
Sesudah membawa gadis Elf itu ke dalam sebuah kamar yang terdapat Shrine of Light, Lightran memikirkan rencana mereka selanjutnya. Tanpa perlu dijelaskan, ia mengerti Dawnfiant dalam situasi tidak baik, terlebih naga milik Elf tersebut kini mati sesudah memaksakan terbang dengan kecepatan melebihi kapasitas paru-parunya, membuat ia kesulitan bernapas. Setidaknya, Lightran sudah membakar jasadnya dan menyebarkannya di atas gunung.
Lucan dan Veron masuk ke dalam satu-satunya ruangan selain kamar tempat berbaringnya si gadis Elf. Ruangan itu terlihat sederhana dengan perabotan dari kayunya, yang tumbuh dari batang phon itu sendiri. Mereka duduk di salah satu bangku yang tersedia, sebab terdapat 6 bangku mengitari sebuah meja bundar tepat di tengah ruangan.
"Jadi, apa yang akan kita lakukan?" tanya Veron.
"Perjalanan dari kerajaan Dark Elf menuju Dawnfiant akan memakan banyak waktu, terlebih tampaknya mereka mengerahkan pasukan untuk pertempuran berskala besar kali ini. Kemungkinan besar, mereka akan sampai di Dawnfiant sekitar 2-3 minggu, sementara perjalanan kita membutuhkan waktu seminggu lebih" jelas Lightran.
Veron melipat lengan, berusaha memikirkan rencana terbaik dalam kepalanya "Jika kita kembali ke Dawnfiant sekarang, masih ada waktu untuk membantu para Holy Knight membangun pertahanan dan kita sudah akan siap untuk berperang, namun aku yakin mereka dapat melakukannya sendiri" terbersit sebuah ide dalam kepala Veron "Bagaimana kalau, kita menggunakan waktu yang tersisa untuk membawa bala bantuan? Lalu mengejutkan pasukan Dark Elf dengan menyergap mereka?"
"Tapi, adakah mahluk hidup lain selain Elf, Dark Elf dan para naga yang dapat berpikir?" tanya Lucan.
Lightran tampak ragu sesaat, lalu menjawab "Sebenarnya.. ada. Tapi, kalau bisa aku tidak ingin meminta bantuan mereka"
"Kenapa?" tanya Lucan bingung.
"Mereka adalah bangsa Harpy. Jangan tertipu oleh kecantikan mereka maupun kata-kata manis mereka, mereka adalah mahluk kejam yang tak segan merengut nyawa orang lain" jawab Lightran.
Mata Lucan tampak berbinar-binar mendengarnya, ia sangat penasaran dengan mahluk tersebut dan tak sabar untuk menemuinya "Kita tinggal memberikan apa yang mereka inginkan bukan? Lalu meminta mereka menjadi sekutu untuk menghadapi Dark Elf, di mana Dark Elf itu sendiri akan menjadi ancaman bagi mereka"
Veron menggeleng tak setuju dengan saran tersebut "Untuk apa menjadi musuh jika bisa menjadi teman? Itulah yang akan mereka pikirkan, kecuali Harpy adalah mahluk yang lebih suka untuk berdiri sendiri tanpa tunduk pada mahluk lain"
Lightran mengangguk membenarkan "Untungnya para Harpy lebih suka untuk bebas di wilayah mereka, dibanding harus tunduk pada seseorang, namun mereka juga pasti memikirkan, apa untungnya bagi mereka untuk melawan Dark Elf? Mengingat Harpy juga adalah mahluk yang tamak"
"Kalau begini caranya, mau tidak mau kita harus mengunjungi mereka dan bernegosiasi" ucap Veron.
Karena tak memiliki rencana lain yang lebih baik dibanding itu, mereka bersiap-siap untuk berangkat di kemudian hari. Si gadis Elf siuman ketika hari telah pagi dan ia langsung setuju untuk ikut bersama mereka, ke sebuah daratan asing yang belum pernah disentuh oleh bangsa Elf maupun Dark Elf.
