
Kapten Leo dan raja Arslaz muncul dari udara, berhenti di samping Zeon dengan sepasang mata yang sudah berubah menjadi api putih membara serta api hitam membara. Aura mereka dapat dilihat di sekujur tubuh, bercahaya terang dengan angin meniup kencang sekitar mereka. Zeon menoleh pada kedua orang itu, menyunggingkan senyum dan menunjuk Gerald "Sekarang kau akan melakukan apa, The Watcher? Kau tak mungkin bisa menghadapi kami bertiga sendirian. Oh, jangan lupa-" Lestra terbang melayang di belakang ketiga orang tersebut "Ada seorang Immortal juga"
Mata Gerald terbelalak saat melihat sosok immortal itu. Ia mengepalkan tangan dengan kuat, berusaha menahan amarah yang kini mulai memuncak "Lestra?! Jadi, ini semua adalah rencanamu?" Gerald menghentak kuat kakinya ke tanah hingga tanah tersebut retak disertai getaran kuat "Kau menggunakan mahluk-mahluk Mortal untuk mengerjakan rencana busukmu itu! Apa yang dipikirkan oleh Sang ratu, membiarkanmu bebas berkeliaran?" tanyanya tak percaya.
Lestra mengangkat bahu, tampak tak peduli "Bukan urusanmu. Kau hanyalah The Watcher, seseorang yang bertugas untuk mengawasi para mahluk rendahan ini. Lagipula, terserah diriku ingin melakukan apa pada mereka yang sama sekali tak berhak untuk hidup, hanya dapat memohon ampun serta menyembah kami demi menarik napas. Bukankah itu sama saja dengan budak?"
"Kau dengar itu Zeon?! Dia mempermainkanmu! Jangan mempercayainya!" sahut Gerald.
Namun Zeon hanya terdiam, menutup mata. Ia sama sekali tak memedulikan hal tersebut, menunggu hingga angin yang kini berhembus kencang kembali tenang. Saat membukanya, sepasang mata itu telah berubah menjadi hitam dengan cahaya keabuan bersinar terang "Kami telah menjalin kontrak dan akan bekerja sama untuk menghancurkan tiap dunia yang ada. Tak hanya dunia para Mortal, melainkan juga Immortal. Kau takkan bisa mengubah pendirianku, perasaan terpendam yang selama ini kusembunyikan, yang selama ini kutahan... kini dapat kulepaskan dan menguasai perjalanan pembalasan dendam ini" ucapnya dengan suara yang seakan bergema hingga langit.
Alzent mencoba mencari cara untuk melepaskan rantai di jantungnya. Tetapi entah mengapa, Zeon tampak begitu kuat, seakan mendapat kekuatan baru. Ia terus mencoba sampai sepasang mata Hellraiser itu mulai tampak kembali. Alzent berusaha menahan agar jiwanya tak dikuasai kekuatan yang gila akan pertarungan.
"Sudahlah, biarkan aku menguasai tubuhmu untuk sekarang. Kau takkan bisa melepaskan diri darinya dengan kekuatan yang baru dapat kau kuasai seperempatnya" ucap sebuah suara di dalam kepala.
Alzent menutup mata, masuk dalam ruang bawah sadar. Disana, ia melihat sosok yang sama seperti dirinya, namun dengan wujud Hellraiser sempurna. Sepasang sayap merah, tampak tercipta di era modern terdapat di belakang punggungnya. Sayap yang seluruhnya terbuat dari besi berwarna putih serta oranye kemerahan, saling terpisah dan melayang stabil karena sebuah bola energi merah di punggung atas sayap. Bahkan zirah milik Hellraiser itu sepenuhnya cuma dapat ditemukan dari film-film bertema Sci-fi dengan lampu-lampu neon di tiap pergelangan serta dada.
"Apakah kau.. kekuatan Hellraiser dalam diriku atau sosok diriku yang lain?" tanya Alzent bingung.
"Keduanya dan dapat dibilang kepribadian keduamu. Sudah, tak ada banyak waktu. Biarkan aku menggunakan tubuh ini sekarang, kau takkan bisa menghadapi seorang Immortal kelas atas sepertinya" ucap Hellraiser tersebut, mendorong Alzent ke samping dengan pelan sembari terus melangkah maju.
