
"Apakah aku tidak dianggap di sini?"
Ahmed menyela kemesraan adik dan iparnya. Ia tersenyum melihat adegan pengantin baru yang sedang kasmaran di dekatnya itu. Kini ia nampak sibuk memberesi kekacauan yang terjadi. Ayesha salah tingkah dan kemudian meraih HT di meja.
"Paman Jack. Tolong kemarilah untuk membereskan kekacauan tadi. Paman Pedro dan Michael bisa mengurus Paman Alex bukan?"
"Baik Nona. Saya segera ke sana", sahut di seberang.
"Apakah kalian tidak curiga dengan ke tiga security yang terlambat datang tadi?", Maxwell mengernyitkan dahinya.
Ayesha dan Ahmed saling berpandangan.
"Suamiku ternyata sangat cerdas".
"So? Apa maksud kalian melepaskan mereka?"
"Aku sengaja menyuruh mereka berempat untuk pergi. Aku ingin melihat sejauh mana mereka bertaubat dari kesalahan mereka. Ketiga security itu memang adalah orang-orang yang bertopeng tadi. Aku hanya ingin mereka mengakui perbuatan mereka dan minta maaf. Kita tunggu saja dalam beberapa hari ini. Jika mereka tidak datang untuk minta maaf, maka aku sendiri yang akan memenjarakan para pekerja yang tidak amanah", mata Ayesha memandang ke luar jendela.
"Bukankah menyadari kesalahan sendiri lalu minta maaf itu lebih tulus dan berefek baik ke depannya dari pada harus dipaksa?"
Maxwell menggelengkan kepalanya. Ia semakin terpana dengan jalan pikiran wanita cantik namun tegas di dekatnya ini.
"By the way, aku ingin honey menjelaskan tentang Mr Alex, Linores dan Elena"
Ayesha menarik nafas sejenak dan menarik lengan suaminya untuk duduk di sofa. Sementara Ahmed yang sudah membereskan sebagian kekacauan kini keluar menuju dapur di area samping kantor yang terpisah sekitar 20 meter.
"Seperti yang hubby dengar tadi. Linores dan Elena adalah putri Paman Alex tapi beda ibu. Elena adalah putri pertama Paman dari istri pertama dan Linores adalah putri ke dua Paman dari istri kedua. Usia Elena dan Linores hanya beda 1 tahun dan keduanya adalah sahabat masa kecilku. Elena seusiaku. Kami bertiga pernah bersama di primary (SD) dan secondary school (SMP) hingga tamat dan mereka berdua adalah sahabat terbaikku", Ayesha berhenti bercerita. Ia melihat Paman Jack datang.
"Permisi Nona", Jack masuk dengan menundukkan kepalanya.
"Silakan Paman"
Jack lalu segera sibuk membereskan sisa kekacauan yang terjadi. Sementara Ayesha mengajak suaminya keluar dan kini mereka berdua menuju kompleks perumahan pabrik di seberang kantor. Sambil berjalan Maxwell sibuk mengabadikan pemandangan pabrik dan perumahan yang dilihatnya beserta beragam fasilitas di dalamnya dengan kamera dari jam tangan canggihnya. Ayesha kemudian membawa suaminya duduk di sebuah bangku panjang di taman yang cukup luas disertai fasilitas beragam mainan anak TK. Tak lama duduk, datang seorang wanita paruh baya membawakan dua botol minuman buah yang dingin disertai cemilan kue.
"Terima kasih Bibi Yola. Perkenalkan ini suamiku Bi. Maxwell Powell", Ayesha tersenyum ramah dari balik cadarnya. Sang Bibi pun tersenyum ramah pula. Ia terkejut mendengar kabar Majikan mudanya rupanya sudah menikah dan cukup takjub melihat sosok pria tampan di depannya yang ternyata suami dari Nonanya tersebut.
