A Mafia'S Love For A Muslimah

A Mafia'S Love For A Muslimah
Episode 124. Ikut Daddy Ya....



Julia Grace hanya mampu menangis dalam dekapan sang ayah. Tuan Abraham telah menceritakan semuanya, juga info dari Maxwell yang telah mengirimkan pesan suara ke telepon seluler Mark sang body guard tentang kenyataan Julia anak dari istri kedua Sang Paman. Karena itulah Maxwell mengumumkan bahwa Julia adalah sepupu sekaligus bibinya waktu itu, dan sebenarnya memang begitu adanya. Jadi bukan sekedar penghiburan semata.


"Sayang....anakku ..maafin Daddy baru menemukanmu setelah sekian lama...maafin Daddy Sayang....", Tn Abraham terus menciumi pucuk kepala sang putri yang selama ini hilang dari ingatannya. Mereka duduk di sofa sambil saling memeluk. Sesekali terdengar sesenggukan keduanya yang masih diliputi keharuan dan kerinduan. Sejenak Abraham melepaskan pelukannya dan menatap sang putri. Disekanya air mata Julia dengan lembut sementara air matanya sendiri terus mengalir. Ia kembali menciumi kepala sang putri dibalik kerudung hijaunya. Sementara Mark hanya bisa terpaku duduk di seberang sofa, tak jauh dari mereka berdua.


"Sebenarnya...sejak kita pertama kali bertemu di meja makan mansion Maxwell, hatiku sudah terdetak menatap wajahmu Sayang ...namun aku tidak punya sedikit pun memory untuk menyambung ikatan batin di antara kita...".


Julia mendongak menatap sang ayah. Matanya menatap pilu penuh kerinduan.


"Aku pun sama Daddy...aku merasakan sesuatu perasaan yang berbeda ketika melihat Daddy waktu itu...juga ketika melihat Daddy menangis di makam Bunda Sofia...ibunda Tuan Maxwell....".


"Maxwell sepupumu Sayang ..jangan dipanggil lagi dengan Tuan...engkau Julia Grace Al Qudri...seorang keturunan Alexander Al Qudri, kakek yang sama dengan Maxwell Powell Al Qudri Sayang....", terselip rasa bangga dalam intonasi suara sang The Lion of Dessert Abraham Alexander. Sang lelaki separuh baya yang masih terlihat gagah itu terus membelai kepala sang putri dan membimbing kepala wanita berhijab itu ke bahunya.


"Iya Daddy...tapi masih sulit bagiku mengubah panggilan itu...aku belum terbiasa...".


Julia perlahan melepaskan pelukannya dari sang ayah. Seakan baru tersadar, wanita cantik itu tergagap dan menoleh ke arah sang suami yang masih membisu memandangi mereka berdua.


"Daddy....aku tidak sendirian di sini...", lirih Julia.


"Ah ya, kamu bersama siapa Sayang?"


"Dia Mark, menantu Daddy...", Julia berdiri dan mendekati sang suami.


"Hah, sejak kapan kalian menikah?", Abraham nampak terkejut mendapatkan Mark sebagai suami putrinya, sosok yang sudah tak asing baginya.


"Kamu body guard Maxwell bukan?"


Mark tercekat. Ia yang awalnya hendak memberikan salam menjabat tangan sang ayah mertua menjadi urung. Walau Abraham tidak bersikap buruk, tapi entah mengapa Mark merasakan sesuatu hal yang tidak nyaman dari ekspresi sang ayah mertua yang baru dikenalnya beberapa waktu.


"Benar Tuan. Saya selama ini menjadi body guard Tn Maxwell", Mark akhirnya berdiri dan membungkuk hormat seperti sikapnya yang biasa terhadap semua orang penting relasi Boss-nya. Abraham hanya melirik sekilas. Sementara Julia nampak menangkap hal yang kurang nyaman dari sikap sang Daddy yang baru diketahuinya hari ini.


"Daddy...kami memang belum mempublish pernikahan kami. Semuanya berjalan begitu cepat. Waktu itu aku..."


"Sudahlah Sayang...aku tidak mau merusak pertemuan kita dengan hal lainnya. Ayo bersiap pulang. Kamu mau pulang dengan Daddy bukan?"


