
Ayesha duduk berhadapan dengan Luke. Diantara mereka terdapat sebuah meja penuh hidangan dihiasi sebuah lilin yang menyala cukup besar. Luke terus memandangi Ayesha tak berkedip meski wanita tersebut memakai cadarnya dan telah menggeser kursinya mundur lebih sedikit lagi ke belakang. Wanita berpakaian ungu muda dengan jilbab senada bermotif sakura itu memalingkan wajahnya ke samping dan enggan berbicara.
Sudah sepuluh menit lamanya suasana hening di antara mereka dan jika pun Luke berbicara, Ayesha tak pernah meresponnya.
"Bersuaralah Sayang. Mengapa Engkau hanya diam"
Luke hampir habis kesabaran. Sejak pagi tadi pun sebenarnya ia sudah mendapatkan penolakan dari Ayesha untuk makan malam bersama melalui sang pelayan, namun ia terus mencari cara untuk memaksa. Mulai dari paksaan akan dinikahi malam ini juga, akan membawakan kepala Maxwell dan akan dipaksa dengan membuka auratnya dan memperkosanya. Ancaman terakhir ini cukup mampu membuat Ayesha menarik kembali keputusannya untuk menolak dan akhirnya sekarang dia berada bersama Luke malam ini di halaman samping villa yang ditempatinya selama ini.
"Makanlah. Sejak pagi Engkau bahkan belum makan bukan?"
Ayesha hanya diam.
"Bicaralah. Jangan sampai ancamanku kubuktikan", Luke mulai habis kesabaran.
Ayesha sebenarnya bisa saja melawan dan memberikan pelajaran pada sosok pria di depannya ini. Namun ia tak ingin gegabah mengingat Luke yang sudah tahu kemampuan bela dirinya. Lelaki itu pasti punya taktik dan persiapan yang matang untuk menghadapinya dan juga Maxwell. Ayesha kini harus kooperatif dan berusaha untuk tidak membuat Luke curiga dan tak sanggup menahan amarahnya. Wanita yang cerdas itu sejauh ini sudah mempersiapkan usaha pelariannya. Malam ini ia harus berhasil, pikirnya.
Ayesha kemudian mengambil minuman jus jeruk hangat yang ada di atas meja. Sedikit menyibak cadarnya, ia pun meminumnya dengan perlahan. Ia malas berbicara. Dengan mengambil minuman ia berharap Luke bisa mengartikan sendiri bahwa Ayesha sudah menghargainya sedikit. Luke yang melihatnya pun cukup merasa senang. Ia pun melakukan hal yang sama. Segelas anggur menemaninya. Namun baru saja ia hendak menyentuhnya, sebuah suara yang sangat dirindukannya pun menyela.
"Tidakkah ada minuman yang lain yang bisa menyehatkanmu?"
"Mengapa?"
"Anggur itu hanya akan membuat peminumnya menjadi bodoh bukan?"
"Kau katakan aku ini bodoh, Sayang?"
"Terserah padamu saja. Aku pikir, seseorang yang hilang kesadarannya karena meminumnya hingga menjadi hilang akal, juga tubuhnya menjadi sakit, dan itu dilakukan berkali-kali sedang ia tau persis akibatnya, bukankah itu disebut bodoh?"
"Sayang, ternyata engkau sangat peduli padaku. Terima kasih"
"Aku bukan peduli padamu Mr. Luke. Bahkan semua pria yang melakukan hal sama di depanku maka aku akan mengatakan hal yang sama pula"
Aku tak peduli. Yang jelas aku senang engkau sudah mulai peduli padaku, sayang, gumam Luke dalam hati. Bibirnya pun tersenyum senang. Perlahan gelas anggur miliknya pun ia turunkan. Luke tak jadi meminumnya. Kini ia malah meraih gelas jus Ayesha dan meminumnya hingga setengah. Ayesha terperangah dan hanya menggelengkan kepalanya. Ia melirik botol air mineralnya dan kini perhatiannya menuju makanan yang terhidang. Ia pun kini beralih ke piringnya dan mulai makan sesuai seleranya. Aku harus mengisi energi dulu sebelum pelarian malam ini. Sepintas ia melirik sekitarnya. Ia tidak menemukan para penjaga. Sepertinya Luke menepati janjinya, pikirnya.
