
Xeth menembakkan pedangnya tepat ke samping altar, menghancurkan sebagian dari sisi pegunungan tersebut, memperlihatkan sebuah altar besar dengan sebuah ruangan di belakangnya. Dapat terlihat jelas, seorang gadis yang sementara terbaring tenang dan seorang laki-laki di depan beberapa pilar besar, mengelilingi sebuah kalung beraura besar.
Mata Lucan terbelalak saat melihat Xeth melakukan itu, amarahnya memuncak, kedua tangannya gemetaran karena tak mampu menahan gejolak darah yang kini membuat setiap urat di tubuhnya mengeluarkan cahaya kemerahan.
"Aku akan langsung menjawab jika aku di posisimu, kecuali gadis ini hanyalah salah satu gadis yang sengaja kau dekati untuk menjadi 'Limiter', sama seperti dia sebelumnya" ucap Xeth pelan, namun dapat terdengar jelas nada mengancam di dalamnya.
Tiga detik terlewati, Xeth kembali menembakkan pedangnya ke sisi lain pegunungan, memperlihatkan seluruh bagian altar tersebut "Kesempatan terakhir Lucan"
Tanpa kedua orang itu sadari, mata Reyla perlahan terbuka karena guncangan kuat. Ia terkejut melihat sosok Lucan yang begitu berbeda di udara dan makin terkejut lagi ketika merasakan energi kuat seorang Immortal dari sosok yang sedang disandera Lucan. Reyla memperhatikan situasi, tampaknya mereka berdua masih bernegosiasi akan sesuatu. Gadis itu berpikir cepat, lalu segera berlari menuju Altar, mengambil liontin kuno tersebut dan mengenakannya, tepat saat Xeth menembakkan pedang ketiga begitu Lucan baru saja akan mengiris lehernya sendiri.
"Kau tidak menepati janjimu!" bentak Lucan, ia memperhatikan altar yang kini tertutupi oleh kepulan asap serta debu tebal.
"Aku tidak pernah bilang akan menepati janjiku bukan? Jadi, aku sama sekali tak bersalah" tukas Xeth, tertawa senang. Ia tak perlu takut lagi menghadapi Lucan yang telah terluka oleh pedang merahnya sendiri, sebab pedang itu memiliki kekuatan kutukan yang kuat, bahkan penggunanya sendiri dapat terkena jika tak berhati-hati dan kini jantung Lucan sudah dikelilingi oleh mantra kutukan tersebut, siap menghancurkan jantungnya menjadi kepingan-kepingan kecil.
Tiba-tiba, sebuah panah dengan energi kehidupan besar melesat cepat, mengenai tubuh Xeth hingga ia terlempar ke atas, memuntahkan sedikit darah segar. Mata Xeth yang dipenuhi amarah, mencari sosok yang menembakkan panah, menemukan Reyla yang kini tampak seperti seorang Immortal. Ia tak lagi mengenakan zirah ringan untuk seorang Assassin, melainkan sebuah gaun berwarna hijau toska yang semakin ke pangkal gaun, akan semakin transparan. Ia juga mengenakan sepasang celana kain berwarna putih yang memudahkannya untuk tetap beraksi sebagai seorang Assassin.
Reyla menembakkan beberapa panah lagi. Panah-panah tersebut berubah menjadi puluhan, ratusan lalu ribuan, menghujani Xeth yang sementara menangkis tiap panah menggunakan katananya dengan susah payah. Beberapa panah berhasil menusuk masuk tubuh laki-laki itu dan ketika hujan panah terhenti, kedua mata Reyla mengeluarkan cahaya kehijauan, tatapan tajamnya mengarah tepat pada mata Xeth. Xeth dapat merasakan aura mengancam yang besar dari gadis tersebut, sesuatu yang seharusnya hanya dimiliki oleh seorang Immortal kelas atas, yang bahkan tak dimiliki olehnya.
