
Maxwell baru saja kembali dari apartemen Mr. Joe dan mendapatkan laporan bahwa Bibi Christine sudah bisa dibawa ke mansion. Wanita tua yang masih lemah itu kini terbaring di ruang rawatan klinik mansion di lantai dasar. Boss besar itu pun bergegas menuju kamar tersebut untuk memastikan keadaan pembantunya itu. Sesampainya di sana, ternyata sang istri sedang menjenguknya juga. Ayesha langsung mendekati Maxwell dan mencium tangannya. Mereka saling memandang dan Ayesha pun tersenyum bahagia karena melihat keadaan suaminya baik-baik saja. Ia kini bisa bernafas lega karena suaminya telah kembali dan kondisi Bibi Christine juga sudah lebih baik. Terbayang rencananya beberapa jam sebelumnya untuk pergi bersama Zeny menyusul sang suami. Ia sangat khawatir dan bermaksud mencari Maxwell. Namun karena Mark kemudian menjawab panggilan HP nya dan mengatakan semuanya baik-baik saja ia pun bisa tersenyum lega dan bersiap-siap menyambut kedatangan Maxwell dan juga Bibi Christine hingga akhirnya kini mereka bisa bertemu lagi.
"Bagaimana keadaannya Honey?"
"Alhamdulillah Bibi sudah melewati masa kritis. Kondisinya sudah lebih baik. Dokter baru saja memeriksanya", Ayesha tersenyum ke arah suaminya dan membetulkan selimut sang Bibi yang sedang tertidur pulas karena efek obat yang diberikan.
"Syukurlah"
"Apakah Hubby ingin menemani Bibi di sini?"
"Tidak. Yang penting dia sudah lebih baik, aku sudah sedikit lega", Maxwell kemudian berjalan ke nakas dan menekan sebuah bel di sisi bawahnya yang dekat dengan kepala Bibi Christine. Tak lama datanglah seorang wanita berpakaian putih laiknya seorang perawat.
"Kau harus menjaganya dengan baik. Pastikan ia besok sudah bisa duduk dan berbicara. Kau mengerti?"
"Baik Tuan. Anda jangan khawatir", sang perawat membungkuk sedikit.
"Good"
Maxwell menarik lengan Ayesha dan mengajaknya kembali ke kamar mereka di lantai atas. Sesampainya di dalam, pria tampan itu langsung menutup pintu dan menguncinya. Mendadak ia mengangkat istrinya dan menggendongnya. Ayesha tentu saja terkejut dengan momen yang tiba-tiba itu. Ia sontak mengalungkan lengannya ke leher sang suami.
"Bisakah aku mendapat suntikan energi baru sekarang?", Maxwell mengerling nakal sambil memandangi wajah istrinya dengan gemas. Cadar yang menutupi wajah merona itu sudah terbuka. Seperti orang tua yang senang melihat seorang bayi, dengan gemas diciuminya wajah cantik dalam gendongannya tersebut. Ayesha pun tertawa geli.
"Hubby..."
"Ya, sayang...aku menginginkanmu...", sorot mata elang itu sudah meredup.
"Boleh, siapa takut?", Ayesha menantang.
"Wow, istriku memang luar biasa", Maxwell segera merebahkan sosok modis wanitanya, namun sebelum ia lebih jauh melakukan aksinya, tangan Ayesha menahannya.
"Tunggu dulu. Hubby kan baru bepergian seharian ini. Sesuai sunnahnya, bisakah hubby mandi dulu?", Ayesha berkata pelan sambil tangannya menyelusuri wajah suaminya. Matanya menyorot dengan binar cinta. Maxwell pun tersenyum.
"Apakah tubuhku bau?"
"Tidak sayang, bahkan keringat Hubby setelah jogging lebih aku sukai dari pada minyak wangi buatan Elena", Ayesha tersenyum nakal.
"Tidak, Hubby, aku berkata benar", wanita cantik itu tiba-tiba menciumi wajah sang suami bertubi-tubi. Yang dicium cuma terpaku.
"Baiklah. Karena kau sudah membuktikannya, aku akan menurutimu. Tapi permintaanmu itu tidak gratis", Maxwell tersenyum penuh arti. Ayesha sudah mendapatkan firasat tidak enak.
"Hm?", Ayesha menggerakkan wajahnya ke atas di depan wajah sang suami.
"Kamu harus siap bertarung denganku seberapa pun aku mau. Hm?", Maxwell menowel dagu sang istri dengan gemas.
"Hm?", Ayesha mendelik.
