A Mafia'S Love For A Muslimah

A Mafia'S Love For A Muslimah
Episode 110. Anda Sudah Mengingatku?



"Patch, tetap tingkatkan kewaspadaan", seru sebuah suara dari ear phone. Siapa lagi kalau tidak Mark yang mengingatkan rekannya yang dilihat mulai kendor. Mark dari jauh sudah menyadari ada sesuatu hal yang aneh pada diri partnernya tersebut. Ia merasakan efek pesona dr Anne yang hadir di acara pesta pernikahan Boss-nya tersebut cukup mengerikan. Bukan hanya mata jelalatan para lelaki tamu undangan yang melihat sang gadis, ia yang tak pernah melihat seorang Patch yang serius, kaku dan dingin bisa nampak melamun seperti tadi. Memandangi seorang wanita tanpa berkedip.


"Aku tau", jawab Patch gusar. Ia menjadi salah tingkah karena kedapatan memperhatikan dr Anne dari jauh sejak tadi. Bergegas ia melangkah mengikuti sang pria berjas biru keluar gedung, namun ia tidak melihatnya lagi.


"Dimana pria yang mencurigakan itu?", tanyanya pada penjaga di luar. Sebelumnya ia sudah berkoordinasi dengan anak buahnya untuk memperhatikan sang pria.


"Dia sudah pergi ke arah parkiran, Tuan"


"Tidak ada yang mencurigakan?"


"Tidak. Anggota kita masih terus memantaunya sampai sekarang"


"Good. Tetap waspada jangan sampai lengah"


"Sure"


Patch pun kembali masuk. Namun belum sempat ia menuju pintu utama, terdengar suara Mark di telinganya.


"Kita sudah menemukan jawabannya. Segeralah ke pintu belakang sekarang. Selidiki sampai tuntas. Aku tidak bisa meninggalkan Boss"


"Baik"


Patch pun menuruti perkataan Mark dan bergerak ke dalam, masuk dengan cepat lewat sisi kanan. Pria tinggi tegap itu pun tergesa-gesa menuju bagian belakang dan menerobos pintu yang selalu dijaga para pengawal pilihan. Mereka yang mengenal sang tangan kanan Boss besar mereka pun langsung memberi jalan.


Patch tak lama pun tiba di tempat yang dimaksud. Sebuah ruangan terpisah dari gedung yang berada tepat di seberang toilet pria. Ada sekitar lima orang pengawal yang berjaga dengan senjata lengkap.


"Siapa dia?", tanya Patch begitu sampai di dalam dan mendapati seorang pria bertubuh tambun tergeletak dengan tali mengikat tangan dan kakinya dengan kuat. Wajah dan tubuhnya nampak memperihatinkan. Babak belur bekas dipukuli badan senjata laras panjang yang dipakai para pengawal. Matanya terpejam menahan sakit.


"Kami menemukannya sudah tergeletak di sini dengan bom di dalam tasnya Tuan"


Patch terkejut mendengarkan laporan anak buahnya.


"Dimana bom nya?"


"Sudah berhasil dijinakkan sebelumnya oleh orang tak dikenal"


"Siapa?"


"Pria berjas biru"


"Dari mana kalian tau?"


"Cctv"


Patch menarik nafasnya. Ia semakin penasaran dengan sosok pria yang sejak tadi mereka curigai, namun akhirnya malah lengah dengan orang lain yang nyaris menghancurkan seisi gedung.


"Dia belum juga mengaku?"


"Dia sepertinya rela mati Tuan"


"Hm, mungkin dia rela mati, tapi bagaimana kalau kematiannya dilakukan secara perlahan. Apakah dia masih sanggup?", Patch menyeringai menatap sang pria malang. Seringai khas seorang Mafia.


"Cari tau segera identitas orang ini. Bawa dia ke tempat eksekusi"


"Baik Tuan"


Sang pria tambun pun dimasukkan ke mobil yang memang stand by di belakang gedung. Tak lama mereka pun bergerak melaju ke tempat eksekusi yang dimaksud. Patch pun merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya.


