
Assalaamualaikum wr wb
To Readers : A MAFIA'S LOVE FOR A MUSLIMAH
Author mengucapkan 'SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1442H'
Taqabbalallaahu minnaa wa minkum
Minal aidin wal faidzin
Semoga kita semua kembali fitri
Aamiin
🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
*************************************************
Kita sambung ceritanya ya Readers....
Malam ini, bulan seolah enggan keluar dari persembunyiannya. Tak ada cahaya langit yang keluar sedikitpun. Bintang pun seakan menutup diri, padahal di malam-malam sebelumnya mereka senang bersinar menyapa bumi dengan kerlap-kerlipnya yang memukau. Rinai hujan setitik demi setitik mulai turun. Meski masih sangat perlahan menitik namun cukup menyadarkan manusia akan kehadirannya. Suasana bumi saat ini seolah mengatakan pada para ahli musibah bahwa alam pun merasa kehilangan akan sosok orang-orang baik di muka bumi ini. Bahwa kegelapan yang pekat dan hujan ini mewakili perasaan alam bahwa mereka juga turut bersedih. Sama sedihnya dengan para ahli bait yang tiada henti mengenang dan menangisi kepergian orang-orang baik yang terkasih. Dan bukankah Allah memang lebih menyayangi orang-orang yang baik di bumi ini dengan memanggil mereka lebih dulu? Bagaimana pun caranya dipanggil dan kapanpun mereka akan dipanggil, Allah-lah yang Maha Berkehendak, dan sebagai hamba-Nya yang beriman, manusia cukup menerima segala takdirNya, dengan ikhlas menghadapi kehilangannya dan selalu berbaik sangka kepadaNya. Niscaya Allah akan memberikan hikmah dan kebaikan di setiap ujian yang Ia berikan. Dan yang pasti, Dia tak akan menguji manusia di luar kemampuannya. Jika manusia bersabar dengan segala cobaan tersebut, maka Allah akan membukakan padanya berbagai pintu kebaikan yang tak disangka-sangka dan bisa jadi kebaikan itulah kebahagiaan yang hakiki. Bisa jadi dianggap buruk di mata manusia tapi baik di sisi Allah, dan sebaliknya, bisa jadi disangka baik di sisi manusia tapi buruk di sisi Allah. Yang jelas, kebaikan dan kebahagiaan yang hakiki itu hanya ada di sisi Allah, Rabb semesta alam.
Jam menunjukkan waktu 07.00 P.M. Tepat 30 menit setelah masuk waktu sholat Isya di Sydney, di bawah bantuan cahaya lampu sorot, prosesi pemakaman keluarga billionare di benua Australia itu pun dimulai. Di pimpin langsung oleh Syekh Mahmud Lc, ketua Islamic Center dan para muslimin pengurus IC, juga dihadiri oleh Uncle John dan Uncle Alex beserta istrinya yang baru sampai dari Moskwa, penyelenggaraan jenazah yang terakhir pun dimulai. Di tengah rintik hujan yang mulai turun perlahan, diiringi sedu sedan para keluarga, ratusan orang yang berpayung turut berkumpul menyaksikan masuknya jasad yang tak lagi utuh itu ke dalam tanah. Kain putih berisi serpihan daging anak manusia itu pun perlahan dikembalikan ke asalnya. Ya, dari tanah, kembali ke tanah. Di sini manusia diingatkan bahwa betapa pun kedudukannya di muka bumi ini, setinggi apapun posisi sosialnya di antara manusia, ia pasti akan kembali kepada asal mulanya, rendah, sebagaimana tanah bertempat di bumi. Oleh karena itu, tak patut manusia merasa sombong dan merasa menjadi manusia yang lebih tinggi kedudukannya dibandingkan dengan manusia yang lainnya karena sejatinya semua manusia adalah sama, sama-sama ciptaan Tuhan Sang Pencipta, Sang Maha Kuasa, dan sama-sama diciptakan dari air yang hina, dimana pendahulunya, kakek moyangnya, Nabi Adam, juga berasal dari segumpal tanah. Untuk itu, manusia harus sadar akan dirinya, tak perlu tinggi hati maupun rendah diri. Karena sesungguhnya kedudukan yang berbeda di antara manusia di hadapan Rabb-nya adalah ketaqwaannya, kepatuhannya dalam melaksanakan semua perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.
