
Mark, Patch dan Peter sudah sampai di pinggiran pantai. Mereka bertujuh bersama anak buah lainnya segera mendaratkan speed boat nya dan mengikatkannya ke sebuah pohon mangrove. Namun baru saja selesai menambatkan boat nya, Peter yang diberi tugas melakukannya tertegun ketika melihat ada speed boat lain yang ada di balik batu karang yang tidak jauh dari dirinya berada.
"Patch, apakah kau yakin ini pulau tak berpenghuni itu?", tanya Peter.
"Ya. Karena jika pulau wisata seperti Lizard, Musgrave dan Elliot Island, akan mudah Tuan Maxwell kembali ke Sydney. Tapi jika di pulau kosong tentu sulit untuknya mencari pertolongan", Patch berpendapat. Mark dan Peter pun mengangguk setuju.
"Sepertinya bukan kita satu-satunya yang punya keperluan di sini bukan?", Peter menunjuk ke arah sebuah speed buat yang tersembunyi di balik karang jika dilihat dari arah lautan karena letaknya yang dekat bibir pantai. Serentak semuanya melihat ke arah yang dituju lalu memperhatikan bekas-bekas tapak kaki di pasir pantai yang tak terjangkau ombak.
Mark mengernyitkan dahinya. Ia kembali memegang secarik kain yang mereka dapatkan dari geladak kapal besar di pelabuhan Bundaberg.
"Kalian yakin ini sobekan baju yang terakhir dipakai Tuan Maxwell?"
"Ya. Aku yakin Mark. Aku sering mengambil pakaian Tuan Maxwell di butik miliknya, dan ini salah satu bahan kain yang dipakainya. Butik Tuan Maxwell memproduksi pakaian untuk Tuan Maxwell hanya satu saja untuk tiap model. Tidak untuk yang lainnya."
"Baiklah. Mari kita segera berpencar mencari Tuan. Dan ingat, kita harus waspada dan saling memberi kode dan sandi balasan jika dalam kondisi darurat. Sepertinya Tuan Maxwell dalam bahaya saat ini. Aku, Peter dan Jack ke arah Barat. Kalian ke arah timur. Sebelum matahari terbenam kita harus bertemu kembali di sini. Dan jika salah satu dari kita belum kembali ke sini, maka susullah yang lainnya. Bagaimana?"
"Good. Let's Go!", Patch pun setuju. Ia bersama ke tiga kawannya yang lain segera bergegas mengikuti apa yang dikatakan Mark. Matahari mulai naik tinggi dan memancarkan cahayanya yang panas ketika mereka mulai berpencar mencari tuannya.
Sementara itu, nun jauh di bagian dalam pulau yang Mark dan timnya barusan tapaki, seorang pria berpakaian lusuh dan koyak di sana sini dengan kulit yang mulai sedikit gelap terlihat sedang berlari dan sesekali menyelinap di balik pohon. Matanya awas menatap ke belakang dengan nafas yang mulai ngos-ngosan. Luke, kau betul-betul ingin membunuhku. Baiklah, jika aku tidak bisa menghindar lagi maka jangan salahkan aku Tuhan. Ayesha, maafkan aku, aku terpaksa melanggar janjiku kali ini, desis Maxwell dalam hati. Kini diraihnya beberapa cabang pohon di dekatnya dan dipatahkan dengan sengaja membuat ujungnya menjadi runcing. Sesaat setelah menunggu, nampaklah seorang pria diikuti beberapa orang di belakangnya muncul dengan pistol di tangannya dan sedang mengedarkan pandangan mencari-cari. Setelah dirasa jaraknya cukup, dengan bidikan yang akurat, Maxwell melemparkan cabang kayu yang dipegangnya dan....