"Pulang?"


"Ya. Kamu ikut Daddy ke Amerika ya. Di sana adalah rumahmu. Kakek dan kedua pamanmu pasti juga sangat ingin bertemu denganmu Nak..Mereka pasti sangat bahagia mengetahui bahwa selain Maxwell, ada seorang lagi generasi penerus keluarga Al Qudri Sayang ...dan itu adalah putri Daddy Abraham Alexander...oh God....". Abraham menatap sang putri dengan wajah penuh kebahagiaan dan pengharapan. Seketika Julia menelan salivanya yang mendadak kering.


"Ah, atau kamu masih ingin melakukan sesuatu hal lainnya Nak? Katakan pada Daddy kamu minta apa Sayang...Daddy pasti akan memberikannya...". Sorot mata biru itu nampak berbinar ceria.


"Kamu ingin keliling Jepang dulu? Atau ingin negara lainnya? Kamu ingin travelling dulu keliling Eropa? Amerika? Asia barangkali? Kamu ingin apa Sayang? Katakan...Daddy pasti akan memberikannya dan menemanimu kemanapun kamu minta...", Abraham seolah lepas kendali. Kedua tangannya tak lepas dari kedua bahu sang putri. Menatapnya dalam tanpa menoleh sedikit pun ke arah Mark, sang pria yang baru saja dikenalkan sebagai menantunya.


"Daddy...aku...aku...", Julia kebingungan. Pandangannya terbagi kepada dua pria di hadapannya yang sama-sama menatap nanar ke arahnya. Mark yang sejak tadi masih berdiri kemudian perlahan mundur dan berbalik. Hatinya mendadak perih. Dia berjalan pelan menuju kamarnya kembali. Kamar yang sudah tiga bulan ini ditempati bersama sang istri tercinta. Dia ingin memberikan waktu pada sang istri bersama sang ayah secara privasi. Mereka baru saja mendapatkan kebahagiaan yang hilang selama ini. Biarlah Mark mengalah dan membiarkan keduanya mengungkapkan segala asa dan kebahagiaan tersebut. Sebaiknya Mark hanya memberikan persetujuan terhadap apapun yang akan diputuskan oleh sang istri nantinya. Begitulah monolog batinnya.


Julia yang ditinggalkan Mark hanya bisa mengerjapkan matanya tatkala sang ayah memanggilnya kembali.


"Nak...bagaimana? Engkau mau kan berada di sisi Daddy untuk seterusnya?"


"Daddy ...maaf ini...terlalu mendadak untukku ..maaf Daddy...aku belum terbiasa denganmu...dan aku...masih punya hal lain yang akan diselesaikan di sini..."


"Apa itu Sayang? Kamu mau melakukan apa lagi di sini? Bukankah terapi kakimu sudah selesai? Kamu sudah sembuh kan Sayang?"


Abraham sudah menyelidiki keadaan Julia Grace sebelum tiba di Tokyo subuh tadi. Ia sudah menugaskan anak buahnya yang tersebar di berbagai negara termasuk di Jepang begitu Maxwell mengabarkan dirinya bahwa sang putri yang selama ini dicari ada di sini.


"Sudah Daddy...dan hari ini kami bersiap hendak kembali ke Ausy. Mark punya banyak pekerjaan di sana setelah tiga bulan lamanya ia cuti karena menemaniku berobat di sini", ucap Julia jujur. Ia menyelami ekspresi di wajah sang Daddy kemudian.


"Mark bisa kembali ke Ausy. Tapi Daddy tidak bisa membiarkanmu ikut Nak...kamu butuh pemulihan maksimal agar kakimu benar-benar sembuh seperti sedia kala. Ikutlah Daddy ke New York. Daddy akan merawatmu dengan baik di sana. Ok?"


"Daddy...maafkan aku...aku sudah menjadi seorang istri sejak tiga bulan yang lalu. Mark adalah suamiku. Kemanapun dia berada maka aku akan di sisinya. Mark juga akan memberikanku perawatan terbaik. Maaf Daddy...aku tidak bermaksud menolakmu, tapi..."