Gadis tersebut menarik kembali panah berukiran indah dari ubin hijau itu, energi hijau mulai berkumpul membentuk sebuah anak panah berkekuatan besar. Anginnya bertiup kuat ke belakang Reyla, menerbang-nerbangkan gaun gadis cantik tersebut serta mendorong setiap pepohonan di pegunungan hingga beberapa terlepas dari akarnya. Xeth mengumpulkan begitu banyak kekuatan untuk membentuk sebuah perisai dari lingkaran sihir besar yang kemudian bertambah menjadi tiga, mempertebal pertahanan, kemudian tujuh lingkaran sihir berukuran lebih kecil muncul mengitari lingkaran sihir besar tersebut.
Lingkaran sihir milik Xeth dan anak panah energi itu beradu, terjadi hempasan angin kuat, merusak apapun di sekitar. Cahaya terang tercipta dari dua kekuatan yang saling beradu. Xeth berusaha keras menahan anak panah tersebut hingga lapisan pertama lingkaran sihir miliknya pecah. Xeth dapat merasakan jiwanya terluka akibat serangan itu, namun masih berusaha bertahan meskipun setiap kali lapisan lingkaran sihir yang ia tambah, pecah, membuatnya memuntahkan lebih banyak darah.
Reyla melihat laki-laki yang sudah mulai terdesak, mengumpulkan energi untuk membentuk sebuah anak panah lagi. Kedua mata Xeth terbelalak lebar menyaksikan gadis tersebut sudah mulai menyiapkan serangan kedua sementara serangan pertamanya saja masih belum dapat ia atasi. Xeth mengeluarkan lebih banyak kekuatan, setiap lingkaran sihirnya mulai berputar cepat. Perlahan, lingkaran sihir tersebut melahap anak panah Reyla. Sebuah cengiran sombong terbentuk di wajahnya ketika memperhatikan wajah Reyla yang terkejut.
Baru saja Reyla akan menembakkan sebuah anak panah lagi, dua buah panah melesat cepat. Lucan menahan kedua panah tersebut sebelum menusuk masuk punggung kekasihnya. Reyla memberikan senyuman manis untuk Lucan sebagai rasa terima kasih, tetapi tombak milik salah satu Immortal kini melesat cepat melewati tubuh Lucan, menusuk masuk punggung Reyla. Bersamaan dengan itu, anak panah yang menyerang Xeth telah dilahap habis sepenuhnya dan Xeth menciptakan anak panah yang sama namun tujuh lingkaran sihir sebelumnya, kini berputar mengelilingi anak panah besar tersebut. Xeth melepaskannya, ketujuh lingkaran sihir makin berputar cepat dan meledak mengenai Reyla.
Gadis itu terhempas jauh ke belakang, ditangkap oleh Lucan. Ia menarik keluar tombak yang tembus melewati badannya, mengalirkan energi penyembuh berwarna kemerahan. Berkat kekuatan Reyla yang juga adalah energi kehidupan, ia dapat menyerap energi mahluk hidup di sekitar untuk memulihkan luka parah tersebut, namun sebagai gantinya mahluk hidup yang diserap energi kehidupannya menjadi kering dan mati.
Lucan bernapas lega melihat luka Reyla mulai menutup, lalu menatap tajam enam Immortal yang terbang melayang, memberikan tatapan tajam dengan sebuah senyuman arogan, kemudian pergi menghilang, kembali ke dunia mereka. Lucan mengepalkan tangan dengan kuat, ia sangat ingin membalas perbuatan mereka, namun ia tahu, ia tak dapat melakukan hal itu hanya sendiri, Lucan membutuhkan bantuan, bantuan yang tak hanya besar, namun juga banyak.
Tiba-tiba terdengar suara Xeth di dalam kepala Lucan "Sebaiknya kau membawa gadis itu ke dunia ini, ia mengambil kutukan di jantungmu sebagai ganti kau hidup hingga sekarang. Tapi, aku takkan memaksamu, kaulah yang paling tahu apa yang harus dilakukan, hahahaha!"
"Xeth..." ucap Lucan geram.
Baru saja ia akan terbang kembali ke Risenland, sosok beberapa Immortal lain muncul di hadapan Lucan. Namun, kali ini, Lucan ragu untuk menyerang mereka sebab yang muncul adalah Immortal kelas atas, ratu dari sebuah kerajaan besar disana.