Alive But Dead Inside

Alive But Dead Inside
An Icy Journey #6



"Mengapa kau melupakannya? Itu benda yang paling penting!" bentak Lightnar, mengepalkan kedua tangannya, siap memukul wajah Lucan "Kau tahu Alzent membutuhkan cincin tersebut! Dan kau malah menghilangkannya tak sampai lima menit sesudah mendapatkannya!!"


"Kau pikir aku tidak merasa bersalah! Aku bahkan panik dan serasa ingin kembali menghajar orang tersebut, kemudian merebutnya dan segera pergi dari dunia beku terkutuk ini!" balas Lucan, dua pedang darahnya ia lempar entah ke mana, siap meninju wajah Lightnar.


"Apa katamu?! Kau ingin menghajar orang itu lagi? Berhentilah bersikap terlalu kejam! Kau sudah membuatnya ketakutan sampai memohon ampun padamu, apalagi rasa sakit yang harus diberikan pada laki-laki malang itu?! Aku benar-benar tak setuju dengan caramu!!" bentak Esrene dengan dua energi es besar terbentuk di masing-masing telapak tangan.


"Tidak kau yang-


"Aku sudah katakan padamu-


"Berhentilah omong kosong-


Sosok dibalik bola kristal tak tahu harus bersikap apa melihat tiga remaja yang sedang berdebat tanpa habis itu. Ia berdeham beberapa kali, mendekatkan telinga pada bola kristal, mencoba mendengar perdebatan mereka. Siapa tahu ia bisa menjual informasi tersebut pada petinggi di Arkbyss dan membuat namanya menjadi lebih naik lagi.


Lucan yang tak tahan mendengar ocehan Lightnar, meninjunya kuat hingga terlempar melewati tubuh Frosgant, mengejutkan sosok dibalik bola kristal yang menahan tawa melihat tingkah bodoh mereka. Esrene menatap Lucan seakan ia adalah orang asing, menggunakan kekuatan es nya untuk melemparkan Lucan, menghantam kuat bongkahan es seperti tulang rusuk itu.


"Aku bahkan tak perlu turun tangan sendiri untuk menghadapi mereka" ucap laki-laki itu senang "Mereka begitu bodoh! Ini benar-benar sebuah komedi untukku, hahahahahaha!"


Tiba-tiba, awan yang menutupi langit menghilang, mengembalikan cahaya mentari. Begitu banyak pedang merah berukuran raksasa melesat, menusuk masuk tiap bagian tubuh Frosgant, kemudian berubah bentuk menjadi sebuah rantai merah menyala. Esrene menggunakan kekuatan es yang tak ia gunakan sepenuhnya untuk melempar Lucan, membekukan kedua kaki Frosgant tersebut hingga mana nya hampir habis.


Lightnar merapalkan sebuah mantra, membentuk sebuah lingkaran sihir besar, turun memutari tubuh Frosgant yang kemudian mengembalikan matanya seperti semula. Sosok dibalik bola krsital tampak terkejut dan begitu marah, ia tak menyangka dirinya akan ditipu oleh tiga remaja. Ia beranjak keluar dari persembunyiannya, terbang menghadap tiga remaja tersebut "Bagaimana caranya kalian membebaskan Frosgant itu dari kendaliku?" tanyanya menahan amarah.


Lightnar berbalik, menyunggingkan senyum penuh kemenangan "Ohh, akhirnya kau menunjukkan dirimu, kami tak perlu susah-susah mencarimu ke sana- ke mari" ucapnya, lalu menjelaskan "Gampang saja, semenjak bertarung melawan para Frosgant, aku selalu melihat kumpulan awan badai di langit yang kemudian menghilang setelah mengalahkan mereka. Hal yang sama terjadi saat kau menggunakan Frosgant raksasa itu, menggunakan lingkaran sihir besar sebagai umpan untuk membuat kami mengira kau menggunakan kendali penuh terhadap Frosgant itu, namun sebenarnya lingkaran sihirmu itu digunakan untuk memanggil awan-awan badai yang ketika berada di atas mangsa, akan memancarkan sebuah energi sihir, mengendalikan tubuh mangsa seperti sebuah boneka bertali.