Setelah tiga pemakaman Islami berbalut kain kafan selesai, selanjutnya satu pemakaman berikutnya pun menyusul. Kali ini mengikuti tata cara Christ Burial yaitu untuk pemakaman Bibi Christine. Jasadnya yang juga tak lagi utuh kini telah bersemayam dengan tenang di dalam petinya, yang kini sudah ditutup batu makam, yang tentunya juga diiringi oleh isak tangis memilukan seorang wanita cantik, Julia Grace, sang adik kandung. Wanita berjilbab itu duduk di kursi roda dengan berurai air mata didampingi oleh sang suami tercinta yang selalu setia menemaninya. Sebelumnya, ia memohon pada pengurus pemakaman muslim agar jenazah sang kakak yang lain keyakinan ini diperkenankan berada di wilayah yang sama dengan jenazah para muslimin lainnya namun tidak diberi tanda salib seperti umumnya. Hal ini karena untuk menghormati sang bibi sebagai sang ibu susu Maxwell Powell yang muslim dan untuk memudahkan anggota keluarga untuk menziarahinya.
Betapa ramai manusia hadir di dalam pemakaman tetapi tidak mampu meramaikan hati para ahli musibah yang merasa sepi, sedih dan terluka. Flash back sejenak. Setelah proses identifikasi para korban yang ikut hancur di dalam dua mobil yang meledak, Ayesha yang telah sadar dari pingsannya perlahan bangkit dari keterpurukannya dan berusaha menyadarkan dirinya sendiri bahwa ia harus menghadapi semua kenyataan dengan hati yang lapang. Dengan hati pilu tak terkira dan mata yang sembab karena terus menangis, istri sang Big Boss Powell Group itu pun memerintahkan para bawahan suaminya untuk segera mengurus pemakaman. Meski di tengah kehancuran hatinya karena kesedihan yang begitu mendalam, ia masih ingat bahwa fardhu kifayah keluarganya harus segera diselenggarakan. Begitu Uncle John dan Uncle Alex beserta istrinya tiba dari Moskwa, Ia pun meminta pelaksanaan penguburan segera diselenggarakan meski di malam hari. Dan saat ini, disinilah ia beserta keluarganya yang tersisa berkumpul di sekeliling gundukan tanah di pemakaman. Setelah satu demi satu para pelayat pergi, tinggallah para pengurus Islamic Center dan para ahli musibah beserta tim pengawalan yang masih tetap bertahan di area pemakaman muslimin di dekat mansion ini. Sementara, sedikit terpisah dari makam, di bawah pengawasan para pasukan Powell Group, beberapa pria berjas hitam dan berkaca mata hitam terlihat berdiri memperhatikan. Mereka seperti menunggu momen yang tepat untuk mendekat.
Kini Syekh Mahmud maju dan memberikan kata-kata nasehat pada Ayesha dan keluarganya.
"Nyonya Ayesha dan keluarga, sekali lagi, kami ucapkan turut berbela sungkawa terhadap musibah yang terjadi ini. Kami berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala semoga almarhum suami, kakek dan kakak Nyonya diampuni segala dosanya dan diterima segala amal ibadahnya serta ditempatkan di taman surgaNya saat ini. Kami juga berdoa semoga Nyonya dan keluarga yang ditinggalkan, sabar dan ikhlas menjalani musibah ini. Yakinlah, Allah tidak akan menguji hambanya diluar kemampuannya. Kami melihat Nyonya adalah hambaNya yang istimewa . Nyonya adalah hambaNya yang terpilih. Nyonya adalah sosok wanita luar biasa sehingga Allah memberikan sebuah ujian yang sangat berat seperti hari ini. Dan tentu saja semua ujian ini bukanlah sesuatu yang mudah untuk dijalani. Namun dengan keimanan, Nyonya pasti akan sanggup melewati semua ini dengan baik. Semoga Allah menaikkan derajat Nyonya dan keluarga di sisinyaNya dengan derajat yang jauh lebih baik daripada hari ini. Dan semoga Allah segera membukakan pintu-pintu hikmah kebaikan di balik setiap ujian yang Ia berikan", Syekh Mahmud berhenti sejenak. Masih menunduk, dengan berkaca-kaca ia kembali melanjutkan.