Luke yang melihat Ayesha makan dengan lahap di balik cadarnya hanya tersenyum. Ia pun kini mulai mengambil makanannya mengikuti Ayesha. Keduanya pun makan dalam diam.
"Tak bisakah kau membuka cadar itu agar lebih leluasa makan?"
Aku hanya akan membukanya di depan suamiku, jawab Ayesha dalam hati. Tak mungkin ia mengatakannya pada Luke. Pria itu pasti akan marah dan itu akan membuat rencana Ayesha berantakan.
"Aku tak bisa memastikan bahwa di sini para pria pengawalmu tidak akan melihatku"
"Tentu saja hanya aku yang boleh melihatmu"
"Aku tidak bisa percaya begitu saja. Para pengawalmu sangat lihai menyembunyikan diri bukan?"
"Aku tak akan biarkan mereka melihatmu. Kau tak percaya itu Nona Ayesha?"
"Baiklah. Aku percaya"
"Sekarang bukalah cadarmu sayang. Aku sangat ingin melihat wajahmu"
"Tidak"
"Aku bahkan sudah melihatnya dan menikmati kecantikan wajahmu itu Sayang"
Ayesha terkejut. Meski ia sudah memperkirakannya sejak awal karena melihat sorot cinta yang demikian besar di mata Luke namun ia tetap saja merasa sangat terkejut. Ia langsung membayangkan wajah suaminya yang menatapnya dengan pandangan marah. Ayesha beristighfar berulang kali menyesali diri.
"Luke. Jika engkau sudah pernah melihat wajahku maka tak perlu lagi aku membukanya bukan? Tolong jangan paksa aku. Bukankah cinta itu dibuktikan dengan kerelaan menuruti permintaan orang yang dicintai untuk membuatnya bahagia?"
"Baiklah. Aku mencintaimu. Aku akan menurutimu"
"Terima kasih Luke"
Luke terkesima. Ayesha berterima kasih padanya?
Kini keduanya larut kembali dalam makan malamnya masing-masing. Ayesha nampak menikmati makannya meski perlahan karena harus menyibakkan cadarnya lebih dulu setiap hendak menyuapkan makanan ke mulutnya. Luke yang melihatnya hanya tersenyum. Ia semakin merasa takjub dengan keteguhan prinsip yang dipegang Ayesha dan sekaligus merasa sangat iri pada Maxwell yang lebih dulu berjumpa dan memiliki Ayesha.
Setelah menyelesaikan makan malam, Ayesha bangkit dan berdiri di sisi pagar teras dan menatap ke bawah. Nampak kemilau lampu kelap kelip di bawah sana memperlihatkan pemandangan yang indah. Aneka bunga warna warni yang sedang mekar tercium semerbaknya. Lambaian dedaunan tertiup angin seolah mengatakan pada Ayesha untuk tidak bersedih karena Allah pasti akan memberikan jalan pada Nya atas segala permasalahan yang terjadi padanya saat ini. Dalam suasana malam yang sangat dingin ini membuat Ayesha kembali teringat kebersamaan bersama sang suami di resort terakhir kalinya. Di sana ia sering menikmati malam di balkon bersama Maxwell melihat bulan dan bintang. Maxwell pasti selalu memeluknya dengan hangat dan tak henti-hentinya menciumi pipinya serasa membisikkan kata-kata yang tak pernah Ayesha bosan mendengarnya. I Love You.
"Sungguh indah bukan?", Luke membuyarkan lamunan Ayesha. Ia kini sudah berdiri di samping Ayesha. Wanita itu seketika menggeser sedikit tubuhnya agar tidak terlalu dekat dengan Luke.
"Ya. Sejak dulu aku memang menyukai pemandangan pegunungan", sahut Ayesha.
"Aku juga. Itulah sebabnya aku memilih tempat ini"
"Apakah kau sudah lama memiliki tempat ini?"
"Belum. Hanya sesaat setelah dia membuangku aku pun membeli tempat ini"
Ayesha tertegun. Pantas saja suamiku belum mampu menemukanku. Dia tentu belum tau tempat ini, batin Ayesha.
"Luke. Bolehkah aku tau...mengapa engkau sangat membenci Maxwell?"
