
Hi Readers setia... sorry ya lama gak up ,🙏🙏🙏 banyak kegiatan yang membuat author gak sanggup mantengin HP lama-lama untuk ngetik cerita lanjutan di HP ini...gak sanggup begadang lagi....🙏😚
Alhamdulillah masa libur tiba utk author walau untuk sebagian tugas lainnya gak ada libur... ,😄 jadi bisa lbh srg update nantinya Insyaa Allah...Thank you very much ya readers sudah setia menanti....🙏😘
Ok, kita lanjutkan lagi ya...semoga Readers bisa memaklumi author. Sekali lagi, thanks a lot 🙏😚
****************
"Kak Ahmed...."
Ahmed sontak menjauhkan ponselnya dari telinganya. Bukannya kelegaan yang ia bayangkan karena akan segera bisa berbicara dengan adiknya tapi malah suara teriakan sang adik yang menggetarkan hatinya.
"Ayesha...what happened?", serunya.
"Kak, aku...", suara Ayesha terputus.
Ahmed menjauhkan ponselnya dan menatap benda pipih di tangannya itu dengan bingung. Ia kemudian menghubungi kembali nomor Ayesha di selulernya tersebut namun tidak aktif. Ahmed beristighfar. Suara di seberang terdengar seperti ketakutan. Ia menjadi khawatir. Segera dilacaknya keberadaan Ayesha melalui GPS namun nihil. Tak kehilangan ide, ia segera menghubungi ahli IT perusahaannya dan mereka pun menghubungi teman mereka yang berada di Ausy. Tim Ausy yang diminta pun langsung bergerak untuk menemukan lokasi Ayesha melalui nomor ponselnya. Ahmed masih terus menghubungi nomor ponsel Maxwell tapi tetap tidak membuahkan hasil. Akhirnya ia putuskan untuk segera keluar mencari mansion adik iparnya tersebut. Ahmed bergegas membereskan barang-barangnya yang tidak banyak. Ia melirik jam dinding yang menunjukkan waktu tengah malam. Sejenak ia memikirkan sesuatu dan tersenyum tipis. Hanya sebuah ransel hitam berisi beberapa lembar pakaian dan kebutuhan lainnya yang ada dalam tasnya dan ia pun bergegas membuka pintu kamarnya dan langsung terkejut.
"Kakak...", suara seorang wanita yang paling dikenalnya terdengar menyambutnya dan membuat Ahmed menganga tak percaya. Ia shock melihat sang adik dengan niqab hijau mudanya sudah muncul di depan pintu dan tentu saja tersenyum dari balik cadarnya menatap ke arahnya. Wanita yang paling disayanginya di dunia itu merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.
"Masyaa Allah Ayesha...". Ahmed dan Ayesha pun berpelukan. Setelah beberapa menit, Ahmed melepas pelukannya dan mengusap-usap kepala sang adik tanda gemas.
"Kau ini ya...masih saja jahil seperti dulu", Ahmed menowel pipi sang adik dari balik cadarnya. Sontak matanya menangkap bayangan tubuh lainnya yang tak asing. Lelaki cool dengan gaya casualnya sedang berdiri di belakang Ayesha dan menatapnya dengan tatapan yang tak terbaca.
"Ah Maxwell, maaf aku tak melihatmu tadi. Kalian membuatku terkejut". Keduanya pun bersalaman dan saling memeluk bahu.
"Maafkan kami jika tidak menyambut Kak Ahmed dengan sambutan yang layak", ujar Maxwell.
"Aku paham. Seorang pengusaha yang super sibuk seperti dirimu tentu tak punya banyak waktu untuk menyambut kakak ipar sendiri", Ahmed tersenyum kecil.
"Siapa bilang kami tidak menyambutmu Kak? Bukankah sambutan sebelumnya sudah melatih otot dan adrenalinmu dengan baik?", gantian Maxwell yang tersenyum penuh arti.
"Kalian...oh...i see...", Ahmed menyadari sesuatu. Matanya melotot ke arah kedua insan di depannya dan langsung berbalik membuka pintu kamarnya. Ia pun masuk dan menghidupkan lampu kamar. Ayesha dan Maxwell mengikuti dan saling berpandangan sambil menahan senyum.
Ahmed mulai menggeledah ruangan dan seketika menemukan jawaban dari kecurigaannya. Dengan cepat ia membuka ruang ganti dan terbelalak. Sesosok tubuh pria tegap dengan dada berwarna darah keluar dari sana dan menyeringai ke arahnya. Sekali lagi, Ahmed pun bergerak ke bawah tempat tidur dan menarik kain putih yang ia temukan ujungnya.
