
Ahmed yang baru saja berdiri setelah berhasil merampas senjata musuh kini terpana melihat serombongan lelaki berkaos hitam dengan ikat kepala bersenjata revolver menembaki dengan mudah para penyerang mansion yang bersenjata laras panjang. Sambil menembak, mereka beratraksi memukau dengan bersalto dan menerjang. Dalam hitungan beberapa menit saja semua penyerang mansion di dekat Ahmed tumbang bersimbah darah. Setelah melirik keadaan Ahmed sekilas, tanpa berkata apapun para pendatang baru tersebut pun berlari masuk melalui pintu samping, jalan yang tadi dilalui Ahmed, meninggalkan Ahmed yang kebingungan.
"Siapa mereka? Mereka datang untuk membantu bukan?", Ahmed bergumam sendiri dan segera sadar dari keterkejutannya. Pria tampan berjambang tipis itu pun berlari sambil memegangi bahunya yang terluka. Ia menyusul para lelaki berkaos hitam masuk kembali ke dalam mansion. Senjata laras panjangnya sudah bersiap menyambut musuh jika menghadang. Namun yang terjadi, begitu masuk, ia terhenyak melihat banyaknya penyerang bertopeng yang sudah bergeletakan di lantai. Sepasukan pria berpakaian sama dengan yang membantunya tadi nampak bertarung dengan gagah dan nampak menguasai keadaan. Mereka tak kalah banyaknya dengan para penyerang bertopeng yang sekarang sepertinya mulai kerepotan dan terpukul mundur. Ahmed yang sekilas melihat bayangan bertopeng naik ke lantai atas segera teringat dengan Grace. Tanpa pikir panjang ia pun naik mengejar. Terbayang diingatannya bagaimana ekspresi ketakutannya Grace dalam persembunyiannya menyaksikan pertumpahan darah di depannya.
Ahmed sudah sampai ke atas dan mendapati kawanan para pendatang yang menolongnya di bawah sedang baku tembak dengan beberapa orang penyerang. Lelaki itu hanya mengamati saja dan pelan-pelan mendekati kamar Ayesha yang berada di lorong sebelah kanan. Ia yang melihat penolongnya perlu mendapatkan bantuan segera menembakkan pelurunya ke arah pasukan bertopeng. Tak lama pertarungan pun usai. Kawanan pendatang berhasil merobohkan para penyerang dan Ahmed yang semula ingin memastikan keadaan Grace yang ada di kamar Ayesha seketika urung karena berpikir akan sesuatu. Ia harus memastikan siapa sebenarnya para penolong mereka.
"Siapa kalian? Mengapa kalian menolong kami?"
"Kami ditugaskan Tuan Al Qudri. Nanti Anda akan tau juga. Dimana Tuan Maxwell sekarang?", jawab salah seorang pria berkaos hitam.
"Oh God. Mereka..."
Seketika Ahmed teringat dengan adiknya Ayesha dan iparnya juga Bibi Christine. Tanpa menjawab, ia pun berlari turun menuju ruang pustaka. Para penolongnya pun bergegas mengikuti. Sesampainya di tempat yang dituju, ia pun shock melihat apa yang terjadi. Tubuh-tubuh terkapar tak berdaya di lantai dengan luka tembakan di tubuh masing-masing. Ahmed mendekat mencoba mengenali. Pelan ia melangkah dan mendapati dua sosok tubuh yang ia kenali.
"Paman Sam... Patch..."
Ahmed berjalan mendekat. Kedua orang yang dikenalnya itu masih nampak bernafas. Paman Sam tertembak di dada dan perutnya, begitu juga dengan Patch. Tiga lubang tembakan di dadanya menimbulkan aliran darah yang tak sedikit. Dengan gerakan cepat, Ahmed pun segera melepas jas yang dipakai Patch dan mengikatkannya pada luka Patch untuk mengurangi laju darahnya. Sedangkan untuk Paman Sam ia membuka pakaiannya sendiri yang berlengan panjang dan langsung mengikatkannya pada perut Paman Sam. Tinggallah Ahmed yang hanya menggunakan singletnya, mengekspos tubuh kekar yang cukup berotot. Setelah selesai ia pun meminta para pengawal Maxwell yang tersisa untuk membawa Patch dan Paman Sam agar segera mendapat pertolongan.
