
Serangan dari Lucan berhasil membuat Uhro kewalahan, meskipun tak menggores sedikitpun tubuh besi miliknya, ia terus terlempar ke sana ke mari akibat daya ledak tiap misil tersebut. Veron juga telah menambahkan sihir miliknya agar setiap misil yang hanya berupa cairan darah itu, dapat meledak sesuai seperti misil di bumi. Uhro berlari, melompat, terlempar lalu diberi serangan kombinasi dari Veron, Lightnar serta ratu Ezra. Ia lalu memerintahkan agar setiap pasukan Gigant yang semenjak kemunculan, hanya diam di tempat, untuk menyerang Lucan.
Mengetahui hal tersebut, Tern maju ke sisi Vampire muda itu, menggunakan dua palu besarnya untuk menghabisi tiap Gigant yang akan datang. Meskipun mereka terus bergenerasi kembali tanpa menunjukkan tanda-tanda perubahan seperti Uhro, Tern terus membuat mereka tak dapat mencapai tempat Lucan berada. Namun tentu saja dirinya sendiri akan kelelahan, para pasukan yang tadinya kehilangan semangat, kini maju membantu. Peperangan terjadi kembali, meskipun tak separah sebelumnya. Para Syren memutuskan untuk membantu, namun mereka juga masih menjaga jarak sebab keduanya tahu mereka masih belum bersekutu, bahkan Sang ratu Syren, Sysilla sendiri masih belum menyerah untuk mendapatkan Lifestone dari para Elven.
Berkat itu, situasi kini berbalik. Uhro terus didesak oleh misil yang tiada habisnya, sementara pasukan Gigant terus dihancurkan oleh para pasukan dari tiga bangsa. Namun, makin lama, Veron mulai kecapaian. Ia tidak bisa terus-menerus memberikan sihir pada misil Lucan, sebab ia sendiri menggunakan serangan yang menghabiskan mana begitu banyak, sementara misil Lucan tanpa ditambahkan sihir Veron, hanya akan menabrak tubuh Uhro tanpa adanya ledakan sama sekali.
"Alzent, kami butuh bantuanmu" kata Lightnar pelan sambil menggertakkan giginya, ia juga mulai merasa lelah. Kedua tangannya sudah gemetaran terus memberikan serangan sihir yang memakan terlalu banyak mana. Jika terus dilanjutkan, ia tak yakin mampu menghadapi perang yang akan datang selanjutnya.
Begitu Lucan menarik kembali tiap misilnya, lalu mengubahnya kembali menjadi pedang, Uhro berhenti berlari, terdiam di tempat, menyahut "Ada apa? Kalian kelelahan?" ia lalu tertawa keras "Hahahaha... sudah kukatakan sebelumnya bukan? Kekuatan apapun yang kalian gunakan tak ada gunanya"
Lucan melihat setitik cahaya dari dalam mulut Uhro, lalu tersenyum lebar "Siapa yang bilang tak ada gunanya? Justru perlawananmu lah yang sia-sia, kau sudah masuk dalam perangkap. Sekarang!"
Veron merapalkan sebuah mantra, memukulkan kedua telapak tangannya ke tanah. Tepat di bawah Uhro, sebuah lingkaran sihir besar tercipta, lingkaran sihir tersebut memunculkan sebuah pilar besar serta tinggi, berwarna ungu transparan, mengurung Uhro di dalamnya. Di kedua lengan Veron, beberapa lingkaran sihir berputar mengitarinya, makin cepat seiring lingkaran sihir dalam pilar tersebut bercahaya makin terang. Uhro berusaha melepaskan diri, namun tak berhasil. Lightnar berubah menjadi naga, terbang tinggi ke atas, menyapukan tiap awan yang menghalangi, memperlihatkan bulan purnama, terang menyinari medan pertempuran. Ratu Ezra melemparkan pedang hitam miliknya ke atas pilar, melesat cepat ke atas, kemudian menjentikkan jari, mengubah pedang tersebut menjadi sembilan, berputar mengitari pilar sambil terus bertambah banyak dan banyak, melayang diam di tempat. Ujung pedangnya siap masuk menusuk tubuh Uhro.
Lucan mengangkat kedua lengannya, perlahan membawa naik tiap darah yang ada, menggabungkan mereka menjadi satu, menjadi sebuah tombak berukuran besar berwarna merah menyala dengan pangkal berwarna campuran, dari tiap warna darah dari ketiga bangsa. Tombak tersebut berputar, Lucan terus menahannya hingga kedua tangannya gemetar, tak kuat menahan kekuatan besar yang kini mengalir di tiap pembuluh darahnya, membuat matanya berubah merah menyala kembali.
Uhro menyaksikan semua itu, tertawa meskipun instingnya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres "Sudah kukatakan pada kalian, tak ada gunanya"
"Oh benarkah?" sahut sebuah suara.
Uhro menyadari suara siapa itu, ia lalu melirik ke tubuhnya, melihat tubuh besinya itu mulai retak perlahan, mengeluarkan cahaya kemerahan yang terang, lalu berganti ke cahaya keemasan "Tidak, ini tidak mungkin! Kau tak mungkin bisa hidup setelah terkena Eternal Fire! Kau seharusnya mati!" Uhro lalu merasakan sebuah kekuatan gelap tak asing di dalam diri Alzent. Ia tertawa lemah "Begitu yah? Pantas saja. Aku tak tahu mengapa pangeran pembawa kehancuran sepertimu membantu dunia ini, tapi tolong selamatkan mereka"
Sebelum tubuh Uhro sepenuhnya menghilang, tubuhnya berubah menjadi seekor singa besi berwarna putih mengilap dengan garis-garis keemasan. Ia tersenyum menatap Alzent dalam ruang bawah sadarnya, mengatakan "Alzent, aku minta padamu untuk membebaskan dunia ini dari kegelapan yang telah menguasai. Mungkin sudah terlambat untuk menghentikan kegelapan tersebut, namun belum terlambat untuk menghapusnya. Selamat tinggal, Pangeran"
Sosok di hadapan Alzent pun menghilang, Alzent kembali sadar, lalu mengangkat tangannya mencoba menggapai sebuah permata yang masih tersisa dan akan terbawa ke atas. Permata yang berada dalam tangannya itu kemudian menghilang menjadi butiran cahaya, bersamaan dengan selesainya ledakan besar dalam pilar. Alzent mengepalkan tangannya tersebut, mengatakan "Aku berjanji, Uhro. Aku pasti akan membebaskan dunia ini, tunggu saja"
Lightnar berubah kembali menjadi manusia, berjalan mendekati Alzent dengan lemah. Veron, Lucan dan ratu Ezra juga berjalan mendekat "Kau baik-baik saja?" tanya Veron.
"Ya" jawab Alzent singkat.
"Mengapa kau tetap diam di dalam ledakan? Kau bisa saja mati" sahut Lucan "Bahkan Lightnar harus menghindar dari ledakan tersebut"
"Aku harus menjelaskan sesuatu pada kalian, terlebih kepada kalian berdua, Lucan.. Veron"
Gerald tiba-tiba muncul di antara mereka, kekuatan yang dipancarkan dari dalam tubuhnya membuat Lightnar serta ratu Ezra mengambil jarak. Gerald mengangkat kedua tangan, mengisyaratkan ia tidak datang untuk bertarung "Biar aku yang menjelaskannya pada mereka, Alzent. Aku yakin kau sudah mengetahuinya dari Gigant yang kalian habisi tadi"
"Ada apa?" tanya Lucan curiga.
Gerald menarik napas dalam, menghembuskannya "Bumi.. telah hancur"