Alive But Dead Inside

Alive But Dead Inside
Dark Path #10



Pertarungan yang selanjutnya membuat hampir sebagian dari akademi tampak baru saja terkena peperangan. Api milik Feurig sudah menyebar dan membakar apapun yang berada di sekitar, melahap tanpa henti, memberi Feurig lebih banyak kekuatan. Yuna cuma menggunakan mantra-mantra biasa, menangkis tiap serangan yang diberikan oleh laki-laki itu, namun ia juga tak dapat menyerang Feurig menggunakan pedangnya, sebab tampaknya zirah serta tombak dari api itu membuat pedang milik Yuna tak berasa sama sekali, jadi Yuna cuma dapat menggunakan sihir es miliknya.


Feurig mengumpulkan energi, membentuk sebuah bola api besar di atas kepala sesudah memberikan sebuah tendangan keras pada tubuh gadis tersebut. Ia lalu meluncurkannya, menghantam perisai lingkaran sihir milik Yuna yang perlahan mulai retak dan rusak, hingga akhirnya perisai itu hancur berantakan lalu terjadi ledakan besar dengan bola-bola api berukuran lebih kecil tersebar segala penjuru. Feurig perlahan turun, melangkah mendekati kawah tempat Yuna berada, menatapnya dari atas "Kau lihat Yuna? Apakah kau masih menganggap Alzent lebih hebat dariku atau mulai mengakui diriku?" tanyanya.


Yuna menancapkan pedang ke tanah, menggunakannya sebagai penopang tubuh sembari memberikan tatapan tajam pada laki-laki tersebut "Aku selamanya akan memilih Alzent, tak peduli kau sekuat apa dan sayangnya, kau masih jauh dari kata kuat jika dibandingkan dengan dirinya"


Ucapannya itu membuat amarah Feurig kembali memuncak, ia menghilangkan tombak apinya, membungkus kedua tinju yang sudah terkepal kuat itu dengan api dari tombak, kemudian maju menerjang, menyerang Yuna dengan tinju dan tendangan, sebuah beladiri yang dikenal sebagai Kick-Boxing. Yuna terus melompat ke belakang, mencoba mencari jarak aman dari tiap serangannya itu, tetapi  sebuah tendangan berhasil mengenai kakinya, berlanjut tinju pada perut kemudian rahang bawah Yuna, membuat ia terlempar keluar dari kawah dan jatuh terguling di atas tanah.


Yuna berusaha bangkit berdiri, menahan tinjuan dari Feurig yang sudah muncul di hadapannya lagi menggunakan tangan yang kini gemetar hebat. Terbentuk senyuman sombong menyebalkan yang sama seperti sebelumnya pada wajah laki-laki itu, ia tahu Yuna sudah mencapai batasnya "Menyerahlah Yuna, kau tak bisa menghadapiku. Aku tak ingin melukai seorang gadis cantik lebih parah dibanding ini atau paras indahmu itu akan tertutupi oleh bekas luka dan lebam" ucapnya pelan setengah merayu.


Saat itulah seseorang datang, seorang laki-laki berzirah hitam. Laki-laki yang sama dengan yang dilihat oleh Zeon. Ia tampak meregangkan tiap anggota tubuh, menggoyang leher ke kiri dan kanan, memberikan sebuah tatapan tajam pada Feurig yang kini tak lagi tersenyum sombong, namun mulai waspada sebab ia mengetahui siapa sosok tersebut dan kemungkinan besar kedatangannya bukanlah untuk berbicara baik-baik. Feurig langsung berbalik sesudah memberikan sebuah tendangan keras pada tubuh Yuna, membuat gadis itu benar-benar kehilangan kesadaran, lalu memasang kuda-kuda, siap menyerang "Mengapa kapten Leo dari pasukan elite kerajaan, datang di akademi? Bukankah seharusnya kalian berada di dunia manusia?" tanyanya bingung.


Laki-laki bernama Leo itu, hanya memberikan senyuman sebagai sebuah jawaban dan dalam sekejap ia sudah berada di depan Feurig, melancarkan begitu banyak serangan yang semuanya hampir sama seperti tehnik Feurig, namun terdapat taekwondo juga di dalamnya. Mereka terus bertukar serangan, memberikan luka satu sama lain, tetapi dapat terlihat Leo mulai mendominasi situasi hingga Feurig terpaksa menggunakan tombaknya kembali, menghadapi Leo menggunakan kekuatan apinya.  Feurig tampak santai, menghindari bahkan menghadapi tiap api tersebut dan keluar dengan sedikit luka, sesuai perkiraan Feurig. Sosok yang berbahaya.