Ahmed terus melangkah masuk ke dalam ruangan pustaka yang cukup luas dan panjang itu dengan hati-hati. Tak lama ia pun menjumpai tiga orang bertopeng sudah tewas dengan kepala bersimbah darah di lantai. Dengan jantung makin berdebar ia pun melangkah kembali semakin masuk dan kembali terhenyak melihat keadaan ruangan di sekitar pojok. Barang-barang nampak hangus dan hancur. Masih ada percikan api yang untungnya tidak membakar buku maupun barang yang mudah terbakar karena api tersebut mengenai dinding beton. Sepertinya terjadi ledakan karena granat kecil di area tersebut. Dua sosok tubuh berpakaian sama tergeletak berlumur darah dengan tubuh terbelah menjadi beberapa bagian, berserak di lantai. Ahmed bisa menduga bahwa mereka juga kawanan penyerang bertopeng. Terbukti dari pakaian mereka. Pria berkebangsaan Rusia itu pun melangkah kembali setelah memastikan keduanya tewas dan kini mendapati dua sosok tubuh yang tak asing baginya. Ia menahan nafas melihat Mark yang pingsan dengan luka tembak di dada dan Bibi Christine yang juga pingsan dengan kondisi tubuh telungkup di lantai dan berlumur darah. Sepertinya ia juga tertembak. Ahmed pun berteriak meminta pertolongan dan seketika para penjaga mansion yang tersisa menghambur masuk dan mengangkat orang-orang yang masih bernafas. Membawa mereka ke rumah sakit milik Powell Group yang tak jauh dari mansion. Sementara itu, para pendatang dengan revolver di tangan mereka pun turut serta membantu membereskan semua jejak peperangan mengerikan di mansion. Menangkap para penyerang yang masih hidup dan mengangkut semua anak buah Maxwell yang masih hidup ke rumah sakit.
***********
Waktu sudah berlalu seminggu setelah kejadian penyerangan di mansion. Ayesha dan Maxwell sudah kembali ke mansion begitu mendapatkan info dari Ahmed keesokan subuhnya tentang kejadian penyerangan dan kedatangan keluarga Al Qudri yang membantu. Begitu sampai di tempat pelarian yang tak jauh dari mansion, Maxwell memang langsung mendapatkan pesan balasan dari Ahmed karena Ayesha memang sudah memberi kabar sebelumnya pada kakaknya tersebut. Bibi Christine, Mark, Patch dan juga sebagian anak buah Maxwell yang sempat di rawat di rumah sakit juga sudah keluar dari rumah sakit dan saat ini ada dalam masa pemulihan. Mark dan Patch sebenarnya masih dalam kondisi luka serius namun untuk keamanan mereka, rawat inap dilanjutkan di klinik mansion dengan fasilitas dokter keluarga mansion yang stand by merawat mereka.
Sedangkan Paman Sam tak tertolong karena lukanya sangat parah dan terlambat mendapatkan pertolongan. Selain itu, Jack dan Thodor, teman Mark dari Rusia pun ditemukan sudah tewas di antara para korban di dalam mansion ketika peristiwa penyerangan terjadi.
Setelah penyerangan sekaligus masa perawatan orang-orang Maxwell yang terluka, penjagaan terhadap mansion dan rumah sakit dilipatgandakan. Tak tanggung-tanggung, Maxwell mengerahkan personil terlatih untuk pertahanannya, dengan tiga kali lipat dari biasanya. Para eks pasukan khusus negara yang masih muda yang dibayarnya mahal cukup untuk membangun sebuah empire Powell yang kokoh. Untuk sementara, sampai Patch sembuh, Maxwell meminta pertolongan Ahmed membantunya untuk membangun sistem keamanan yang kuat dan canggih, karena kakak iparnya tersebut memang mempunyai kemampuan di bidang manajerial dan IT. Ahmed pun tak bekerja sendiri. Ia meminta bantuan pada para ahli IT Rusia yang ia kenal dan ia percayai. Untunglah, komunikasi dan kerja sama dua negara yang terbatas hanya membatasi regulasi kenegaraan yang bersifat offline, bukan online.
