
Capt memeriksa kembali kekuatan tornado di kawah yang kini telah berkurang drastis. Akhirnya para tentara dapat bernapas dengan lega, namun masih belum dapat mengurangi kewaspadaan sebab berkurangnya kekuatan dari tornado ini mennjukkan dua kemungkinan, pertama Tornado tersebut akan menghilang atau kedua, pertanda dari seusatu.
Salah satu anggota kepercayaan Capt datang menemuinya di dalam tenda, bertanya "Capt, menururt anda apakah ini pertanda baik atau buruk?"
"Menurutmu bagaimana?" tanya Capt balik.
"Jujur saja, ini tidak membuatku tenang sama sekali, seakan berkurangnya kekuatan dari tornado tersebut menandakan sesuatu yang jauh lebih kuat akan muncul" jawabnya gelisah.
"Aku juga memikirkan hal yang sama, Private"
Sementara itu, Alzent dan yang lainnya telah sampai di depan sebuah pohon besar, disebut sebagai Jomon Sugi, sebuah pohon tertua di bumi yang terletak di Pulau Yakushima, Jepang. Alasan mereka pergi ke sana, hanya untuk mengambil 3 buah daun dari pohon tersebut, sebagai bahan untuk memancing sihir dalam retakan dimensi Elf sehingga dapat aktif kembali.
Alzent, Lucan serta Veron masih belum dapat mengerti alasan mereka harus berpindah dimensi ke dunia para Elf, seakan itu adalah yang begitu penting. Tapi mereka tak ragu sedikitpun untuk percaya pada Gerald, terlebih jika pindah ke dimensi ini dapat membuat mereka lebih kuat agar tidak kalah terhadap satu mahluk asing.
Sebuah pertanyaan terus terputar di dalam benak Alzent, mengapa Zeon menyebut jika dirinya itu sama sepertinya? Mereka berdua jelas-jelas mahluk yang berbeda, cuma memiliki warna mata yang sama. Itu adalah hal yang normal bukan? Sayangnya, Alzent belum mnyadari jika di pupil matanya terdapat sebuah lambang samar, berbentuk seperti sebuah bintang bersudut enam dengan sisi-sisi yang panjang serta tipis, dimana di tengahnya terdapat sebuah bentuk lingkaran sihir dengan beberapa kata tersusun di dalamnya.
"Hey, kau baik-baik saja? Semenjak dari Finlandia kau terus saja melamun" tanya Luna khawatir, di tangannya sudah terdapat 3 buah daun dari pohon Jomon Sugi.
"Tidak perlu khawatir, Luna. Dia masih memikirkan kekalahan pertamanya" jawab Lucan sambil tersenyum khasnya "Sebaiknya kita bergegas ke dunia para Elf itu, aku sudah tidak sabar menemui mahluk yang menurut legenda memilki paras yang begitu indah serta cantik" matanya berbinar-binar sambil membayangkan sosok para Elf tersebut.
Veron menggeleng pelan, menggenggam bahu Alzent erat "Tenang saja, kita pasti akan membalas mahluk itu nantinya. Untuk sekarang, ayo kita fokus pada misi"
Tidak butuh waktu lama, mereka menemukan sebuah benda aneh yang mirip seperti di Finlandia sebelumnya. Luna dengan sihirnya, melempar sebuah Emerald yang dibungkus rapi menggunakan daun dari Jomon Sugi dan terjadi lagi, sebuah gelombang kuat, mendorong apapun yang menghalangi jalan, membuat dedaunan berhias salju melayang tinggi di udara. Dengungan keras dari portal yang mulai terbentuk kembali terdengar begitu jelas, cahaya keemasannya serasa akan membutakan mata lalu terjadi ledakan gelombang di dalam portal, menyebarkan aura cahaya kehijauan ke sekitar portal berhiaskan sinar emas indah. Setiap salju yang berjarak 100 meter dari portal, meleleh, udara hangat keluar dari dalamnya, kupu-kupu, burung, serta hewan-hewan lainnya bermunculan entah darimana, mendekati portal, mengelilinginya, seperti seorang anak datang berlindung pada induknya. Begitu tak terjadi apa-apa lagi, Alzent mendekati portal dengan pelan, dua tangannya terkepal siap melindungi diri jika sesuatu tiba-tiba datang menyerang
Namun semakin dirinya mendekati portal, perasaan hangat serta nyaman semakin memenuhi dada, membuat rasa sakit di leher tak berasa. Perlahan kepalannya melemas, lalu terlepas berganti ingin meraih portal tersebut dan sesuatu menarik Alzent masuk ke dalam, seperti sebuah gaya gravitasi yang sangat kuat. Tanpa menunggu lagi, Lucan, Veron dan Luna ikut melompat masuk dalam portal yang kemudian menghilang dari bumi. Salju kembali menumpuk, hewan-hewan menghilang kebalik pepohonan meninggalkan hutan bersalju yang tampak hampa dan sepi.