Luke sekilas menatap mata Ayesha lalu berpaling ke bawah.
"Kau tau Ayesha, ayah kami mempunyai banyak anak adopsi, namun sepertinya hanya satu orang yang benar-benar anak adopsinya. Kami hanya dianggap sebagai pelengkap hidupnya untuk sebuah citra baik bahwa seorang billionare George Powell sangat dermawan dan berhati mulia mengadopsi banyak anak. Ia mengangkat kami semua menjadi anaknya dan mengirimi setiap bulan kebutuhan kami tapi tak akan bisa mengingat wajah kami semua kecuali satu orang itu. Dia hanya membagi kami sedikit saja harta warisannya yang tak ternilai itu pada kami semua kecuali dia. Dia mendapatkan hampir semuanya", kilatan kemarahan nampak menguar dari pandangan Luke mengingat sosok yang menjadi suami Ayesha tesebut.
Ayesha kini paham apa sesungguhnya akar permasalahan mereka berdua.
"Itu sebabnya meski selama ini engkau menjadi tangan kanan Maxwell, ayah kalian itu tetap tidak mengenalimu?"
"Itulah buktinya. Bertahun-tahun aku mendampingi Maxwell menjadi sekretarisnya, ayah kami bahkan tak pernah memandangku dan tak juga mengenaliku sama sekali. Sungguh ironis bukan?"
Luke tersenyum sinis.
"Lalu sejak kapan kau mulai berkhianat pada Maxwell dan ingin menjatuhkannya? Apakah sejak awal bersamanya niat itu sudah ada?"
Luke diam tak menjawab.
"Maaf kau tidak perlu menjawabnya jika tak ingin. Aku hanya mau tau saja"
Luke nampak menarik nafas sesaat.
"Jika ku katakan yang sesungguhnya, ku harap kau tidak akan menertawakanku, Yesha".
Ayesha mengerutkan dahi mendengar namanya dipanggil Luke seperti itu.
"Sebenarnya, awal aku mendekati Maxwell dan bekerja untuknya hanyalah karena keinginanku untuk bertemu dengan ayah kami. Sejak kecil, ibu asrama kami selalu menyebut nama ayah kami sebagai dewa penolongku. Dia selalu mengirimkan semua kebutuhanku dalam bentuk uang dengan nominal yang tak sedikit. Menyuruh ibu asrama untuk menguruskan sekolahku hingga menjadi master di bidang ekonomi agar kelak mampu mengurusi perusahaan yang akan diwariskan padaku. Awalnya aku sungguh merasakan kebahagiaan karena ayahku benar-benar menyayangiku. Aku sekolah dengan giat sambil mencoba belajar bisnis. Hingga ketika S-2 ku kelar, aku pun sudah terbiasa mengelola perusahaan yang diberikan ayah bahkan berhasil mengembangkannya dengan baik. Hingga suatu ketika, rasa rinduku pada ayah yang selama ini hanya ku ketahui dari nama dan fotonya saja, membawaku untuk mencarinya. Dan hasilnya, aku pun melangkah ke perusahaan pusat. Powell Group. Di sanalah aku baru mengetahui siapa sesungguhnya George Powell. Ternyata uang dan harta yang diberikannya padaku selama ini hanya seujung kukunya saja. Aku merasa miris melihat kenyataan itu. Ternyata benar kata Ibu Asrama kami. Ayah kami sangat sibuk hingga tak sempat bertemu anak-anak adopsinya. Karena hidupnya memang penuh dengan urusan bisnis dari ratusan perusahaan yang dimilikinya juga properti yang tak terhitung jumlahnya", Luke berhenti sejenak lalu melirik Ayesha. Wanita yang dilirik nampak serius mendengarkan.
"Seseorang yang merindukan ayahnya, meski itu ayah angkat, itu adalah hal yang wajar bukan? Mengapa aku harus menertawakanmu Mr. Luke?"
