A Mafia'S Love For A Muslimah

A Mafia'S Love For A Muslimah
Episode 19. SAH



Malam ini rumah kediaman Sir Vladimir family nampak berbeda dari biasanya. Ada beberapa mobil yang nampak berjejer rapi di halaman rumah yang luas itu. Di teras samping yang cukup luas terlihat beberapa meja yg cukup panjang yang sudah terisi dengan aneka makanan dan minuman yang sudah tertata rapi. Beberapa set meja bundar dengan kursinya sudah siap untuk diduduki para tamu yang sengaja disuguhkan untuk menjamu mereka yang akan turut menjadi saksi acara paling sakral dalam hidup Ayesha dan Maxwell yang dalam hitungan menit lagi akan segera dilaksanakan. Meskipun sangat dadakan yang dipersiapkan hanya dalam waktu hitungan jam saja, namun keluarga Ayesha tetap berusaha semaksimal mungkin untuk menyambut moment paling bersejarah ini sebisa mereka. Dengan koordinasi anggota keluarga yang solid dan cepat akhirnya acara sederhana namun special ini pun bisa terwujud.


Di ruang tengah nampak kurang lebih 15 orang sudah berkumpul duduk bersama di hamparan permadani tebal dan lembut. Mereka adalah keluarga dekat Sir Vladimir dan sahabat terdekat Ayesha juga Ahmed serta para pimpinan cabang perusahaan dan pabrik serta rumah sakit milik Vladimir family. Para tamu ini sengaja diundang oleh Sir Vladimir secara singkat via telpon untuk menjadi saksi pernikahan paling fenomemal dari cucu perempuannya yang selama ini diam-diam menjadi primadona para pria muslim dari kerabat maupun kenalan Vladimir family. Walau para pria muslim tersebut mengagumi Ayesha secara diam-diam karena dulunya wajah Ayesha sebelum menggunakan cadar sempat dilihat oleh mereka, namun Sir Vladimir bukanlah orang bodoh yang tidak menyadari bahwa acap kali kebaikan orang-orang yang senang membangun bisnis dengannya punya niat ingin mempersunting cucunya ini untuk menjadi menantu. Karena pesona Ayesha memang tak terbantahkan di kalangan mereka yang sudah mengetahui kepiawaiannya. Selain super cantik melebihi paras para top model, semua orang terdekat dan pebisnis yang berhubungan deangan Vladimir family juga tahu bahwa perempuan itu tidak hanya cantik di luar namun juga mempunyai inner beauty yang tak kalah menariknya. Seorang wanita yang nyaris sempurna di mata para lelaki. Seorang wanita yang sangat terjaga auratnya, jenius dan jago dalam urusan bisnis tanpa melanggar etika dan selalu menjaga hubungan baik dengan bawahan dan rekan bisnisnya. Hal lain yang tidak banyak orang mengetahui kecuali keluarga inti Ayesha dan yang tinggal di rumahnya adalah bahwa wanita itu juga jago bela diri, menembak dan berkuda.


Maxwell dengan setelan tuxedo berwarna putih dan celana putih kini duduk tepat di hadapan Sir Vladimir yang akan bertindak menjadi wali Ayesha. Tampang lelaki yang kini jauh berbeda dari kehidupannya sebelumnya ini nampak tegang dan gugup. Di dekatnya seorang pegawai dari Agency Pernikahan terkait terlihat serius dengan beberapa lembar kertas dokumen. Ahmed dan Uncle John juga terlihat duduk di sampingnya untuk menjadi saksi. Seorang fotografer terus bersiap membidikkan kameranya untuk menangkap setiap moment berharga dalam acara bersejarah ini.


Sementara itu Ayesha dengan balutan gaun putih menjuntai ke lantai dengan jilbab putih bermanik mutiara dan cadar putih yang setia menutupi wajah cantiknya itu sedang duduk tidak jauh dari posisi calon suaminya. Ia ditemani beberapa wanita yang selama ini merupakan sahabat dan keluarga terbaiknya. Seorang wanita cantik tanpa kerudung di kepalanya dengan senyum indah terus menempel disampingnya dan menggenggam tangannya seolah memberi kekuatan. Ia sangat paham, meskipun gadis kuat disisinya nampak tenang dari luar tapi sesungguhnya debaran jantungnya tidak bisa disembunyikan. Ayesha sangat gugup, tentu dia sangat takut dengan moment yang paling bersejarah dalam hidupnya kini. Oh Ayesha, semoga pernikahan kalian akan bahagia sampai ke syurga kelak, batinnya tulus. Dia adalah doker Ann, yang tempo hari sempat mengobati Maxwell ketika pertama kali dibawa Ayesha ke rumahnya.


