
Lucan lalu menerjang Tern, mengayunkan pedang tersebut, namun Tern dapat menghindarinya dan menatapnya bingung setengah meremehkan "Kau siapa? Aku hanya ingin melawan Alzent. Cecunguk lemah sepertimu lebih baik mundur"
"Jangan pernah menyebutku, lemah" Setiap tetes darah dari mayat yang ada disekitarnya, melayang naik "Aku berbeda dari Alzent, jangan mengira aku akan menahan diri untuk Orc sombong sepertimu" Setiap butiran darah tersebut kemudian berubah menjadi pedang-pedang tajam yang melesat cepat ke arah Tern. Seperti memiliki pikiran sendiri, menyerang Tern tanpa perlu mengikuti perintah dari Lucan.
Tern terus menangkis ayunan tajam pedang-pedang itu, mengatakan "Baiklah, kalau memang itu maumu, jangan menyesal telah melindungi orang bodoh itu"
Kedua mata Lucan melebar, amarahnya benar-benar telah memuncak, ia lalu membuat setiap tetes darah dari setiap pasukan yang telah kehilangan nyawa, melayang di udara, di mana pasukan dari kedua kubu terkejut dan terdiam melihatnya. Setiap tetes darah yang sangat banyak jumlahnya itu, berubah menjadi pedang-pedang dengan bentuk yang sama "Kau tidak mengenal dirinya, jangan pernah menghina sahabatku itu atau akan ku buat hidupmu mati dalam penderitaan" ancam Lucan.
Keringat dingin Tern bermunculan di dahinya, ia tahu sudah mencari masalah dengan orang yang salah, melihat tatapan penuh hawa membunuh dari Vampire muda tersebut. Tapi, apa lagi yang bisa dilakukannya selain bertarung? Jadi, Tern memasang kuda-kuda, senyuman lebar telah hilang dari wajahnya.
Lucan mengarahkan lengannya ke arah Tern, seketika setiap pedang tersebut melesat cepat seperti memiliki pikiran, menyerang Tern tanpa ampun. Darah yang berwarna merah-kehitaman, biru-kehitaman, hijau-kehitaman serta emas-kehitaman itu menyerang Tern seperti sebuah tornado besar, memerangkap Tern di dalamnya, tak memberikannya kesempatan untuk bernapas. Namun, Tern masih belum menyerah, ia mencoba untuk mengumpulkan energi dan mengeluarkannya bersamaan, berhasil memecah tornado tersebut. Lucan tersenyum jahat, tertawa kecil lalu setiap pedang kembali melayang tinggi, ujung tajam mereka siap menusuk masuk tubuh Orc tersebut.
Begitu Lucan berbalik ke belakang, melangkah kembali ke tempat Alzent, pedang-pedang tersebut melesat seperti sebuah peluru. Sayangnya, yang terkena bukanlah Orc itu, melainkan Alzent, ia berusaha melindungi Orc itu dengan tubuhnya. Lucan terkejut, menarik kembali pedang-pedang tersebut, merubahnya kembali menjadi cairan kental.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Tern bingung.
"Kita disini bukanlah untuk membuat musuh, kita disini untuk membuktikan apakah kita pantas berjuang bersama atau tidak. Jangan khawatir, setiap pasukanmu sama sekali tidak ada yang mati, nyawa mereka hanya terkurung dalam Lifestone milik para Elven" jawab Alzent, lalu terjatuh lemah, ditangkap oleh Lucan yang tampak begitu khawatir.
"A-apa yang baru saja kau lakukan, bodoh!" bentaknya.
Medan pertempuran menjadi hening sesudah mendengarkan penjelasan Alzent tersebut. Bangsa Orc tak tahu harus mengatakan apa, mengetahui bangsa Elven sama sekali tidak membunuh mereka, hanya mengambil dan menyimpan nyawa mereka dalam Lifestone. Secara teknik itu memang masih termasuk membunuh, tapi mengingat mereka benar-benar membunuh bangsa Elven, mereka tak tahu harus menebusnya dengan apa.
Tak lama, pasukan utama bangsa Orc mencapai medan pertempuran tersebut, mereka mendengarkan apa yang telah terjadi disana lalu Warchief meminta agar seluruh bangsa Orc membantu bangsa Elven membersihkan kekacauan yang terjadi, sekaligus mengembalikan jiwa tiap pasukan kembali pada tubuh mereka yang kelihatan pucat serta lebih lemah, karena darahnya dipakai oleh Lucan untuk menjadi sebuah senjata. Lalu dengan bantuan Shaman, mereka menyambungkan kembali bagian tubuh mereka yang terpotong, selagi menunggu Alzent siuman dan ia akan menghadapi 2 dari 5 pemimpin bangsa Orc, untuk menunjukkan ia memang pantas. Namun, bangsa Orc telah menyetujui, bahwa Alzent memanglah seorang ksatria yang tak hanya seorang ksatria biasa, melainkan seorang ksatria berhati besar, seseorang yang sangat jarang ditemui, sebab kebanyakan dari mereka memiliki hidup yang pendek di dunia seperti ini.
Sayangnya pasukan Elven yang telah kehilangan nyawa, tak lagi dapat dikembalikan seperti semula. Untuk mencapai sebuah tujuan, dibutuhkan sebuah pengorbanan. Semakin besar tujuan tersebut, semakin besar pula pengorbanan yang dibutuhkan. Tentu saja, Alzent lah yang menanggung seluruh pengorbanan tersebut, di mana tak lama sesudah pasukan utama bangsa Orc tiba, pasukan Elven yang tadinya kehilangan nyawa, kini kembali bangun, bahkan tanpa luka.
Zeon memerhatikan semua itu dari tempat yang jauh, menghela napas panjang "Dasar, kau terlalu baik. Jika seperti ini terus, aku tidak yakin seberapa lama lagi kau dapat bertahan"
Namun, dari kejauhan, sebuah getaran kuat terasa di atas tanah. Getaran tersebut makin lama makin terasa banyak disertai suara langkah berat. Seorang dari bangsa Orc kemudian melaporkan, jika terlihat mahluk raksasa dari batu sedang berjalan menuju tempat mereka, mahluk-mahluk berukuran sangat besar dengan lumut di sekitar tubuh mereka. Tidak seperti sebuah golem, masing-masing dari mereka memiliki bentuk sendiri.
Lalu, sebuah ombak besar tiba di Risenland, ombak tersebut diam tepat di depan dinding kerajaan. Di atasnya, seorang Syren menatap ke bawah, seperti melihat mahluk rendahan "Namaku Sysilla, ratu dari bangsa Syren. Kami akan menyerang kerajaan ini dan merebut setiap Lifestone yang ada, bersiaplah"
Dengan begitu, dua bangsa yang tersisa kini akan berperang melawan dua bangsa lain dan dengan kemunculan mahluk seperti Gigant, rencana awal yang mereka miliki, tampaknya tidak akan berhasil. Sementara itu, Alzent masih tertidur tanpa menunjukkan tanda-tanda akan bangun, Lightnar dan yang lainnya khawatir jika mereka terpaksa menghancurkan kedua bangsa ini, dibanding berusaha membangun hubungan dengan mereka, sebab dari awal hingga sekarang, Alzent lah yang mendapatkan ide-ide tersebut.
Lightnar berusaha untuk membuat rencana, memaksa berbagai macam ide untuk mencegah seseorang terbunuh. Sayangnya, tak satupun ide muncul dan para Gigant mulai terlihat. Mereka tampak begitu menakutkan dan siap akan menyerang.