"Tuan Maxwell adalah orang baik. Ya Allah kami bersaksi bahwa ia adalah seorang muslim yang baik. Wakaf yang diberikannya untuk membangun Islamic Center yang megah saat ini, juga bantuan-bantuannya untuk umat yang tak dapat kami sebutkan satu persatu, cukuplah juga menjadi saksi atas kebaikannya tersebut. Semoga semuanya menjadi amal jariyah, yang akan membantunya di negeri yang kekal, dan kiranya beliau seperti bayi yang baru lahir karena ia baru menjalani kehidupannya sebagai seorang muallaf. Aamiin"
Aisyah merasa sangat tersentuh dengan tiap kalimat bijak yang disampaikan Syekh Mahmud. Hatinya yang semula kering kini seolah menjadi basah, tersiram air kebijakan yang membuat jiwanya menjadi lebih sejuk, membangkitkan semangatnya kembali menatap masa depan. Benarlah kata Rasulullah, bersahabat dengan orang-orang sholih akan memberi kita ketenangan karena setiap kata yang diberikannya penuh hikmah, penuh nasehat kebaikan, bukan omong kosong yang tiada berguna, yang hanya melenakan hati semata. Jiwa Ayesha yang cukup terguncang dengan musibah kehilangan orang-orang terdekat dan terkasih sekaligus dalam waktu bersamaan apalagi dengan cara yang tragis seperti ini kini perlahan seperti mendapatkan sedikit kekuatan.
"Terima kasih Syekh, terima kasih atas kata-kata yang penuh hikmah. Mohon doanya agar kami yang ditinggalkan bisa terus bersabar menjalani semua ini. Semoga Allah berikan ganti dengan kehidupan yang jauh lebih Allah berkahi. Semoga Allah kabulkan doa kita semua. Aamiin", ucap Ayesha dengan suara parau.
"Dan kami sebagai ahli bait juga meminta maaf atas segala sikap dan perbuatan almarhum yang mungkin tidak berkenan yang pernah dilakukan kepada yang hadir. Jika ada masalah hutang yang tidak kami ketahui mohon disampaikan agar kami selesaikan. Tentang pembangunan proyek Islamic Center Insyaallah akan terus dilakukan hingga rampung. Mohon Syekh dan para pengurus untuk terus berkoordinasi dengan kedua pengacara kami yang selama ini sudah ditunjuk"
"Baik Nyonya. Tidak usah dipikirkan dulu Nyonya, yang penting sekarang bagaimana Nyonya dan keluarga harus tetap sabar dan melanjutkan kehidupan ini dengan semangat. Dan ingatlah Nyonya, pintu Islamic Center selalu terbuka jika Nyonya dan keluarga membutuhkan bantuan apapun. Finally, semoga Allah memudahkan segala urusan anda semua dan melindungi juga menjaga anda semua dari segala bahaya. Aamiin"
"Aaamiin", semua yang hadir mengaminkan.
Setelah saling berjabat tangan antar pria dengan sesama pria dan wanita dengan sesama wanita, satu persatu pelayat yang tersisa pun meninggalkan lokasi pemakaman. Tinggallah Ayesha dan keluarganya yang masih setia menanti. Hingga kemudian, beberapa orang yang sejak tadi berdiri menjaga jarak pun datang mendekat. Seorang yang paling tinggi, bertopi dan berkaca mata kini maju dan membuka kaca matanya. Diterangi lampu sorot, semua yang mengenalnya pun terkesiap.