"Puji Tuhan. Anda sungguh beruntung Tuan mendapatkan bidadari kami", Bibi Yola menangkupkan kedua tangannya ke arah Maxwell dan tersenyum. Maxwell hanya mengangguk dan tersenyum kaku.
"Terima kasih Bi. Anda benar. Aku memang sangat beruntung".
"Aku juga sangat beruntung bersuamikan dia Bi", Ayesha balas menimpali.
"Kalian memang terlihat sangat serasi Nona. Ah, jika orang-orang tau bagaimana wajah cantik di balik kain ini, tentu mereka akan sepakat denganku", Bibi Yola menyentuh kain cadar Ayesha dengan lembut tanpa maksud membukanya. Ia lagi-lagi tersenyum tulus. Orang tua itu memang sudah kenal dengan Ayesha sebelum gadis cantik itu menutup wajahnya dengan niqab. Ayesha hanya tersenyum manis. Matanya menyipit menandakan ia tersenyum.
"Alhamdulillaah Bibi. Sudah jodoh. Bibi, Insyaa Allah aku akan bercerita padamu lain kali. Maafkan aku waktu itu belum sempat mengundangmu ke acara pernikahan kami yang memang cukup mendadak".
"Aku tagih janjimu sayang. Sekarang nikmatilah dulu minuman ini. Kalian pasti cukup haus. Eh ini kue kesukaanmu Non Ayesha, kebetulan tadi pagi Pamanmu John membawanya dari kota sebelum pergi lagi ke rumah sakit memantau".
"Ah terima kasih Bibi. Kau baik sekali.".
"Jangan katakan itu karena itu sudah tugasku, bukan? Ah aku permisi dulu. Nikmatilah kebersamaan kalian di sini dan jangan lupa hubungi Bibi jika perlu sesuatu".
"Tentu Bi"
Bibi Yola pun bergegas pergi ke arah salah satu rumah yang dekat dengan tempat Ayesha dan Maxwell berada.
"Apakah Bibi itu bertugas di sini?"
"Ya. Dan aku sudah lama mengenalnya sejak sebelum berdirinya pabrik ini. Ia juga masih saudara jauh kami dari pihak nenek".
"Oh...," Maxwell menggeser duduknya lebih dekat ke sisi istrinya setelah meminum minumannya. Ia meraih tangan kiri sang istri dan mencium punggung tangannya. Ayesha yang melihat cara minum suaminya pun menggeleng pelan dan tersenyum. Kini ia balik mencium punggung tangan sang suami kemudian mengambil kembali botol minuman nya dan meletakkannya ke tangan kanan suami yang bebas. Ayesha sendiri pun mengambil minumannya dengan tangan kanannya dan membuka sedikit cadarnya dan perlahan meminumnya di depan sang suami. Maxwell menatap bingung Ayesha.
"Ayo minum hubby"
Maxwell pun mengikuti, minum dengan tangan kanannya.
"Nah begitu. Tangan kanan ini sunnahnya dipakai untuk membantu kita makan dan minum. Bukan tangan kiri. Mari kita membiasakannya, hm?", Ayesha berbicara lembut sambil menatap mata suaminya.
"Baiklah, aku tidak tau. Maaf"
"Tidak apa hubby. Kita hanya perlu belajar untuk terbiasa dan mencari tau hal-hal yang masih banyak kita tidak ketahui. Maafkan aku jika terkesan menggurui ya..."
"Kamu benar honey. Jangan minta maaf padaku. Aku senang engkau mau mengajariku. Sejak awal aku sudah menganggapmu sebagai guruku. Jangan bosan menjadikan aku sebagai muridmu, hm?"
"Ah, tidak. Aku juga masih belajar. Kita sama-sama belajar hubby. Kita saling mengingatkan pada hal yang masing-masing mungkin sedang lupa. Hari ini hubby yang lupa atau tidak tau maka aku yang mengingatkan, tapi boleh jadi suatu saat aku yang lupa dan hubby yang menegurku. Mari kita saling mengisi dan melengkapai, hm?"
