
Pagi yang Cerah. Secerah hati Mark yang berhasil melamar Grace tadi malam meski yang dilamar sedang dalam keadaan linglung karena berpikir sedang bermimpi. Wajah lelaki berusia 30 tahun itu nampak sangat segar dan bercahaya. Bagaimana tidak, dalam waktu yang sangat singkat, semalam ia berhasil melamar sang dosen cantik dan pagi tadi setelah waktu subuh Ia juga berhasil menikahinya dalam waktu yang sangat singkat. Prosesi sakral yang cukup mendadak sekaligus menegangkan yang berlangsung di ruangan rawat inap rumah sakit itu diawali dengan pengucapan Syahadah oleh Mark yang dibimbing langsung oleh kakek Vladimir dan disaksikan oleh Aisyah, Maxwell dan Ahmed. Setelah pengucapan syahadat, pria berkebangsaan Rusia itu pun melanjutkan prosesi sakral berikutnya yaitu Ijab Kabul dengan menjabat tangan seorang wali hakim yang mendadak didatangkan dari kantor agama terdekat . Disaksikan oleh para saksi yang sama dalam prosesi masuknya sang lelaki tampan itu ke dalam agama barunya, Mark pun kini resmi menyandang status sebagai suami Julia Grace.
Saat ini Mark sedang berada di dalam area parkir rumah sakit, bersiap untuk menanti sang Boss turun dari ruang rawat inap. Pria yang sedang berdiri di dekat pintu mobil itu sesekali melirik ke dalam mobil dimana sang pujaan hati sedang duduk menunggu bersama bibi Christine. Mark sebelumnya mengurus masalah kepindahan Grace dari ruang rawat inap agar bisa meneruskan pengobatan di klinik mansion. Dengan bersusah payah ia membawa istrinya yang patah kakinya tersebut dengan menggendongnya dari lantai tiga menggunakan lift hingga parkiran saat ini. Grace sungguh merasa terharu Melihat kesungguhan sang pria yang baru saja menyandung status sebagai suaminya tersebut sejak beberapa jam yang lalu. Sambil terus menatap sang suami dari dalam dengan hati berbunga-bunga , sudut bibir wanita itu pun menyunggingkan senyuman. Sang kakak yang duduk di sampingnya pun turut tersenyum menyaksikan kebahagiaan sang adik. Ia turut bahagia melihat sang adik yang disayangi sepenuh hati akhirnya memiliki pendamping yang nampak tulus mencintainya. Meski baru mengenal Mark tapi Bibi Christine bisa melihat ketulusan di mata dan sikap pria tersebut. Di lubuk hatinya yang paling dalam, perempuan tua yang berhati lembut itu turut mendoakan kebahagiaan adiknya bersama sang bodyguard bosnya tersebut. Mengingat segala bentuk percobaan pembunuhan yang sering dialami oleh Grace, Ia berharap Mark yang sudah terbukti kemampuannya itu mampu melindungi sang adik.
"Grace, kau bahagia?", ujar sang kakak di sisi sang adik. Grace yang sejak tadi memandangi punggung sang suami seketika menoleh ke perempuan yang selama ini setia menolong dan menjadi teman curahan hatinya.
"Menurut kakak?", Grace tersenyum malu-malu. Ia mengalihkan wajahnya ke depan, tidak berani menatap sang kakak beda ayah satu ibu itu.
"Aku melihatmu seperti orang yang dimabuk asmara", Bibi Christine tersenyum menggoda.
"Ah kakak....apakah itu sungguh jelas terlihat?", Grace semakin malu.
"Tentu saja gadis lugu...pancaran mata dan sikapmu yang selalu ingin dekat dengan pria itu terlalu kentara untuk dilihat semua orang...", lagi-lagi sang kakak menggoda.
"Ah benarkah?", Grace merasa dia selama ini menyembunyikan rasa cintanya pada sang pengawal. Meski ia terlihat selalu gugup dan mudah merona jika berada di dekat pria itu tetapi ia selalu berusaha untuk menutupinya. Bagaimana mungkin kakaknya mengatakan bahwa seluruh gerak gerak-geriknya terlalu kentara untuk dilihat oleh orang lain?
"Ah kau memang betul-betul gadis yang lugu.... jangan malu gadis cantik...setiap pasangan yang baru menikah tentu akan nampak seperti orang yang baru jatuh cinta....kasmaran... seperti kalian berdua, hm?", Bibi Christine terus menggoda.