"Kami juga menyampaikan ikut berduka cita Nyonya Ayesha", sebuah suara hadir dari sesosok tubuh tinggi berwajah rupawan yang sangat familiar di mata Ayesha. Wanita bercadar itu pun mendongak melihat ke hadapannya. Ia menemukan sepasang mata yang nampak sedih dan dengan tulus memandangnya lekat dengan sorot cinta yang tak pernah surut di sana. Ayesha seketika mengalihkan pandangannya kembali ke bumi. Sebuah kecurigaan hadir berkelebat dalam hatinya. Ia segera beristighfar.
"Terima kasih. Panggil aku Nyonya Powell"
Sang pria tidak menyahut melainkan meneruskan kembali perkataannya.
"Jika ada yang bisa ku bantu, katakanlah Nyonya. Anda masih mempunyai nomor ponselku bukan?"
"Terima kasih. Tidak untuk saat ini"
"Baiklah. Aku permisi dulu", sang lelaki pun membalikkan tubuh hendak pergi, namun ia seketika berbalik kembali ketika mendengar perkataan Ayesha selanjutnya.
"Ku harap Anda tidak terkait dengan kematian suamiku"
Sang pria menatap sayu ke manik mata Ayesha yang tengah memandang ke arah makam.
"Anda tidak usah khawatir Nyonya Ayesha. Meskipun aku tidak menyukainya, namun bukan aku pelakunya. Lagi pula aku tidak mungkin membahayakan keluarga dari orang yang aku cintai"
"Kita lihat saja nanti. Jika aku memiliki buktinya, aku tidak mungkin membiarkanmu tanpa keadilan".
Sang pria menarik nafas. Ia sudah menduganya
"Silakan, Nyonya. Tapi percayalah untuk kali ini. Aku permisi"
"Terima kasih atas kunjungannya", ujar Ayesha. Sang pria diam sesaat dan berbalik kembali.
Setelah sang lelaki dan para ajudannya pergi, Ayesha pun berkata pada Mark.
"Mark, selidiki Tuan Luke, dan jangan lupa pastikan kau sudah mendapatkan rekaman CCTV di tempat kejadian itu malam ini juga"
"Baik, Nyonya. Tentang Tuan Luke yang datang tadi, kita akan segera mengetahuinya. Mengenai CCTV, kita sudah mendapatkannya sejak tadi pagi setelah peristiwa itu Nyonya"
"Good. Kau memang bisa diandalkan. Terima kasih Mark"
"Baik. Terima kasih atas kerja kerasmu hari ini Mark. Aku tidak tau apa yang terjadi jika engkau tidak segera mengatasi semua ini"
"Dont mention it, Nyonya. Sudah menjadi kewajibanku"
Ayesha dan para keluarganya pun kini melangkah pelan keluar area pemakaman setelah sekali lagi mereka berdoa di depan makam. Keheningan dan kegelapan pun kembali menyergap tanah pekuburan malam itu. Mengembalikan ketenangan di tempat peristirahatan manusia yang terakhir yang selama beberapa saat yang lalu sempat kacau karena dipenuhi ratusan pelayat.
Sementara itu, di sebuah kamar yang cukup luas, sesosok tubuh baru saja sadar dari pingsannya yang cukup panjang. Ia mengerjapkan mata dan menatap ke sekeliling dengan asing kemudian menatap dirinya sendiri. Ia memegang kepalanya yang sakit yang saat ini diperban dan seketika menyadari kedua tangannya yang juga berbalut kain putih. Matanya menerawang sembari berusaha bangkit dan duduk menyender. Ia berusaha mengingat kembali apa yang menimpanya sehingga berada di tempat yang tak dikenalnya saat ini. Di tengah rekaman kelebatan peristiwa yang sedang berputar di kepala pria yang sedang terluka tersebut, tiba-tiba terdengar suara pintu yang dibuka. Dua orang pria berpakaian casual memasuki kamar dan membungkuk hormat di depan pria yang sedang terbaring.
