A Mafia'S Love For A Muslimah

A Mafia'S Love For A Muslimah
Episode 45. Joeris



Maxwell dan Ayesha baru saja selesai sarapan dan kini keduanya sudah bersiap menuju kantor pusat Powell Group. Patch dan Peter duduk di kursi kemudi dan majikannya di kursi belakangnya. Sementara itu, ketiga pengawal Maxwell yang dikirim Pavlo selalu siap mengikuti dengan menjaga jarak di belakang mobil mereka. Sesekali Maxwell menelepon seseorang melalui ponselnya. Ayesha yang duduk di sampingnya nampak menikmati pemandangan jalanan Sydney. Kini mereka mulai memasuki pusat kota.


Ayesha terkesima melihat pemandangan di hadapannya. Sebuah bangunan kantor yang megah berlantai puluhan tegak tinggi menjulang. POWELL GROUP. Suamiku benar-benar Sulthan. Raja pun kalah olehnya, pikirnya. Ia tersenyum di balik cadar biru mudanya ketika sang Sulthan menggenggam tangannya erat dan mengajaknya masuk.


Mendadak terjadi kehebohan. Semua staf yang ada, mulai dari security dan resepsionis serta pegawai departemen umum yang ada di lantai bawah sontak keluar dan berbaris serta menundukkan kepala. Raut wajah terkejut dan takut tak dapat mereka sembunyikan. Maxwell memang sengaja memberikan kejutan pagi ini. Tak lama muncul dua pria berbeda usia berjalan mendekati Maxwell dan Ayesha. Sepasang suami istri itu kini berdiri tepat di tengah barisan para staf yang membentuk dua baris berbanjar saling menghadap jalan. Masing-masing pria yang datang dari arah dalam gedung itu nampak memegang tas kulit hitam dan coklat. Mereka langsung menundukkan kepala dan menjabat tangan Maxwell. Ayesha hanya mengatupkan tangan kanannya ke dadanya. Maxwell tidak melepaskan tangan kiri sang istri yang digenggamnya sejak tadi.


"Selamat datang kembali Tuan Maxwell. Senang sekali melihat Anda baik-baik saja"


"Terima kasih"


"Ini pasti Nyonya Maxwell bukan?"


"Ya"


"Terima kasih Nyonya. Anda telah menyelamatkan Tuan Kami"


"Dont mention it", sahut Ayesha.


Maxwell mengitari semua wajah pegawainya yang berkumpul.


"Dengarkan aku. Aku, Maxwell Powell, telah kembali. Aku masih hidup. Semua penghianat akan mendapatkan balasannya. Dan harus kalian camkan! Hanya aku yang berhak memerintah kalian semua. Kalian paham?"


"Paham Tuan", semua staf serentak menjawab.


"Kembalilah bekerja dan jangan membuat kesalahan atau aku akan memecat kalian"


"Baik Tuan"


Para pegawai pun bubar dan dalam diam mulai melanjutkan pekerjaan mereka. Tak satu pun yang berani berpaling dari aktivitas yang mereka lakukan. Aura horor dalam gedung sangat terasa oleh Ayesha. Ia belum terbiasa melihat kondisi seperti ini. Maxwell nampak mengedarkan pandangannya ke seluruh ruang yang ada dengan tatapan dingin. Kini ia memberi kode pada dua pria di dekatnya untuk masuk.


Ayesha berdecak kagum melihat ruangan-ruangan para staf yang ia lewati. Semua pintu terbuka menunjukkan berbagai aktivitas para penghuninya di dalam yang nampak serius dengan kesibukan masing-masing. Di dalam ruangan yang luas, sekilas Ayesha masih melihat ada sekat-sekat setinggi leher yang memisahkan ruang kerja antar personil. Maxwell sengaja tidak menggunakan lift pribadinya di lantai satu tadi, melainkan menaiki tangga dengan double niat sekalian berolah raga. Ide ini juga Ayesha yang meminta. Ia sekaligus ingin memantau sejauh mana perubahan yang ada di perusahaan pusatnya saat ini. Dan ternyata belum ada perubahan yang mendasar. Itu artinya, Joeris belum yakin untuk berhasil menggantikan posisinya.


Kini mereka sudah berada di lantai tiga setelah lantai dua tadi mereka kelilingi tiap ruangannya. Ayesha terus mengawasi keadaan sekelilingnya. Entah kenapa ia merasa harus tetap waspada dalam kondisi apa pun apalagi ini di kantor tempat musuh suaminya sedang berkuasa. Demikian juga dengan Maxwell. Kedua pria yang bersamanya juga nampak sesekali mengedarkan pandangan ke sekeliling.


"Kalian berdua pergilah lebih dulu ke ruangan Joeris. Dia tentu juga sudah menunggu kedatanganku. Katakan padanya aku akan segera datang", perintah Maxwell.


"Baik Tuan. Tetap berhati-hatilah Tuan"


"Tentu"


Kedua pria itu pun berlalu menuju lift khusus dan tidak terlihat lagi. Ayesha melihat tulisan 20. Mereka tentu ke lantai paling atas tempat ruangan presdir berada. Gedung ini mempunyai 20 lantai? Luar biasa, decaknya kagum dalam hati.


"Apakah honey masih kuat menaiki tangga?"


"Masih. Ini menyenangkan. Aku mulai berkeringat dan ini sehat"


"Kau memang bukan wanita biasa, my wife"


"Hubby juga bukan lelaki biasa. Sulit dipercaya seorang Sulthan sepertimu mau berjalan menaiki tangga tiga lantai karena ajakan istrinya"


"Itu karena istrinya benar-benar seorang Ratu. Titahnya tak bisa dibantah"


"Apakah aku memaksamu?", Ayesha nampak khawatir.