"Hm?"
"Hm!"
Keduanya merasa lucu dengan 'hm' dan kini refleks tertawa bersamaan.
"Tidak. Mengapa hubby menganggapku menggoda?"
"Hm?"
"Hubby..."
"Hm-mu menggodaku, hm?"
"Apa?", Ayesha menggeleng pelan dan bingung dengan ucapan sang suami. Maxwell tiba-tiba mendekatkan tubuhnya dan menempel pada sisi kanan Ayesha. Tangan kirinya sudah melingkari bahu wanita berhijab ungu muda itu dan matanya tak henti menatap intens ke mata Ayesha. Tangan kanannya terjulur ke balik cadar sang istri dan menyentuh lembut pipi nan lembut yang ada di sana. Ia mengulangi kembali kemesraan yang tertunda di kantor pabrik tadi.
"Hubby, ini tempat umum. Tidak baik begini".
"Baiklah. Jika di kamar nanti berarti boleh kan?", Maxwell mengerling nakal.
"Hm?"
"Hei, kau kembali menggodaku honey..."
"Tidak. Tidak. Aku...ah...ohya Hubby masih mau mendengar kisah Linores dan Elena bukan?", Ayesha langsung mengalihkan situasi. Maxwell hanya menelan ludahnya dan mengangguk.
"Selesaikan ceritamu tadi honey..."
"Hm, baiklah"
"Hm?"
"Eh ya. Well, aku lanjutkan ya...", Ayesha tergagap. Ia selalu tak sengaja mengucap kata 'hm' yang bagi Maxwell ternyata itu kata keramat yang mampu memancing syahwatnya.
"Paman Alex pernah mendapati istri pertamanya yang sedang hamil selingkuh di rumahnya sendiri, dan imbasnya, ketika Elena lahir, ia berpikir bahwa ia bukan anaknya. Tapi siapapun orang akan bisa menebak bukan? Betapa Paman Alex dan Elena sangatlah mirip. Namun Paman Alex tetap tidak bisa memaafkan istrinya itu dan walau sudah berpisah sekalipun ia tetap menyalurkan kemarahannya pada buah hatinya sendiri yang ditinggalkan sang istri ketika masih bayi. Istri pertama Paman Alex tetap bersikukuh kalau Elena adalah anak Paman Alex dan setelah lahir ia yang langsung pergi. Akhirnya Paman Alex seperti terpaksa merawat Elena kecil dan tentu hanya penderitaan yang Elena-ku rasakan sepanjang hidupnya. Ia terus mendapatkan perlakuan kasar dan tidak adil dari ayahnya sendiri apalagi setelah Paman Alex menikah lagi dan mempunyai anak yaitu Linores dari istri keduanya. Syukurnya ibu tiri dan sang adik baik pada Elena sehingga ia mampu bertahan tinggal di rumah bersama mereka semua. Hingga suatu saat, Elena diusir oleh ayahnya sendiri karena kesalahpahaman."
"Salah paham bagaimana?"
"Linores kecelakaan ketika belajar mengemudikan mobil yang dipandu oleh Elena. Paman menyangka Elena sengaja mencelakai adiknya. Walau Linores membela namun Paman Alex tetap marah dan langsung mengusir Elena. Ketika itulah aku menawarkan Elena tinggal di kebun bunga dan di sana ia mulai melupakan semuanya dengan menyibukkan diri menanam bunga dengan target membuat parfum, hobbynya sejak kecil."
"Sungguh menyedihkan hidup Elena. Lalu apakah Tuan Alex tidak tau putrinya tinggal di sana?"
