
Matahari telah terbenam di barat, bintang-bintang menghias angkasa dengan kerlap-kerlip cahaya. Pepohonan berdaun putih, membentang luas, disertai berbagai bunga-bunga indah bercahaya. Tiupan angin pelan, menerbangkan setiap serbuk-serbuknya ke udara, serbuk dengan cahaya keemasan, seperti sebuah lampion di hari perayaan Cina.
Kedua pemuda itu terkesiap, menyaksikan pemandangan tersebut, terutama Lucan yang sampai melompat-lompat bahagia seperti seorang bocah mendapatkan hadiah pertamanya. Kedua bola mata Lightnar berbinar dan sedikit berair melihat tempat itu kembali, di mana kenangan lama tersimpan.
Tak lama di kejauhan, sebuah gedung putih besar terlihat, terbentuk dari dua pohon raksasa berbatang putih yang saling melilit ke atas, lalu mekar di puncaknya, membiarkan cahaya dari bulan, masuk menyinari sebuah kolam di tengah-tengah bangungan tersebut. Kolam dengan bentuk seperti seekor naga yang sedang merengkuk ke dalam.
"Selamat datang di Shrine of Light" ucap Lightran.
Lucan berlari ke ujung kepala naga raksasa itu, berpegangan pada salah satu tanduknya agar tidak terdorong oleh angin kencang "Wahhh, sangat... memukau" pujinya.
Tiba-tiba Alzent memberontak kuat. Mulai terlihat retakan di rantai keemasan tersebut, meski Veron sudah menahannya sekuat tenaga bersama Lucan, namun rantai tersebut berhasil pecah berkeping-keping, membuat Lightran terpaksa berubah ke wujud manusianya, lalu terbang mendekati Alzent dengan maksud menyegelnya kembali, sayangnya tak berhasil.
Mereka terjatuh ke tanah, menghantam beberapa pohon. Alzent yang pertama kali bangkit berdiri, lalu mengarahkan tangan kanannya ke arah Lightran. Sebuah bola energi hitam terbentuk, perlahan membesar disertai suara bising yang membuat kepala serasa akan pecah.
Lightran langsung memasang lingkaran sihir perlindungan di depan mereka bertiga. Getaran kuat terjadi begitu bola energi kegelapan tersebut menghantam kuat lingkaran sihir Lightran, lalu mengeluarkan aura-aura kehitaman membuat tanah di sekitar mereka berubah kering dan menjadi hitam pekat. Cahaya keunguan tampak di sela-sela pecahan tanah tersebut.
Lingkaran sihir milik Lightran mulai pecah sedikit demi sedikit. Terpaksa ia meminta Lucan dan Veron untuk pergi bersembunyi agar nyawa mereka berdua aman. Tapi, kedua pemuda tersebut menolaknya, memaksa untuk membantu Lightran "Jika kami terus berlari, sementara sahabat kami mengalami kesusahan, apakah kami masih dapat disebut sebagai sahabatnya?" tanya Veron pada dirinya sendiri, lalu Lucan membalas "Lebih baik kami gagal dalam mencoba dibanding hidup akan rasa bersalah" sahutnya lantang.
"Baiklah" jawab Lightran sambil tersenyum "Pegang bahuku, lalu coba alirkan kekuatan yang ada di dalam diri kalian sambil mengingat sosok Alzent"
Mereka berdua memegang bahu Lightran dengan erat, menutup mata sembari mengalirkan kekuatan yang sebelumnya tak pernah mereka rasakan. Kekuatan ini memang selalu meereka gunakan, namun mereka tak menyadari jika kekuatan tersebut mengalir dalam tubuh mereka, bahkan dapat digunakan dengan caranya seperti ini. Mereka selalu mengira Vampire sudah terlahir dengan fisik jauh di atas manusia biasa, tapi ternyata sebuah kekuatan asing membuat mereka menjadi pasukan Elite Vampire.
Veron terus mengingat sosok Alzent sebagai seorang pemimpin yang dapat diandalkan, seseorang yang juga terasa seperti seorang kakak dengan sikap sedikit ceroboh. Semenjak melalui perang bagai neraka itu bersama-sama, ia sudah dapat percaya pada Alzent sepenuh hatinya, apapun yang laki-laki itu lakukan, pasti menghasilkan sesuatu yang positif, baik untuk dirinya sendiri, maupun orang lain.
Lucan ingat pertama kali mereka bertemu sehari sebelum keberangkatan ke medan perang. Sosok Alzent yang begitu murah senyum dan selalu memperhatikan orang lain, membuat Lucan ingin terus mengikuti orang ini. Ia merasa, jika ikut dengan Alzent, hari-hari yang terasa bagai kelabu untuknya akan berwarna dan penuh tantangan. Oleh karena itu, ia tak ingin kehilangan seorang sahabat yang begitu berarti bagi dirinya.
Lightran merasakan kekuatan kedua pemuda tersebut. Ia sedikit terkejut mengetahui kekuatan mereka berbeda dari Alzent, namun hal yang karena situasi genting, ia menepis pikiran tersebut, menggunakan setiap kekuatan yang tersisa dari tubuhnya bersama kekuatan Lucan dan Veron, membentuk dua lingkaran keemasan setengah ungu yang berhasil mendorong mundur bola energi Alzent, kembali pada dirinya sendiri.
