Alive But Dead Inside

Alive But Dead Inside
Dark Path #6



Cahaya keemasan muncul disekitar tubuh gadis tersebut berhias serbuk-serbuk keemasan terang, melayang ke atas dan menghilang sebelum melewati kepala. Jari-jarinya memainkan gagang pedang dengan lemah gemulai, memutar sembari menari bersama pedang putih tersebut, membius kelima orang dengan indahnya gerakan serta tatapan menggoda.


Perlahan genggaman mereka pada senjata masing-masing, melemah. Luna melihat ini sebagai suatu kesempatan dan melancarkan sebuah serangan, hanya sebuah tusukan sederhana, namun terlihat begitu banyak luka tusuk di tubuh kelima orang itu. Mereka terdorong ke belakang, tersadar dari lamunannya, namun tercengang melihat apa yang sudah terjadi pada mereka hanya dalam waktu beberapa detik.


Kelima orang tersebut kembali merogoh senjata yang terjatuh tepat di samping, memasang kuda-kuda untuk menyerang layaknya pasukan terlatih. Luna melompat mundur sekali, menyembunyikan lengan kiri di belakang tubuh, lalu lengan kanan menjorok ke depan, menunjuk kelima orang itu dengan pedang panjangnya seperti memainkan anggar.


Mereka berlari maju, menyerang dengan sekuat tenaga yang dengan mudah dihindari oleh Luna dengan gaya anggun layaknya melakukan balet. Kelima orang itu masih belum menyerah, mereka melakukan begitu banyak gaya serangan serta kombinasi yang semuanya ditangkis serta dihindari seperti menghadapi permainan anak kecil. Luna menunggu hingga mereka kelelahan dengan napas pendek, kemudian melancarkan serangan mematikan.


Alzent memperhatikan gaya berpedang gadis tersebut dan menyadari jika gerakannya mirip seperti seorang Musketeer yang bermain aman serta anggun, lalu seketika berubah tajam dan berbahaya layaknya Zoro. Namun, ia tetap menggunakan teknik berpedang yang sama, yaitu anggar. Jarang mengayunkan pedang seperti biasa, anggar lebih ke tusuk dengan cepat, tarik, lalu tusuk kembali di area yang berbeda dengan kecepatan yang sulit untuk dihindari atau ditangkis.


Kelima orang itu tampak kesulitan mengatasi gaya berpedang baru yang tak pernah mereka hadapi sebelumnya. Mereka terpaksa mengambil jarak, mencoba untuk mencari titik lemah dari gaya berpedang Luna dan menemukan bahwa setiap kali ia melancarkan sebuah serangan, gadis itu hanya akan fokus pada satu arah saja, tidak seperti pedang yang dapat diayunkan ke kanan maupun kiri ketika selesai melancarkan sebuah serangan. Sehingga mereka mulai mengepung Luna, menyerang gadis itu menggunakan urutan dari yang memegang senjata terpanjang hingga terpendek. Lalu, seseorang dari mereka menggunakan cakram untuk mengalihkan perhatian gadis tersebut sekaligus melukainya jika bisa, selagi anggota lain melancarkan strategi yang sama.


Hal itu tampak berhasil untuk sementara, tetapi yang mereka tak ketahui adalah Luna sama sekali belum menggunakan kekuatannya. Sesuatu yang telah Alzent tunggu semenjak Luna berubah menjadi mirip sosok seorang Goddess. Luna menunggu hingga kelima orang itu lengah, mengira dirinya telah dipukul mundur oleh strategi yang tak buruk menurut Luna, sayangnya hanya berguna untuk orang lain, tapi tidak dengan dirinya.