Setelah acara dibuka dengan singkat, tibalah giliran Maxwell untuk menyerahkan maharnya dengan memperdengarkan hafalan QS Al Fatihah dan QS Al Ikhlash berikut terjemahannya dalam bahasa Inggris. Suasana mendadak terasa tegang dengan sendirinya. Semua orang yang sudah mengenal Maxwell di ruangan tersebut seakan turut menahan nafas menantikan detik-detik paling mendebarkan yang sebentar lagi akan mereka saksikan, sekaligus akan menjadi penentu diterimanya Maxwell sebagai suami Ayesha, karena mahar ini oleh Ayesha menjadi salah satu syarat baginya untuk terjadinya akad nikah malam ini.


Dengan penuh perasaan bercampur atmosfer tertantang karena baru menghafalnya dua jam saja, pria tampan itu pun memulai bacaannya dengan suara yang jernih. Awalnya terlihat gugup namun kemudian Maxwell berhasil mengatasi kegugupannya dengan baik dan lebih berkonsentrasi lagi, dan akhirnya …


“Bagaimana para saksi?” Tanya pegawai pencatat pernikahan.


“Alhamdulillaah… sudah bagus,”, jawab Uncle John. Ahmed dan Sir Vladimir juga menjawab yang sama.


“Bagaimana Ayesha?”, Tanya sang pegawai lagi.


“Alhamdulillaah, saya menerimanya”


“Alhamdulillaah”, serentak yang hadir pun mengucapkan kata yang sama dan seperti dikomando semuanya mengusap wajahnya seolah-olah turut merasakan ketegangan yang dialami oleh pria asing yang baru menjadi muallaf tadi pagi itu di hadapan mereka, yang sama sekali tak mereka kenal sampai saat ini. Mereka tamu yang baru tau tentang pernikahan Ayesha ini masih sangat penasaran dan bertanya-tanya dalam hati siapa sebenarnya pria super tampan yang nampak elegan dengan balutan pakaian mahal dan style kaum sulthan.


“Kalau begitu kita lanjutkan dengan acara puncak yang paling ditunggu malam ini yaitu pembacaan akad nikah oleh sang mempelai Sir Maxwell Powell dengan Sang Wali dari pihak mempelai wanita yaitu Sir Ahmed Vladimir. Kepada keduanya dipersilakan.”


Maxwell pun bergerak duduk bersimpuh menghadap Sir Ahmed Vladimir dan kini posisi mereka saling berhadapan. Sebelum acara akad berlangsung, mendadak Maxwell mengeluarkan sebuah kotak kecil yang sedari tadi di simpannya di saku celananya dan menyerahkan ke Sir Ahmed Vladimir dan memintanya untuk membukanya sebagai tambahan mahar yang diberikan Maxwell untuk Ayesha. Sir Ahmed Vladimir terkesima ketika melihat isinya. Sebuah kalung bertahta berlian berbentuk hati berwarna hijau tua dengan manik-manik kecil berwarna putih disekelilingnya yang nampak bersinar karena efek pencahayaan lampu yang menerpanya dan juga sebuah cincin emas putih yang bermata safir warna hijau. Amat cantik sekali dan pastilah mahal. Tertulis di sana dalam surat toko di alasnya bahwa kedua benda berharga itu seberat 100 gram. Sang kakek berdecak kagum dan kemudian memandang Maxwell, yang dipandang hanya mengangguk pelan. Tak lama Sir Ahmed Vladimir menarik nafasnya dan mulai membimbing calon menantu cucunya itu untuk proses akad nikah. Sementara itu, di tempat lain Ayesha tak sedikitpun mengalihkan pandangannya dari mereka berdua. Jantungnya berdebar tak karuan. Hanya zikir yang terus menemani hatinya yang tak putus ia senandungkan dalam kalbu.


