Alive But Dead Inside

Alive But Dead Inside
A Little Time



"Dimana Gerald!?" tanya Alzent panik.


Setiap orang yang berada dalam ruangan tersebut kaget. Alzent yang telah tertidur selama tiga hari, kini membuka matanya dan langsung menanyakan keberadaan The Wather tersebut, "Dia pergi begitu membawa kalian bertiga ke sini" jawab Lightnar.


"Apa dia menitip sebuah pesan, alat atau apapun itu?" tanya Alzent terburu-buru. Ketika Lightnar menggelengkan kepala, Alzent langsung bangkit dari kasur, berlari ke arah pintu, namun terjatuh sebelum dapat menggapai pegangannya.


"Hey! Apa yang kau lakukan? Kau masih membutuhkan istirahat" sahut Lightnar menggotong Alzent seperti karung beras, kembali ke kasur "Jelaskan, kenapa kau tiba-tiba panik seperti itu. Biar kami membantumu selagi kau beristirahat"


"Aku tidak bisa melakukannya" jawab Alzent ketus.


Tern menggeleng-gelengkan kepala "Anak muda, apa yang dikatakan temanmu itu benar, kau bahkan tak dapat mencapai pintu yang hanya berjarak beberapa langkah. Kami ada disini untuk membantu dirimu, jangan ragu untuk meminta tolong"


Reyla mengangguk setuju "Itu benar, kita semua adalah teman bukan? Dan sebagai teman, sudah seharusnya kita saling membantu" ucapnya lembut.


Alzent menghela napas berat, menggeleng pelan "Sayangnya, itu tak dapat kulakukan. Ini adalah sesuatu yang sudah kucari selama dua tahun terakhir. Selama aku tertidur, sebenarnya aku mendapatkan sebuah gambaran di mana dirinya berada. Aku harus mencari tempat tersebut, aku tak peduli apapun konsekuensinya"


Luna terkejut mendengar hal itu. Ia menggenggam erat kalung di lehernya, mengatakan "Mungkin saja itu hanyalah mimpi. Kau bahkan tidak tahu dimana tempat tersebut berada. Jangan memaksakan dirimu, Alzent"


Bukan sebuah senyuman yang ditunjukkan oleh Vampire muda itu, melainkan sebuah tatapan tajam menusuk "Luna" panggilnya "Kau bilang sendiri padaku, Yuna masih hidup. Selama kalung di lehermu itu masih bercahaya, dia masih bernapas. Apa yang aku lihat, bukanlah sebuah mimpi ataupun hayalan semata karena ingin bertemu dirinya. Perasaan itu benar-benar nyata, aku benar-benar merasakannya. Dia menungguku"


"Berhenti membicarakan itu!" bentak Luna tiba-tiba.


Seketika suasana menjadi canggung, Luna menyadari perbuatannya, kemudian berlari keluar ruangan, disusul oleh Reyla dan Merith. Lightnar duduk di kasur Alzent, sementara Tern bersandar pada dinding mencoba untuk memikirkan sesuatu, terlihat jelas dari wajahnya ia berusaha keras dalam masalah percintaan yang bahkan belum pernah ia rasakan.


Alzent mengepal kuat kedua tangan, sebagian dirinya ingin mengejar Luna yang telah menemani Alzent selama beberapa waktu terakhir, namun entah mengapa hatinya masih belum bisa membuka bagi seseorang yang baru untuk masuk.


"Alzent, aku mengerti kau ingin mencari pacarmu itu, tapi masih ada masalah yang lebih mendesak. Apa kau lupa bumi telah hancur?"


Seketika kedua mata Alzent melebar, ia menggertakkan gigi, menyadari kesalahannya.


"Pikirkan mana yang lebih penting Alzent, dirimu atau tanggung jawabmu? Jika aku bisa membantumu mencari Yuna, aku sudah pasti akan melakukannya. Tetapi, ingatlah.. tanggung jawabmu sangatlah besar Alzent, jangan mengecewakan setiap orang yang menaruh harapan padamu, hanya karena seorang perempuan" Ligthnar memegang kuat pundak Alzent, lalu menatap ke arah pintu "Lagipula, apa kau tidak sadar bahwa ada seseorang yang benar-benar jatuh cinta padamu?"


"A-aku.."


"Aaarggh!" sahut Tern pusing, menunjuk Alzent "Anak muda! Meskipun aku tak pernah merasakan yang namanya hubungan romantis, tapi aku tahu ketika seseorang sedang jatuh cinta dan aku adalah laki-laki yang tak tega melihat seorang gadis cantik seperti Luna menangis. Aku sarankan, mulai sekarang ketika berbicara dengannya, tataplah mata Luna. Aku yakin kau akan menemukan sesuatu yang pernah hilang dari hidupmu"


Terdengar suara tawa tertahan. Mereka bertiga menoleh pada asal suara, menemukan Lucan yang ternyata sudah duduk bersandar pada sandaran kasur sambil menahan tawanya, yang akhirnya terlepas juga.


"Ada yang lucu?" tanya Tern tersinggung.


"Tentu saja. Seseorang yang tak pernah merasakan cinta, mengetahui arti cinta yang sebenarnya? Aku jadi bertanya-tanya mengapa dirimu tak pernah mendapatkan perempuan" jawab Lucan.


"Hm! Aku bukannya tak mendapatkan perempuan, aku cuma menunggu seseorang yang tepat itu datang, tak sepertimu yang hanya mengandalkan wajah dan menggoda tiap wanita cantik, padahal sudah memiliki Reyla yang bahkan lebih cantik dari perempuan yang kau goda itu" keluh Tern.


Lightnar menaikkan satu alisnya "Kau juga tampan Tern. Aku sudah bertemu begitu banyak Orc dan aku bisa menilai kecantikan maupun ketampanan kalian. Jujur saja, kau Orc tertampan yang kutemui" pujinya, membuat Tern terpaksa memalingkan muka karena malu.


Lucan kembali tertawa, lalu mengatakan sambil menilai paras Orc tersebut "Memang benar, kau adalah Orc yang tampan, meskipun tak setampan diriku, tapi kau tampan. Sayangnya, ketampanan itu termakan oleh otak yang hanya memikirkan bertarung, bertarung dan bertarung"


"Itulah hobiku, mau bagaimana lagi?" balas Tern pasrah.


Lucan berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepala, layaknya seorang guru menasehati murid "Itu bukanlah hobi, itu memang sifat dasarmu. Salah satu hobi adalah bermain basket"


"Basket? Apa itu?" tanya Tern.


"Kau tidak tahu?" Lucan menatap Lightnar yang juga ikut menggeleng "Yesss! Dengan kata lain, karena kita memiliki waktu kosong, bagaimana kalau aku mengajari kalian bermain basket? Sekalian menyegarkan kepala dari segala macam masalah serta perang. Sekali-kali kita membutuhkan sebuah hiburan sesama lelaki bukan?"


"Yah, tidak ada salahnya mencoba 'basket'" balas Lightnar, menekan kata basket "Bagaimana denganmu Alzent?"


Alzent menatap tiga orang tersebut, menghela napas dan mengangguk mengiyakan, membuat senyuman ketiganya terpampang kembali di wajah.


"Oh, tunggu sebentar. Kita berada dimana? Dan Veron dimana?" tanya Lucan bingung.


"Kita berada di rumah sakit Risenland dan Veron sedang berlatih bersama pacarnya" jawab Tern.