
Maxwell murka begitu mendengar laporan dari Patch melalui telpon selulernya. Wajahnya yang selama ini sudah terlihat lebih teduh bercahaya karena kerap terbasuh air wudhuk kini seakan kembali seperti sebelumnya. Dingin dan kejam dengan aura membunuh. Giginya gemeretak menahan amarah. Matanya menyala seperti singa lapar.
"Shit !!!", serunya. Dadanya bergemuruh menahan amukan yang siap meledak. Biasanya, ketika dulu dia mengalami kegagalan misi atau pun mendapat serangan musuh yang membuatnya marah, ia akan segera menghancurkan semua benda di sekitarnya bahkan tak segan menembak kaki anak buahnya yang memberikan laporan. Namun saat ini begitu ia teringat habit masa lalunya tersebut tiba-tiba bayangan Ayesha seolah hadir di pelupuk matanya dan menggelengkan kepalanya dengan sorot mata tidak suka. Sontak Maxwell terduduk dan beristighfar.
"Astaghfirullaahal'adziim", gumamnya. Bayangan Ayesha dan Syekh Hasan kini seolah tersenyum dan mengangguk di depannya. Perlahan ia mengusap wajahnya dan menggelengkan kepala. Ia tarik nafasnya sejenak dan teringat dengan apa yang pernah Ayesha lakukan padanya ketika ia sedang kacau, trauma dengan masa lalunya yang penuh kekejaman membantai musuhnya. Maxwell kemudian bangkit dan bergegas ke kamar mandi. Mark yang tadi bersamanya hanya bisa menatap bingung dan menunggu. Tak lama kemudian Maxwell sudah keluar dengan wajah basah. Mark tertegun melihat perilaku aneh sang Boss.
"Ada apa Tuan?", tanya Mark tak sabar menanti berita.
"Peter tewas", Maxwell menatap ke arah jendela kapal. Mark terkejut mendengar berita yang sama sekali tak pernah ia duga sebelumnya. Ia masih berdiri menunggu di belakang Maxwell. Perlahan ia duduk sembari teringat wajah Peter. Ia yakin, bukan hanya berita mengejutkan itu yang membuat marah sang majikan.
"Mereka berhasil menjebak pasukan kita di resort dan menculik Ayesha-ku"
"What? Dan mereka juga berhasil menjebak kita ke sini?"
"Mungkin kau benar Mark".
"Nyonya bukan wanita lemah. Percayalah Tuan, Nyonya pasti selamat"
"Tentu saja. Allah menjaganya", Maxwell menghibur dirinya sendiri. Ia tak sekuat apa yang ia ucapkan. Selama ini ia bisa menutupi semua kelemahannya dengan kemarahan dan kekuatan senjata. Namun saat ini begitu ia menyadari bahwa semuanya tidak berguna bahkan menambah deretan dosanya maka ketenangan adalah kunci utama menyelesaikan semua masalahnya dan Maxwell sudah mendapatkan jalannya setelah menenangkan dirinya dengan wudhuk.
"Lalu apa yang sekarang harus kita lakukan Tuan?", tanya Mark.
"Kita tetap melanjutkan perjalanan ini. Saat ini ada dua musuh besar-ku yang sedang mengajakku bermain. Mungkin mereka bekerja sama mungkin juga tidak"
"Siapakah mereka Tuan?"
"Musuh bebuyutan George Powell dan yang lainnya mungkin Joeris atau Luke. Hanya dua orang ini yang tau persis markas-ku. Kemungkinan mereka yang berhasil menculik istriku"
"Musuh bebuyutan Ayah Tuan?"
"Ya. Mr. Abraham"
Mark menatap bingung.
"Sejauh apa kekuatan yang dimilikinya Tuan?"
"Dia menguasai Timur Tengah dan Amerika"
Mark terhenyak.
"Jadi saat ini kita memasuki wilayahnya?"
"Benar. Ada sesuatu hal yang jauh lebih besar dibandingkan sekedar memenuhi tantangannya"
"Maksud Tuan? ini adalah tantangan darinya?"
"Benar dan setelah ini semuanya akan selesai"
"Apakah Anda yakin Tuan?"
"Mr. Abraham tidak pernah mencabut kata-katanya. Sejauh ini ia tak pernah ingkar janji"
"Sekali pun ia musuh, Anda percaya?"
"Dia musuh ayahku"
"Bukan berarti musuh Tuan juga?"
"Lalu bagaimana dengan Nyonya, Tuan?"
"Aku akan segera menjemputnya. Mereka tidak akan menyakitinya sebelum mendapatkan apa yang mereka inginkan"
"Maksud Tuan?"
"Aku adalah target mereka, bukan?"