"Arrrgh....", teriakan kesakitan si pria terdengar mengerikan. Lehernya tertembus. Teman di belakangnya sontak menembak ke arah Maxwell namun Maxwell dengan gesit segera menghindar dan berlari dan ketika sudah dalam kondisi yang memungkinkan ia kembali melemparkan kayunya dan giliran korban kedua tertembus dadanya. Tinggallah seorang lagi yang dengan ganas karena kemarahan yang meluap menembak dengan membabi buta ke arah Maxwell yang terus berlari. Maxwell hanya tersenyum sinis dan merasa beruntung karena memang itulah triknya. Hingga kemudian ia pun mendengar peluru terakhir sang musuh. Maxwell berhenti dan berbalik ke arah musuhnya. Matanya mengawasi dengan tajam pria di depannya yang kini dengan buas balik menatapnya. Sebelah tangannya menggenggam sebuah cabang pohon runcing. Walau dalam kondisi kurang fit akibat luka di tangan dan pahanya juga asupan makanan yang kurang karena ia baru sempat makan beberapa buah hutan tadi pagi, tapi jika untuk menghadapi orang yang kuat tanpa senjata, ia masih bisa.
Alhamdulillah, Maxwell bergumam pelan. Setelah melihat sekeliling ia pun kembali berlari masuk ke dalam pulau. Tujuannya adalah sungai kecil tempat ia biasa mandi dan berwudhuk. Setelah sekitar setengah kilo meter berlari, ia pun tiba. Dengan hati-hati ia pun turun dan setelah membuka pakaian luarnya ia pun bergegas mandi dengan cepat. Setelah berpakaian kembali dan berwudhuk, Maxwell pun mencari tempat yang agak jauh dari sungai dan segera menemukan tempat yang layak untuk sholat. Ia menjamak qashar sholat Juhur dan Asharnya. Dalam sujud akhirnya yang panjang, ia berpasrah diri pada Rabbnya seraya berdoa dalam hati dengan sangat khusyu' agar lepas dari segala bahaya dan kembali bertemu dengan istrinya. Beberapa menit berlalu, ia pun beranjak dari tempat sholatnya, namun tiba-tiba terhenti ketika merasakan sentuhan benda dingin di tengkuknya. Maxwell melirik ujung benda tersebut dan tanpa diduga orang di belakangnya, ia pun menjegal kaki musuhnya dan berbalik menangkap tangannya dan menguasai senjatanya.
Dorrrr
Peluru tak sengaja tertembak ke atas dan menyebabkan hewan-hewan di atas pohon lari berhamburan. Maxwell kini berada di atas tubuh lawannya dan berhasil merampas pistol di tangannya. Tak lama muncul satu orang lagi dan Maxwell langsung menembak kedua dada lawannya satu persatu. Setelah dilihat keduanya tidak bergerak lagi, kini lelaki bersuamikan muslimah Rusia itu pun bergegas pergi ke arah barat. Ia lapar namun tidak ingin mengambil resiko mencari makanan di sekitarnya saat ini karena ia tidak tahu berapa lagi jumlah musuhnya yang sedang mencarinya.
Sedangkan di sebelah Barat, Mark dan timnya terus bergegas menelusuri pulau dan semakin ke dalam. Setelah dua jam berjalan, mereka pun memutuskan untuk beristirahat melepas lelah.
"Kita belum mendapatkan tanda-tanda keberadaan Tuan Maxwell di tempat ini", lirih Peter.
"Di sini curah hujan tinggi. Jejaknya sulit kita ketahui, kecuali ada benda-benda maupun ciri khas prilaku Tuan yang bisa dikenali", Jack menyahut. Dia adalah salah seorang personil yang juga dikirim Pavlo bersama Mark.
"Jika sampai petang kita belum menemukan Tuan Maxwell, maka kita harus mencari ke pulau yang lain lagi", Mark menandaskan. Pria bermata coklat itu melihat ke sekeliling sambil menyandarkan tubuhnya ke pohon. Matanya menangkap batu-batu kecil dan besar juga kayu yang berserakan di dekat kakinya. Ia kemudian terkejut ketika tiba-tiba ada benda kecil jatuh mengenai kepalanya. Ia segera memungutnya dan langsung melihat ke atas dan nampak berpikir.
"Jika seseorang naik speed boat yang baru saja sampai kemari, apakah ia mungkin langsung mencari perbekalan dengan melempari buah di atas sana?", Mark bergumam sendiri. Yang lainnya langsung paham dan berdiri.
"Tuan Maxwell mungkin di dalam sana dan sedang dalam bahaya", Peter nampak cemas.
"Ayo kita lanjutkan", ketiganya pun segera bersiap dan terhenyak ketika mendadak terdengar suara tembakan yang tidak jauh dari tempat mereka berada.