bantuan kita dan sudah menjadi tugas kita sebagai laki-laki untuk membantu wanita yang kesulitan" kata-katanya barusan membuat alis yang mendengarkan, terangkat naik. Mereka tersenyum dan mengangguk setuju.


"Ya, itu memang benar. Pacarku pun berada di sana, aku tak bisa membiarkannya berperang sendiri. Aku harus melindunginya" balas Lightnar, mengumpulkan kekuatannya di kedua tangan hingga lingkaran api muncul di masing-masing lengannya.


"Mengapa pikiranmu terus dipenuhi soal perempuan" Lucan memunculkan dua pedang darahnya, beserta seratus pedang lain di belakangnya yang siap melesat cepat, menghabisi musuh yang menghalangi jalan "Sudah kukatakan, ini adalah medan perang" tukasnya sekali lagi.


Veron menciptakan sebuah Scythe berwarna hitam-keunguan dengan dua pisau di bawah serta di atas. Setiap ujung pisau tersebut mengarah ke arah yang berbeda satu sama lain. Veron memutar-mutar Scythe tersebut di kedua tangannya, menimbulkan suara angin terbelah yang membuat dirinya diperhatikan. Ia lalu menghantamkan Scythe itu ke tanah disertai ledakan energi gelap, terkejut begitu sadar setiap mata memandangnya "Apa?"


Lucan tertawa kecil "Entah mengapa aku merasa iri padamu yang berhasil tampak keren" ucapnya.


Tern tertawa keras "Hahaha... aku suka senjatamu itu. Lain kali, aku akan memintamu untuk bertarung melawanku menggunakan Scythe tersebut, namun sekarang ayo kita habisi para Syren ini"


Lightnar menembakkan bola api besar ke udara yang selanjutnya pecah menjadi bola-bola api seukuran mobil, menghujani medan perang sebagai tanda untuk maju. Mereka mulai berlari kencang masuk dalam neraka tersebut, menghadapi setiap serangan berbahaya, berusaha untuk bertahan hidup dan mencapai tujuan bersama, yaitu kemenangan.


Bangsa Syren pun tak lagi gentar menghadapi mereka, mereka maju menerjang, menyerang menggunakan dua pedang tajam mereka, menyerang dengan tarian-tarian yang dapat membius. Beberapa masih berhasil membius mangsa mereka, namun sisanya sudah dapat bertahan dan balik menyerang yang tentu saja mengejutkan para Syren. Tapi, anehnya mereka bukan menjadi waspada, melainkan semakin ganas, tak lagi menggunakan tarian-tarian indah, namun menyerang seperti seekor monster menerkam mangsa.


Lightnar dan yang lainnya memberikan perlawanan keras, tubuh mereka juga mulai dipenuhi luka sayat yang dalam. Terus menyerang sambil menghindar ayunan-ayunan pedang dan hujan meteor yang masih terbentuk setiap kali Lightnar menembakkan bola api besar ke udara. Panas dari bola api tersebut berhasil membuat pasukan Syren sedikit lemah dan harus menjaga jarak, sehingga pasukan Elven dapat dengan mudah membunuh mereka selagi perhatian para Syren teralihkan oleh bola-bola api.


Luna yang menemani Alzent dalam tidurnya, terkejut melihat jari Alzent bergerak perlahan. Ia terus memanggil nama Alzent dengan air mata yang kembali mengalir. Tak ada yang menyadari jika Alzent terbangun karena sihir gelap yang kuat berada tak jauh dari Risenland, bahkan Luna yang paling dekat pun tak sadar jika terdapat aura samar kehitaman di sekitar tubuh laki-laki tersebut.


Dalam tidurnya, Alzent terus mencoba bertahan dari sihir gelap yang mencoba merebut dirinya, ia terus berlari dan berlari menghindari sihir tersebut. Ia tak dapat merasakan kekuatan apapun dalam tubuhnya, sehingga begitu sihir itu berhasil mendapatkan jiwanya, Alzent hanya dapat meronta-ronta untuk bebas, namun perlahan menjadi lemah.. lemah.. dan semakin lemah. Hingga akhirnya.. Alzent tak memiliki kekuatan sama sekali untuk terus dapat menahan kesadarannya yang perlahan dirasuki oleh sihir kegelapan. Begitu seluruh sihir tersebut berhasil masuk, kepala Alzent tertunduk ke bawah, seluruh tubuhnya berubah menjadi hitam pekat dengan garis-garis tribal keunguan di setiap anggota tubuhnya hingga leher. Ia mengangkat kepalanya, menunjukkan dua pasang mata berwarna ungu terang.


"Waktunya membalaskan dendam"