A Mafia'S Love For A Muslimah

A Mafia'S Love For A Muslimah
Episode 78. Siapa Sebenarnya Julia Grace?



Ayesha baru saja selesai jogging dan sedikit gym bersama Ahmed ketika kemudian terdengar suara teriakan wanita di dekat mereka berada. Keduanya saling berpandangan dan melihat ke sumber suara. Ayesha dan Ahmed penasaran. Suara tersebut sepertinya berasal dari sebuah kamar penginapan yang tak jauh dari kedatangan sang pria yang membawa nampan minuman tadi. Ayesha hendak bergerak namun berhenti ketika mendengar suara Ahmed menelpon.


"Adakah seorang wanita yang sedang ditawan di sini?"


"Apa yang terjadi padanya. Mengapa ia berteriak? Kalian tidak sedang menyiksanya bukan?"


"Baiklah. Ijinkan kami melihatnya untuk membuktikannya"


Ahmed menutup telponnya dan memandang ke arah Ayesha yang penuh tatapan ingin tau. Mereka pun bergerak ke sumber suara. Sebuah kamar terpisah yang lebih besar ukurannya dari yang lain menghadap ke fasilitas gym dan di kelilingi oleh taman yang cukup indah. Siapapun yang mendapatkan kamar tersebut tentunya cukup senang karena mendapatkan tempat yang lebih mewah dari yang lainnya. Sesampainya di pintu kamar yang tertutup, terlihat dua orang pria penjaga menyambut kedatangan mereka berdua.


"Ijinkan kami masuk", seru Ahmed.


Salah satu penjaga pun tanpa komentar langsung membuka pintu kamar.


Ahmed dan Ayesha bergegas masuk. Keduanya tercenung ketika melihat seorang wanita sedang tidur berselimut dengan pulas di atas tempat tidur. Wajahnya tak terlihat karena menghadap ke samping ke arah tembok. Hanya kepalanya yang berbalut kain yang nampak menyembul. Karena mereka tak melihat keanehan apapun di sana, mereka pun keluar. Setelah menutup kembali pintu dengan pandangan menyelidik, Ayesha pun bertanya pada sang penjaga.


"Mengapa dia berteriak tadi?".


"Ada lipas katanya Nyonya. Kami sudah membuangnya", sahut salah seorang penjaga.


"Dimana lipas nya?", tanya Ahmed.


"Sudah mati dan kami buang ke sana Sir", sang pria menunjuk ke arah pohon mangga yang masih kecil di taman, yang tak jauh dari pintu. Ayesha melirik ke arah yang ditunjuk dan melihat bangkai seekor lipas yang sepertinya baru saja mati.


"Siapa wanita itu?", tanya Ayesha kembali menginterogasi.


"Maaf Nyonya, kami tidak tau. Kami hanya disuruh menjaganya saja.


"Mengapa harus dijaga?"


Ahmed hanya berdiri mengawasi interogasi sang adik dengan sang penjaga.


"Dia sedang sakit Nyonya namun menurut info yang kami dengar dia ingin pergi tanpa mau berobat untuk memulihkan sakitnya dulu. Untuk itu kami disuruh memastikan dia tidak pergi dan mengikuti semua pengobatan dari dokter"


"Jam berapa saja jadwal berkunjung dokter?"


"Barusan saja sebelum ada lipas Nyonya. Mungkin karena baru saja meminum obat dari dokter ia pun tertidur"


"Sakit apa dia?"


"Pasca operasi"


"Operasi apa?"


"Tembakan peluru"


"Apakah dia anak buah Tuan?"


"Bukan Nyonya. Yang jelas Tuan Mark yang membawanya kemari. Sepertinya ia kekasih Tuan Mark"


"Mark? Dimana dia sekarang?"


"Bersama Tuan Besar, Nyonya"


"Kemana mereka pergi?"


"Maaf Nyonya, kami tidak tau. Kami hanya bertugas berjaga di sini saja"


"Kapan Tuan Besar pergi?"