“Tuan Maxwell Powell, aku nikahkan engkau dengan cucu perempuanku Ayesha Vladimir binti Putin Vladimir dengan mahar hafalan QS Al Fatihah dan QS Al Ikhlash dan emas berlian seberat 100 gram dibayar tunai”


“Aku terima nikahnya Maxwell Powell dengan Ayesha Vladimir binti Putin Vladimir dengan mahar hafalan QS Al Fatihah dan QS Al Ikhlash dan emas berlian seberat 100 gram dibayar tunai”


“Sah?”


“Sah”


Suasana paling sakral dan mendebarkan itu pun berakhir dan kemudian ditutup dengan doa untuk kebahagiaan mempelai yang diaminkan oleh para ahli bait dan semua tamu yang hadir. Maxwell dan Ayesha nampak berbinar-binar dan sangat lega. rasanya mereka baru saja melepaskan sebuah beban amat berat yang ada pada punggung mereka dan kini hati mereka terasa ringan dan gembira.


Sang pegawai pencatat pernikahan pun segera meminta kedua mempelai untuk membubuhkan tanda tangan di dokumen pernikahan yang sudah disiapkan dan kemudian membimbing mereka berdua untuk saling berjabat tangan. Awalnya terlihat sangat canggung dan kaku bagi Ayesha untuk mau menyalami suaminya namun kemudian Sir Vladimir mengingatkannya bahwa sekarang mereka sudah sah sebagai suami istri. Ayesha pun kini mengulurkan tangannya menarik tangan suaminya dan mencium punggung tangan kokoh tersebut ke hidung dan keningnya.


Maxwell pun menyambutnya dengan hati berdebar. Baru kali ini ia menyentuh tangan seorang wanita selain nenek dan Bibi Catrine pengasuhnya. Tangan yang disentuhnya ini sangat lembut. Hatinya terus berdesir. Refleks setelah punggung tangannya dicium oleh sang istri, ia menarik kepala wanita bercadar itu dan mencium lembut ubun-ubunnya. Ayesha terkesiap dengan apa yang dilakukan pria yang baru saja menjadi suaminya itu. Tubuhnya bergetar. Semua yang melihat moment itu terkesima dan para pria tamu pun sontak hilang harapan. Mereka harus segera mengubur dalam-dalam semua hasrat untuk mempersunting gadis istimewa itu karena pernikahan ini begitu nyata di hadapan mereka. Dan pastinya lelaki muallaf yang berhasil memperistrinya bukanlah pria sembarangan sehingga Sir Vladimir berkenan menjadikannya menantu dalam waktu yang sangat singkat ini.


Setelah semua prosesi paling sakral selesai, tibalah masa perkenalan Maxwell oleh Sir Vladimir terhadap semua undangan yang hadir yang belum mengetahui siapa keluarga baru mereka saat ini. Sebelum kakek tua yang bijaksana itu memulai acara perkenalan ini, dia terlebih dahulu menyampaikan kepada Maxwell, memperkenalkan semua tamu yang hadir berikut posisi mereka semua sebagai anggota Vladimir family, baik sebagai kerabat maupun pimpinan bagian perusahaan dan pabrik serta rumah sakit yang dimiliki.


Maxwell mengangguk-angguk sambil tersenyum dan ketika dipersilakan menyalami semua tamu pria ia pun segera bangkit mendatangi dan menyalami semua tamu tersebut satu-satu dan spontan disambut dengan pelukan yang hangat oleh mereka semuanya.


“Bapak dan Ibu para undangan kami yang sengaja kami undang dalam acara sederhana ini, tentulah anda semua sudah menanti-nanti hendak berkenalan dengan mempelai pria hari ini yang sudah sah menjadi anggota baru untuk keluarga besar kita Vladimir family. Untuk itu, tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta dan tentulah perkenalan wajib kita lakukan saat ini agar hati-hati kita bisa terus saling mencintai dalam lingkup keluarga besar Vladimir family ini. Akan terus menyatu dan saling bahu membahu untuk tetap bersama dalam suka dan duka seperti yang selama ini selalu berusaha kita jaga. Untuk ini lebih baik saya langsung serahkan acara berikutnya pada anak kami Maxwell Powell untuk segera memperkenalkan dirinya. Silakan nak Maxwell.”


“Terimakasih Kek.”