"Pastikan pria tambun yang akan tiba di tempatmu membuka mulutnya. Dia hampir saja membumi hanguskan gedung dan seisinya. Kau tau apa yang harus kau lakukan bukan?"


"Good"


Patch menutup ponselnya dan menyimpannya kembali ke dalam saku celana.


"Tunjukkan rekaman cctv nya padaku", serunya pada anak buahnya.


"Kemari Tuan"


Salah seorang pengawal pun menunjukkan sebuah komputer di sudut ruangan tempat monitoring cctv. Wajahnya sudah pucat menahan takut. Patch segera mendekat dan mengamati semua situasi dari awal ketika sang pria berjas biru itu muncul. Ia masuk dari belakang menuju ruang cctv yang saat ini Patch masuki. Dengan berjalan perlahan ia mendekati seorang pria tambun berbaju putih khas dokter yang sedang berjongkok dengan sebuah benda di tasnya yang hendak dikeluarkan. Sebelum sempat sang pria yang jongkok menoleh ke arah belakangnya, sang pria berjas biru itu pun langsung memukul tengkuknya dan menghajar wajahnya dengan kepalan tangannya. Seketika sang pria tambun pun terjatuh dan lemas tak berdaya. Sang jas biru pun mengikatnya dengan dasinya ke sebuah tiang dan dengan bergegas melihat ke arah benda di dalam tas. Kemudian nampaklah ia merogoh sesuatu dari dalam saku celana dan bajunya dan kemudian mengutak atik benda tersebut yang ternyata adalah sebuah bom. Cukup lama, sekitar 10 menit ia duduk berlutut dengan kegiatannya. Selanjutnya ia menulis sesuatu di kertas dan menaruhnya di pintu sebelum meninggalkan sang pria pingsan karena pukulan kuat di tengkuk yang dilakukannya dan kembali mengikat kaki dan badannya dengan tali yang diambilnya dari dalam tas bom tersebut. Rekaman cctv di ruangan pun berakhir tatkala sang pria keluar dari ruangan tersebut dan menutup pintu.


Patch menarik nafas perlahan. Ia kemudian menyusuri kembali rekaman dari arah depan gedung hingga samping luar gedung. Ia mencoba mencari sosok sang pria pembawa bom, dan taulah Patch sekarang mengapa anak buahnya bisa terkecoh. Pria tersebut ternyata menyamar menjadi wanita cantik yang berprofesi sebagai badut. Ia tidak menjadi tamu undangan melainkan berjalan ke gang di samping gedung dengan membuka pakaian badut bagian kepalanya, hingga terlihatlah jelas wajah cantiknya yang bermake-up. Berjalan riang di gang tersebut seolah ia adalah warga sekitar gedung dan hendak pulang ke rumahnya. Tapi ternyata, ketika tidak ada orang di sekitarnya, ia diam-diam membelok dan memanjat pagar belakang gedung yang tinggi dengan seutas tali. Ia lalu berhasil masuk ke area belakang gedung. Rekaman Cctv kemudian gelap. Tak lama, nampaklah sosok pria tambun berpakaian seperti seorang dokter keluar dari toilet yang letaknya terpisah dari gedung. Kemudian pria yang kini nampak membawa tas jinjingnya itu pun melangkah hendak masuk ke gedung. Tapi ia berhenti sejenak ketika diperiksa oleh para pengawal yang berjaga. Terjadi dialog di antara mereka tapi kemudian ia nampak lolos dan terus berjalan dengan tenang ke dalam. Sekali lagi ia dihentikan dan hendak diperiksa. Namun lagi-lagi lolos dan akhirnya di pemeriksaan yang ketiga, nampak pengawal yang mulai curiga padanya mengarahkan detektor ke tubuh dan tas-nya. Tapi kemudian dengan gerakan cepat sang pria tambun langsung menghabisi kedua pengawal dengan obat bius di sapu tangannya, membawa mereka berdua ke ruangan terdekat dan menguncinya. Namun karena kedatangan rekan pengawal lainnya, sang pria tambun kembali masuk ruangan tempatnya menyekap kedua pengawal dan terjadilah kemudian peristiwa kedatangan sang pria ber jas biru yang kemudian menghajarnya di dalam.