"Maaf Nyonya, kami tidak tau"


"Apakah Tuan pergi bersama pasukan yang besar?"


Ayesha menarik nafas sejenak. Ia hanya bisa memperhatikan kedua penjaga yang selalu menundukkan kepala.


"Baiklah, ini yang terakhir. Siapa nama wanita yang sedang terluka itu dan sudah berapa lama dia di sini"


"Kami juga tidak tau Nyonya siapa namanya, yang jelas dia dibawa ke sini sejak kemarin pagi. "


"Kalian tidak tau namanya?", Ayesha meninggikan sedikit suaranya.


"Nyonya, yang kami tau dokter memanggilnya Nona Grace", sang penjaga nampak memasang wajah gugup.


"Grace?"


"Ya, Nyonya"


"Baiklah. Terima kasih atas jawabanmu", Ayesha pun menarik nafas dan merasa buntu dengan hasil interogasinya. Tidak ada petunjuk berharga tentang wanita itu dan kepergian suaminya juga. Ahmed memukul pundak sang Adik pelan dan mengajaknya pergi. Mereka pun menuju kamar mereka untuk membersihkan diri.


Sementara itu, di dalam kamar sang wanita yang bernama Grace, terdengar rintihan pilu yang berasal dari sebuah tempat tidur. Grace, wanita yang sedang terbaring di sana rupanya sedang mengigau dalam tidurnya.


"Tidak!", teriak sang wanita pelan dalam tidurnya. dan seketika terbangun dengan keringat membasahi keningnya.


"Astaghfirullaahal'adziim", lirihnya sambil meludah kecil ke kiri. Ia kemudian duduk bersandar ke dinding untuk menenangkan diri. Matanya kembali basah oleh air mata. Mark, tega sekali kau tidak mengajakku ke pemakaman Kakak. Untuk apa aku bersusah payah ke sini jika tetap juga tidak bertemu jenazah Kakak kandungku untuk yang terakhir kali?gumamnya dalam hati. Setelah puas menangis, Grace pun bangkit perlahan dan menuju kamar mandi dengan langkah tertatih-tatih. Tak lama setelah membersihkan diri gadis manis itu pun keluar dengan pakaian lengkap. Sebuah jilbab instan sudah menutupi kepalanya dengan rapi. Dengan mata sembab wanita itu kini duduk di depan cermin. Memandangi pantulan wajahnya sendiri di cermin. Kelebatan masa lalu bersama Bibi Christine membayang kembali dalam benaknya. Bagaimana pahitnya hidup dilalui sang kakak demi keselamatan dirinya. Bagaimana kekejaman seorang penguasa yang tanpa hati mempermainkan kehidupan mereka. Bagaimana getirnya kehidupan yang ia lalui hingga sampai saat ini masih bertahan hidup. Bibi Christine adalah kakak kandungnya lain ayah. Ibu mereka sama. Setelah Bibi Christine lahir, tak lama kemudian ayahnya meninggal karena suatu penyakit. Kemudian ketika Bibi Christine sudah dewasa, sang ibu menikah lagi dengan seorang pria kaya dan lahirlah Julia Grace. Namun sayangnya, tanpa kasih sayang sang ayah kandung, Grace hanya cukup puas dengan kasih sayang sang ibu yang melahirkannya juga kakaknya beda ayah karena sang ayah kandung pergi begitu saja bahkan dengan meninggalkan mereka bertiga di sebuah villa tanpa kabar apapun. Grace waktu itu masih berusia tiga tahun. Tak secuil pun ingatan tentang sang ayah yang hadir dalam memorinya karena ia masih begitu kecil untuk bisa mengingatnya. Yang ia tau ia pernah merasa sangat manja bersamanya, selalu mendapat kecupan di pipi dan usapan tangan di kepalanya. Yang dengan itu semua, hanya bau tubuh ayahnya yang masih membekas dalam penciumannya hingga sekarang.


