
Alzent menciptakan sebuah kubah berwarna keemasan dari lingkaran sihir miliknya untuk melindungi kerajaan dari serangan para Gigant yang entah mengapa tiba-tiba dapat bergerak cepat serta gesit, tak lamban seperti sebelumnya. Hanya para Holy Knight yang hanya sedikit terluka serta orang-orang berkekuatan besar menghadapi mahluk-mahluk dari batu ini. Serangan mereka yang awalnya lamban namun memiliki daya hancur besar, kini ditambah dengan kecepatan serta gerakan yang gesit membuat mereka semakin berbahaya serta sulit dihadapi. Bahkan membunuh mereka saja tidak bisa.
"Dasar mahluk-mahluk bodoh! Kalian tidak akan pernah bisa melawan kami, mahluk rendahan seperti kalian tak bisa berbuat apa-apa!" sahut Uhro, lalu berlari kencang, melompat-lompat menghindari serangan para Holy Knight untuk mencapai tempat Alzent berada dan mengayunkan cakar besarnya "Kami tidak akan pernah bekerja sama dengan kalian, kami berbeda" ucapnya dengan penuh amarah mengetahui Alzent dapat menahan cakar besar miliknya.
"Mungkin kami memang kecil, lemah serta tak mampu menghadapi lawan seorang diri, namun!" Alzent menghempaskan singa raksasa tersebut ke belakang, kemudian menciptakan pedang emasnya kembali "Selama kami memiliki hati dan kepercayaan, kami dapat mengalahkan apapun yang menjadi tantangan!" Alzent melempar pedang tersebut ke langit. Pedang itu pecah menjadi serpihan-serpihan cahaya keemasan yang saling tersebar di atas Uhro, membentuk sebuah lingkaran sihir besar, mengeluarkan sebuah pedang raksasa dengan gaya gravitasi besar, membuat Uhro tak mampu bergerak dari tempatnya. Alzent menyatukan telapak tangannya yang berada di bawah, memperlihatkan Uhro, lalu yang berada di atas, memperlihatkan pedang tersebut, seakan-akan dua hal itu berada dalam genggamannya.
Tubuh Uhro hancur akibat tusukan pedang rakasa itu hingga menjadi kepingan-kepingan kecil, ditambah gaya gravitasi besar membuatnya semakin hancur lagi. Begitu pedang rakasa Alzent menghilang menjadi kepulan asap emas, batu permata milik Uhro melayang di udara, setiap potongan tubuhnya kembali bersatu disertai suara tawa yang menggelegar "Hahahaha.. kau pikir kekuatan seperti itu mampu membunuh kami?" tawanya makin besar "Terlalu naif. Kau masih belum tahu kekuatan yang bahkan jauh lebih besar dari milikmu itu dan kau berencana menghadapi, mahluk yang mampu meretakkan dimensi?" tubuh Uhro telah kembali seperti semula, ia berjalan mendekati Alzent "Anak muda, kau tak tahu mereka sekuat apa, sebaiknya aku perintahkan kalian untuk mundur dan biarkan bumi tempat manusia berada, hancur berantakan"
"Kau memintaku untuk meninggalkan bumi begitu saja?" Alzent mengumpulkan kekuatan di keduanya tangannya "Aku bukan tipe orang sepertimu, yang meninggalkan sesuatu hanya karena tak mampu menghadapinya. Mungkin kalian dapat hidup kembali, sayangnya hati kalian telah mati" Alzent menyatukan kedua bola energi keemasan di tangan, membentuknya menjadi sebuah panah. Ia menarik panah tersebut, menciptakan sebuah panah keemasan dengan kekuatan besar yang membuat setiap debu di sekitar Alzent berputar kencang mengikuti arah putaran ujung panah tersebut. Saat Alzent melepaskannya, terdengar bunyi memekakkan telinga, panah itu melesat cepat menembus tubuh milik Uhro, memecahkan permata miliknya.
Seketika permata tersebut bercahaya terang, mengembalikan tubuh Uhro, namun ia tampak berbeda sekarang. Tubuhnya terlihat semakin ganas dengan bebatuan tajam serta bergerigi, cakar batunya berubah menjadi besi berwarna hitam mengilap. Uhro membuka mata, memperlihatkan dua bola mata dengan iris berwarna oranye terang "Sudah kukatakan, kekuatan milikmu takkan bisa membunuh kami. Itulah alasan Gigant menjadi bangsa yang paling dihormati serta ditakuti sebelumnya. Menyerahlah anak muda, sebelum kami meratakan tempat ini dengan tanah" sahutnya.