Patch mengusap wajahnya kasar. Ia melirik anak buahnya yang sama-sama menonton rekaman cctv.


"Bagaimana kalian bisa begitu bodohnya, hah?", bentaknya sambil mengedarkan pandangan ke wajah-wajah para pengawal di ruangan.


Yang dibentak seketika menundukkan wajah mereka.


Patch memukul bahu pengawal di sisinya dengan marah, namun ia kemudian menahan kembali emosinya tersebut. Ia lalu membuka rekaman di dalam gedung.


Semuanya nampak normal. Sejak sang pria jas biru masuk gedung dari arah belakang, ia sendiri dan tim-nya terus memantau sang jas biru, dan tidak ada yang mencurigakan. Sang pria tersebut berperilaku seperti layaknya seorang tamu. Bersikap biasa dan sebelum pulang menyalami Maxwell dan memberikan kado juga seperti biasa. "Sepertinya dia masuk ke gedung hanya untuk memastikan semuanya baik-baik saja. Dia tak ubahnya seperti seorang ajudan", gumam Patch dalam hati. Mendadak Patch teringat sesuatu. Ia pun bergegas kembali ke gedung dan menjumpai sang Big Boss. Namun ketika ia masuk, ia malah bertatap muka dengan sang gadis yang selama ini selalu mengisi mimpi-mimpinya. Patch salah tingkah, tapi ia berusaha untuk menutupinya. Ia mencoba bersikap biasa saja. Bahkan melewati sang gadis yang menghampiri meja hidangan begitu saja dengan pandangan lurus. Mark yang berada di sudut dekat sang Boss yang agak jauh dari mereka berada turut menyaksikan situasi tersebut. Ia tersenyum tipis dari tempatnya berdiri.


"Mengapa kau melewatkan kesempatan emas, hm?", goda Mark di balik ear phone.


"Diamlah!", jawab Patch sambil berjalan tergesa. Sesaat kemudian ia pun berhenti dan mencari posisi nyaman bersandar di dinding. Sekitar tujuh meter di seberangnya ada Mark. Keduanya pun kini berbicara sambil menatap dari kejauhan.


"Hai, jangan marah. Aku hanya mengingatkanmu. Jangan sampai menyesal karena tidak sempat mengeluarkan isi hatimu"


"Memangnya kau sendiri bagaimana, hm? Tidakkah kita juga sama?"


"Aku tak sama denganmu. Aku masih bisa menemuinya di sini. Bagaimana denganmu yang kelak akan menanggung beban berat karena sulit bertemu lagi"


"Jika sudah takdirnya. Dunia ini jadi sempit"


"Ah, kau religius juga ternyata. Takdir. Hm...."


"Diamlah. Urusi saja wanita-mu. Seharian ini dia tak terlihat, bahkan di hari yang penting ini"


"Dia akan datang. Dan kami akan segera bertemu"


"Benarkah? Apakah kau yakin?"


"Tentu saja. Karena aku tau alasannya datang terlambat"


"Kita lihat saja nanti. Seorang dosen wanita cantik....ah, semoga wanitamu itu datang sendirian dan kalian bisa bercengkrama seperti biasa"


"Tentu saja"


"Ah ya, apakah benar dia sudah menjadi wanitamu?"


"Ah, tinggal menunggu waktu saja. Lihat saja nanti"


"Benarkah? Ku dengar wanita muslim tidak bisa begitu mudah menikahi pria yang berbeda agama dengannya"


"Boss saja bisa. Mengapa aku tidak?"