"Benarkah...? Ah aku sangat malu Kak...", Grace menutupi mukanya sendiri. Mark yang sesekali mencuri pandang ke dalam merasa penasaran ketika melihat istrinya menutup wajahnya. Pria itu nampak mengernyitkan dahinya. Namun sebelum semakin jauh rasa penasaran di hatinya, tiba-tiba dia sudah melihat sang istri membuka kedua tangannya dari wajahnya dan kini beralih menoleh ke arahnya. Ke dua pasang mata itu pun saling bertemu dan seketika keduanya tersenyum malu dan saling mengalihkan pandangan mereka kembali ke posisi semula. Mark membelakangi pintu mobil dan fokus menyongsong kedatangan sang Boss beserta kerabatnya. Sementara Grace berpaling ke arah sang kakak yang kembali menggoda nya dengan senyum dan tawanya. Dengan gemas Bibi Christine pun menangkap wajah sang adik dengan kedua tangannya dan berucap,
"Lihatlah kalian berdua... saling memandang dengan malu-malu... dan kini pura-pura tidak ingin saling melihat....ck ck ck....sungguh menggemaskan sekali...", tawa Bibi Christine pecah meski pelan di dalam mobil. Grace pun tak kuasa menahan rasa malunya. Wajahnya makin memerah.
"Kakak...sudahlah...sudahlah...jangan terus menggodaku...kau tau aku selama ini memang tidak pernah dekat dengan seorang pria bukan? Aku betul-betul malu...bagaimana aku harus bersikap pada Tuan Mark nanti?", wajah Grace cukup memprihatinkan. Memelas dan bingung.
"Ya Tuhan...", sang kakak menggelengkan kepalanya. Sejenak ia menarik nafasnya dan dengan perlahan memberikan petuah pada sang adik.
"Adikku yang cantik..engkau cukup patuh kepada semua perkataan suamimu... apapun itu....apapun yang dia katakan cukup kamu patuh... kamu laksanakan saja...mengerti? maka engkau kelak pasti akan bahagia bersama suamimu... paham?", Bibi Christine tersenyum. Grace hanya mengangguk.
"Terimakasih.... terimakasih kakak.... karena engkau selalu ada bersamaku... aku sungguh bahagia memiliki kakak sepertimu.... tolong jangan pernah tinggalkan aku... aku tidak punya siapapun lagi di dunia ini....kecuali dirimu...tetaplah bersamaku...", dengan manja Grace memeluk kedua bahu sang kakak dengan kedua tangannya. Setetes air mata tak terasa jatuh dari pipinya. Air mata haru dan bahagia mengenang kebaikan sang kakak selama ini.
"Bicara apa engkau ini hah? Memangnya aku akan pergi kemana...? Bukankah saat ini aku selalu bersamamu hm? Walau engkau sekarang sudah bersuami... kau pikir aku akan meninggalkanmu? tidak... tidak..aku akan selalu bersamamu adikku yang cantik... dan bukankah engkau juga sekarang sudah memiliki saudara yang lain? Ingat...engkau baru saja diumumkan sebagai bagian dari Powell Group! Camkan itu! Yang kau punya bukan hanya diriku... tetapi engkau juga punya Tuan Besar...Tuan Maxwell dan Nyonya Ayesha yang cukup menyayangimu.... mengerti?"
"Kakak... aku sangat menyayangimu... jangan pernah tinggalkan aku kak ....", entah mengapa Grace merasa takut kehilangan sang kakak. Sikapnya menjadi manja dan membuat sang kakak semakin gemas.
"Sudah sudah... jangan menangis... seperti anak kecil saja...kau harusnya tersenyum bahagia...dan engkau tahu? Aku juga sekarang sangat bahagia... aku sangat bahagia...karena ternyata sekarang bisa melihatmu berbahagia mendapatkan seorang suami yang nampak tulus menyayangimu...aku berdoa kepada Tuhan... semoga kalian berdua akan menjadi pasangan suami istri yang terus akan saling mencintai sampai tua... dan memiliki banyak anak...", senyum Bibi Christine.
"Ah kakak...".
Sang kakak dan adik pun saling tersenyum dengan penuh kasih sayang. Sementara di luar mobil, tak lama yang ditunggu pun hadir. Terlihat rombongan Sir Vladimir bersama cucu dan menantunya mendekati mobil yang sudah terparkir dengan sejumlah pengawalan yang ketat. Selanjutnya dua mobil utama dengan tiga mobil pengawal itu pun melaju meninggalkan Rumah Sakit menuju mansion, tanpa ada satupun yang menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres terdapat di kedua mobil utama.