Karenanya, Feurig tak ragu lagi untuk menggunakan kekuatan yang ia miliki dengan penuh. Tadinya ia belum menggunakan seluruh kekuatannya, sebab takut Yuna akan terluka terlalu parah dan Zeon turun tangan langsung menghadapinya atau Alzent. Ia masih belum percaya jika Alzent memang sekuat yang pernah diceritakan oleh orang-orang dalam akademi, namun sebagian dirinya juga merasa sedikit takut jika harus berhadapan dengan seseorang yang memiliki tatapan setajam silet dan terasa menusuk langsung jiwanya. Jadi, melawan kapten Leo masihlah sebuah keberuntungan baginya.


Mereka berdua terus bertarung hingga sampai di titik dimana Feurig mulai pusing harus menggunakan apalagi untuk membuat orang ini menyerah, segala cara telah ia gunakan, namun tampak tak ada yang mempan menghadapi laki-laki itu. Seakan, ia rentan terhadap api... itu dia!


Feurig sengaja membiarkan dirinya terkena sebuah pukulan di perut yang menghilangkan seluruh wujud api miliknya, mengembalikan ia seperti semula dalam balutan pakaian yang kini mulai tampak robek di sana-sini. Ia menarik keluar pedang yang sejak dari awal tersarung di pinggang, lalu diarahkannya pada Sang kapten. Leo maju menerjang, mengayunkan pedang miliknya yang telah dilapisi oleh sebuah sihir namun langsung lenyap begitu menyentuh pedang milik Leo dan kini pedang Leo lah yang terlihat terlapisi oleh sihir tersebut. Sekujur tubuhnya langsung tertutupi oleh zirah hitam yang sama seperti milik Sang kapten "Sekarang kita seimbang"


Mereka berdua kembali bertukar serangan. Percikan api tercipta dari dua pedang yang saling beradu dengan kekuatan serta kecepatan. Leo yang tadinya mendominasi keadaan, kini mulai berimbang dengan Feurig yang telah mencuri kekuatannya dan menggunakan itu untuk melawan Leo sendiri. Ia tak menyangka, bahwa seseorang akan mampu membuat ia merasa terdesak seperti ini, membuat ia harus serius. Padahal orang yang berhasil membuat ia bertarung secara serius hanyalah Zeon serta Sang raja, lalu seorang lagi yang dulunya pernah ada di akademi namun menghilang secara tiba-tiba. Seseorang yang mengalahkan Leo hanya dalam satu gerakan saja. Ingatan yang selama ini membuatnya terus berlatih dan mengingat, di atas yang kuat masih ada yang lebih kuat.


Tetapi apa yang dilakukan oleh Feurig sama sekali bukanlah sesuatu yang didapatkan dari hasil latihan keras, melainkan mencuri kekuatan milik orang lain yang sudah sangat sulit untuk didapatkan oleh orang tersebut, namun ia gunakan begitu saja untuk menghadapi pemiliknya sendiri. Sungguh bukan cara seorang ksatria bertindak. Meskipun Arkbyss terkenal akan kekejamannya, mereka masih bersikap seperti seorang ksatria dalam medan peperangan, tak pernah berbuat curang atau melakukan hal yang menyimpang dari itu. Itulah kenapa ia sangat tidak suka melihat cara Feurig memperlakukan Yuna yang dimana adalah seorang perempuan, tak seharusnya ia perlakukan seperti seorang budak yang tak memiliki harga diri. Salah satu alasan dirinya ingin menjadi kapten dari pasukan elite, adalah untuk membasmi orang-orang seperti Feurig yang menggunakan kekuatan mereka dengan cara yang salah.


Leo berhasil membuat Feurig mundur beberapa langkah. Ia lalu melompat mundur ke belakang, merapalkan sebuah mantra untuk menghadapi pedang milik laki-laki itu yang tampaknya dapat mencuri segala macam kekuatan yang disentuhnya. Pedangnya menghilang bersamaan seluruh zirah hitamnya, menyisakan balutan seragam pasukan elite yang mirip seperti seragam murid akademi namun dengan lebih banyak aksesori serta tampak lebih mengeluarkan aura mendominasi. Leo memasang kuda-kuda, mengepalkan kedua tinju di depan tubuhnya "Majulah"