"Boss punya banyak kelebihan. Tak salah Nyonya bersedia menikah dengannya. Lalu kau sendiri?"


"Aku akan membuatnya jatuh cinta padaku"


"Kau sangat percaya diri. Semoga saja kau berhasil"


"Tentu saja. Terima kasih doamu"


"Aku tak mendoakanmu"


"Tapi kata-katamu mendukungku"


"Ah, ayolah Patch. Nikmati saja hari ini dengan baik. Ikuti kata hatimu"


"Kata hati yang mana? Kau bukan paranormal"


"Meski bukan, tapi aku tau ada seseorang yang sangat menginginkan seorang gadis cantik"


"Semua pria suka gadis cantik"


"Tapi itu untuk orang normal. Ada sesuatu yang sangat mencengangkan jika melihat orang tak normal bisa jatuh cinta"


"Kau pikir aku abnormal"


"Begitulah"


"Kau pikir aku tidak tau? Kau juga demikian"


"Hai jadi kau pun mengakui ketidaknormalanmu itu?"


"Ah kau....",


Belum sempat Patch membalas, nampak lambaian tangan Maxwell yang sedang menelpon mengarah padanya.


Patch pun mengalihkan perhatiannya ke sang Boss. Setelah berbincang hal tak berguna dengan partner nya yang jahil, ia pun mendatangi sang Big Boss yang memanggilnya. Maxwell masih nampak sibuk dengan telponnya. Patch hanya menunggu. Tak jauh dari Boss-nya, Ayesha sedang sibuk menikmati salad buah bersama noni-noni cantik asal Rusia lainnya. Ketika Patch hendak mendekati Maxwell yang memanggilnya kembali dengan isyarat tangan, bersamaan pula sang dokter cantik melangkah dari belakangnya menuju arah yang sama. Patch yang tidak menyadarinya tiba-tiba berhenti karena hendak meraih ponselnya yang berdering. Tak ayal, sang gadis di belakangnya yang sedang melangkah dengan sepiring kecil salad buah di tangan akhirnya menabraknya. Piring plastik berisi salad pun jatuh dan menumpahkan isinya sebagian di jas hitam milik Patch.


"Oh My God, sorry....really sorry...", sang gadis dengan tatapan penuh rasa bersalah pun spontan meraih jas di depannya dan mengambil sapu tangan dari dalam tas kecilnya. Patch yang baru sadar dengan apa yang terjadi pun kini turut berbalik menghadap sang gadis. Mata keduanya pun bersirobot.


"Maafkan aku...aku tak sengaja...", sang gadis nampak gugup.


"Aku...", gantian Patch yang tergagap. Ia tak menyangka dengan situasi ini.


Sang gadis yang melihat sulitnya membersihkan jas Patch dengan sapu tangannya kemudian berkata.


"Bagaimana kalau Tuan lepaskan jas ini. Aku akan membersihkannya di toilet. Mohon maaf ini cukup kotor", sang gadis masih terus memperhatikan jas hitam yang masih nampak putih karena tumpahan salad.


"Aku...Baiklah...", Patch yang semula gugup mulai bisa mengatasi keadaan. Dibukanya jasnya dan diberikannya pada sang gadis. Menyisakan kemeja putih lengan pendek yang semakin menunjukkan badan tegapnya.


"Sebentar Tuan, aku akan mengembalikannya padamu nanti", sekilas sang gadis menatap ke arah Patch sebelum kemudian menuju toilet di belakang. Patch yang sempat terkesima dengan apa yang terjadi buru-buru menyadarkan dirinya dan berbalik menjumpai sang Boss. Mengabaikan dering ponsel di sakunya yang sepertinya cuma pesan singkat. Semua orang di sekitar yang menyaksikan kejadian barusan nampak pura-pura tidak melihat, tentu saja kecuali Mark. Pria usil itu pun sengaja menatap lekat ke wajah Patch yang pura-pura acuh padanya.