"Ah ya... Daddy sampai lupa apa statusmu bersama Mark. Baik. Tidak masalah Sayang. Kita baru bertemu. Tak semestinya Daddy memaksakan kehendak padamu...Daddy yang minta maaf Nak.. Daddy tidak bermaksud untuk memisahkanmu dari suamimu. Ini mungkin karena Daddy merasa sangat bahagia bertemu denganmu hingga melupakan kondisimu yang sudah berkeluarga sekarang ".


"Terima kasih Daddy. Aku senang Daddy memahamiku".


"Ah ya, bagaimana jika kita keluar sebentar? Daddy kebetulan belum sarapan. Bisakah kita makan bersama di luar?"


"Oh ya, Mark juga belum makan Dad. Sebentar aku panggilkan suamiku. Kita pergi bersama boleh kan?"


"Tentu saja Sayang...panggillah Mark Sayang...".


"Terima kasih Dad...aku permisi dulu...".


"Ya Sayang...cepatlah Nak... Daddy menunggumu"


"Baiklah Dad. Tunggu sebentar ya...", Julia pun beranjak masuk ke kamarnya.


"Ah Sayang, mengapa kau malah menikah dengan seseorang yang bahkan jauh dari strata sosial kita Nak? Ah, seandainya aku tidak terlambat menemukanmu Julia....tentu bukan si ajudan itu yang akan menjadi pendamping hidupmu ... Dia sungguh bukan level kita Sayang...", batin Abraham resah. Ia meremas rambutnya sambil menggelengkan kepalanya masih merasa ini bukan nyata. Ia patut bersyukur bisa bertemu dengan sang putri, keturunan yang selalu diimpikannya untuk sumber kebahagiaannya pada masa yang akan datang. Namun, bersama pemuda yang hanya berprofesi sebagai seorang pengawal dan tidak memiliki aset berharga sebagaimana kebanyakan konglomerat sungguh membuatnya belum siap. Apa yang akan disampaikannya pada rekan bisnisnya jika mereka bertanya siapa menantunya? Abraham nampak gelisah dan berpikir dalam. Sepetik ide terlintas di benaknya dan membuatnya tersenyum tipis.


Sementara itu, di dalam kamar, Julia sedang mendekati sang suami yang duduk di sisi ranjang.


"Sayang...aku..."


"Ada apa Sayang?"


"Kita pergi sarapan dengan Daddy ya...dia mengajak menantunya ini ikut serta", Julia berbicara seraya mengambil posisi duduk di sisi sang suami.


"Aku rasa kalian perlu menghabiskan waktu berdua Sayang. Pergilah. Tidak apa, aku menunggu di sini saja. Bibi Harimi juga sudah selesai masak". Mark menatap mata sang kekasih halal dengan tatapan lembut.


"Suamiku....aku..."


"Kita sudah makan pagi bersama selama kurang lebih 90 kali di sini. Ya kan? jadi sekali saja engkau tidak bersamaku sarapan tidak akan jadi masalah, hm?"


"Tapi aku..."


"Pergilah Sayang...Tuan Abraham pasti sudah menunggumu dan saat ini kelaparan..."


"Suamiku..."


"Pergilah. Aku tidak apa-apa. Jemput kebahagiaanmu Sayang...Engkau pasti sudah merindukan momen ini kan? Bertemu dan bersama ayahanda yang selama ini kau cari keberadaannya kan?"


"Tapi aku ingin juga bersama ayah dan suamiku..."


"Ini cuma pergi sarapan Sayang. Bukan ke Amerika untuk meninggalkanku bukan?"


Julia tercekat mendengar kata-kata Mark. Sang suami pun mencoba meyakinkannya kembali hingga akhirnya Julia pun pergi bersama Tn Abraham untuk sarapan bersama di restaurant terdekat.


"Makanlah ini Sayang...ini sangat enak", Sang Daddy menyodorkan salmon panggang dengan sup miso yang nampak menggugah selera.


"Terima kasih Daddy", Julia pun mengambil makanan yang didekatkan di depannya oleh sang Daddy dan perlahan melahap sedikit salmon panggang tersebut dengan kuah sup yang masih panas. Sebenarnya dia sudah eneg karena sudah beberapa jenis makanan yang diberikan sang Daddy dan mau tak mau, demi menghargai ia menelan semuanya meski sudah cukup kenyang, hingga...