Maxwell sedang berada di ruangan klinik mansion saat ini. Patch dan Mark belum sepenuhnya pulih karena kondisi mereka memang cukup parah. Untuk keamanan, mereka dirawat di klinik mansion karena berada di rumah sakit memang lebih riskan dari ancaman para musuh Maxwell atau pun George Powell.
"Bagaimana kondisimu Mark? Patch?", Maxwell menjenguk kedua ajudannya tersebut pagi ini.
"Sudah lumayan Tuan. Terima kasih sudah memberikan rawatan terbaik", sahut Mark.
"Aku yang berterima kasih karena kalian sudah berjuang sedemikian gigih"
"Sudah tugas kami Tuan", jawab Patch.
"Terima kasih atas pengorbanan ini. Aku tak akan menyia-nyiakannya"
"Melihat Anda berdua aman itu sudah cukup bagi kami. Pengorbanan kami tidak sia-sia"
"Mark benar Tuan", Patch yang duduk menyandar di bed di sebelah Mark menimpali.
"Tak seharusnya aku meninggalkan kalian"
"Jika Tuan dan Nyonya tidak segera pergi. Apa gunanya kematian semuanya", ujar Patch kembali.
"Patch benar. Jika kami juga mati ketika itu, maka minimal Anda berdua akan kembali dan membalaskan kematian kami", timpal Mark dengan tatapan diliputi amarah. Maxwell terpaku melihat raut wajah sang ajudan yang cukup menampakkan kebencian terpendam. Ia bisa merasakan kepedihan Mark atas kematian Thodor dan Jack kedua teman satu tim nya dari Rusia. Mereka bertiga adalah sekutu yang sebelum bersama Maxwell pun sering bersama mengembang misi berbahaya yang diberikan Pavlo sang Boss mereka di Rusia. Pavlo adalah orang bayaran yang pernah diminta Maxwell menemukan Ayesha ketika diburu suruhan Joeris di Rusia. Maxwell menatap iba ke arah Mark. Tiga hari yang lalu dia baru saja mengirim mayat Thodor dan Jack kembali ke negaranya dan tak lupa mengirimkan kompensasi pada keluarga yang ditinggalkan dengan uang yang cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka hingga ke anak cucu tiga keturunan. Tak sulit bagi Maxwell untuk memberikan kehidupan yang layak bahkan lebih bagi para bawahannya. Belajar dari pengalaman sebelumnya, ia ingin membangun empire dengan loyalitas bawahannya yang tak terbantahkan. Salah satunya dengan menjamin kesejahteraan dan kehidupan hari tua mereka, di samping peraturan yang tegas dan disiplin tentunya.
"No. Jangan begitu Tuan. Ini memang resiko pekerjaan kami. Jack dan Thodor pasti juga senang di alam sana karena sudah melakukan yang seharusnya", Mark merasa sungkan dengan sikap sang Tuan yang membuatnya terperangah. Seorang Boss meminta maaf? Pikirnya kagum.
"Bagaimanapun mereka sudah menjadi pahlawanku".
Patch hanya memperhatikan saja. Ia benar-benar merasakan perubahan sikap sang majikan selama Boss nya itu kembali dari Rusia dan membawa Sang Nyonya yang tertutup tubuhnya itu dalam kehidupan sang Tuan. Ia teringat kembali ketika ia tak sengaja mendengar para bawahannya bergosip di ruangan klinik tempatnya dirawat saat ini. Mereka yang mengira bahwa Patch sedang tidur karena pengaruh obat menceritakan bagaimana perlakuan sang Boss Maxwell yang turut mengantarkan semua jenazah ke rumah keluarga terdekat mereka masing-masing dan memberikan penghormatan terakhir serta kompensasi pengabdian dengan nominal uang yang luar biasa. Hingga tercetus kata-kata para bawahan Patch tersebut bahwa sampai mati pun mereka rela mengabdi bersama Sang Boss karena mereka benar-benar merasa tenang akan kehidupan keluarga mereka sepeninggal mereka kelak. Aku juga demikian Tuan. Aku bersumpah akan setia padamu sampai kapan pun, gumam Patch dalam hati. Ia tersenyum tipis menatap sang majikan.
