Alive But Dead Inside

Alive But Dead Inside
Another Mystery #3



Veron serta Lucan masih terdiam, tidak mampu mencerna penjelasan dari gadis cantik di depan mereka.


"Ini terdengar tidak nyata" sergah Lucan.


Beberapa menit sebelumnya...


"Y-Yuna? T-tapi bagaimana kau-


" Oh, maaf. Aku bukanlah Yuna yang dirimu kenal" kata gadis itu cepat sebelum Alzent salah paham.


"Apa maksudmu? Kau benar-benar mirip dengannya, bahkan suara kalian berdua sama" Alzent menjentikkan jari "Ahhh! Jangan bilang kalian kembar, kalian kembar bukan?"


"Semacam itu, tapi tolong dengarkan aku" pintanya "Aku harap kau mau mengerti dan tidak mengambil langkah yang salah"


Alzent menunggu dengan sabar selagi gadis tersebut menarik napas dalam-dalam. Kalimat yang keluar dari mulutnya kemudian, membuat Alzent benar-benar tak mampu mengeluarkan sepatah katapun. Di saat itulah Veron serta Lucan datang dengan melayangkan tatapan curiga terhadap seorang gadis cantik berwajah polos.


"Biar aku ulang" kata Lucan "Yuna.. Yuna! " Ulangnya lebih keras "Masih hidup? Apa? Aku sangat pusing sekarang. Tolong jangan merusak kesenanganku yang sebentar lagi berakhir"


Veron melipat lengan, membasahi bibirnya yang terasa kering "Nona, aku minta kau menjelaskan ini. Kau tidak tahu Yuna itu siapa bagi Alzent'kan? Jadi, aku mohon padamu, jelaskan" pinta Veron dengan nada yang sedikit mengancam di akhir.


Gadis itu menatap ketiga pemuda di depannya, menghela napas panjang, lalu mulai melangkahkan kaki menuju gerbang masuk Santa Claus Village "Ikut aku, tidak baik membicarakan hal ini disini"


Meskipun masih menaruh kecurigaan padanya, ketiga pemuda tersebut berjalan mengikuti si gadis asing, ke manapun ia membawa mereka, asalkan mereka dapat mendengar penjelasan yang sangat penting bagi Alzent bahkan mungkin seluruh misi.


Tak butuh waktu lama, mereka sampai di sebuah hotel mewah, masuk dalam kamar gadis itu.


"Ini terletak di sebelah kamar kami!" sahut Lucan, lalu menunjuk gadis yang tampak sedikit panik "Hei! Segera jelaskan ini atau aku melaporkanmu pada pihak berwajib sebagai stalker"


"Kumohon tenang, aku memilih kamar ini karena ada alasannya" ia mendekati sebuah laptop di atas meja yang dekat dengan jendela, membuka laptop tersebut dan menunjukkan sebuah rekaman nyata sebuah kamar yang terlihat sama persis dengan kamar milik gadis itu. Perbedaannya hanya terletak di sebuah kasur yang masih berantakan serta tas milik Alzent, Lucan dan Veron.


"Kau bahkan memasang kamera di kamar kami yang kutebak juga memiliki mic" tukas Veron, bersandar di pintu "Jangan menunda lagi, jelaskan sekarang. Oh, dan ingat.. Berhati-hatilah dalam memilih kata, segala sesuatu ada konsekuensinya"


Alzent duduk di atas kasur, meletakkan kedua tangan di atas kaki, berpose seperti seorang tentara yang sementara mengintrogasi dengan tujuan mengintimidasi "Aku mendengarkan"


"Baiklah" gadis itu mengambil sebuah kalung dari dalam kantung celananya "Aku yakin kalian tahu kalung ini milik siapa bukan?" begitu Alzent mengangguk pelan, ia lanjut "Jika kalian lihat permata merahnya, kalian dapat melihat dengan jelas kalau permata ini bercahaya meskipun redup" ia menyerahkan kalung tersebut pada Alzent yang kemudian memerhatikan permata ruby.