"Sayangnya kalian pernah dikalahkan oleh umat manusia bukan?" Alzent tersenyum melihat raut wajah Uhro yang seketika tampak dipenuhi amarah "Bangsa yang paling kuat, bangsa yang paling dihormati, kalah oleh manusia yang biasa saja? Dan kau masih menyebut kalian bangsa dengan derajat paling tinggi? Aku sungguh ingin tertawa mendengarnya"
"Kau akan menyesal sudah berkata seperti itu, mahluk rendahan!" Uhro berlari cepat ke arah Alzent, mengayunkan cakar besinya yang menimbulkan angin-angin kencang tajam, mampu menembus zirah milik para Holy Knight sesudah beberapa kali terkena di tempat yang sama, membuat Holy Knight harus menjaga jarak. Alzent menggunakan lingkaran sihir emasnya kembali yang langsung hancur begitu terkena cakar besi Uhro. Ia melompat ke belakang, namun cakar tersebut berhasil mengenai tubuhnya, membuat Alzent terlempar cukup jauh ke belakang.
"Alzent!" teriak Lightnar, lalu berubah menjadi seekor naga, menyerang Uhro menggunakan cakar miliknya. Lightnar mengangkat tubuh Uhro yang lebih kecil itu ke atas langit, kemudian melemparnya tinggi melewati awan, membiarkan tubuh Uhro terhantam keras dengan tanah, lalu ia bakar menggunakan apinya yang mampu melelehkan zirah Holy Knight.
Alzent melesat cepat ke hadapan Uhro, memberikan sebuah tinjuan keras ke wajah singa tersebut hingga terpelanting ke belakang, lalu membelah dua tubuhnya menggunakan pedang yang sedetik kemudian tersambung kembali "Aku akui, kau memang memiliki rasa tak mudah menyerah. Sayangnya, kelebihanmu itu membuatmu bodoh dalam menilai situasi" Uhro segera bangkit, berlari kencang ke arah Alzent yang sementara melayang di udara sesudah memberikan serangan tadi. Uhro membuka kedua mulutnya dengan lebar, memakan Alzent hidup-hidup, membuat teriakan Alzent hanya terdengar setengah, namun terus terngiang-ngiang dalam kepala.
Uhro tertawa keras, ia lalu melangkah mendekati teman-teman Alzent yang sementara bertarung melawan anak buahnya "Sebaiknya kalian berhenti, kami tidak suka mengambil nyawa mahluk rendahan seperti kalian. Alzent telah tiada, lalu kalian yang lebih lemah darinya bisa apa?" sahutnya meremehkan.
Lucan melangkah maju "Oh? Lucu sekali. Kau belum pernah melihat kekuatan kami dan langsung menilai kami lemah?" kedua mata Vampire muda itu berubah merah menyala, tetesan-tetesan darah yang berada di medan peperangan ikut terangkat bersama dirinya "Asal dirimu tahu saja, kekuatan Alzent sama kuatnya dengan kami, kamilah yang menahan diri" begitu kedua mata Lucan bercahaya makin terang, setiap tetesan darah tersebut berubah menjadi pedang-pedang berukuran besar.
Veron lalu ikut melangkah maju, kedua matanya berubah biru terang. Setiap kekuatan yang telah berhasil ditirunya, kini muncul. Ombak milik para Syren, zirah Holy Knight, Lost Soul milik Orc dan sihir kegelapan milik Dark Elf menjadi satu dengan dirinya, namun berwarna ungu-kehitaman dan jauh lebih kuat "Maaf saja karena tidak menganggap kalian ancaman yang serius. Sekarang.. bolehkah kita membuktikan perkataanmu tadi?"
Uhro melangkah mundur, merendahkan tubuhnya, siap menerjang "Hanya kekuatan curian, jangan bangga terhadap diri sendiri. Aku sudah pernah menghadapi seseorang yang memiliki seluruh kekuatan tersebut" ucapnya.
"Baguslah, sekarang kau tahu betapa mengerikannya ketika kami bekerja sama" balas Lucan.
Uhro maju menerjang dua orang tersebut, sementara Lucan mengarahkan tangan kanannya ke singa raksasa, membuat setiap pedangnya melesat mengarah pada Uhro. Veron berlari maju, menggunakan ombak-ombak yang muncul di bawah kakinya untuk melangkah makin tinggi hingga sama tingginya dengan wajah Uhro, kemudian membangkitkan Lost Soul dan merapalkan mantra kegelapan Dark Elf. Empat lingkaran sihir besar, mengelilingi satu lingkaran sihir utama, berwarna ungu gelap terbentuk di depannya, menembakkan beberapa bola api berwarna ungu kehitaman, menghancurkan sisi-sisi depan tubuh Uhro.