Alzent terdorong sedikit ke belakang, ia tersenyum lalu terjatuh ke tanah dengan erangan kesakitan. Mereka bertiga datang mendekat, namun berhenti begitu Alzent mengangkat tangannya "Cepat segel aku, sebelum mahluk ini mengamuk lagi" pintanya sembari menahan rasa sakit.
"A-Alzent?" panggil Lucan "Hey! Kau baik-baik saja?"
Laki-laki berambut putih itu, menatap sahabatnya lalu tersenyum "Pertanyaan bodoh macam apa itu? Sudah jelas aku kesakitan begini" kemudian tatapannya berubah serius "Lightnar, cepat segel aku bagaimanapun caranya, aku tidak bisa menahan mahluk di dalam diriku ini jauh lebih lama. Berkat mereka berdua serta kalung ini" ia menatap lembut kalung perak di tangannya itu "Aku kembali tersadarkan dari kegelapan yang berusaha merebut jiwaku. Namun, aku mohon segeralah menyegelnya!"
Lightnar menggeleng pelan "Aku tidak bisa melakukannya"
"Kau baru saja mengatakan kalau kegelapan akan merebut jiwamu, bukan memakannya. Ini sedikit berbeda dibanding apa yang kupikirkan. Salah sedikit saja, bisa-bisa kau kehilangan jiwamu untuk selamanya" jelas Lightnar, memperingati pemuda tersebut.
"Sudahlah, lakukan saja. Aku yakin, selama Lucan, Veron, Luna, mereka yang berharga bagiku selalu berada di dekatku, aku percaya suatu saat nanti aku pasti kembali" jawabnya mantap, lalu menjerit keras "Cepat! A-aku sudah tak mampu me.. nahannya.. lagi" katanya, terengah-engah.
Lightnar menggertakkan gigi, memalingkan muka sesaat, lalu mengambil sebuah Lifestone dari kantung celananya, mengigit batu tersebut hingga pecah dan menelannya. Seketika seluruh tubuh Lightnar mengeluarkan cahaya keemasan dengan aura hijau terang mengelilingi tubuh. Ia membaca sebuah mantra selagi menyatukan kedua telapak tangan, perlahan menariknya menjauh, menciptakan sebuah lingkaran sihir berlambang kepala naga yang semakin membesar mengikuti jarak kedua tangannya.
"Maafkan aku Alzent" Lightnar melompat, membentangkan kedua tangannya. Lingkaran sihir tersebut sekarang berukuran sangat besar. Ia lalu melesat cepat menuju Alzent yang mulai dikendalikan kegelapan. Begitu telapaknya menyentuh dada Alzent, sebuah ledakan sihir besar terjadi, meciptakan angin kencang, membawa pergi kandungan sihir di dalamnya, sejauh mungkin.
"Terima kasih" ucap Alzent terakhir kali, sebelum menutup kedua matanya.
Lightnar terkejut, tak mampu bicara, melihat dia masih dapat tersenyum meskipun tahu jiwanya kemungkinan besar tak akan kembali "Benar-benar, sosok seseorang yang pantas disebut sebagai 'Pembawa Harapan'" ucapnya, menangkap tubuh Alzent.
"Bagaimana dengan Alzent?" tanya Veron.
Belum sempat Lightnar menjawab, tubuh Alzent terangkat ke atas. Sinar keemasan mengelilingi setiap jengkal tubuhnya, membawa serbuk-serbuk keemasan dari tumbuhan sekitar ikut melayang tinggi, berkumpul masuk ke menjadi kandungan sihir yang lalu meledak, memancarkan sinar emas terang ke atas langit. Bangsa Elf di Dawnfiant bahkan sampai dapat melihat sinar tersebut di kejauhan.
"Alzent..." panggil Luna khawatir.
"Ini tidak mungkin" sahut Lightnar tak percaya "Jiwanya selamat!"
Raut wajah kedua sahabatnya itu berubah bahagia. Mereka menunggu hingga sinar tersebut meredup, lalu sepenuhnya menghilang, membawa kembali Alzent ke atas tanah. Mereka melangkah mendekat, berharap sahabatnya itu baik-baik saja, kemudian Alzent membuka matanya "Aku... baik-baik saja"
Lucan dan Veron tersenyum gembira, tapi mereka bingung melihat raut wajah buruk Lightnar "Kau, tidak baik-baik saja, Alzent" ucapnya.
"Apa maksudmu?" tanya Lucan tak setuju.
"Lihat baik-baik mata sebelah kanannya"
Begitu mereka menyadari hal itu, Lucan mengepalkan kedua tangannya berusaha menahan amarah, sementara Veron meghela napas kesal. Alzent tersenyum pasrah, lalu mengangguk mengiyakan maksud Lightnar "Itu memang benar, kegelapan ini tak sepenuhnya hilang, bahkan.. sekarang ia menyatu dengan jiwaku", mata kanan Alzent, kini berubah hitam pekat, hanya pupil mata berwarna ungunyalah yang membuat mata Alzent masih terlihat berada disana.
Seseorang bertopeng perak, mengawasi semua yang terjadi jauh di atas langit, tersenyum lebar "Sepertinya rencana berjalan dengan lancar"