"Tidak. Aku mengikuti titah istriku karena cinta"


"Hubby sudah pandai menggombal"


"Aku jujur. Selain itu aku memang ingin melakukan pemanasan. Aku juga ingin melihat sejauh mana perubahan yang dibuat Joeris. Ternyata tidak ada"


"Hubby yakin?"


"Tentu saja"


"Semoga rencana kita berjalan lancar"


"Tenanglah. Semuanya sudah kembali dalam kendaliku"


"Luar biasa"


Maxwell tiba-tiba mendobrak salah satu pintu ruangan staf yang tertutup. Letaknya tepat di sudut. Ayesha sendiri terkejut dengan tingkah suaminya. Terlihat sesosok wanita cantik yang masih muda dengan rok mini dan atasan yang pas melekat di badan sedang berdiri di dekat dinding pojokan. Tubuhnya nampak bergetar ketakutan sambil memegang ponsel di tangannya. Matanya melotot menyaksikan pucuk senjata yang sudah ditodongkan ke kepalanya.


Dorrrr


Tubuh wanita itu langsung terduduk. Mukanya seketika pucat. Ia memegangi lengannya yang sudah bersimbah darah. Ponselnya sudah jatuh masuk ke kolong meja. Ayesha menatap tak berkedip.


"Ampun. Ampun Tuan"


Tak lama terdengar langkah kaki berlari mendekat.


"Tuan tidak apa-apa?"


Seorang pengawal dari Rusia sudah tiba.


"Bereskan dia!"


"Tuan. Tuan. Ampuni aku. Jangan bunuh aku Tuan. Aku terpaksa. Sir Joeris..."


"Diam. Atau aku menghabisimu saat ini juga! Tidak ada alasan seorang pegawai di kantorku sendiri berhianat dengan terang-terangan sepertimu"


"Aku terpaksa Tuan. Sumpah"


"Kau terpaksa demi sebatang emas bukan? Kau kira aku tak tau siapa yang meracuni aku waktu itu?"


Maxwell menatap tajam wanita seksi di depannya. Bukannya tergoda dengan penampilan wanita di depannya yang kurang bahan, melainkan menatap dengan sorot membunuh. Ayesha tiba-tiba menarik alas meja kain di dekatnya dan menutupkannya ke paha si wanita yang terpampang. Maxwell menjentikkan tangannya sebagai kode pada pengawalnya.


Setelah bermain-main dengan sidak dan mencari penghianat kecil, kini Maxwell mengajak istrinya ke lift khusus. Entahlah kemana wanita tadi dibawa. Yang jelas Maxwell berjanji pada Ayesha bahwa ia tidak akan membunuhnya.


"Aku hanya memberi sedikit pelajaran pada seorang penghianat. Tenanglah sayang", Maxwell tersenyum pada istrinya. Ayesha hanya mengangguk pasrah. Mendadak lift macet. Tidak bergerak sama sekali. Kini keduanya terjebak di tengah-tengah ketinggian gedung. Maxwell nampak geram.


"Sabotase. Sudah kuduga"


"Berarti Joeris sudah melakukan perlawanan?"


"Tentu saja"


"Siapa dua pria tadi hubby?"


"Mereka berdua pengacaraku"


"Bisa dipercaya?"


"Aku harap begitu"


"Berkas apa yang dibawanya?"


Maxwell tersenyum


"Itu hanyalah jebakan sayang. Mungkin saat ini mereka berdua sedang disiksa"


"Hubby, kasihan mereka"


"Terkadang untuk mendapatkan makanan yang besar, perlu umpan yang besar pula bukan?"


"Apakah kita membiarkan umpan itu lebih dulu dimakan?"


"Tentu tidak. Umpannya sangat berharga. Aku yakin utusan Pavlo bukan pengawal biasa. Mereka pasti bisa membereskannya"


"Syukurlah. Semoga tidak ada pertumpahan darah yang lebih banyak lagi. Lalu sampai kapan kita bertahan di sini?"


"Apa honey takut?"


"Aku pernah mengalami ini"


"Pantas saja engkau tidak panik"


"Aku malah takut hubby yang khawatir"


"Jika wanita cantik di sampingku tidak takut, mengapa pria gagah sepertiku yang malah takut?"


Ayesha hanya tersenyum. Ia sudah membuka cadarnya untuk mengurangi sesak. Waktu sudah berjalan 15 menit. Keduanya mulai dibasahi keringat.


"Sepertinya kita harus keluar sekarang hubby"


"Kita tunggu 3 menit lagi. Mungkin mereka sedang berusaha menolong kita"


"Baiklah"


Belum sampai 4 menit pintu lift pun terbuka dan keduanya langsung terhenyak. Secepat kilat Maxwell menembakkan pistolnya ke depan dengan lebih dahulu melayangkan tendangan maut yang super cepat. Ayesha tak kalah gesit. Ia pun melawan dengan teknik gulatnya. Musuhnya tercengang tak berkutik merasakan tenaga yang kuat dari lawannya. Tubuhnya terasa remuk karena dibanting. Senjata pembunuhnya sudah terpental masuk ke dalam lift. Maxwell dan Ayesha terus melakukan tendangan dan tembakan tanpa henti. Kelima lawannya pun tumbang tak berkutik. Namun belum sempat bernafas lega, sepasang suami istri jagoan itu harus terkejut kembali dengan sambutan mendadak berikutnya. Sekitar 10 orang pria berbadan tegap muncul dari persimpangan lorong. Semuanya bertopeng dengan pistol yang siap ditembakkan. Maxwell hanya tersenyum sinis.