"Karena setelahnya, hanya demi ingin bertemu dengan billionare super sibuk seorang George Powell , aku harus rela menyamar menjadi pesuruh Maxwell Powell. Aku tinggalkan perusahaanku yang sedang berkembang pesat pada orang yang ku percaya. Selanjutnya aku melamar menjadi sekretaris Maxwell dan selanjutnya jadilah aku sebagai salah seorang kepercayaannya. Dan karena itulah aku sering bertemu dengan ayah. Dan kau tau Yesha? Awalnya ketika kami bertemu, ku berharap ia mengenaliku, karena tatapan matanya seperti terkejut, namun ternyata hanya sesaat. Karena setelah itu ia tak menoleh sedikitpun dan bersikap biasa saja layaknya seorang Boss pada anak buahnya. Ia bersikap sebagai seorang ayah hanya pada Maxwell. Ya, hanya pada Maxwell, bahkan hingga akhir hidupnya, semua yang kurasakan terjawab sudah. Di depan mata kepalaku sendiri, di ujung nafasnya, ia meminta pengacara menuliskan wasiatnya bahwa seluruh harta kekayaannya, termasuk seluruh perusahaan di luar pembagian yang sudah diberikan pada semua anak adopsinya, ia berikan untuk Maxwell saja. Hanya untuk satu anak adopsi yang jelas-jelas statusnya sama dengan kami semua. Seolah-olah Maxwell itu adalah anak kandungnya dan kami ini cuma anak tirinya. Apakah itu adil Yesha? Jawablah! Apakah itu adil?"
Ayesha hanya diam. Ia tak tak tau harus berkata apa. Ia bisa merasakan kepedihan dalam nada suara Luke. Inilah sebabnya Maxwell tidak jadi membunuh pria ini walau Luke sendiri pernah nyaris membunuhnya. Karena Maxwell juga merasakan ketidakadilan yang diciptakan sang ayah padanya.
"Maaf kan aku Luke. Aku tak tau harus berkata apa. Mungkin ayah kalian punya alasan tertentu untuk itu. Namun jika engkau ingin mendengarkan pendapatku, aku ingin mengatakan sesuatu jika aku menjadi dirimu"
Luke terkesima. Ia memandang lekat ke arah Ayesha.
"Katakanlah Yesha"
"Ku harap engkau tidak tersinggung dan cobalah untuk menekan rasa amarahmu lebih dulu. Maukah kau berjanji padaku Luke?"
"Baiklah. Jangan takut, aku tak mungkin menyakiti orang yang aku cintai", mata Luke meneduh menatap Ayesha.
"Jika aku menjadi seorang Luke. Aku akan mencoba melihat masa laluku lebih dulu. Aku akan banyak bersyukur pada Tuhan karena awalnya aku adalah seseorang yang tak punya siapa-siapa kecuali Ibu asrama yang tulus mengurusi ku dan juga kawan-kawan sesama di panti. Namun Tuhan begitu baik padaku karena atas campur tangannya, seorang George Powell yang billionare super sibuk itu digerakkan hatinya untuk bertemu denganku dan kemudian mengadopsi ku dan akhirnya jadilah aku orang yang beruntung. Aku kemudian menjadi orang yang sukses dan tidak lagi dipandang sebelah mata oleh dunia. Perihal ayah angkat ku yang tidak adil membagi warisannya pada anak-anak adopsinya maka aku serahkan pada Tuhan dan tetap bersyukur pada semua yang sudah kudapatkan selama ini. Aku anggap Maxwell adalah orang yang beruntung. Sama halnya denganku dulu. Mengapa dari sekian banyak anak asrama di panti, cuma aku yang menjadi anak adopsi George Powell, bukan yang lain. Begitu juga Maxwell. Mengapa dari sekian banyak anak adopsinya, hanya dia yang mendapat keistimewaan itu. Jadi, aku ingin hidup dengan tenang dan menikmati kesuksesan yang sudah ku bangun atas kerja kerasku selama ini. Aku tak akan biarkan perasaan iri di hati menjadi pengganggu jiwaku dan membuatku tidak bahagia. Karena bukankah kebahagiaan itu jika jiwa terasa tenang dan dipenuhi dengan cinta?"