"Syukurlah Anda sudah sadar Tuan Muda!", ucap salah seorang berpakaian biru.
"Siapa kalian? Mengapa aku ada di sini?"
"Anda saat ini sedang dirawat di salah satu kamar hotel, Tuan"
"Masih di Sydney?"
"Ya"
Sang pria melirik sekilas ke arah dinding kamar dan mendapati jam sudah menunjukkan pukul 10 malam.
"Aku harus kembali"
"Maaf Tuan Muda, kami diperintahkan untuk menjaga Anda hingga keadaan kembali aman"
"Siapa kalian?"
"Kami hanya mendapat perintah dari Tuan Besar untuk menyelamatkan dan menjaga Anda, Tuan. Maafkan kami jika kami terlambat", keduanya pun kembali membungkuk.
"Apa yang terjadi padaku? Siapa Tuan Besar? Jangan membuatku bertanya-tanya"
"Sebentar lagi Anda akan paham, Tuan Muda. Bersabarlah!"
"Berikan aku ponselku"
"Ponsel Anda sudah hancur Tuan"
Seketika sang pria memegangi kepalanya. Ia nyaris mengingat sesuatu namun sakit di kepalanya membuatnya tidak sanggup meneruskan usahanya untuk memanggil ingatannya.
"Arghhhhhh"
"Anda sebaiknya tidak memaksakan diri Anda Tuan. Dokter berpesan agar Anda beristirahat saja dan relaksasi agar kepala Anda bisa segera sembuh"
"Aku sepertinya harus kembali bukan?", sang pria merasa ada yang menunggunya namun ia tidak tau siapa. Ingatannya benar-benar sulit dikembalikan secara menyeluruh. Ia merasa ia ditunggu dan terdengar suara ledakan dahsyat di telinganya. Karena terus memaksakan diri, ia kembali berteriak memegangi kepalanya.
"Arghhhhh"
"Tuan, maaf, Anda harus kembali beristirahat", seorang pria yang berbaju putih kemudian memberikan suntikan ke lengan sang pria yang dianggil Tuan Muda. Tak lama tubuh itu pun kembali tenang dan tertidur. Setelah itu pria berbaju biru mengeluarkan ponselnya dan menelpon seseorang.
"Tuan Besar, Tuan Muda terpaksa kami suntik obat tidur"
"Baik"
"Kata dokter, luka-lukanya tidak berbahaya, besok atau lusa mungkin ingatannya sudah kembali pulih"
"Baik Tuan Besar, besok kami akan melaporkan kembali keadaan Tuan Muda"
"Baik"
Sang pria berbaju biru pun menutup ponselnya. Ia dan temannya pun saling berpandangan.
"Kasihan Tuan Muda, ia pasti akan merasa sangat bersalah jika tau apa yang terjadi pada keluarga istrinya"
"Dan juga akan terkejut jika mengetahui bahwa ia sudah dianggap mati"
"Namun itu lebih baik, bukan?"
"Kau benar"
"Hm, aku sangat ingin tau hukuman apa yang akan diberikan Tuan Besar pada wanita busuk itu"
"Aku juga. Sudah lama sekali aku mencurigai wanita ular itu, namun ia sangat licin. Kali ini ia tidak mungkin bisa lari dari Tuan Besar"
"Kau benar. Tuan Muda ketiga mungkin selama ini sudah tertipu akan topeng istrinya tersebut, tapi Tuan Besar bukan orang bodoh. Kali ini akan tamat riwayatnya"
Beberapa saat lamanya setelah saling mengemukakan pendapatnya, keduanya pun meninggalkan kamar pria yang mereka panggil Tuan Muda tersebut setelah mematikan kembali lampu kamar dan menggantinya dengan lampu tidur.