"Sudah tau. Namun ia masih belum mau minta maaf dan masih tidak suka pada Elena. Kesalahan ibu Elena membayangi sikapnya pada putrinya yang tidak tau apa-apa dan tentu tidak bersalah sedikitpun"
"Kesalahan Elena karena lahir dari rahim seorang wanita yang selingkuh, yang tidak bisa menjaga kehormatannya sebagai wanita. Lelaki manapun tidak sudi menerima perbuatan hina meski itu dilakukan oleh orang yang sangat dikasihi, karena ha itu malah lebih menyakitkan dari apapun. Aku yakin Tuan Alex sangat mencintai istri pertamanya waktu itu sehingga ia sangat marah dan terpukul".
"Mungkin seperti itu. Makanya Rasulullaah menasehati kita. Janganlah terlalu mencintai sesuatu karena boleh jadi ia akan menjadi sesuatu yang paling kita benci, dan sebaliknya janganlah terlalu membenci sesuatu karena boleh jadi suatu saat ia akan menjadi hal yang paling kita cintai. Jadi cintailah sekedarnya, sewajarnya saja. Dan bencilah sesuatu sekedarnya saja", Ayesha meluruskan pandangannya dan bersandar di bahu suaminya.
"Tentang Elena, bukankah seorang bayi yang baru lahir ia suci tanpa dosa? Jikalau benar sekalipun bahwa ia lahir dari perbuatan haram orang tua biologisnya, namun seorang bayi tetaplah suci, tidak haram. Jadi tidak ada istilah anak haram dalam agama kita. Harusnya manusia bersikap logis dan adil. Semarah apapun Paman Alex dia harus tetap adil terhadap Elena karena ia masih bayi waktu itu yang tak mengerti apa pun dan tak seharusnya ia rawat seorang anak dengan kebencian. Jika ia masih bergelut dengan emosinya, harusnya ia serahkan saja Elena bayi pada orang lain yang bisa menyayangi dengan tulus pada Elena dan jika ia masih ragu, ia bisa test DNA pada Elena untuk memastikan apakah ia anak kandungnya atau anak selingkuhan istrinya"
"Honey benar. Mudah-mudahan Tuan Alex menyadari kesalahannya. Kasihan sahabatmu itu. Ohya sepertinya honey sangat dekat dengan Elena. Mengapa?"
"Linores dan Elena sahabat kecilku selama 6 tahun dan selama itu mereka selalu menjagaku. Engkau tau hubby, mereka adalah sahabatku yang seperti body guard untukku, karena aku....", Ayesha menghentikan ucapannya. Ia nampak ragu.
" Karena istriku ini pastilah sangat cantik dan imut waktu itu dan semua pria di sekolah tergila-gila padanya, hingga kedua sahabatnya itu ekstra keras menjaganya dari gangguan para pria. Benar begitu?"
"Dari mana hubby tau?", Ayesha kaget.
"Aku hanya menebak dan ternyata itu benar?"
"Benar", Ayesha tertunduk malu.
"Dan taukah Ayesha-ku..."
"Hubby juga mengalami itu?"
"Mengapa engkau menebak begitu?"
"Karena suamiku ini memang sangat tampan dan mempesona makanya pastilah sejak kecil sudah digilai teman-teman wanita dimanapun, termasuk di sekolahnya. Begitukah?"
"Oh, jadi engkau pun sudah mengakui ketampanan dan pesonaku? Sehingga karena itulah engkau tak sanggup menolakku, bukan?"
"Hubby....", Ayesha memalingkan wajahnya ke samping kiri. Maxwell tertawa dan seketika menyentuh wajah sang istri dan menghadapkannya ke wajahnya. Ia menatap mata Ayesha dengan intens dan kembali menyentuh pipi di balik cadar. Ayesha menggelengkan kepalanya dan berdiri.
"Hubby...tidak baik mengumbar kemesraan di tempat umum, karena tidak semua hati manusia bersih memandang orang lain, hm?"
"Mari kita mencari kamar, hm?"
"Tidak. Tidak. Aku..."
"Hm?"
Maxwell semakin menggoda istrinya yang sangat pemalu. Binar-binar kebahagiaan terlukis jelas di kedua mata insan yang sedang jatuh cinta.