Sayangnya, karena sihirmu yang belum terlalu sempurna, kau hanya dapat memengaruhi alam bawah sadarnya, membuat mangsamu mengira ia mengikuti naluri, namun kau tidak sepenuhnya mengendalikan mereka. Jadi kami hanya perlu membuat sebuah skema untuk membuatmu lengah, sebab kau mungkin mengira kami hanyalah remaja biasa yang tak tahu apa-apa. Sayang sekali kau salah, kami jauh lebih dari itu, kami bahkan jauh lebih tinggi kedudukannya dibanding dirimu yang hanya menjilat pada bangsa Arkbyss, benar'kan? Raja dari para Frostheim?"


Raja Feraz tertawa kencang, memasang senyum licik "Kau pikir aku benar-benar akan meninggalkan bangsaku begitu saja?"


Sang pemimpin pasukan terbang dari bawah menggunakan kekuatan dari Frost Ring, berhenti di sisi Sang raja, lalu melipat lengannya sambil memasang senyuman menyebalkan yang sama, senyuman yang membuat orang serasa ingin menonjok wajah sok tampan mereka itu.


"Sebagai seorang raja, aku tentu peduli pada bangsaku. Namun, apa yang ditawarkan oleh bangsa Arkbyss melampui apapun yang bisa kumiliki di dunia ini, sehingga aku menerima ajakannya untuk bergabung dan kini Frostheim berada dalam perlindungan Arkbyss. Kalian bisa melakukan apa dibalik kekuatan yang begitu besar?" tanyanya meremehkan sembari tertawa.


"Ayah lihat, aku bahkan mendapatkan Frost Ring dari laki-laki tak berotak disana itu, aku bahkan berhasil menipu mereka dengan rasa belas kasihan!" sahutnya, menunjuk Lucan yang masih diam di tempat "Dengan begini, kita juga akan dipandang oleh bangsa Arkbyss dan mungkin saja kita akan menjadi salah satu bangsa yang dihormati oleh mereka"


Sang raja tertawa bangga, menoleh pada tiga orang yang masih terdiam di tempatnya tanpa menunjukkan tanda-tanda akan menyerang "Kau lihat? Anakku bahkan memiliki salah satu kekuatan terbesar di seluruh dunia! Kalian bukan apa-apa lagi selain seekor semut yang siap untuk diinjak!" Ia memasang senyum sinis "Tapi, sebagai seorang raja yang murah hati, bagaimana kalau kalian mencium kakiku sekarang juga? Mungkin kalian akan aku bebaskan dari kematian... menjadi salah satu budakku, hahahahah!"


Sang pangeran terbang mendekati Esrene, memegang dagunya dengan kuat "Dan kau, perempuan sok baik dan tak tahu diri. Aku akan membuatmu menjadi salah satu selirku, jika kau membiarkanku..." ia berbisik di telinga Esrene, meraba lehernya "Menikmatimu untuk sementara"


"Lucan.. aku menarik kembali kata-kataku" gumam Esrene, memberikan sebuah tinjuan keras di perut laki-laki itu, membuatnya terlempar menabrak Sang raja "Aku rasa kau benar, orang seperti mereka hanya bisa diberi pelajaran menggunakan kekerasan"


"Kau mau apa hah!? Kalian tak bisa apa-apa! Kalian bukanlah siapa-siapa! Kalian hanyalah budak dari rasa takut! Aku yakin sosok Alzent yang terus kalian bicarakan itu bahkan jauh lebih lemah dari siapapun yang ada di tiap dunia! Hahahahaha!" sahut Sang pangeran sombong.


Lightnar mengepalkan kedua tangannya dengan kuat, ia benar-benar sudah tak bisa menahan amarah untuk menghancurkan wajah pangeran tersebut- tidak! Bukan pangeran! Melainkan sosok sampah yang tak tahu diri!


Tetapi, begitu ia akan maju, ia dihentikan oleh Lucan.


"Oh? Apa aku baru saja salah dengar?" ucap Lucan "Kau baru saja mengatakan.. Alzent lemah? Sosok yang pernah membuat Zeon gemetar ketakutan, bahkan The Watcher ketakutan, lemah?" Kini kedua matanya tak lagi berwarna kuning terang, melainkan setengah ungu "Biar aku buat kau merasakan.. sedikit saja, kekuatan dari sahabatku itu" langit seketika berubah ungu, disertai suara menggelegar, membuat si sampah menjerit seperti seorang gadis.