"Keluarlah!", teriaknya.
Seorang wanita paruh baya berbaju putih dengan kepala penuh cairan merah yang kental pun keluar dari kolong tempat tidur.
Kedua sosok seperti hantu di film-film itu berdiri di hadapan Ahmed dan menundukkan wajah mereka.
Ahmed hanya menggeleng-gelengkan kepala ke arah keduanya dan kini beralih ke Maxwell.
"Jadi ini juga sambutan untukku?", seru Ahmed.
Maxwell mengangguk sambil tersenyum kecut.
"Sorry Bro", ucap sang adik ipar.
"Kak, jangan marah ya...
Maafkan suamiku yang jahil ini...", Ayesha yang tak enak hati segera memegang tangan sang kakak dengan sorot mata memelas.
"Kenapa minta maaf?"
"Kak pasti merasa jengkel ya atas semua yang menimpa kak selama di Ausy?"
"Siapa bilang?", Ahmed menatap sang adik penuh arti.
"Oh...semuanya sudah kalian rencanakan ya? Sejak dari pesawat, memberikan obat tidur, ke vila memberikanku 10 orang yang mengeroyokku dan mengajakku bertarung, berlari dan menembak dengan peluru palsu....
Menakutiku di sini dengan hantu-hantu ini...
Dan terakhir membuatku cemas dan harus melacak dengan IT keberadaan adikku yg jahil ini...
Oh My God", Ahmed menggeleng-gelengkan kepalanya.
Ayesha seketika memeluk kakaknya kembali.
"Kak maafkan aku....maafkan Ayesha-mu ini...", Ayesha terus memeluk kakaknya dengan erat. Ahmed menghela nafas. Maxwell hanya melihat keduanya tanpa ekspresi.
"Baiklah. Tapi ada satu syarat", Ahmed merenggangkan pelukan sang adik perlahan dan memegang wajah wanita bercadar itu untuk menghadap ke arah wajahnya dengan kedua tangannya.
"Apa kak?", Ayesha menatapnya dengan pandangan berbinar.
"Berikan kak makan malam", Ahmed tersenyum. Ayesha pun tersenyum.
"Terima kasih kak...kau memang kakak ku yang tersayang...", Ayesha kembali memeluk sang kakak.
"Memangnya kau masih punya kakak yang lainnya?", Ahmed menowel hidung Ayesha gemas setelah merenggangkan kembali pelukan sang adik yang nampak manja tersebut . Ayesha pun tertawa. Semua insan di dekat kedua adik beradik itu hanya menatap iri melihat kedekatan keduanya, termasuk sang aktor dan artis hantu jadi-jadian. Mereka nampak lega karena Ahmed tidak marah pada mereka. Maxwell lalu berdehem membuyarkan kemesraan mereka berdua.
"Apakah jadi makan tengah malamnya?", sela Maxwell sambil memeluk bahu sang istri tanda posesif.
"Tentu saja. Aku sangat lapar. Kalian juga pasti lapar kan?", sahut Ahmed seraya menunjuk ke arah para pemain drama. Kedua orang yang dimaksud pun hanya tersenyum mengerikan karena tampilan mereka.
"Segera bersihkan sisa-sisa drama di tubuh kalian", perintah Maxwell. Keduanya pun segera bergegas ke kamar mandi bergantian sementara Maxwell, Ayesha dan Ahmed sudah berlalu keluar menuju restoran terdekat.
Setelah makan tengah malam singkat, mereka pun kini bergerak menuju ke suatu tempat.
"Apakah kita menuju mansion mu adik ipar?"
"Belum. Brother perlu berkenalan dengan Ausy's resorts untuk sejenak melepas stress setelah bermain seharian kemarin bukan?"
"Sure. Asalkan benar-benar piknik"
"Kali ini kami akan memberi sambutan terbaik seorang tuan rumah yang sesungguhnya. Don't worry brother"
"Baiklah. I trust you", Ahmed menarik nafas lega dan segera tertidur karena masih mengantuk. Ia duduk di depan di samping driver pegawai Maxwell. Mobil pun terus melaju hingga satu jam lamanya dan kini mulai memasuki wilayah luxury resorts yang cukup menakjubkan. Ayesha yang masih terjaga melihat ke sekitarnya dan mengucapkan hamdalah dan kalimat tasbih lainnya. Kepalanya dipenuhi keheranan melihat kekayaan suaminya yang nampak tak terbilang. Ia menatap suaminya sebelum turun.
"Apakah ini tempat bulan madu ke dua setelah resort milik hubby di pantai tadi?"
