
Sore ini Ayesha dan Maxwell berkendara dengan mobil mereka menuju lokasi perluasan kompleks Islamic Center ketika Alberto kembali menelpon. Sepasang pengantin baru itu duduk di belakang kemudi yang dibawa oleh Zeny. Maxwell sengaja tidak menyetir kendaraannya sendiri seperti biasa jika bersama Ayesha karena ada banyak sambungan telepon yang harus dilakukannya terkait proyek besar IC. Sementara ia masih sibuk berbicara dengan Alberto di telpon, Ayesha yang duduk di sampingnya dengan setelan hijau mudanya nampak memandang ke arah kiri jalan dan sesekali tersenyum malu di balik cadarnya karena terbayang kembali peristiwa di kamar sebelum mereka pergi.
"Hubby...aku...aku tidak bermaksud menggodamu tadi..sungguh!", Ayesha bergetar di posisinya saat itu. Maxwell memegang kedua bahunya tanpa jarak. Badannya yang kekar menghimpit Ayesha ke dinding kamar. Wajahnya sudah tak berjarak lagi dengan sang istri. Kedua hidung mereka bersentuhan. Desah nafas keduanya pun bisa saling dirasakan bahkan degup jantung keduanya pun bisa saling didengarkan. Ayesha sudah membayangkan hal yang dalam akan berlanjut sebelum kemudian sentuhan tangan Maxwell di hidung bangirnya menyadarkannya. Pria tampan itu tersenyum dan dengan singkat mengecup kedua pipi Ayesha dengan gemas.
"Engkau beruntung sore ini Honey. Aku belum bisa menerkammu dan membuatmu lelah sekarang", Maxwell kembali tersenyum dan menowel hidung dan dagu wanita cantik yang nampak gugup terpaku di depannya.
"Tapi bukan berarti engkau lepas. Bersiaplah malam ini. Proyek besar dari Kakek juga tidak kalah penting bukan?", Maxwell mengedipkan matanya.
Ayesha tercekat mendengarnya. Ia sangat paham apa maksud perkataan Maxwell padanya. Maxwell kemudian bergerak mundur tanpa melepas pandangan dan senyumnya ke sang istri dan segera mengangkat telponnya ketika benda pipih itu berdering. Nama Alberto kembali muncul dan menyelamatkan suasana yang mendebarkan bagi Ayesha. Tak lama setelah percakapan Maxwell yang singkat dengan Alberto, mereka pun bergerak keluar dan kini sudah hampir sampai di lokasi yang dituju. Ayesha kembali terbayang ucapan terakhir Maxwell dan pipinya seketika memerah. Jantungnya kembali berdebar dengan cepat. Oh ya Allah apakah malam nanti akan menjadi malam pertama kami? batinnya gugup.
Maxwell dan rombongannya pun tiba di lokasi. Dikatakan rombongan karena Mark dan timnya serta Patch dan Peter selalu setia mengawal majikannya kemana pun berada. Mereka selalu berkendara di posisi depan dan belakang tuannya dengan mobil-mobil mewah yang tentu saja anti peluru. Kedatangan sang penguasa itu pun segera disambut oleh Alberto dan Thale, kedua pengacara kepercayaan Maxwell.
"Selamat datang Tuan. Maaf sebenarnya kami bisa menyelesaikannya sendiri jika Tuan berkenan", Alberto menyambut tuannya dengan menundukkan kepala dan punggungnya. Ia mempersilakan sang tuan berjalan masuk ke sebuah halaman rumah di depan kompleks IC yang akan diperluas. Di sana sudah ada beberapa orang berbadan tinggi tegap berdiri menghadapi dua orang paruh baya di teras rumah. Nampak suasana yang cukup tegang di antara mereka. Maxwell dan Ayesha mendekati mereka tanpa suara.
"Kurang apalagi. Jika kami jadi kalian tentu kami akan menerima tawaran ini dengan senang hati. Apa coba yang kalian beratkan, hah?"
"Ini adalah hak kami, menerima atau menolak itu hak kami. Jika kami tidak mau, lalu apa yang akan kalian lakukan?"
"Baik. Jika dengan cara halus kalian tidak bisa diajak bekerjasama, mungkin cara kasar yang kalian inginkan. Bukan begitu?"
"Apa maksud kalian?", sang wanita paruh baya nampak ketakutan. Lelaki di sampingnya hanya mendengus dengan wajah merah padam.
