Alive But Dead Inside

Alive But Dead Inside
A Sacrifice For Love #6



"Apa yang kalian inginkan?" tanya Lucan tak menyembunyikan raut wajah tak senang begitu melihat mereka. Ia tidak takut untuk menghadapi para Immortal di hadapannya itu, namun ia takut jika tak mampu bertarung maksimal dengan Reyla di gendongannya.


Sang ratu terbang mendekat, menunjuk gadis di pelukan Lucan "Berikan dia pada kami" perintahnya dengan aura mencekam.


"Apa yang seorang ratu Immortal inginkan dengan seorang Mortal biasa?" tanya Lucan curiga.


"Apa yang menjadi masalah kami, hanya kami yang bisa tahu, uruslah masalahmu sendiri, mahluk terbuang" tukas Sang ratu, memberi tanda empat penjaganya untuk maju.


Lucan berdecak kesal, ia melampiaskan kekuatannya keluar untuk menakuti mereka dan berhasil, mereka juga tak tahu jika Lucan masih dapat menggunakan kekuatan mengerikannya tersebut. Tanpa pikir panjang, Sang ratu langsung memerintahkan seluruh penjaganya yang lebih dari sepuluh orang itu untuk menghabisi Lucan. Lucan tentu saja tidak menahan diri, untuk apa ia menahan diri pada orang yang ingin menghabisi nyawamu dalam pertemuan pertama.


Lucan bertarung dengan beberapa orang itu dengan keras. Ia hanya bisa menggunakan tangan kirinya sebab tangan kanan sedang menahan tubuh Reyla. Tetapi, itu sudah lebih dari cukup untuk menekam mereka bahkan menghabisi dua orang. Sang ratu semakin geram menyaksikan hal tersebut, lalu memutuskan untuk maju menghadapi sosok monster yang sudah lama dibicarakan oleh orang-orang di dunia Immortal. Ia ingin merasakan sendiri sekuat apakah sosok di depannya ini.


Tebasan energi merah Lucan terus melukai para penjaga, selagi ia menghindar tiap serangan mematikan mereka. Ia mesti mencari kesempatan yang tepat untuk menghabisi mereka semua dalam sekali serang menggunakan kekuatan yang berhasil menghabisi Goddess di Frozenland sebelumnya.


Sang ratu menggunakan seluruh kekuatannya, ia maju menghadapi Lucan tanpa rasa takut. Mereka beradu kekuatan selama beberapa menit, hingga Reyla akhirnya membuka mata, menyadari ia berada dalam pelukan Lucan yang sementara melindunginya dengan bersusah payah. Reyla menoleh ke kiri, melihat sosok begitu banyak Immortal menyerang Lucan secara bersamaan, lalu ia melihat Sang ratu yang memiliki kekuatan lebih besar dari para Immortal berzirah itu.


"Lucan, apa yang terjadi!?" tanya Reyla bingung sekaligus panik.


"Kau sudah siuman? Baguslah, tapi tunggu sebentar, aku harus menghabisi orang-orang ini terlebih dahulu, kemudian kita dapat berbicara sepuasnya" jawab Lucan lembut, lalu tatapannya berubah tajam kembali saat menatap Sang ratu yang tampak terkejut ketika mendengar suara Reyla.


Empat orang penjaga bersenjatakan kapak datang mendekat dari arah yang berbeda. Mereka mengangkat tinggi kapak masing-masing, mengayunkannya, namun sebuah rantai berukuran besar menahan tubuh keempat orang tersebut. Mata Lucan mengeluarkan cahaya merah dan aura kemerahan mulai terlihat di sekujur tubuhnya. Hanya dengan sebuah jentikan jari, tubuh empat orang tersebut teremas kuat hingga hancur terkoyak. Di saat itulah Sang ratu mengerti mengapa Lucan dikatakan berbahaya oleh para God maupun Goddess.


"Ternyata benar, kau adalah monster! Kau menghabisi nyawa orang tak bersalah tanpa pandang bulu! Kau memang pantas dibuang dari dunia para Immortal" sahutnya.


Lucan tertawa kecil "Haha.. kau bahkan tak pernah menemuiku secara langsung, cuma mendengar gosip murahan para Immortal mengenai diriku dan langsung memutuskan aku jahat? Bahkan ingin membunuhku dalam pertemuan pertama? Sebenarnya siapa yang monster?" tukas Lucan.


'Dunia para Immortal? Apakah Lucan seorang Immortal?' tanya Reyla dalam hati, menatap sosok yang dicintainya itu 'ia memang terlihat berbeda'.