Setelah 10 menit melakukan perjalanan, tiba-tiba Grace meminta kepada suaminya untuk berhenti. Ia merasa ingin buang air besar dan tak mampu menahannya. Karena khawatir mengganggu perjalanan, Mark pun menelepon Maxwell dan mengutarakan maksudnya untuk belakangan sampai ke mansion karena harus menemani sang istri. Ia meminta izin untuk berhenti dan membawa istrinya ke tempat terdekat yang ada toiletnya. Ketika mendapat panggilan dari Mark, Ayesha yang duduk tepat di samping Maxwell juga meminta izin kepada sang suami untuk berhenti. Ia juga ingin buang air kecil sekaligus membeli roti karena merasa lapar. Seperti yang diketahui, selama masa kehamilan muda ini, Ayesha merasa sering cepat lapar dan Ia lupa untuk membawa bekal makanan dari kantin rumah sakit.
Akhirnya, rombongan pun memutuskan untuk berhenti di sebuah supermarket di pinggir jalan raya. Mark lebih dahulu sampai dan kini menggendong Grace menuju supermarket. Sementara di dalam mobil Maxwell, sebelum turun dari mobil, Ayesha bertanya kepada kakek dan kakaknya.
"Kakek, apakah ada yang kakek inginkan?"
"Tidak ada sayang....segeralah tunaikan hajatmu", jawab Sir Vladimir dengan senyuman.
"Baiklah kek. Kak Ahmed.... engkau butuh sesuatu?"
"Tidak sayang... segeralah beli kebutuhanmu. Jangan engkau biarkan keponakanku di sana kelaparan, hm?"
"Tentu saja. Baiklah. Aku ke supermarket dulu ya kak, kek..."
"Wah kompak ya...tidak seperti biasanya...menyuruhku pergi...", Ayesha mengerucutkan mulutnya di balik cadarnya.
"Jangan berpikir aneh-aneh adikku yang sholihah...", Ahmed dengan gemas mencubit hidung Ayesha.
"Kamu ini semenjak hamil sangat sensitif perasaannya...ayolah cepat pergi...tunaikan hajatmu dulu..."
Ayesha pun tersenyum dan kemudian menuju supermarket bersama Maxwell.
Supermarket yang menyediakan layanan toilet tersebut pun mempersilakan kedua pasangan suami istri itu untuk masuk. Sementara itu para pengawal berjaga ketat di luar pintu toko dan beberapa orang turut masuk ke dalam untuk berjaga.
Dengan hati-hati, Mark menggendong sang istri dan membantu keperluannya di kamar mandi di dalam supermarket. Awalnya Grace merasa sangat malu tetapi sang suami meyakinkan bahwa itu sudah menjadi kewajibannya. Pasangan muda yang baru saja menikah beberapa saat yang lalu itu pun akhirnya menyelesaikan hajat mereka dan sedang bersiap di depan cermin toilet. Sementara Ayesha yang sudah lebih dulu selesai saat ini terlihat sedang sibuk memilih minuman dan makanan yang halal di supermarket dan ditemani oleh Maxwell. Namun belum lagi selesai berbelanja, Maxwell mendapatkan telepon.
"Sayang, bisakah aku meninggalkanmu sebentar?"
"Ada apa Hubby?", tanya Ayesha.
"Asisten Paman menelpon. Aku harus kembali ke mobil untuk mengambil sesuatu", jelas Maxwell.
"Tapi ini tinggal sedikit lagi. Tunggu ya Hubby"
"Aku akan segera kembali Sayang. Jangan terburu-buru memilih. Kau bisa sekaligus memilih makanan yang disukai tamu kita di mansion"
"Ah tidak, aku tak ingin sendiri di sini. Tunggu ya Sayang, hanya sebentar saja...", entah mengapa Ayesha terkesan sangat manja. Rasa yang sangat berat melepaskan sang suami walau sedetik entah mengapa hadir begitu saja dalam hatinya. Ia sendiri heran. Tak biasanya ia merasakan hal seperti ini dan ingin bersikap seperti ini.
"Sayang...bukankah ada Mark dan Grace di sana? Para pengawal juga menemanimu di sini.
"Tapi Hubby...aku...", menyadari kemanjaan yang tiba-tiba hadir tanpa alasan, akhirnya Ayesha pun menyerah.
"Baiklah....segeralah kembali Hubby..."
"Tentu saja Sayang...", Maxwell pun tersenyum. Seperti ada magnet, tanpa malu-malu ia mendekati Ayesha dan mencium kedua matanya dengan gemas. Pria manly yang tampan itu kemudian meninggalkan Ayesha dengan bergegas. Diikuti pandangan berat mata jeli Ayesha, wanita bercadar itu melihat sang suami yang nyaris mencapai pintu mobilnya. Ketika matanya berkedip kembali memilih makanan di rak, mendadak terdengar suara dentuman dua kali berturut-turut yang sangat keras menggelegar.