Dengan perlahan, Maxwell kemudian mengucapkan salam,


“Assalamualaikum…”


Maxwell mengawali perkenalannya dengan salam yang terbata karena dia baru belajar ketika mendengar pembawa acara sebelumnya menyapa para hadirin. Semuanya menjawab salamnya dengan hati yang tak terlukiskan, terutama para ahli bait, khususnya Ayesha.


“Perkenalkan nama saya Maxwell Powell. Saya berasal dari Sidney, Australia, sebuah benua kecil di ujung dunia yang mungkin anda semua sudah pernah mendengarnya atau bahkan sudah pernah ke sana. Saya sebenarnya tidak ingin ada banyak orang yang tahu siapa saya dan bagaimana seluk beluk saya, tapi karena ini adalah keluarga baru saya yang dengan keluarga baru inilah bisa membawa saya pada sebuah kehidupan baru yang sebelumnya tidak sedikitpun saya bayangkan akan bisa sebahagia saat ini, maka sebuah kehormatan besar bagi saya untuk memperkenalkan diri saya secara gamblang karena saya ingin masuk dalam keluarga penuh cinta ini dan kelak saya berharap kita semua bisa benar-benar menjadi sebuah keluarga yang bisa saling menopang dan bersaudara layaknya saudara. Dan sesungguhnya persaudaraan inilah hal yang tak pernah saya dapatkan selama hidup saya sebelum ini sehingga saya benar-benar ingin merengkuhnya saat ini”, Maxwell berhenti sejenak. Matanya berkaca-kaca. Di sebelahnya yang juga berdiri, Ayesha melirik suaminya itu dengan sudut hati yang menghangat. Maxwell lalu menatap semua orang asing di depannya. Semua yang ditatap balas menatapnya dengan sorot penuh rasa ingin tahu dan takjub. Mereka menyadari ada nada keharuan dalam suara pria asing yang tampan itu.


“Saya akan menceritakan diri saya dengan jujur. Setelah ini terserah anda semua bagaimana menilai saya nantinya.”, Maxwell kembali berhenti, diliriknya Ayesha di sisinya. Sang istri menatapnya dan mengangguk pelan seakan memberi kekuatan untuk meneruskan.


“Saya adalah seorang pengusaha. Saya pebisnis semua bidang baik yang legal maupun illegal, level lokal, nasional bahkan internasional, dari yang besar sampai yang kecil, sebut saja mulai dari bisnis tambang, senjata, property, farmasi, medis, konveksi hingga kebutuhan pokok manusia berupa makanan baik bahan mentah maupun jadi. Saya adalah seseorang yang dengan semua bisnis tersebut adalah orang yang paling dicari oleh semua orang berkuasa baik pemerintah maupun pihak swasta, yang berkepentingan dengan uang dan kekuasaan wilayah yang saya miliki. Dan dengan semua uang dan kekuasaan tersebutlah menjadikan saya tak tau diri, menjadi seorang atheis yang tak kenal Tuhan dan menganggap semua yang saya miliki hanyalah hasil usaha keras saya dan orangtua saya saja. Saya menjadi orang yang tak kenal takut dengan perbuatan yang melanggar hukum. Pembunuhan dan penyiksaan terhadap orang-orang lemah sudah biasa saya lakukan dan trik-trik licik dalam bisnis, apalagi. Saya tak peduli halal haram sebagaimana agama ini mengarahkan para penganutnya untuk mengingat itu. Namun beruntungnya, karena trauma masa lalu, ada tiga hal kejahatan yang tak pernah saya sentuh, yaitu narkoba, alkohol dan wanita.”, Maxwell kini menghadap Ayesha, dan berbisik namun bisa didengarkan oleh orang-orang di dekatnya.


“Percayalah Ayesha, istriku, engkaulah satu-satunya wanita yang baru saja ku sentuh kulitnya malam ini selain nenekku dan Bibi Catrine pembantu keluargaku. Engkaulah satu-satunya wanita yang bahkan begitu aku menyukai untuk pertama kali sosok seorang wanita, Tuhan ternyata langsung mentaqdirkan kita menjadi pasangan hidup halal saat ini”


Ayesha terkesima dan menunduk malu, karena kemudian Maxwell meraih tangannya dan mencium punggung tangannya tersebut dengan lembut. Jantung Ayesha berdetak tak karuan. Pria itu kemudian kembali menghadap hadirin dan meneruskan ceritanya.