Alzent merasakan sebuah angin sepoi-sepoi meniup rambutnya. Perlahan ia membuka mata, menyaksikan sesuatu yang tak pernah dirinya lihat sebelumnya, sebuah dunia yang jauh berbeda dari bumi, dunia yang sulit dijelaskan dengan kata-kata, hanya dapat dirasakan dengan perasaan dan disimpan dalam kenangan. Ketiga orang lainnya juga merasakan hal yang sama, bahkan mereka tidak sadar jika mereka sama sekali belum berkedip semenjak membuka mata.
Sekumpulan burung merpati berbulu putih bersih, terbang mengitari sebuah daratan berukuran besar, melayang tinggi dari atas tanah. Tepat di atas daratan tersebut, terdapat sebuah kerajaan besar serta megah yang tampak bersatu dengan alam. Beberapa daratan melayang dengan ukuran lebih kecil terdapat di sekitar daratan besar tersebut, terhubung melalui sebuah jembatan putih panjang berlapis kristal biru indah, memantulkan cahaya matahari, membuatnya terlihat berkilauan.
Tak jauh di bawah tempat Alzent berada, di pinggir sebuah jurang, terdapat daratan yang jauh lebih luas, dipenuhi pepohonan berwarna keemasan, membentang luas sejauh mata memandang. Namun yang paling memukau dibanding semua itu adalah, sebuah pohon raksasa, menjulang tinggi melewati daratan melayang itu, hingga menyentuh awan di angkasa. Mahluk-mahluk seperti naga tampak terbang mengitari ujung pohon tersebut, jumlah mereka begitu banyak dan berukuran sangat besar.
Namun tidak ada dunia yang sempurna. Di sebelah kiri Alzent, terletak sangat jauh dari tempat mereka berada, sebuah daratan gelap, hitam pekat dengan awan-awan hitam-keabuan disertai petir merah menyambar, seakan memberi peringatan untuk tidak menginjakkan kaki ke sana.
Tiba-tiba seekor naga merah besar terbang sangat dekat dengan mereka. Naga itu berputar haluan, lalu mendarat tepat di depan Alzent. Tampangnya begitu ganas, kepakan dari kedua sayap massive nya mampu mendorong mereka berempat hingga beberapa langkah meskipun sudah mencoba bertahan sekuat mungkin. Kulit bersisiknya yang keras serta memiliki tonjolan-tonjolan tulang tampak menakutkan, terutama tatapan mematikannya dari mata berwarna merah terang seakan mengatakan 'Kalian tidak berhak untuk berada disini'.
Seorang pengendara naga melompat turun, berdiri dengan megah di hadapan Alzent, mengenakan zirah lengkap berwarna putih dengan garis-garis keemasan. Sebuah pedang panjang tergantung di pinggulnya, pedang mewah berukiran rumit. Langkah beratnya begitu mengintimidasi ketika ia mendekati Alzent. Raut wajahnya datar, tak menunujukkan ekspresi apapun, tapi entah mengapa menunjukkan aura berbahaya.
Alzent berhasil menghindar begitu melihat nafsu membunuh di kedua mata birunya, hampir saja pedang panjang itu memisahkan kepalanya dari tubuh. Laki-laki tersebut tampak terkejut, lalu menancapkan pedang ke dalam tanah, meletakkan kedua tangannya di atas gagangnya "Jelaskan kalian siapa dan apa tujuan kalian datang ke Elfiant"