Alive But Dead Inside

Alive But Dead Inside
Before, When The Fears Rule



Sesudah disembuhkan oleh Luna dan Yuna, Gerald serta Zeon akhirnya kembali seperti semula. Mereka benar-benar terkejut merasakan kekuatan dari sebuah bangsa yang telah lama tiada, bangsa yang dulunya pernah membuat seluruh dunia tak mampu berkutik, meringkuk ketakutan dalam pengharapan.


"Jadi, apa kau ingin membunuhku kakek tua?" tantang Zeon, melebarkan kedua tangannya.


"Tak perlu, belum waktunya aku melakukan itu. Lagipula, keberadaanmu  masih dibutuhkan" jawab Gerald sambil memutar-mutar kedua tangannya.


"Terserah dirimu" balasnya, lalu berbalik pada Alzent "Aku menantikan perjuanganmu di bumi" kemudian menghilang dalam portal bersama Yuna dan dua orang yang semenjak awal tak berbicara sama sekali.


Alzent bertanya-tanya mengapa Yuna tak ingin melihat wajahnya sama sekali, ia benar-benar tak tahu apa yang sudah terjadi hingga dua gadis yang mencintainya tampak berubah. Alzent juga tak sadar jika kini di tubuh hingga lehernya terdapat sebuah garis-garis zig-zag tak simetris berwarna merah. Garis-garis tersebut mengeluarkan cahaya redup lalu terang, seakan sedang bernapas.


Gerald telah berpesan pada tiap teman Alzent agar jangan ada yang menceritakan hal tersebut pada Alzent. Lightnar menanyakan alasannya, lalu Gerald mengajak mereka semua untuk berbicara di tempat yang lumayan jauh dari Alzent, selagi Luna bersama dirinya agar perhatian laki-laki itu teralihkan.


"Ini akan sedikit panjang, aku harap kalian mau mendengarkannya dengan baik" ucap Gerald, mernarik napas, menghembuskannya "Baiklah. Dahulu kala, jauh sebelum kalian ada, ketika aku masihlah seorang mahluk biasa, terdapat sebuah bangsa yang disebut 'Hellraiser'. Bangsa tersebut adalah bangsa yang menjadi mimpi buruk tiap dunia, tak seorang pun dari begitu banyak dunia yang ada, berani mengambil tindakan. Saat itu, dunia dipenuhi rasa takut, kecurigaan, kehampaan, sebuah masa yang begitu kelam.


Hellraiser diduga ingin menghancurkan dunia. Awalnya tak seorangpun percaya, namun ketika mereka membunuh The Watcher, lalu mengincar tiap Key untuk membuka sebuah dimensi, akhirnya kami percaya mereka benar-benar ingin menghancurkan tiap dunia yang ada. Sayangnya, semua telah terlambat, Hellraiser membunuh Key dari masing-masing dunia, meletakkan beberapa orang di dalam dunia yang telah terkunci tersebut dan kabar dunia itu tak lagi terdengar hingga kini.


Oleh karena itu, setiap dunia memutuskan untuk bersatu, dunia yang begitu banyak, bersatu membentuk sebuah pasukan besar lebih dari 1000 bangsa. Kami berjuang mati-matian untuk menghabisi para Hellraiser yang memiliki kekuatan begitu besar, terlalu besar. Perang besar tersebut membuat beberapa dunia hancur dan tak mampu dipulihkan kembali.


Begitu kami berhasil menyegel dunia mereka, menghapus tiap portal serta membunuh Key yang menghubungkan dunia pada mereka, kami tak pernah mendengar maupun mengetahui soal mereka lagi. Kami juga sudah memasang sebuah bom waktu, di mana tiap orang dalam dunia tersebut akan terus membeku dalam waktu yang tak bergerak hingga seseorang menghancurkan bom waktu itu.


Aku tidak tahu mengapa Arkbyss memiliki salah seorang dari mereka, yaitu Alzent. Setahuku mereka hanya ingin menutup seluruh dunia dengan kegelapan, namun jika ternyata tujuan mereka lebih besar daripada itu, mungkin itulah alasan mereka menyembunyikan Alzent selama ini"


Lightnar memikirkan sesuatu, lalu bertanya "Melihat Alzent yang dapat dengan mudah mengendalikan lebih dari sejuta pasukan itu, aku tebak Alzent adalah seseorang yang sangat penting dalam Hellraiser"


Gerald mengangguk membenarkan "Ya, setelah melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, tak salah lagi, dia adalah pangeran dari bangsa Hellraiser, calon raja berikutnya. Baiknya, kesadaran Alzent sebagai Hellraiser disegel oleh bangsa Arkbyss dan hanya bisa dibuka setelah ia disiksa mati-matian oleh salah satu dari mereka. Buruknya, kita masih tidak tahu apakah Arkbyss dapat mengendalikan kesadaran tersebut atau tidak"