"Ini juga Sayang, dashi hangat ini harus kamu habiskan ya, ini sangat bagus untuk pemulihan tulang kamu". Abraham menyodorkan kembali semangkuk dashi dengan antusias setelah salmon hampir habis dilahap oleh sang putri.


"Daddy....aku...sudah sangat kenyang...mohon maaf Daddy....aku...."


"Julia...oh ya...baiklah...", kamu habiskan saja salmonnya ya Sayang...."


"Iya Dad....terima kasih...".


Setelah drama makan sarapan selama lebih dari setengah jam, akhirnya Julia dan Abraham pun selesai dan sekarang beralih duduk di gazebo depan restauran.


"Sayang...ceritakan pada Daddy perjalanan hidupmu selama ini Nak...apakah kamu dilahirkan di Ausy?"


"Daddy sama sekali tidak ingat apapun tentang kami?"


Abraham menunduk sesaat dan setelahnya menatap langit. Wajahnya seketika mendung dengan sorot mata kesedihan. Sambil menerawang menatap kosong ke depan, ia pun perlahan bercerita.


"Daddy menikah dengan seorang perempuan bernama Caroline. Sampai usia pernikahan kami menginjak 10 tahun, kami tidak juga dikarunia keturunan. Dan suatu hari, yang Daddy ingat, Daddy hendak bepergian dan kemudian ketika sadar Daddy sudah terbaring di ICU rumah sakit New York. Semua terasa gelap dan Daddy tidak ingat apapun tentang masa lalu Daddy. Kata dokter, Daddy kehilangan short term memory karena kecelakaan di kepala Daddy. Kenangan lima tahun sebelum daddy kecelakaan tidak akan bisa Daddy panggil kembali. Hingga kemudian Daddy menyadari sesuatu. Daddy sering bermimpi didatangi seorang anak kecil berusia sekitar tiga tahun yang terus memanggil Daddy sebagai ayahnya. Karena itulah Daddy penasaran dan mencoba mengingat kembali. Namun yang terjadi, semua terapi yang Daddy coba membuat kepala Daddy seakan hendak pecah dan dokter syaraf mengultimatum Daddy untuk tidak lagi melakukannya. Dan akhirnya, kecurigaan Daddy pun terjawab dengan kasus kecelakaan yang menimpa Maxwell dan keluarga istrinya. Kakekmu pun menemukan fakta yang sama. Bahwa Caroline, istri pertama Daddy tersebut yang menjadi dalang dari semua kecelakaan yang menimpa Maxwell dan keluarga istrinya tersebut, kecelakaan Daddy juga ibumu dan kamu sendiri selama ini".


Julia terhenyak mendengar penuturan sang ayah. Kenangannya bersama sang Kakak dan juga kelebatan peristiwa yang mengancam nyawanya pun berputar tak terkendali di kepalanya. Dengan gemetar, ia pun berkata.


"Mengapa.... istri Daddy begitu tega melakukan semuanya...."


"Karena iri dan keserakahan. Ia ingin kami mengadopsi keponakannya, anak dari adiknya, dan menjadikannya pewaris tunggal agar harta warisan Al Qudri tidak jatuh ke keturunan Al Qudri yang sah"


"Bukankah kalian belum tau tentang diriku dan Tuan Maxwell?"


"Maxwell. Panggil dia Maxwell"


"Ya. Kak Maxwell"


"Diam-diam Caroline sudah mengetahui tentang keberadaan dirimu. Ia tau jika Daddy telah menikah lagi dan mempunyai kamu, Nak. Hingga kemudian Caroline pun gelap mata hingga merencanakan kecelakaan untuk ibu kandungmu dan dirimu. Tapi takdir berkata lain. Sewaktu kalian hendak menggunakan mobil yang sudah Daddy siapkan, ternyata Daddy ada keperluan mendadak dengan rekan bisnis Daddy yang penting, sehingga kalian pun naik taksi dan Daddy yang menggunakan mobil tersebut yang ternyata sudah disabotase oleh anak buah Caroline. Akhirnya Daddy pun kecelakaan dan mengalami amnesia tersebut".