"Takut?"
Ayesha tersipu malu. Tanpa menunggu jawabannya, Maxwell sudah melesat ke kamar mandi. Tak lama, cuma 10 menit saja, pria maskulin itu sudah keluar kamar mandi dalam keadaan fresh tanpa pakaian atas dengan rambut basah yang menggoda. Ayesha yang sudah membuka hijabnya pun tersipu malu. Ia duduk di pinggir ranjang dengan mata terpesona memandang makhluk tampan di hadapannya. Maxwell mendekatinya dengan memperlihatkan roti sobeknya yang membuat wanitanya menelan ludah.
"Mengapa diam saja? Aku ini suamimu bukan?"
"Hm?", Ayesha tersadar dan seketika melempar pandangannya ke samping lalu berdiri dan berpura-pura hendak mengambil dua gelas madu hangat di atas nakas yang sudah disiapkannya barusan.
"Jawablah Sayang. Am I your Husband?", Maxwell sudah mendekat dan berbisik tepat di telinga kiri sang istri. Ia tersenyum di belakang Ayesha yang sudah nampak salah tingkah. Perempuan cantik dengan dress hijau daun selutut itu sedang berusaha menutupi rasa gugupnya dengan meraih gelas minuman.
"Of Course", Ayesha menoleh kembali ke arah suaminya dengan madu di tangan. Kedua pasang netra mereka pun bertemu. Maxwell meraih gelas air madu dari tangan sang istri lalu duduk dan mengucap basmalah lalu meminumnya dengan tiga kali tegukan. Ayesha pun turut duduk dan perlahan menghabiskan minumannya. Lalu diletakkannya kedua gelas kosong mereka kembali ke atas nakas.
"Hubby tidak kedinginan?", Ayesha kikuk sendiri. Ini bukan kali pertama mereka akan melaksanakan ibadah memabukkan itu setelah peristiwa malam zafaf beberapa malam sebelumnya, namun hatinya masih selalu berdebar dan merasa sangat gugup.
"Ya. Aku sangat kedinginan", desis Maxwell penuh isyarat.
"Aku akan mengambilkan baju tidur Hubby", Ayesha bergegas bangkit dari duduknya dan menuju lemari pakaian. Ia sibuk memilih pakaian tidur untuk Maxwell dengan pandangan yang tak fokus sama sekali sampai kemudian ia merasakan sentuhan dingin tangan suaminya ke perut ratanya.
"Aku sangat kedinginan sekarang karena barusan mandi, namun rasa dingin ini tak akan hilang dengan pakaian biasa. Rasa dingin ini bisa pergi hanya dengan kehangatan pakaian yang ini", desah Maxwell persis di telinga Ayesha dengan diiringi kecupan menggoda tepat di tengkuk Ayesha yang sudah disibakkan dari rambut panjang keemasan yang menutupi kulit putih bersihnya. Sementara tangannya juga tidak tinggal diam. Dengan nakalnya ia kini berkelana memeluk dan meraba-raba sesuatu yang paling berharga milik seorang wanita. Bulu kuduk Ayesha seketika berdiri. Hatinya sudah tak karuan menerima semua rangsangan yang diberikan sang suami. Ia hanya pasrah dan tak kuasa mengikuti keinginan hati yang sinkron dengan respon tubuhnya yang juga sama dengan pasangan halal yang dicintainya itu. Keduanya pun larut dalam sentuhan-sentuhan panas yang saling bersambut.
"Hubby, sudah baca do'a bukan?", bisik Ayesha di tengah-tengah aktivitas membara mereka. Maxwell hanya mengangguk menjawabnya. Tak sabar, Maxwell pun lagi-lagi mengangkat tubuh sempurna sang istri dan meletakkannya di atas tempat tidur mereka. Dengan penuh hasrat yang sejak tadi tertahan, tubuh perkasa itu pun mulai menindih Ayesha dan melaksanakan tugasnya sebagai seorang suami. Akhirnya, terjadilah yang seharusnya terjadi di bawah selimut coklat itu. Kedua insan yang sedang dimabuk cinta itu pun meluapkan segala perasaan mereka dengan penuh rasa cinta. Bulir-bulir keringat menetes dalam ruangan ber-AC diiringi dengan desahan-desahan penuh kenikmatan yang terus bersahutan dari bibir dan nafas sepasang suami istri halal itu. Dan lagi-lagi, cinta pun terus bertasbih diantara keduanya dengan penuh kebahagiaan syurga dunia dan asa beroleh keturunan.