"Jika dilihat dari sikap Zeon tadi, sepertinya Arkbyss masih belum tahu bagaimana cara mengendalikan kesadaran Hellraiser itu" ucap Veron "Tapi, melihatnya terus berada di dekat Alzent, menariknya, menghajarnya, memberikannya begitu banyak tes dan pernyataan yang membuat Alzent bertanya-tanya soal masa lalu, aku rasa Zeon sedang berusaha mengendalikan Alzent"


Gerald menghela napas "Terlalu banyak yang kita tidak ketahui mengenai kedua orang itu. Tetapi, ada satu hal yang dapat kita simpulkan dari masalah ini, kesadaran Alzent sebagai Hellraiser dapat disegel oleh ciuman dari gadis itu"


Ratu Ezra mendengus geli "Seperti cerita Romeo dan Juliet saja, dua orang yang terlahir dari bangsa berbeda, tapi tak dapat disatukan kecuali melalui pengorbanan"


Lucan menjentikkan jarinya, mendapatkan sebuah pertanyaan yang sudah lama terbayang di dalam kepala, namun selalu tak dapat waktu yang tepat untuk ditanyakan "Aku jadi ingat, Yuna bukan benar-benar seorang Vampire bukan? Kalau tak salah dia berasal dari bangsa lain, bangsa... aku lupa namanya"


Veron mengangguk membenarkan dengan semangat "Benar! Dia setengah Vampire, aku menyadari itu ketika melihat matanya yang tak biasa, seperti melihat ke dalam mimpi indah yang tertutupi oleh sesuatu yang suram"


"Mimpi indah, sesuatu yang suram.. sepertinya aku tahu bangsa apakah dia itu" ucap Lightnar "Sebelum menjadi seekor Alpha, aku harus menghapal tiap bangsa yang ada di tiap dunia. Aku pernah mendengar bangsa yang dapat menyegel kekuatan atau sihir sebesar apapun menggunakan jiwa mereka, Soul.. Soul, umm aku lupa namanya"


"Soulheart" kata Gerald, dibalas dengan 'Itu dia!' oleh Lightnar. Gerald berpikir sejenak, mengangguk-angguk sambil menggumamkan sesuatu, lalu menjentikkan jarinya ketika paham "Pasangan Soulheart dan Hellraiser, sebuah kombinasi indah serta perih. Yang satu pernah menyelamatkan dunia, sementara yang lain pernah akan menghancurkan dunia.


Namun, dengan begini, kita memiliki harapan untuk menghentikan apapun yang akan terjadi jika Alzent berubah kembali menjadi Hellraiser. Yang perlu kita cari tahu sekarang, adalah siapa sebenarnya Luna itu. Jika kita tahu identitas sebenarnya, maka itu akan menjadi satu-satunya senjata terkuat kita. Selama mencari tahu siapakah gadis itu, sebaiknya kalian membuat kedua remaja tersebut saling mencintai, sehingga saat Alzent kehilangan kendali, Luna dapat menghentikannya"


"Bukannya kau yang mengenalkan Luna pada kami?" tanya Veron curiga.


Gerald tertawa canggung "Ahaha.. sebenarnya aku tidak kenal dia siapa, aku hanya asal mengenalkannya saja sehingga kalian tak menolak dirinya bergabung" dengan cepat Gerald membuka portal saat melihat wajah kesal Veron dan Lucan, sekaligus Alzent yang mulai berjalan ke arah mereka "Sebaiknya kalian ingat pesanku, aku akan kembali jika telah menemukan sesuatu" lalu portal tersebut menghilang bersamaan dengan dirinya.


"Kenapa Gerald pergi? Aku baru saja ingin bicara dengannya" kata Alzent.


"Dia Watcher, tugasnya terlalu sibuk" jawab Veron kesal, lalu berjalan kembali menuju gerbang diikuti oleh yang lain.


Alzent bingung melihat sikap semua orang yang tampak berubah hari ini. Ia menoleh pada Luna yang terus tersenyum, lalu mengajaknya ikut masuk kembali ke Risenland. Tanpa mereka semua sadari, seorang laki-laki bertopeng mengawasi dari atas langit. Ia tersenyum dari balik topeng tersebut, lalu kembali menghilang seperti dihembus oleh angin.


Gerald menyadari kehadiran laki-laki itu, namun memilih untuk tidak mengusiknya untuk sementara. Situasi bisa semakin runyam jika mereka berdua harus bertarung, yang berkemungkinan besar dapat menimbulkan kerusakan tak sedikit pada Risenland. Kakek tua itu bersyukur tak perlu menghadapi Alzent dalam kesadaran Hellraiser nya, kekuatan mahluk itu terlalu mengerikan.