Maxwell dan Ayesha masih memperhatikan saja. Mereka hanya diam berdiri di belakang para pria tegap. Alberto dan Thale pun berlaku sama.
"Kalian tentu tau kan dengan siapa kalian berhadapan saat ini?".
"Kami tidak takut. Siapa pun boss kalian tetap tak punya hak atas rumah dan tanah kami. Ini milik kami. Apapun alasannya kami tak akan mau pindah dari sini"
"Ehm", suara deheman Maxwell membuat para pria tegap pun menoleh ke sumber suara dan spontan mereka menunduk dan memberi ruang pada Maxwell dan Ayesha.
"Maaf Tuan. Kami tidak tau Tuan sudah di sini", salah seorang dari suruhan Alberto tersebut pun berkata dengan sikap hormat dan nampak takut. Maxwell tidak merespon dan dia melangkah maju mendekati sang tuan rumah.
"Aku datang untuk memastikan kembali laporan anak buahku. Apakah benar Anda tidak bersedia bekerja sama dengan kami untuk perluasan kompleks yang ada di depan rumah Anda saat ini?", Maxwell berkata dengan suara datar dan menatap tajam ke arah kedua orang di depannya. Yang diajak bicara saling memandang satu sama lain. Sang pria paruh baya nampak berpikir sejenak dan dengan wajah angkuh membalas tatapan Maxwell.
"Apakah kompensasi uang ganti rugi yang ditawarkan anak buahku tidak cukup?"
"Aku tak butuh uang itu"
"Jika aku menambahnya menjadi dua kali lipat bagaimana?"
"Tidak. Aku sudah katakan kami tidak butuh uang itu. Kami tidak akan pindah dari sini"
"Bagaimana jika tiga kali lipat"
"Tidak. Jangan paksa kami"
"Anda tau sedang berhadapan dengan siapa?"
Maxwell semakin menunjukkan aura kekuasaannya.
"Pekerjaan Anda dan istri Anda ini bahkan kedua anak Anda ada dalam kendali saya. Jika kalian tetap tidak mau bekerja sama dengan kami maka aku tidak punya cukup waktu untuk menunggu. Anda sudah kami tawarkan penukaran yang cukup baik bahkan sangat baik. Kami juga sudah memenuhi aturan hukum yang ada namun kadang hukum di negeri ini juga ada dalam kendali saya. Anda paham maksud saya?"
Kedua orang pemilik rumah pun menelan ludah. Mereka kini sadar dengan siapa berbicara. Wajah Maxwell memang hanya dikenal oleh para pebisnis besar dan kalangan pejabat dan kaum borjuis (karena wajahnya terjaga dari jepretan kamera para pemburu berita) namun ucapannya cukup membuat siapa pun akan sadar seberapa besar kekuatan pria berusia 30 tahun itu.
Sang pria tua awalnya tercekat dengan ucapan Maxwell namun selintas hadir sebuah pemikiran tatkala melirik penampilan Ayesha yang berdiri di samping Maxwell. Ia pun buru-buru mengambil sikap.
"Aku tidak peduli. Kita sama-sama warga Sidney. Tidakkah Anda juga punya kewajiban yang sama untuk sama-sama saling menghormati satu sama lain dan tidak memaksakan kehendak pada orang lain? Apakah uang dan kekuasaan telah membuat Anda menjadi orang yang egois mementingkan diri sendiri?"
"Ada banyak orang yang akan mengambil keuntungan dari perluasan kompleks IC ini. Apakah menurut Anda saya ini egois? Dan bukankah cukup menguntungkan untuk Anda jika menerima tawaran kami?"
"Keuntungan untuk kalian semata, bukan untuk kami"
"Siapa bilang? Bukankah jika semua rancangan perluasan dan pengembangan IC berhasil, semua orang di sekitar sini dan Anda khususnya juga akan mendapatkan efek positif? Akan ada banyak lahan bisnis bisa kalian kembangkan di sekitar sini jika kalian mau karena tempat ini pastinya akan semakin ramai dikunjungi baik dari internal maupun eksternal, dan jika kalian tidak mau berbisnis kalian juga tetap beruntung karena ganti rugi yang kami tawarkan akan mampu membuat kalian memiliki tempat tinggal yang lebih baik juga tabungan di hari tua. Kami juga akan memudahkan kepindahan kalian menyangkut segala hal menyangkut lokasi pindah dan akomodasinya. So, what is your reason actually?", Maxwell masih berusaha menekan emosinya. Lawan bicaranya menarik nafas.