Begitu mereka lompat secara bersamaan, akan melancarkan serangan akhir sambil berteriak mengeluarkan seluruh tenaga, Luna berlutut dan menancapkan pedangnya ke lantai. Dapat terdengar bunyi retakan keras darinya, pedang milik Luna berhasil masuk ke dalam lantai yang bahkan tak dapat hancur oleh serangan si Cyclops. Retakan itu terus memanjang hingga meraih kelima orang tersebut dan sebuah cahaya terang muncul dari dalamnya, menghempaskan sebuah energi besar dengan dampak merusak, menerbangkan kelima orang itu ke udara.


Alzent seketika muncul di samping gadis itu, menggenggam tangannya, membantu ia menahan guncangan energi. Mereka saling bertatapan, tersenyum satu sama lain. Saat mencapai tubuh pemimpin mereka, energi itupun meledak, memberi guncangan kuat pada ruang bawah tanah yang besar ini. Mereka yakin guncangannya akan dapat dirasakan oleh orang-orang yang berada di permukaan. Kemungkinan besar mereka harus menghadapi musuh yang jauh lebih kuat lagi karenanya.


Mereka berdua mendarat dengan aman di lantai, sementara tubuh kelima orang yang jatuh cepat, tiba-tiba melayang tenang kembali tepat sebelum menyentuh lantai. Bekas retakan di lantai lalu mengeluarkan cahaya terang yang sama, namun kali ini retakan tersebut melebar hingga menutupi seluruh bagian lantai. Titik-titik cahaya keemasan mulai berkeluaran dari dalam, membumbung tinggi ke atas, menciptakan sebuah skema yang indah bagi Alzent dan Luna, sayangnya tidak bagi kelima orang itu.


Beberapa titik cahaya saling bergabung, membentuk sebuah pedang yang sama seperti milik Luna. Masing-masing pedang itu melayang diam tepat di atas jantung mereka, berputar pelan. Ketika Luna memerintahkan pedang-pedang itu untuk menusuk jantung, hanya dengan satu ayunan di jari telunjuk, cahaya di bawah mereka semakin terang hingga sampai membuat Alzent mesti mengaktifkan mata kegelapannya dan menyaksikan tubuh orang-orang itu terkikis sedikit demi sedikit bersama cahaya yang makin terang dan terang sampai tubuh mereka benar-benar menghilang, menyisakan pedang putih indah yang kini berlumuran darah.


Tiap tetesan darah, masuk ke sela-sela retakan, mengubah warna cahaya putih-keemasan yang baru saja Alzent sadari, berbentuk seperti sebuah mawar, menjadi berwarna merah terang, seperti warna mawar pada dasarnya, dimana titik tempat jantung mereka tertusuk, menjadi sudut luar mawar tersebut. Butiran-butiran cahaya keemasan yang melayang naik, berubah menjadi sebuah kelopak mawar yang kini melayang turun tanpa henti, lalu menghilang menjadi debu begitu menyentuh tanah. Sebuah kematian yang mengerikan namun juga indah.


Mereka berdua melayang turun. Alzent menoleh pada tempat dimana Cyclops itu masih belum sadar dan menemukan tubuhnya juga ikut menghilang meskipun tak ada pedang menusuk jantungnya. Ia kemudian berbalik pada Luna, membuka mulut akan menanyakan 'Mengapa kau tak pernah menggunakan kekuatan itu sebelumnya', namun tiba-tiba Yuna muncul dari dalam portal, mengatakan "Sebaiknya kalian ikut denganku sekarang juga sebelum telat" lalu melanjutkan "Tak ada waktu untuk berpikir, cepatlah!" desaknya saat melihat Luna tampak meragukan dirinya.


Mereka berdua masuk dalam portal bersama gadis tersebut, tepat ketika sebuah portal lain muncul di atas tak jauh dari tempat mereka berada sebelumnya. Beberapa orang dengan zirah hitam lengkap, melayang keluar, memerhatikan apa yang baru saja terjadi pada ruangan ini. Laki-laki yang berada paling depan, meraih sebuah kelopak mawar yang terus jatuh tiada berhenti dan membakarnya menjadi abu menggunakan api hitam.