
Maaf ya kawan-kawan....saya kemarin off karena sedang sakit, asam lambung naik, terpaksa dirawat. Alhamdulillaah sudah lumayan baikan ini. Kita lanjut ya, semoga kawan-kawan maklum dan tetap semangat mengikuti kisah Maxwell and Ayesha ini. Saya akan usahakan up lebih banyak tiap harinya untuk menggantikan yang selama ini off. Tetap senyum ya readers....😊🙏😍❤️
*****. *******. ******
Akhirnya Maxwell dan Ayesha tiba di kediaman Elena. Sebuah rumah dari kayu jati yang sangat asri, sangat indah dipandang mata. Beragam bunga tumbuh subur di pekarangan depan dan samping, memanjakan mata siapa pun yang datang mengunjunginya.
"Duduklah Ayesha dan Tuan Maxwell. Mau minum apa?"
"Jangan repot Elena. Air putih hangat saja."
"Jus jeruk hangat ada. Mau?"
"Jika ada gak pakai lama, bolehlah", Ayesha tersenyum.
"Sebentar ya"
Gak pakai lama, Elena sudah kembali dengan sebuah teko kaca berisi penuh jus jeruk hangat dengan tiga gelas kosong. Ternyata sudah ada sebelumnya di dapur sehingga langsung bisa dinikmati.
Kini ketiganya pun menikmati jus hangat tersebut.
"Bagaimana hasil trial and error mu selama ini Elena?"
"Cukup berhasil. Ada 20 formula parfum yang engkau inginkan Ayesha. Sebentar ku ambilkan. Kau pasti sudah tidak sabar bukan?", Elena bergerak cepat ke dalam sebuah bilik yang tidak jauh dari ruang tamu dan tak lama keluar dengan sebuah nampan berisi 20 buah tabung kecil berisi cairan parfum.
"Masyaa Allah. Benarkah ini hasil perjuangan panjangmu selama setahun ini Elena?", Ayesha berbinar bahagia menatap deretan formula di depannya. Ia langsung menyentuh tabung-tabung itu dan mulai test parfum satu per satu.
"Hubby. Cobalah dan berikan testimonimu dear...", Ayesha meminta suaminya melakukan hal yang sama dan Maxwell pun mengikuti.
"Good. Adorable. Saya suka wanginya. Ada karakternya. Ini akan mampu bersaing bahkan secara internasional."
"Wow. Anda terlalu memuji Tuan Maxwell", Elena tersipu.
"Benarkah hubby?"
"Aku tidak pandai memuji. Aku selalu serius dalam bisnis. Lakukan promosi. Publik akan memberikan testimoni mereka sendiri. Dan kalian akan terkejut melihat hasilnya. Ini tidak perlu waktu yang lama. Percayalah. Tapi Anda harus jujur Miss Elena"
"Maksudnya?"
"Jika Anda jujur bahwa ini memang formula yang Anda ciptakan sendir maka parfum ini akan famous tapi jika tidak, viceversa, broken"
"Tentu saja aku membuatnya sendiri"
"Dan satu lagi. Formula Anda ini harus benar-benar aman, tidak dicuri oleh orang lain"
"Tentu. Tidak ada seorang pun yang tahu tentang ini kecuali kalian berdua hari ini"
"Aku percaya Elena, hubby"
"Good. Segeralah hubungi beberapa pengusaha fashion terkenal. Kalian perlu endorse mereka agar produk ini cepat diterima di masyarakat. Jika satu atau dua saja dari mereka percaya, maka Aysh Parfume Company akan segera berdiri. Di Sini."
"Maksud hubby?"
"Akses di sini sudah ku lihat di peta. Ayeshaku akan segera mendirikan sebuah perusahaan parfume bernama Aysh Parfume Company yang tak lama lagi akan viral di tingkat nasional dan internasional"
"Aamiin. Hubby, tapi itu tidak mudah"
"Formula parfum yang dibuat sahabatmu, Elena ini tidak biasa. Aku yakin. Banyak investor yang akan tertarik untuk ikutan endorse dan kerjasama simbiosis mutualisme akan banyak terjalin. Bersiaplah"
"Aku akan membantumu. Yang penting apakah Elena sanggup"
"Aku sangat bersemangat mendengarnya. Aku percaya Tuan Maxwell punya pengalaman bisnis mumpuni yang akan sangat kami perlukan. Bukan begitu?"
"Untuk istriku yang cantik ini. Apa yang tidak bisa ku lakukan untuknya?"
"Hubby...ini akan menelan biaya yang sangat besar. Aku tidak mau..."
"Biaya tidak jadi masalah. Elena segeralah lengkapi laboratoriummu dan list semua yang diperlukan. Engkau yang lebih tahu semua hal yang engkau butuhkan dan temui Ayesha untuk pembangunan lebih lanjut. Aku berharap sebelum kembali ke Australia, project besar ini sudah terlihat jelas rancangannya"
"Baik. Tuan Maxwell. Ini mimpi besarku selama ini. Aku pasti akan bekerja keras untuk ini."