"Kalian mengenal para penyerang itu?", tanya Maxwell kemudian.
"Mereka bukan orang sembarangan, Tuan. Sangat lihai dan tersistematis. Bersenjata lengkap dan canggih. Tanpa identitas apapun. Mereka yang terluka bunuh diri bukan? Hanya agen rahasia yang sanggup melakukan itu", Mark mengungkapkan argumennya. Maxwell mengangguk. Kemampuan intelegensi Mark tak diragukan. Kedua temannya yang handal terbunuh. Hal itu membuat Mark menyimpulkan betapa lawan mereka bukan kelompok sembarangan.
"Kau benar Mark. Bagaimana jika Mossad yang melakukannya?" gumam Maxwell. Mark dan Patch sontak terbelalak.
"Ya. Anda mungkin benar Tuan", sahut Patch.
"Kita tak boleh membiarkan mereka lepas begitu saja Tuan", sahut Mark. Matanya menyorotkan dendam mengingat kedua temannya.
"Tapi mereka agen intelligent terhebat di dunia. Yang datang menyerang kita bukan mereka. Tapi digunakan oleh mereka. Jika pun bisa diberangus, Mossad tak akan tersentuh. Intrik politik mereka sungguh rapi dan tak tertembus kerahasiaannya", jelas Patch.
"Kau benar Patch. Jika mereka hebat dalam intrik politik dan rekayasa makar, kita juga bisa melakukannya selama manusia masih suka uang bukan?", ujar Maxwell dengan sorot mata sinis. Ada adukan perasaan di ulu hatinya mengingat kedua orang tuanya.
"Permisi Tuan", seorang dokter pria masuk ke ruangan.
"Silakan. Kau ingin memeriksa mereka?", tanya Maxwell.
"Benar Tuan"
"Bagaimana dengan luka-lukanya?"
"Operasi dan kerja obat berjalan baik. Seminggu lagi mereka sudah bisa keluar dari ruangan ini"
"Lama sekali. Aku sudah merasa baikan", sela Patch.
"Anda boleh saja keluar sekarang juga Tuan Patch, tapi mungkin akan menjalani rawatan yang lebih lama lagi", tegas sang dokter. Patch hanya mendengus tidak suka. Seminggu terpenjara di klinik mansion ini membuatnya seolah mati rasa karena benar-benar bosan dan ingin melihat dunia luar.
"Bagaimana denganku? Lukaku tak separah Patch, bukan?" sela Mark.
"Jawabanku sama. Ayolah. Seminggu lagi tak kan lama. Setelah itu kalian bebas melakukan apapun. Bahkan jika harus tertembak untuk kesekian kalinya", sahut sang dokter santai. Ia memang sudah biasa menghadapi para pasien di mansion karena ia memang dokter tetap yang bekerja pada ayah Maxwell selama ini. Terhadap Maxwell sendiri ia pun tak setakut yang lainnya, karena menurut informasi yang ada, dokter Jhonson yang sudah kepala empat ini punya hubungan famili dengan sang ayahanda.
Sementara Maxwell yang melihat tingkah kedua ajudan kepercayaannya tersebut hanya tersenyum tipis. Ia menggelengkan kepalanya.
"Aku percayakan padamu Dok. Bila perlu untuk pemulihan mereka Kau bahkan bisa merantai kaki mereka di tiang bed ini", usil Maxwell. Yang dibicarakan pun serentak melotot.
"Terima kasih sudah memberikan saya kebebasan Tuan. Saya ijin keluar dulu", kata sang Dokter.
"Oh ya Tuan Mark, ada salam cemas dari seorang perempuan cantik yang bertudung kepala untukmu", sang dokter menyipitkan mata sebelah ke arah Mark sebelum benar-benar berlalu dari hadapan pria bertiga di depannya. Mark yang mendengar kata-kata aneh dari sang dokter hanya terdiam. Sementara Maxwell dan Patch sontak saling berpandangan dengan ekspresi wajah yang tidak bisa ditebak.