Luke terpana mendengar penuturan Ayesha. Sebenarnya ia merasa tak terima dengan kata-kata Ayesha walau ia tau bahwa semuanya benar adanya. Namun kata-kata terakhir Ayesha membuat ia percaya. Bukankah cintanya pada Ayesha membuat jiwanya lebih tenang dan ia kini sering diliputi kebahagiaan? Ia selalu merasa bersemangat jika mengingat Ayesha dan begitu banyak rancangan hidup sudah ia tulis ketika suatu saat ia berhasil menikahi Ayesha. Dan kuncinya adalah Maxwell. Ia harus berhasil membunuhnya lebih dulu, tapi harus lewat tangan orang lain agar Ayesha tidak membencinya. Sekilas Luke tersenyum mengingat rencana yang sudah di susunnya. Terakhir komunikasinya dengan Joeris, pria yang sudah berhasil kabur dari penjara atas pertolongannya itu kini sepertinya sudah berhasil menjebak Maxwell.
"Luke?"
"Hm?"
Ayesha terkesiap dengan jawaban Luke. Memorinya langsung melayang ke seseorang yang sangat dirindukannya.
"Kau benar Yesha. Aku tak seharusnya menaruh rasa iri dan dengki pada Maxwell bukan? Namun aku tak bisa melenyapkan rasa itu begitu saja, kecuali aku tau alasan ayah kami yang sesungguhnya. Namun sayangnya, ia sudah mati"
"Sudahlah. Oh ya Luke, bolehkah aku minta sesuatu padamu saat ini?"
"Katakanlah. Aku pasti akan memberikannya", Luke sekilas melirik ke arah pergelangan tangan Ayesha. Ia tersenyum ketika melihat gelang yang diberikannya sudah bersemayam di sana. Begitu juga dengan Bross emas di jilbab wanita cantik itu.
"Aku mulai bosan terkurung terus di villa mu ini. Bisakah kita turun ke bawah untuk sekedar melepas rasa bosanku ini?"
"Baiklah. Tapi jangan berpikir untuk kabur karena tidak ada cela untukmu bisa kabur dariku, Sayang"
Ayesha menelan ludahnya yang terasa pahit.
"Oh tidak. Ayolah. Aku akan menemanimu ke bawah"
Ayesha sontak berteriak senang. Tapi tentu hanya dalam hatinya. Bismillah, ya Allah tolonglah aku, batinnya.
Luke dan Ayesha pun kini berjalan bersisian menuju lantai dasar. Villa berlantai dua itu memiliki tangga ke bawah yang cukup lebar. Selama berjalan Ayesha diam-diam memeriksa sekitarnya dengan mata jeli nya. Dia melihat beberapa cctv terpasang di teras dan sekitar lantai dasar. Tak ada penjaga yang biasa hilir mudik. Ternyata Luke menepati janjinya. Tapi Ayesha yakin para pengawal itu pasti tetap bersiap di tempat-tempat yang tak terlihat. Bisa jadi di atas atau di tempat-tempat tersembunyi lainnya. Dari jauh mata Ayesha menangkap sebuah benda raksasa terparkir di lapangan dan membuat sepasang mata indah miliknya seketika berbinar.
Ayesha memulai aktingnya. Ia nampak mengusap perutnya. Luke meliriknya.
"Apakah perut mu sakit, Sayang?"
"Oh tidak. Hanya saja, entah kenapa melihat helly di sana sepertinya aku sangat ingin menaikinya. Mungkin ini permintaan bayiku", Ayesha menatap Luke dengan tatapan yang tak pernah Luke lihat sebelumnya. Pria itu baru ingat bahwa wanita yang ia cintai saat ini sedang hamil dan ia memang sering mendengar bahwa wanita hamil memang sering bersikap aneh dan banyak permintaan.
"Kau ingin aku mengajakmu berkeliling dengan Helly sekarang?"
"Itu jika kau tak keberatan"
"Ini malam dan udara sangat dingin. Bagaimana jika besok saja? Aku janji akan membawamu berkeliling sepuasnya. Hm?"
Sebaiknya aku tidak membuat Luke curiga. Benar juga, malam hari membuatku cukup sulit mengenali medan. Aku tak tau dimana ini. Bagaimana caranya aku bisa mencari jalan keluar dan kembali ke Ausy dengan selamat. Mungkin besok memang lebih baik.
"Baiklah. Tapi kau janji kan?", suara dan tatapan mata Ayesha yang tak seperti biasanya seakan menghipnotis Luke dan membuatnya mengangguk.