"Wah, sepertinya Tuan Patch yang kaku tak sepolos yang ku kira. Cukup pintar. Semoga rencanamu berhasil Bro"


"Diamlah"


Patch menghampiri Maxwell.


"Apakah ada yang ingin Kau laporkan?", Maxwell barusan menutup telponnya.


"Ya Tuan", Patch menelan ludahnya yang terasa kering.


"Saya mohon maaf atas kelengahan saya Tuan", Patch menunduk.


Maxwell yang berpura-pura belum tau apa yang terjadi berusaha menekan perasaannya.


"Katakan apa maksudmu meminta maaf seperti ini"


"Sebelumnya saya ingin bertanya pada Tuan. Apakah Anda mengenal orang ini?", Patch memberikan ponselnya dengan masih tetap menunduk. Foto itu menunjukkan seorang pria berjas biru yang sedang menyalaminya Maxwell.


"Dia utusan pamanku, Abraham Alexander Al Qudri"


"Pantas saja", gumam Patch lirih.


"Ada apa? Cepat katakan!"


Patch kembali menyodorkan foto di ponselnya. Kali ini foto sosok sang pria tambun yang terikat dengan bom di dekatnya. Selanjutnya Patch pun memutar video rekaman cctv tentang aksi sang pria jas biru yang menaklukkan sang pria tambun di ruangan pusat monitoring.


"Kalian bisa kecolongan seperti ini?", Maxwel menatap tajam ke arah Patch.


"Maaf Tuan. Saya siap menerima hukuman"


"Tentu saja kau harus dihukum. Seorang ajudan hebat The Emperor Powell Group begitu mudah dikecoh seorang amatiran?"


"Silakan hukum saya Tuan Besar", Patch sudah pasrah. Ia terus menunduk.


"Baiklah. Hukumanku adalah, kawal dan pastikan keluarga Nyonya tiba di mansion-ku malam ini dengan selamat", Maxwell sekilas melirik bawahannya tersebut dan beranjak pergi. Ia menghampiri Ayesha dan berbisik padanya. Ayesha kemudian bangkit dan mengatakan sesuatu pada saudara-saudaranya. Patch masih menunduk tak berani mengangkat kepala, ketika kemudian dia mendengar suara langkah mendekat. Ia pun menaikkan pandangannya dan terperanjat.


"Ini jas nya Tuan. Tapi mohon maaf, ini jadi nampak basah", ucap seorang gadis.


"Oh ti..tidak apa. Terima kasih", Patch menjawab dengan dada berdebar. Ia selalu terkesima memandang kecantikan makhluk di depannya, namun hanya sesaat ia pun sadar dan menoleh ke arah lainnya. Ia tercenung melihat semuanya sudah pergi. Hanya tinggal mereka berdua.


"Mari saya antar Anda"


"Apa?"


"Boss memerintahkan Anda dan rombongan untuk beristirahat malam ini di mansion Tuan Besar"


"Jadi Anda pengawal Suami Ayesha?"


"Benar"


Sang gadis nampak menarik nafas lega. Ia sudah kalut kalau-kalau Patch adalah tamu penting di resepsi ini. Ia baru menyadari siapa Patch setelah menatapnya kembali.


"Hai, bukankah Kau...", nampak mulai mengingat.


"Mari saya antarkan Anda Nona. Yang lain sudah bergerak lebih dulu. Apakah Anda berharap kita hanya berdua saja?"