"Jadi maksudmu, cahaya dalam ruby ini menunjukkan jika Yuna masih hidup?" tanya Alzent memastikan "Aku butuh buktinya"


Lucan tertawa mencemooh, tatapan hangatnya berubah tajam dengan senyum miring "Kau mengatakan buktinya ada pada orang yang menjual kalung ini? Kalau begitu, biar aku tanya, darimana dirimu tahu jika kalung tersebut menunjukkan Yuna masih hidup?"


"Aku... aku tidak b-bisa menjelaskan hal itu. Ka-kalian harus-


"Berhenti mempermainkan perasaan Alzent, nona cantik. Kau tidak mengerti seberapa menderitanya dia ketika kehilangan Yuna, lagipula kau itu siapa? Tiba-tiba muncul dan merusak mood kami, mengatakan hal tidak masuk akal seperti itu" bentak Lucan.


Alzent bangkit berdiri, memisahkan Lucan dari si gadis asing yang sudah tampak ketakutan "Berhenti Lucan. Memang benar kita tidak tahu siapa dirinya atau darimana ia tahu soal Yuna, sementara hal tersebut tak pernah dipublikasikan, hanya para tentara yang berada di lokasi yang mengetahui 'itu'. Mungkin saja yang dikatakannya memang benar" Alzent menarik napas panjang "Selama setahun aku berusaha untuk melupakan kepergian Yuna, hingga sekarang aku masih belum dapat melakukannya. Setidaknya biarkan aku mencari tahu hal ini, separuh dari diriku juga masih percaya dia masih hidup"


Lucan mengepalkan tangannya "Zent, kau tahu bagaimana sulitnya dirimu berusaha melupakan dia bukan? Sekarang, kau ingin mencari tahu dia hidup apa tidak? Karena omongan dari gadis yang bahkan kita tidak kenal?" Lucan menarik kerah jaket Alzent "Gunakan otakmu, lihat realitanya, dia telah tiada! Kau mengerti?! Jadi berhenti memikirkan masalah ini dan fokus pada misi, aku tidak ingin melihatmu jatuh terpuruk lebih dalam lagi"


Veron dengan cepat menarik gadis asing itu keluar "Maafkan Lucan, baginya, Alzent adalah saudara, sehingga ia bersikap seperti itu, aku harap kau mau memaafkan dirinya" jelas Veron tenang.


"A-aku mengerti" jawab gadis tersebut.


"Tapi jujur saja, aku juga masih sulit percaya. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, Alzent menusuk jantung Yuna di kawah tersebut ketika hujan turun dengan deras di Africa, sesuatu yang begitu aneh namun menyedihkan untuk disaksikan" Veron memberikan kartu namanya "Tapi, demi Alzent, aku pribadi berharap Yuna masih hidup dan jika apa yang kau katakan memang benar, aku akan berusaha mencarinya. Telpon aku kalau kau menemukan sesuatu lagi dan jangan ragu untuk menelponku"


"Oh, aku lupa untuk menjelaskan sesuatu" sahut gadis tersebut..


Beberapa menit sudah terlewati, Veron dan si gadis asing akhirnya masuk dalam kamar, dimana Lucan telah tenang, sementara Alzent sedang menatap keluar jendela, memperhatikan aurora menghias langit malam.


"Baiklah, karena semuanya sudah tenang, Luna disini akan meminta maaf telah membuat keributan" Veron memegang bahunya, memberi keberanian "Ayo cepatlah"


"A-aku


"Aku benar-benar meminta maaf sudah bersikap kasar padamu" kata Lucan cepat "Aku seharusnya mendengarkan penjelasanmu terlebih dahulu, aku benar-benar minta maaf"


Luna terkejut, tidak menyangka laki-laki yang tampak menakutkan tadi dapat bersikap baik seperti ini "A-aku juga benar-benar meminta maaf sudah menimbulkan masalah, aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi"


Lucan mendapatkan sebuah ide saat melihat senyuman di wajah Alzent, bertanya "Bagaimana kalau kau ikut bersama kami? Kebetulan kami akan memecahkan misteri yang spektakuler tak lama lagi"


Alzent melangkah mendekat, dengan tatapan hangat mengajak Luna untuk menerimanya "Aku juga ingin mendengar ceritamu lebih lanjut, bolehkah aku mendapatkan kehormatan itu untuk mendengarnya langsung darimu, Luna?"


"Ya"