"Aku janji. Sekarang masuklah ke kamarmu atau aku akan berubah pikiran"
"Baiklah. Terima kasih. Good night"
Ayesha pun dengan langkah lebar naik kembali dan mencari kamarnya. Sementara Luke nampak menahan gejolak hatinya.
Kau tau, Sayang, aku sungguh ingin menerkammu tadi dan melupakan diriku sendiri. Luke tersenyum senang. Tingkah manja Ayesha terus membayanginya dan menyisakan kebahagiaan untuknya. Bagaimana tidak. Selama ini yang ada hanyalah suara ketus dan sikap tak bersahabat yang Ayesha tunjukkan. Namun tadi, begitu wanita itu mengelus perutnya, tingkahnya menjadi sangat lain.
Pagi hari telah tiba. Ayesha sudah nampak rapi dengan pakaian casualnya yang tersedia di lemari. Celana panjang lebar yang nampak seperti rok dengan kaos lengan panjang sampai lutut. Sebuah jilbab segiempat dengan cadarnya juga melengkapi. Semua bercorak warna krem dengan sepatu kets warna senada terpasang cukup manis di kaki jenjangnya. Ayesha melirik penampilannya. Perfect. Ia tersenyum. Bross emas putih tersemat manis di jilbabnya begitu pula dengan gelang emas putih yang bersemayam dengan apik di pergelangan tangan kirinya.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya. Ayesha pun membuka pintu dan mendapati sang Bibi membawakan makanan dan minuman seperti biasanya. Dengan penuh semangat ia pun melahap makanannya dan sang Bibi yang menyaksikannya pun menjadi cukup heran. Karena selama ini ia mengetahui bahwa sang Nyonya selalu tak berselera dan nampak malas kecuali setelah sang Bibi mengingatkan calon bayinya yang membutuhkan.
"Terima kasih Bi"
"Apakah Nyonya tidak membutuhkan apapun lagi?"
"Tidak"
"Baiklah Nyonya, saya permisi dulu. Oh ya Nyonya, Tuan tadi berpesan agar setelah Nyonya selesai makan, turunlah ke teras samping. Tuan menunggu Nyonya di sana"
"Baiklah Bi. Terima kasih. Aku akan segera turun. Bibi boleh pergi lebih dulu. Aku akan ke kamar mandi sebentar"
"Ya Nyonya. Saya ijin keluar lebih dulu"
Ayesha mengangguk dan bergegas ke kamar mandi menunaikan hajatnya.
Tak lama ia pun keluar dan heran ketika mendapati sang Bibi masih berada di tempatnya.
"Ada apa Bi? Bibi masih di sini?"
"Nyonya. Bolehkah aku menyampaikan sesuatu?"
"Katakan saja Bi"
"Nyonya, Tuan Luke mungkin bukan orang yang baik menurut Nonya. Tapi selama aku mendampinginya bekerja untuknya, aku bisa melihat ketulusannya mencintai Nyonya. Baru kali ini dia jatuh cinta, Nyonya. Jika Nyonya tidak bisa mencintai Tuan. Mohon jangan permainkan perasaannya. Agar ketika ia tau cintanya tak berbalas, hatinya tak terlalu sakit. Maafkan saya Nyonya jika saya lancang mengatakan ini. Permisi"
Sang Bibi buru-buru melangkah keluar. Ayesha terpaku di tempatnya. Kata-kata sang Bibi benar adanya. Ia tak boleh bersikap manis pada Luke seolah ia membalas perasaan Luke padanya. Astaghfirullaah. Ayesha segera beristighafar dan kini melepaskan bross jilbab serta gelang yang dipakainya. Kedua perhiasan itu ia simpan ke dalam saku celananya. Ya Allah, mudahkanlah rencanaku hari ini. Lindungilah aku, doanya dalam hati. Kini wanita itu dengan mantap melangkah ke luar.
Ketika tiba di bawah ia tertegun melihat penampilan Luke yang nampak segar dengan pakaian casual seperti dirinya. Bercelana sport di bawah lutut. Kaos oblong tanpa kerah dengan kaca mata hitam dan topi berwarna biru. Senada dengan pakaiannya. Luke nampak gagah dan tampan. Ayesha segera beristighfar dan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Sekilas ia melirik keadaan di sekelilingnya. Masih seperti malam kemarin.