Selama dalam perjalanan melewati daratan dengan pepohonan berdaun putih, mereka akhirnya tiba kembali di daratan dengan pohon berdaun kemerahan, lalu Lightran berbelok ke arah kanan, melewati pegunungan tinggi yang terasa dingin menusuk, ke sebuah daratan tinggi di mana salju turun, memisahkan daratan hangat dengan daratan bersalju, seperti ada semacam kaca penghalang di antaranya. Alzent mengingat sesuatu, lambang milik para Harpy mirip dengan jepit rambut yang dikenakan oleh gadis di rooftop sekolah "Masa iya?" tanyanya tidak yakin.
"Ada apa Alzent?" tanya Veron.
"Oh, tidak ada apa-apa" jawabnya cepat agar sahabatnya itu tidak curiga.
Namun, jika memang benar gadis itu adalah salah satu dari para Harpy, mungkin saja ia bisa meminta tolong padanya, meskipun kayaknya gadis tersebut bakalan meminta sesuatu yang tak masuk akal pada Alzent, mengingat sifatnya yang sedikit menyebalkan.
"Lightran, apakah ada bangsa lain selain para Harpy di dunia ini?" tanya Lucan penasaran.
"Tentu saja. Dunia ini adalah dunia yang luas dengan daratan besar terbentang sejauh mata memandang. Namun, berbeda dengan para manusia, kami memiliki wilayah masing-masing, di mana wilayah lain tidak cocok dengan kami, seperti Elf maupun Dark Elf berada di tempat yang lebih hangat, sementara Harpy di tempat dingin, lalu bangsa Orc di padang pasir dan Siren di lautan. Hanya para nagalah yang dapat bertahan di suhu manapun" jawab Lightran "Jangan bilang kau ingin mengunjungi satu per satu bangsa yang ada di sini?" tanyanya curiga.
Lucan tersenyum lebar "Tentu saja, aku benar-benar penasaran dengan mahluk-mahluk yang tak pernah aku temui sebelumnya. Siapa tahu, kita semua dapat menjadi teman bukan? Apa salahnya mengumpulkan sebanyak mungkin sekutu sebelum kembali ke bumi dan menghadapi masalah besar yang tak lama lagi akan terjadi"
Lightran terkejut mendengar hal tersebut "Oh? Masalah apa yang ada di dimensi kalian, sehingga kalian harus mengumpulkan begitu banyak sekutu?"
"Entahlah, tampaknya terjadi sebuah retakan dimensi di dunia kami, di mana retakan tersebut jika berhasil ke luar, akan membawa malapetaka tak hanya ke pada dunia kami, namun juga dunia lainnya" jawab Veron santai.
"Apa!?" Lightran tiba-tiba berhenti, dengan marah mengatakan "Mengapa kalian tak pernah menceritakan hal itu padaku? Masalah dunia kalian tersebut sangat besar, dengan kata lain, setiap nasib dunia lainnya berada di pundak kalian saat ini! Terlebih kalian mengatakan retakan dimensi, hanya ada beberapa mahluk yang mampu meretakkan sebuah dimensi dan memaksa masuk ke dunia lain. Aku peringatkan, mahluk tersebut tak dapat ditahan hanya mengunakan bantuan dari dunia ini, kalian juga membutuhkan bantuan dari dunia lainnnya sebelum terlambat"
Selepas berceramah, Lightran langsung memacu lajunya, membuat mereka berempat terlempar ke belakang dan hampir saja jatuh ke bawah "Tenang saja, kalau kalian jatuh pun, aku akan menangkap kalian lagi" jawabnya, begitu Lucan berkomentar.
Tanpa mereka sadari, Alzent memegang erat bajunya, mencoba menahan rasa sakit di dada yang entah mengapa kembali muncul ke permukaan semenjak mereka memasuki wilayah para Harpy. Di lain pihak, seorang Harpy terjatuh ke tanah, menahan rasa sakit yang sama seperti Alzent. Karena itu, para Harpy mengambil senjata mereka, bersiap jika ada mahluk asing datang menyerang. Sang ratu dari para Harpy, memerintahkan untuk segera membawa siapapun yang membuat putrinya seperti ini.