"Lalu di mana sekarang wanita itu?".


"Dia sudah pergi dan tak akan bisa mengganggu kita lagi nak..."


"Maksud Daddy? Apakah Daddy bisa menjamin wanita itu tidak akan mengusik kehidupanku lagi? Setelah apa yang selama ini diperbuatnya padaku dan juga Kakakku?"


"Apa yang telah dilakukannya selama ini padamu Sayang?"


"Dia selama ini seperti hantu yang membayangi semua langkahku Dad...dimana aku merasa tidak ada bumi yang benar-benar aman untuk kudiami...hingga aku... selama ini salah sangka...ku pikir yang melakukan semua rencana pembunuhan terhadapku adalah orang lain...tapi ternyata...dia ..wanita itu... yang aku bahkan tidak pernah berjumpa bahkan mengenalnya sedikit pun ....namun syukurlah...Tuhan masih selalu melindungiku...seakan aku ...punya banyak nyawa....namun nyatanya...akhirnya....dia pun berhasil juga...berhasil membunuh Kakakku....saudaraku satu-satunya....tempatku bergantung selama ini...Kak Cristine...wanita itu berhasil membunuhnya.. juga keluarga Kak Ayesha istri Kak Maxwell...", air mata tak tertahan tumpah juga di pipi Julia yang putih bersih.


"Tenanglah Sayang. Dia benar-benar tidak akan bisa mengusikmu lagi ..", Abraham serta merta mendekap putrinya dengan sedih.


"Dimana dia Daddy...aku ingin memastikan apa yang Daddy katakan itu .."


"Dia ....sudah tidak tinggal di dunia ini lagi Sayang....jadi kamu jangan takut lagi ya...".


"Apakah dia sudah mati? Bagaimana dia bisa mati?"


"Ya. Dia sudah memilih kematiannya sendiri".


"Apa maksudnya Daddy? Daddy yang membunuhnya?".


"Sudahlah Sayang ..bagaimana dia mati yang penting hidupnya sudah berakhir karena telah mempertanggung jawabkan semua kejahatannya pada semua korban selama ini. Ok?"


Julia pun akhirnya terdiam. Dia menghapus air matanya dan kemudian berdiri.


"Daddy, sepertinya sudah cukup untuk hari ini. Apakah kita bisa kembali ke villa?".


Abraham mendongak menatap putrinya.


"Apakah ada hal lain yang akan kau kerjakan Sayang? Ah mungkin kamu ingin beristirahat?"


"Ya, Daddy. Bolehkah kita kembali? Aku merasa tidak enak badan. Mungkin karena semalam kurang beristirahat. Sepintas Julia mengingat aktivitas memabukkan yang dia jalani bersama sesosok pria tampan di villa yang tak lain suaminya sendiri. Tanpa bisa ditahan, pipinya seketika merona dan itu bisa ditangkap oleh sang ayah. Seketika pria tua itu pun tercenung.


"Ah ya, Daddy lupa, kalian kan sedang honey moon ya...", ucap Abraham menggoda.


"Daddy...bukan itu...kami hanya...hanya ..."


"Sudahlah. .Daddy sangat paham itu... Baiklah kita kembali. Daddy juga ingin beristirahat. Jika kamu ada waktu, datanglah berkunjung di villa sebelah ya Sayang....kamu belum menceritakan kisah hidupmu selama ini....selama tidak ada Daddy di sisimu Sayang...."


"Ya, Dad... Insyaa Allah....".


Sesaat Abraham terpaku, ia melupakan kenyataan sedari tadi bahwa ternyata mereka berdua mempunyai keyakinan yang berbeda.


Keduanya pun kini beranjak meninggalkan restauran dan kembali ke villa kediaman Julia dan suaminya.


Sepulang mengantar sang putri di teras villanya, Abraham Alexander yang masih berada di sisi mobilnya di halaman villa, kini bergegas meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Aku ayah mertuamu. Temui aku malam ini di restauran hotel samping restauran depan villa kalian tinggal. Jangan tau istrimu".


Julia, ini untuk kebaikanmu Sayang....Mark harus meninggalkanmu. Monolog Abraham dalam hati.