"Masuklah Sayang. Aku akan segera membawamu terbang"
"Terima kasih"
"Ayesha pun masuk terlebih dulu ke dalam Helly tepat di samping kemudi. Luke pun menyusulnya dan duduk di kursi pilot. Mereka pun perlahan terbang melintasi udara pagi pegunungan yang masih sangat sejuk dan menyegarkan siapa pun yang memandang dan menikmatinya.
Ayesha terus berdecak kagum menikmati pemandangan di bawah yang masih dapat dijangkau oleh pandangan matanya. Ia mulai mempelajari semuanya dengan teliti hingga ketika mendapati sebuah tempat yang cukup ramai di bawah sana ia pun berseru.
"Luke. Lihatlah. Bukankah itu sebuah pasar? Bisakah kita berhenti di sana?"
"Apa yang ingin kau cari Yesha?"
"Aku ingin kesemek. Di sana pasti ada buah kesemek. Ya. Kesemek", Ayesha nampak berbinar-binar membayangkan buah yang disukainya itu. Ini memang murni keinginannya.
"Aku akan menyuruh anak buahku membelikannya untukmu. Begitu kita kembali ku pastikan buah itu sudah tersedia di kamarmu"
"Ya Sudahlah. Aku akan menahannya"
"Baiklah. Kita akan turun"
"Kau serius?"
"Kau lihat aku bercanda?"
"Terima kasih"
Helly nampak menurun dan mencari landasan yang pas untuk mendarat. Setelah dirasa cukup aman, benda besar itu pun berhasil mendarat di sebuah tanah kosong tak jauh dari pasar. Beberapa orang di sekitar tempat itu pun nampak mendekat dan menatap heran.
Ayesha dan Luke pun turun dan kini mulai menyusuri hiruk pikuk pasar yang nampak cukup semrawut tak rapi. Ayesha sesekali harus menghentikan langkahnya dan mengalah memberi jalan orang lain yang berjalan tanpa aturan. Wajah Luke nampak memerah menahan kesal karena melihat kelakuan orang-orang yang sungguh tidak tau aturan menurutnya. Begitu melihat tempat jual buah, Ayesha pun segera menunjukkannya pada Luke. Luke pun paham dan segera membelikan kesemek yang diminta Ayesha.
"Satu kilo saja Luke. Aku tak butuh banyak"
"Buah ini tahan lama. Belilah yang banyak agar bayimu puas memakannya"
"Aku dan bayiku tak serakus itu. Tapi boleh juga membeli banyak untuk oleh-oleh Bibi dan para penjaga villa", Ayesha menjawab dengan ketus.
"Baiklah. Satu kilo saja", Luke menarik nafas dan bergegas membayar belanjaannya.
"Kau yakin hanya mau membeli ini saja Yesha?"
Ayesha mengangguk.
"Ayo ke sana. Aku ingin segera memakannya di bawah pohon itu"
Ayesha setengah berlari membawa buahnya ke sebuah pohon rindang tak jauh dari pasar. Luke nampak terengah menyusulnya. Ia bukannya lelah tapi merasa mual karena seumur hidupnya baru ini masuk ke pasar tradisional yang jauh dari kesan modern.
Ayesha segera mengambil kesemek nya dan kini nampak mengupas dengan pisau cutter yang sempat dibelinya tadi. Ia pun menikmati buah yang berwarna kuning itu dengan sangat antusias. Luke yang melihatnya senang seketika melupakan kekesalannya barusan.
"Apa itu enak sekali?"
"Ya"
"Tak maukah kau membaginya untukku sedikit saja?"
"Kau bisa ambil sendiri jika mau"
"Tapi aku ingin makan dari buah yang sudah kau kupas itu"
Ayesha sebenarnya ingin sekali membaginya namun ia teringat dengan kata-kata sang Bibi.
"Tidak. Aku tak mau berbagi. Kupaslah sendiri. Ini pisaunya"
"Sungguh pelit sekali"
"Biar saja"
Luke yang sudah menahan saliva nya pun mau tak mau mengambil sebuah kesemek dari dalam plastik dan kini sibuk mengupasnya. Tanpa ia sadari tiba-tiba sebuah pukulan kilat sudah mendarat di tengkuk dan punggungnya. Tubuhnya terasa kaku tak bisa digerakkan. Namun ia tidak pingsan. Matanya seketika melotot tak percaya atas apa yang tengah terjadi padanya. Ayesha menatapnya dengan mata sayu.