"Tidak perlu bukti! Aku sudah melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Kau adalah monster!"


"K-kau! Penjaga serang dia!"


Beberapa penjaga langsung maju menerjang, namun seperti sebelumnya, Lucan berhasil menghancurkan tubuh mereka dengan mudah menggunakan rantai-rantai yang keluar dari ruang hampa udara "Tak ada gunanya. Jangan harap aku berbaik hati pada Immortal kelas atas seperti kalian, kalian tak pantas" ucapnya.


Sang ratu menggeram marah, melancarkan sebuah serangan energi berbentuk ratusan anak panah yang mirip dengan milik Reyla. Lucan menghela napas pelan, mengibas pedangnya sekali, menghapus seluruh panah tersebut menggunakan gelombang energi "Apa yang kalian lakukan!? Cepat serang dia!" bentaknya.


Para penjaga yang tersisa saling berpandangan, mereka ragu untuk maju menyerang sesudah melihat kawan mereka hancur dalam sekejap tanpa bisa melakukan apa-apa. Mereka lebih memilih diberi hukuman dari Sang ratu yang tak seberapa dibanding harus kehilangan nyawa menghadapi mahluk mengerikan di depan mereka.


Lucan tersenyum melihat itu, mengatakan "Lihat, bahkan anak buah kepercayaanmu lebih memilih nyawa mereka sendiri dibanding mengikuti ratunya, mengapa? Karena kalian para Immortal terlalu sering menindas mereka yang lemah dan aku benar-benar tak setuju akan hal tersebut. Itulah alasannya aku menghabisi para Immortal yang menyalahgunakan kekuatan mereka, apa aku salah?"


Sang ratu memasang senyum arogan meskipun lengannya gemetaran sekarang "Huh! Apa gunanya memiliki kekuatan besar jika pada akhirnya harus hidup setara dengan yang lain? Lebih baik menggunakan kekuatan tersebut dengan benar, yaitu memperlakukan mereka yang lemah seperti budak sebab memang disitulah tempat mereka berada!" sahutnya bangga.


Lucan menutup mata, menggeleng pelan "Sebelum aku menghabisimu, apa yang ingin kau lakukan pada belahan jiwaku ini?" tanya Lucan, membuat raut wajah Reyla berubah merah karena tersipu malu.


"Tentu saja merebut kekuatannya. Energi kehidupan yang berada di dalam gadis itu melebihi seorang Immortal kelas atas. Siapa yang tidak menginginkannya? Semua orang sudah pasti menginginkan kekuatan itu, untuk membuat mereka berada di puncak dan menguasai segalanya" jelas Sang ratu penuh semangat.


"Simpan saja semangatmu itu untuk bertahan hidup di neraka. Oh.. dan sampaikan salamku pada Hades, katakan aku akan memberimu pelajaran tak lama lagi" Lucan menjentikkan jarinya. Beberapa rantai melilit tubuh para penjaga dan empat rantai melilit tangan serta kaki Sang ratu "Tutup matamu" pinta Lucan, lalu mereka kini terkoyak habis dengan jiwa yang langsung mengarah ke neraka. Rantai-rantai tersebut menghilang, Lucan mengelus wajah Reyla dengan lembut "Sekarang kau bisa membukanya"


"Jujur padaku" ucap Reyla dengan tatapan tajam.


Lucan tertawa canggung, lalu menjawab "Aku dulunya seorang Immortal dan sisanya akan aku jelaskan dalam perjalanan menuju Risenland. Aku yakin tiga orang itu sedang menungguku di kaki pegunungan"


Reyla menarik kedua pipi Lucan dengan kesal, melipat lengannya dan memalingkan wajah membuat Lucan menggaruk-garuk kepala, bingung harus melakukan apa. Ia akhirnya memilih untuk memberikan Reyla sebuah ciuman di kening dan melesat cepat menuju kaki gunung tanpa sempat memerhatikan wajah Reyla yang sedang tersenyum lembut sembari menatap wajah laki-laki yang ia cintai.


Sang Hydra yang menyaksikan seluruhnya dari awal, memutuskan untuk tidak mengganggu sosok bernama Lucan itu. Tubuhnya sudah gemetar hebat semenjak ia melihat tubuh para Immortal kelas atas terkoyak begitu saja. Ia bersyukur Reyla mencuri liontin itu tanpa harus menariknya masuk dalam masalah antar para Immortal tadi "Kayaknya aku menjadi pelayan saja di sebuah restoran Immortal, aku tidak ingin terlibat dengan masalah seperti itu. Hiii~ ngerii..."