"DUARRRRRR!!!!"
"DUARRRRRR!!!!"
Dua mobil utama meledak. Para pengawal melotot tak percaya menyaksikan kejadian di depan mata mereka. Sebagian mereka yang berada didekat mobil pun terpental jatuh dan terkapar di ruas jalan, sedangkan sesosok tubuh terpental jauh dan tanpa disadari oleh siapa pun di antara mereka, tubuh tersebut telah ditangkap dan dibawa pergi jauh entah kemana oleh seseorang.
Ayesha, Mark dan Grace yang baru saja keluar dari supermarket sangat shock dan kini hanya bisa berdiri kaku menyaksikan di depan mata mereka apa yang terjadi. Ayesha sontak berteriak memanggil orang-orang yang tercinta yang diketahuinya berada di dalam mobil yang meledak. Wanita muslimah bercadar itupun menghambur mendekati kepingan mobil di mana sang suami, kakek dan kakaknya berada. Tubuhnya menegang. Matanya tak berkedip menyaksikan serpihan mobil yang berserakan di depannya. Bau daging mentah yang terbakar menyengat hidung sensitifnya. Matanya seketika berkunang-kunang. Wanita yang terkenal tegar yang biasanya mempunyai jiwa yang kuat itu saat ini luruh ke tanah. Air mata mengalir deras begitu saja. Mulutnya menganga tak percaya. Selintas imannya berbicara. Wanita mulia yang biasa membasahi hati dan lisannya dengan zikir itu pun perlahan sadar dan kini menggumamkan asma Allah dengan suara bergetar.
"Allah...ya Allah... ya Allah..."
"Hubby....kakek...kak Ahmed...Bibi...."
"Allah....Allah...Allah...Allah....Allah...."
Air mata Ayesha bercucuran tak henti...dadanya mendadak sesak...matanya semakin berkunang-kunang...akhirnya tubuh lemah itu pun semakin luruh ke bumi dengan lidah yang terus basah menyebut nama Rabb-nya, yang padaNya saja ia bersandar dan menyerahkan segalanya. Sekelebatan masa-masa indah bersama orang-orang terkasih di dalam kepingan-kepingan di depannya berlarian di kepalanya. Membawa sebagian kekuatan yang selama ini bersemayam dalam jiwanya. Ternyata, ia tak sekuat yang disangkakan. Ayesha cuma manusia biasa. Kematian mengerikan di depan matanya tak sanggup dihadapi dengan ketegaran. Air mata dan dadanya rapuh juga. Lemah. Sangat lemah. Ya, dia manusia biasa. Kehilangan keseimbangan, wanita muslimah yang hamil muda itu pun ambruk ke bumi. Beberapa pengawal yang masih bertahan pun segera mengangkat tubuhnya karena teriakan Mark yang kemudian menyadarkan.
Waktu begitu cepat berputar. Mendadak supermarket yang semula sepi pun menjadi ramai, dikerumuni oleh orang-orang yang penasaran dengan peristiwa yang terjadi. Namun dengan cepat Mark yang masih sadar pun memegang kendali situasi. Setelah meletakkan sang istri di mobil pengawal, ia pun memerintahkan sisa anak buahnya untuk mengevakuasi semua pengawal yang terluka dan membawa mereka kembali ke rumah sakit. Grace yang juga pingsan menyadari keberadaan sang kakak yang berada di dalam mobil yang meledak pun kembali dibawa ke rumah sakit dan dirawat di sana bersama sang nyonya yang lebih dulu tak sadarkan diri. Sementara itu Mark mengurus semua kekacauan yang terjadi. Dengan cepat ia meminta bantuan Patch dan pasukan Maxwell yang ada di mansion dan perusahaan dan berkoordinasi dengan aparat kota yang bertanggung jawab terhadap keamanan kota. Identifikasi para korban pun cepat dilakukan pada hari itu juga untuk memastikankan mayat yang hancur terbakar akibat ledakan mobil. Ingat dengan sang paman Abraham Alexander, pria yang kini sudah resmi menjadi suami Julia Grace itu pun segera menghubunginya. Dia pun menceritakan semua yang terjadi kepada sang paman. Mendengar berita yang sangat mengejutkan itu Abraham Alexander, The Desert Lion itu pun langsung terbang dari Amerika menuju Sydney bersama dengan segenap perasaan yang tak mampu dilukiskan dengan kata-kata.