"Sure honey. Kau dan Kakakmu butuh udara segar yang sehat"
Ayesha menatap bingung. Maxwell meraih pinggangnya dan berbisik pelan dengan tatapan intim.
"Aku ingin udara sehat di sini segera membantuku menjadi seorang ayah". Ayesha sontak merona. Ia mencubit pinggang sang suami. Ahmed yang sudah terbangun dan menyaksikan kemesraan kedua makhluk di belakangnya hanya tersenyum.
"Ehm, tak cukupkah kalian bermesraan di dalam kamar saja?"
"Salah siapa masih single", Ayesha memajukan bibirnya ke arah Ahmed yang tentunya tidak ada yang bisa melihat tingkahnya itu. Mereka pun keluar dari mobil dan segera memasuki resort nan megah di depannya. Sebuah resort mewah dengan fasilitas lengkap di sekitar kaki gunung. Pemandangan pertama yang menyambut mereka adalah bangunan rekreatif yang luas dan unik, dengan taman bunga nan indah di sepanjang jalan masuk dari gerbang depan ke dalam. Beberapa pusat perbelanjaan dengan beragam produk yang dijual nampak terlihat penuh cahaya lampu yang terang di area seberang taman bermain. Walau kondisi menjelang subuh, masih nampak puluhan orang dewasa sedang menikmati udara sejuk nan dingin di luar penginapan mereka.
Memasuki lebih dalam, Ayesha dan Ahmed pun disuguhi dengan pemandangan yang tak kalah menakjubkan. Fasilitas kolam renang dengan beragam ukuran yang memang dipersiapkan untuk tingkatan usia manusia yang berbeda nampak mempesona. Airnya juga diatur dengan beberapa suhu. Ada yang dingin, hangat kuku dan lebih hangat. Air yang lebih hangat ini merupakan air belerang alami yang berasal dari pegunungan. Sangat memanjakan tubuh manusia yang selalu haus dengan kenyamanan kulit dan refreshing otak setelah berjibaku dengan hiruk pikuk dunia. Gemerlap cahaya lampu resort menerangi seluruh wilayah. Di beberapa kolam renang dewasa, mereka melihat puluhan orang sedang berendam dengan uap air panas belerang. Sementara itu, di sisi lainnya banyak yang hanya sekedar duduk di kursi-kursi santai yang tersedia untuk sekedar minum minuman panas dan bersenda gurau dengan teman berlibur masing-masing.
Ahmed memilih untuk langsung memasuki kamarnya yang luas dan mewah di seberang kamar yang ditempati Ayesha dan Maxwell. Ia pun membersihkan diri sejenak dan kini sudah nyaris larut dalam kehangatan selimut ketika tiba-tiba ponsel barunya menerima pesan chat. Di sana tertera nama yang belum pernah disave sebelumnya. Maxwell Powell. Ahmed berdecak memikirkan kekayaan dan kekuasaan sang ipar yang tak dapat dibayangkannya tersebut. Ia tahu bahwa resort nan megah yang ditempatinya ini adalah milik lelaki muallaf tersebut. Ia mengernyit ketika membaca pesan singkat di ponselnya tersebut.
I'm waiting for you in the room 100 after Subuh. Don't miss it Brother.
Ahmed penasaran. Ia melihat peta resort sejenak di HP nya dan menemukan kamar yang dimaksud yang ternyata berdekatan dengan sebuah mushollah. Ia tersenyum dan kemudian segera terlena dengan kenyamanan tempat tidur mewah yang ditempatinya. Sementara itu, di seberang kamar Ahmed, dua sejoli nampak sedang dimabuk cinta. Mereka tak bosannya meluapkan segenap perasaan dan terus berusaha untuk meriah ridho Ilahi, berharap bisa mencetak generasi penerus yang akan turut memakmurkan bumi dengan kebaikan-kebaikan. Maxwell nampak tersenyum puas sambil menikmati keindahan di sisinya yang luar biasa. Sosok wanita sempurna di matanya tersebut sudah tertidur pulas setelah bekerja keras melayani sang suami yang selalu haus akan cintanya. Tak lupa sebelumnya keduanya mandi air hangat dan berwudhuk sebelum akhirnya kembali menembus alam mimpi.
Satu jam kemudian, Maxwell terbangun. Ia melihat jam di HP nya dan bergegas bangkit. Dikecupnya kening Ayesha cukup lama. Honey, maafkan aku, sementara ini aku titipkan engkau pada kakakmu, Insyaa Allah kita akan bertemu kembali secepatnya, gumam Maxwell dalam hati sebelum kemudian beranjak perlahan meninggalkan sang istri.