"Maafkan aku Luke. Aku terpaksa melakukan ini. Terima kasih atas cintamu padaku. Namun engkau harus tau bahwa aku tak mungkin bisa membalasnya. Aku doakan engkau segera menemukan wanita yang baik yang cocok untukmu. Percayalah. Engkau pasti akan mendapatkannya. Yakinlah pada Tuhan. Oh ya ku pinjam Helly mu sebentar. Kau pasti tau arah dan tujuanku bukan? Aku hanya menotok jalan darahmu. Mungkin setengah jam lagi engkau akan segera pulih. Sekali lagi terima kasih atas semuanya"
Ayesha pun bergegas meninggalkan Luke yang menatapnya dengan nanar. Lelaki itu lupa dengan siapa yang bersamanya selama ini. Ia tak tau bahwa Ayesha bisa membawa Helly juga. Sungguh wanita super, pikirnya penuh rasa kagum. Tak lama Ayesha meninggalkannya dering ponsel di saku celana Luke berbunyi. Shit, aku bahkan tak bisa bergerak sama sekali untuk menjawab panggilan ini. Ini pasti dari anak buahku, batin Luke kesal.
Sementara itu Ayesha yang kini sudah keluar dari pasar nampak berjalan cepat menuju Helly. Ia sempat bertanya pada warga di pasar tadi dimana dia saat ini dan kemana arah menuju kota. Meski agak sulit berkomunikasi dengan warga karena mereka tidak mengerti bahasa Inggris, namun akhirnya Ayesha bisa memahami mereka. Wanita itu pun kini naik ke Helly dan dengan lihai mulai menerbangkan benda berbaling-baling tersebut. Ia melirik ke arah sentra bahan bakar dan cukup puas ketika melihat angkanya.
Setelah setengah jam berlalu Ayesha yang masih berputar di udara menuju pusat kota merasakan sesuatu terjadi pada mesin Helly nya. Ia mengabaikan alat komunikasi yang sejak tadi bersuara karena khawatir anak buah Luke akan menyadari semuanya. Namun ia kini mulai menyadari apa yang terjadi. Ia begitu terkejut begitu menoleh ke belakang dan melihat apa yang terjadi. Di bagian mesin Helly yang nampak mengeluarkan asap tebal. Dengan serta merta Ayesha melirik perlengkapan terjun payung di atas kepalanya. Tanpa pikir panjang lagi, ia pasrahkan kemudi dan fokus meraih benda di atas kepalanya tersebut dan memakainya. Setelah dirasa cukup aman, wanita super itu pun melompat turun dan sebelum disambar bumi hijau dibawahnya, payung pun sempurna mengembang menyelamatkannya dari hempasan tak terperi jika sedikit saja ia terlambat. Mengingat badan Helly di atasnya, Ayesha pun segera mengarahkan payung udaranya ke arah samping sejauh-jauhnya. Dan benar saja perkiraannya, masih bergantung di udara, Ayesha terkesiap ketika mendapati benda-benda kecil jatuh dari atas melewati sampingnya begitu saja. Serpihan-serpihan Helly yang terbakar di atas terjun bebas ke bumi. Ayesha pun menahan nafasnya menyaksikan semuanya. Kini ia sudah mendarat dengan selamat di sebuah tanah lapang yang cukup luas. Berkali-kali ia melakukan sujud syukur dan memuji Allah atas segala pertolongan-Nya yang luar biasa untuknya. Sedangkan Luke yang sudah terbebas dari totokan Ayesha kini nampak berlari dengan wajah pucat menahan amarah.
"Mengapa baru sekarang kau katakan, bodoh? Segera temukan posisi Helly ku dan susul aku sekarang cepat"
Ia baru saja berhasil menjawab panggilan anak buahnya dan kini jantungnya terpompa cepat. Ia hanya memikirkan keselamatan Ayesha saat ini.
"Ayesha. Oh Tidak. Ayesha....", lirih Luke terus memanggil nama Ayesha. Ia berkali-kali menggelengkan kepalanya menolak kemungkinan terburuk yang akan terjadi pada wanita yang dicintainya tersebut.