"Berjanjilah padaku kau takkan menghancurkan apapun, setidaknya bukan karena disengaja dan tolong utamakan keselamatan teman-temanku" pinta Alzent, melihat sosok itu mulai menghilang secara perlahan dan tubuh Alzent diluar ruang bawah sadar, mulai tertutupi oleh zirah miliknya "Hey! Kau belum menjelaskan alasan aku tak bisa menghadapi Zeon! Bukankah Lestra juga sama seperti dirinya!" sahut Alzent saat sosok tersebut hampir hilang sepenuhnya.
"Sosok yang berada dalam diri Zeon saat ini, adalah seorang Immortal dengan kekuatan besar. Sosok yang paling dihormati dalam dunia Immortal, seorang raja dari para dewa, Zeus. Untuk lebih jelasnya akan kujelaskan ketika semua ini sudah selesai dan persiapkan dirimu" jawabnya, sepenuhnya menghilang menggantikan Alzent untuk mengendalikan tubuh.
Zeon yang masih belum sadar akan perubahan Alzent, seketika terlempar ke samping. Tiga orang yang menjadi anggotanya ikut terdorong, melindungi mata mereka dari debu beterbangan akibat angin kencang. Sepasang sayap muncul di belakang tubuh Alzent, sayap yang dikelilingi oleh awan-awan badai berukuran kecil, lalu terbang terbawa angin ke atas, bergabung dengan awan badai di udara dan mengubah seluruh awan tersebut menjadi berwarna merah gelap.
"Hoho, tidak kusangka sosok seorang Hellraiser berani menampakkan diri di hadapanku" kata Zeon dengan suara yang telah sepenuhnya berubah menjadi lebih berat.
"Kau pikir aku takut menunjukkan diri hanya karena kau ada disini, Zeus?" balas Alzent sambil tersenyum menantang.
Hanya mendengar kata 'Zeus', Gerald sudah dapat menebak apa yang sedang terjadi. Ia langsung menciptakan kubah sihir untuk melindungi Lucan, Veron, Luna Reyla dan Yuna. Keringat dingin mulai terlihat di pelipis kakek tua itu, ia tak menyangka Sang penguasa dunia Immortal muncul di dunia para Mortal hanya untuk menghancurkannya. Seharusnya Zeus bisa memerintahkan para prajurit pribadi yang begitu kuat, ia tak perlu turun tangan sendiri untuk melakukannya, kecuali dia mencari sesuatu yang tampak menarik di matanya.
"Gerald, apa yang kau lakukan? Kita harus membantu Alzent!" sahut Veron sambil menggedor-gedor kubah sihir.
"Kalian takkan bisa berhadapan dengan sosok di dalam diri Zeon sekarang" jelasnya. Suara Gerald dapat terdengar jelas oleh orang-orang yang berada dalam kubah, seakan ia berada di samping mereka sekarang dan Gerald tak membuka mulut sama sekali, sebab sedang menggunakan telepati agar Zeus tak mendengarkan pembicaraan tersebut "Sosok di dalam diri Zeon adalah seorang God dengan kekuatan utama berelemen listrik. Ia biasa disebut sebagai 'God of Thunder', seorang God yang menguasai seluruh daratan Immortal"
"Zeus" ucap mereka berlima bersamaan.
"Ya, itu benar. Oleh karena itu, kalian sebaiknya berlindung dalam kubah. Setidaknya kalian aman di dalam sana, karena aku sendiri tak yakin dapat menang menghadapi Immortal itu. Terlebih, ada dua orang dengan kekuatan yang tidak main-main disini. Mereka juga tampaknya sudah diberi sedikit kekuatan tambahan oleh Lestra untuk memenangkan pertarungan- tidak. Pembantaian. Ketika Zeus turun ke dunia Mortal, itu artinya pembantaian akan terjadi"
Zeon tertawa keras, memanggil sebuah petir besar untuk menyambar Alzent hingga kelima remaja itu meneriakkan namanya. Tetapi, beberapa detik kemudian, sesudah kepulan debu menghilang, tampak Alzent yang sedang dalam pose menahan petir tersebut menggunakan tangan kanan. Dapat terlihat di sekitar Alzent, masih terdapat percikan petir-petir berwarna kebiruan, lalu menghilang.
"Masih belum cukup Zeus"