"Oh Elena ku...Aku yakin kau pasti mampu", Ayesha memeluk sahabatnya. Elena membalasnya dengan pancaran kenahagiaan yang tak terlukiskan. Dia sudah membayangkan hal besar. Impiannya untuk memiliki perusahaan parfum dunia bahkan sejak di usia TK menari-nari di pelupuk mata. Sejak masa kecil dia memang sudah tergila-gila dengan wewangian bunga dan selalu bereksplorasi dengannya untuk menciptakan wewangian alami bahkan tanpa alkohol sedikitpun. Dia tidak tahu hukum Islam tapi yang ia tahu, produk parfum yang dibuatnya sendiri tahan lama dan sangat menyenangkan siapapun yang memakai dan mencium wanginya.
Maxwell dan Ayesha kini sudah kembali bersama kuda tunggangan mereka. Setelah berdiskusi serius tentang proyek parfum yang akan mereka bangun, mereka putuskan untuk pulang karena Ayesha khawatir suaminya akan terlalu lelah dsn tidak baik untuk kesehatannya.
Hari-hari selanjutnya mereka jalani dengan kesibukan proyek pembuatan lab baru dan promosi ke perusahaan fashion yang terkenal. Awalnya cukup sulit karena mereka tidak sembarangan menerima tamu dan tidak percaya pada sesuatu hal yang baru, namun setelah mereka melihat sendiri produk buatan Elena mereka pun segera mengakui dan tanpa ragu menerima kerja sama dengan perusahaan Aysh Parfume yang bahkan baru saja dibuat beberapa saat sebelumnya. Kemampuan nego Maxwell secara diam-diam dibalik layar tanpa diketahui keluarga Vladimir membuktikan kapabilitas pebisnis muda itu tidak bisa diragukan. Ia cukup bekerja dalam senyap dengan email dan uangnya. Pavlo, orang Rusia suruhannya yang punya back ground politik dan bisnis turut andil besar membantu lobby lobby mulus dengan para pengusaha fashion yang teryata tidak cukup kualitas, namun uang masih tetaplah berperan penting dalam memuluskan semua deal di dunia bisnis bersama mereka.
Ayesha sedang sibuk dengan laptopnya ketika Maxwell baru saja keluar dari kamar mandi sore itu.
"Honey...kamu sibuk sekali"
"Hubby...aku sedang membuat proposal"
"Kau melakukannya sendiri?"
"Ya. Aku ingin terbiasa dari hal kecil. Kelak jika sudah sukses aku tidak lagi menanganinya sendiri", mata Ayesha belum juga beralih dari layar laptopnya.
"Tapi aku jadi merasa diabaikan"
"Hah? Begitukah?", Ayesha sontak berhenti dari aktivitasnya dan menatap suaminya. Ia beranjak dari duduknya dan mendekati suaminya yang sedang memegang handuk kecil.
"Mari kubantu". Ayesha segera mengambi alih handuk kecil dari tangan suaminya dan mendorongnya untuk duduk ditepi ranjang. Ia sendiri tanpa sadar dengan posisinya berdiri amat dekat di depan wajah sang suami dan serius mengeringkan rambut Maxwell yang basah.
Maxwell sejenak merasa kaku dengan situasi baru saat ini. Ia memejamkan mata menikmati sentuhan di kepalanya yang dilakukan sang istri yang saat ini jaraknya teramat dekat dengannya. Sepenuhnya dia menghirup wangi tubuh Ayesha yang sudah mandi lebih dulu sebelum sholat Ashar tdi. Dan entah keberanian dari mana, tangan kokoh itu kini perlahan sudah melingkari pinggang mungil wanita cantik dihadapannya yang selama ini belum pernah lepas dari hijab syar'i nya bahkan di dalam kamar, di depan suaminya sendiri.
"Hubby....", Ayesha terkesiap. Jantungnya mulai tak normal. Ini bukan kali pertama Maxwell memeluknya, tapi ia merasakan ada hal lain tak seperti biasanya. Tetiba ia merasakan perutnya tersentuh sesuatu yang masih basah. Ternyata kepala suaminya sudah menempel di sana.
"Boleh ya seperti ini dulu. Lima menit saja", Maxwell sangat menikmati momennya. Ayesha hanya terdiam. Dia masih mengusap-ngusap lembut kepala sang suami dengan handuk kecil ditangannya. Maxwell nampak memejamkan matanya.
"Honey, tidak marah kan?"
"Ti..tidak"
"Terima kasih", Maxwell tersenyum.
"Istriku ternyata sangat wangi...aku sangat suka...", lirih Maxwell. Kepalanya kini bergerak-gerak di area perut sang istri dan tentu saja membuat Ayesha kegelian.
"Hubby...geli tau...Hentikan...", tanpa sadar Ayesha meraih kepala Maxwell agar diam.
"Kenapa? Belum 5 menit honey..."
"Tapi aku geli hubby...", Ayesha pun langsung jongkok karena tak tahan sambil memegangi kepala suaminya dan kini wajah mereka pun berhadapan. Keduanya bersitatap dan "hap", kedua bibir pink yang terbuka itu langsung dilahap dengan penuh kelembutan oleh wajah segar nan tampan di depannya. Awalnya Ayesha terkejut mendapat serangan tiba-tiba dari suaminya, tapi entahlah, kini ia malah menikmatinya dan tanpa sadar ikut dalam ciuman yang semakin lama semakin menuntut.