Grace menarik nafas pelan. Ia menggelengkan kepala ketika mengingat semuanya. Aku tak boleh lemah. Kak Christine, jika kau memang sudah tiada, baiklah, pengorbananmu tak akan sia-sia. Aku akan kuat dan berjuang melanjutkan hidupku sendiri. Aku pasti akan menemukan ayahku dan Maxwell akan segera memuliakanmu Kak. Walau mungkin sudah terlambat, cukuplah dia tau semuanya dan memasukkanmu dalam doa terbaiknya, lirihnya pilu dalam hati.


Grace kemudian menekan tombol di atas nakas lalu meraih dua buah tongkat pendek untuk membantunya berjalan menuju pintu. Tak lama pintu pun terbuka dan muncul dua penjaga.


"Aku ingin berjalan-jalan menghirup udara segar di luar"


"Baik Nona. Tidakkah Anda menggunakan kursi roda saja?"


"Kau boleh menyiapkannya jika aku sudah lelah"


"Baiklah"


Grace pun melangkah ke luar dan berjalan perlahan ke arah taman. Matanya memandang takjub. Ia tak menyangka mendapati suasana yang menyenangkan di luar kamar. Ia baru menyadari bahwa Mark ternyata membawanya ke sebuah resort di kaki gunung. Ketika sampai di sini waktu sudah menunjukkan subuh hari dan dia sendiri dalam keadaan tertidur. Ketika terbangun ia sudah berada di ranjang sebuah kamar yang cukup nyaman dengan layanan para penjaga dan juga dokter.


Grace memutarkan pandangan ke sekeliling. Ia melihat kolam beruap tak jauh dari taman di depannya. Beberapa orang nampak berendam di sana. Ia memperhatikan lagi keadaan sekitarnya dan tatapannya terhenti begitu menangkap sesosok bayangan yang nampak melintas dengan cepat dengan gerakan mencurigakan menuju daerah penginapan yang nampak lebih elite dari pada yang lainnya. Siapa orang itu? Mengapa sepertinya sangat mencurigakan?


"Hai, kemarilah", Grace memanggil seorang penjaganya.


"Ada apa Nona?"


"Siapakah yang menginap di sana? Apakah Boss Kalian di sana?", Grace menunjuk ke arah menghilangnya orang yang dicurigainya.


"Untuk apa Nona menanyakannya?"


"Jawab saja"


"Berkaitan dengan Boss, kami harus menjaga semua rahasia tentangnya"


"Baiklah. Jika terjadi sesuatu dengan Boss kalian karena ada penyusup yang masuk, maka jangan salahkan aku karena sudah memperingatkan kalian. Kalian tentu akan dihukum karena sudah lengah menjaga tempat ini".


Sang penjaga terdiam sejenak. Ia segera mengambil HP nya dan nampak sibuk dengan gadget kecil tersebut. Tak berapa lama Grace melihatnya sudah nampak gusar dan menelpon.


"Ketatkan penjagaan di tempat Boss. Ada penyusup. Tembak di tempat", perintahnya.


Grace nampak terkesima. Ternyata penjagaku di sini bukan pengawal biasa, lalu seperti apakah situasi saat ini sehingga mereka begitu nampak panik dan tanpa kompromi? batinnya.


Sementara itu, tak jauh dari kamar Ahmed dan Ayesha, sesosok tubuh sedang bergerak penuh kehati-hatian sambil melihat ke kanan dan ke kiri. Sebuah ransel kecil bersandar di punggungnya dan sebuah pucuk senjata tergenggam erat di tangannya. Baru saja ia hendak melangkah menyebrang ke arah pintu kamar Ayesha, mendadak sebuah pukulan telak menghantam tengkuknya. Sebuah pucuk pistol sudah menempel di pelipisnya.


"Siapa Anda? Segera jawab atau peluru ini menghabisimu saat ini juga", Peter menatap tajam sosok asing yang kini tengah duduk terjatuh menyandar di pintu kamar Ayesha. Matanya menatap tajam seakan ingin memangsa makhluk di depannya.