Mark sekarang paham. Ia turut menghela nafas panjang bersamaan dengan sang Boss yang masih setia memandang lautan biru yang sedikit bergelombang. Di luar kamar, sejumlah pasukan pilihan yang terlatih yang tak kurang dari 200 orang terus siap siaga berjaga dengan senjata lengkap. Pulau tak berpenghuni di seberang kian jelas terlihat. Dari titik hitam kini menjadi hamparan daratan yang semakin lama terlihat semakin besar.
Selang beberapa waktu kemudian, sampailah kapal Maxwell beserta pasukannya ke pantai. Dengan cekatan mereka pun melompat turun dan menambatkan kapal ke tempat yang aman. Tak lama setelah semuanya menginjakkan kaki ke pulau asing tersebut, tiba-tiba dari arah hutan, muncullah pasukan lainnya dengan seragam hitam bertopeng singa Jumlah mereka tidak berbeda dengan pasukan Maxwell. Kini kedua pasukan saling berhadapan. Dua orang dari pasukan musuh maju memimpin, begitu juga dengan Maxwell dan Mark. Mereka kini berdiri saling berhadapan.
"Sebuah kehormatan untukku bisa bertemu langsung dengan penerus Powell Group hari ini", ucap salah seorang pemimpin musuh yang nampak berwibawa dengan tubuh tinggi, kulit putih dan berkaca mata hitam. Sosok lelaki paruh baya yang nampak masih gagah itu tersenyum sinis.
"Aku juga begitu. Ini adalah suatu kehormatan yang amat besar bagiku karena seorang Boss Besar penguasa Amerika dan penguasa Timur Tengah sudi kiranya muncul menemui seorang anak kecil sepertiku", sahut Maxwell dengan tatapan tajam.
"Kau ternyata bisa juga merendah anak muda. Aku salut padamu"
"Tidak usah basa basi Mr. Abraham. Katakan apa maumu?"
"Seperti pesanku sebelumnya. Pecundang hari ini maka harus angkat kaki segera dari dunia persenjataan dan pertambangan dan menyerahkan 30 persen kekayaannya pada pemenang"
"Aku setuju. Well, karena engkau adalah seniorku, aku serahkan aturan permainan hari ini padamu"
"Oh sungguh anak muda yang hormat pada orang tua. Bagus. Namun ijinkan aku memberimu kesempatan untuk menentukannya, karena anak muda perlu diberikan sedikit keringanan bukan?"
"Benarkah?"
"Tentu saja. Aku tidak pernah menarik kata-kataku"
"Apakah seorang Abraham Lion masih komitmen pada nama baiknya selama ini?"
"Pernahkah aku mendustai kalian?"
"Tidak, tapi mungkin saja. Hati manusia selalu berubah bukan? Biasanya manusia yang serakah dan picik akan menghalalkan segala cara"
"Apa maksudmu anak muda?", Mr Abraham nampak mulai tersinggung. Maxwell tersenyum tipis menanggapi.
"Bukankah Anda yang menjebak ku kemari dan diam-diam menyerang markas-ku?", Maxwell menahan emosinya.
"Apa?", Mr Abraham tiba-tiba tertawa keras.
"Wah aku sungguh lihai kalau begitu bisa memporak-porandakan markas besar Powell Group. Wah aku tentu akan segera mendapatkan medali sebelum bertanding anak muda. Hebat Sekali! Hahaha...."
Maxwell menangkap kejujuran dalam ungkapan sang musuh.
"Oh ya, ku kira markas kalian tidak sekedar mendapatkan salam dari seseorang, bukan? Tak mungkin kelompok mafia penguasa Australia dan sebagian Eropa bisa begitu cemas saat ini", Mr Abraham mendekati Maxwell dan menatap tajam ke arahnya. Keduanya kini saling bersitatap dalam suasana yang menegangkan. Tanpa disadari oleh siapapun, mendadak mata sang Boss Besar yang berusia 50 tahun tersebut yang semula menyipit seketika membesar beberapa saat karena terkejut. Pikirannya bermonolog sambil terus memperhatikan sosok pemuda di depannya. Mengapa sepertinya wajah dan mata anak muda ini sangat familiar di mataku. Ia mengingatkanku pada Sofia. Apakah...
"Aku hanya ingin memastikan saja, apakah Lion Desert masih bertaring seperti dulu dengan kekuatan kejantanannya yang mengagumkan, bukan beralih ke serigala yang cuma pandai melolong dengan trik licik yang kotor dan hina", Maxwell mulai memancing. Wajah Si lelaki tua sang musuh nampak memerah seketika.
"Cukup Anak muda. Orang-orangku tidak akan bertindak tanpa perintahku. Tunjukkan bahwa ada yang telah mengkhianati ku. Jika terbukti, aku tak segan menyerahkan kepalanya padamu"
Maxwell tersenyum sinis. Ia sudah menduganya. Joeris dan Luke, Shit!!!, batinnya geram.