"Baiklah", giliran dr Anne yang salah tingkah. Ia pun berbalik pergi. Patch mengulum senyum di belakangnya. Selintas bayangan masa lalu yang memalukan berkelebat di benaknya. Tatkala ia menyelamatkan sang wanita cantik di depannya yang tenggelam di kolam renang mansion waktu itu. Sang dokter yang datang karena panggilan mendiang sang Big Boss itu nyaris tak bernafas lagi. Ia telah meminum banyak air kolam. Patch membawa tubuhnya ke tepi dan terpaksa membantunya dengan nafas buatan. Begitu ia sadar, sang gadis pun malu karena sempat menyadari bahwa ia telah dicium oleh Patch. Karena malunya, setelah merasa lebih baik, ia pun langsung bangkit dan berjalan terhuyung hendak kembali ke kamarnya. Namun karena belum sepenuhnya pulih dari kram di kaki yang menyebabkannya temggelam ketika berenang, ia pun kembali jatuh namun dengan sigap ditangkap oleh Patch. Tak sengaja Patch menyentuh bagian terlarang dari tubuhnya yang hanya berbalut pakaian renang tipis. Keadaan malah semakin memalukan keduanya karena Patch pun kemudian menggendong sang gadis ke kamarnya.


"Tuan Patch", suara di depannya membuyarkan lamunan sang pengawal. Hampir saja Patch menabrak makhluk di depannya yang berhenti mendadak. Sang pria dingin pun berusaha menguasai dirinya.


"Anda sudah mengingatku?"


"Bagaimana mungkin aku tidak ingat, seorang ajudan kepercayaan Powell seperti Anda"


"Terima kasih, dr Anne"


"Terima kasih juga karena sudah mengenalku dan pernah menyelamatkan nyawaku", dr Anne tersenyum tipis. Patch terkesima sesaat. Ia merasa gembira karena wanita yang disukainya tersebut masih mengingatnya.


"Hm. Sebaiknya kita segera menyusul yang lainnya", tepis Patch menyembunyikan perasaannya.


"Karena itulah aku menunggu Anda, Tuan Patch. Aku ingin segera berisirahat"


"Sebentar", Patch pun meraih ponselnya untuk menelpon drivernya. Setelah selesai ia sempat melirik pesan singkat yang tadi mengacaukannya. Ternyata pesan dari Mark yang hanya sekedar mengatakan "Selamat bersenang-senang". Dasar usil, dia rupanya sengaja membuatku berhenti tadi sehingga dr Anne yang ada di belakangku menabrakku, pikirnya.


Tak lama mobil pun datang dan mereka berdua pun masuk. Patch duduk di depan bersama supirnya dan dr Anne duduk di belakangnya. Mobil pun melaju dan tak lama dr Anne mendapat telpon dari Ayesha.


"dr Anne, aku minta maaf telah meninggalkanmu. Aku harus melihat kondisi teman sekaligus sepupu suamiku yang kecelakaan. Kau aman bersama Patch, bukan?", terdengar suara Ayesha di seberang.


"It's okay, Ayesha. Jangan khawatirkan aku"


"Baiklah. Sampai jumpa di mansion", Ayesha sudah menutup telponnya.


"Siapa sepupu Maxwell?", gumam dr Anne dalam hati. Tak mau banyak berpikir ia pun memejamkan mata berusaha mengistirahatkan dirinya. Tapi bukannya rileks, ia malah mengingat kembali peristiwa memalukan di kolam renang mansion milik mertua sahabatnya tersebut. Spontan ia membuka matanya kembali dan melirik wajah tampan yang kaku di depannya dari kaca spion. Ia tergagap karena pandangan mereka bertemu di sana. Dr Anne pura-pura menarik nafas lelah dan memejamkan matanya kembali. Ada rona merah di wajahnya, namun bersamaan dengan itu, di sudut hatinya ada pula kesedihan mendalam yang terpatri. Aku tak mungkin mendapatkan kebahagiaan bersama seorang pria. Tak akan ada yang mau mempunyai wanita yang sepertiku, jangan bermimpi dr Anne, mereka yang tidak tau bagaimana dirimu hanya berkhayal sekedar mengagumimu, batinnya sedih.


Mobil pun terus melaju menuju mansion. Tanpa mereka sadari, sebuah skenario di depan mereka pun sedang menunggu, skenario yang mengancam keselamatan sang Big Boss yang hanya skenario Tuhan yang sanggup menyelamatkannya.