A Mafia'S Love For A Muslimah

A Mafia'S Love For A Muslimah
Episode 67. Penyanderaan.



Maxwell menatap Ayesha sambil menggelengkan kepalanya. Teka-teki kehidupannya sampai sekarang tak pernah terjawab dan mungkin tak akan terjawab karena setahu dia, orang yang menjadi kunci tabir rahasia siapa keluarga kandungnya sudah tewas. Ia sendiri yang menyelidikinya.


"I don't know. Aku sudah lama menyelidikinya namun pada akhirnya aku seperti membentur tembok baja yang tinggi. Tak ada satu pun jejak yang tertinggal yang bisa ditelusuri. Mendiang ayah angkatku menutup rapat-rapat semuanya dengan sangat baik", Maxwell menarik nafasnya perlahan.


"Hubby tidak ingin melanjutkan lagi pencarian tersebut?"


"Tentu. Sampai sekarang aku masih mengirim orang-orangku mencari petunjuk. Bagaimanapun, tak ada orang di dunia ini yang tak ingin tau seluk beluk dirinya sendiri bukan?"


"Of Course. Semoga Hubby segera mendapatkan petunjuk yang bisa membuat Hubby menemukan keluarga kandung Hubby. Tetaplah berdoa. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Amat mudah bagi-Nya mengabulkan permintaan hamba-Nya yang memohon. Apa pun itu", Ayesha menggenggam erat tangan suaminya seakan ingin memberikan keyakinan. Maxwell tersenyum dan mencium punggung tangan yang halus itu dengan lembut. Ayesha pun turut tersenyum pula.


Sementara itu, nun jauh di pinggiran kota Sydney, di sebuah ruko yang sudah lama tak berpenghuni, nampak dua sosok tubuh tergeletak tak berdaya di atas lantai kotor di sebuah kamar yang cukup luas. Salah satunya nampak pingsan tak bergerak dengan luka tembak di bahu kirinya, darah masih menetes dari luka yang terbuka. Selain tembakan, sepertinya sosok itu juga mengalami penganiayaan senjata tajam. Sedangkan sosok yang lainnya sedang berusaha duduk dengan ikatan di kedua tangan dan kakinya. Badannya basah karena siraman air. Dengan nanar sosok yang lebih muda itu memandang sekelilingnya dan mulai bergerak mendekat ke arah dinding.


Dimana mereka membawa kami? Oh God, selamatkan kami. Ya Rabb, hanya pada-Mu kami menyembah dan hanya pada-Mu kami mohon pertolongan, bisiknya lirih sambil memandang sosok tua yang terbaring cukup mengenaskan di dekatnya. Perlahan air mata tumpah mengalir di sudut matanya mengenang jalan hidupnya selama ini. Allah tak akan membiarkanku. Sebelum ini aku dan kakak selalu selamat. Kali ini kami juga akan selamat. Ya Allah, Engkau yang Maha Menyelamatkan, doanya kembali dengan suara lemah. Dengan susah payah, dia akhirnya bisa bersandar di dinding dekatnya dan menyelonjorkan kakinya yang terasa kaku dan kebas karena sudah berjam-jam berada dalam posisi yang sama. Namun baru sejenak ia bernafas lega, kini matanya melotot menangkap benda mengerikan yang berkedip-kedip di salah satu sisinya. Benda penghancur di atas lemari kayu yang tinggi itu bertuliskan 02:00:50 dengan angka di akhirnya yang terus berkurang. Dadanya bergetar. Dipejamkannya matanya mencoba untuk menenangkan diri sebelum kemudian terbuka dan mencoba menelusuri tiap jengkal ruangan yang ditempatinya untuk mencari sesuatu.


Ayesha dan Maxwell baru tiba di mansion setelah sholat Magrib di perjalanan. Keduanya kini berada di ruang tengah menerima laporan Patch dan Peter. Mark dan timnya juga Zeny turut diam mendengarkan.


"Mereka menangkap Bibi Cristine dan membawanya ke arah Utara, di pinggiran kota Tuan"


"Di mana mereka menangkap Bibi?", tanya Maxwell.


"Di dekat gereja tak jauh dari University of Sydney Sir", jawab Patch.


Maxwell berpikir sesaat.


"Apa yang mereka inginkan"


"Sejauh ini mereka belum melakukan apa pun Tuan"


"Lalu?"


"Orang kita masih berjaga di sana dan sedang mencari celah untuk membebaskan sandera. Saat ini mereka belum bisa ditembus karena sandera dalam ancaman bom"


"Jangan sampai kalian salah langkah"


"Tentu, Tuan"


"Kita tunggu apa mau mereka"


"Baik, Tuan. Kami paham"


Patch dan yang lainnya pun beranjak pergi setelah lebih dahulu menunduk hormat. Tapi belum lagi kaki mereka meninggalkan ruang tengah, terdengar dering hand phone di saku baju Maxwell. Ia mengernyitkan dahi ketika muncul nomor tak dikenal. Biasanya Maxwell akan mengabaikan nomor asing di hand phonenya, namun Boss besar multi perusahaan raksasa itu pun mengangkatnya mengingat kondisi Bibi Cristine saat ini.


"Apa maumu?", tanyanya to the point setelah mendengar suara asing di seberang yang menyapanya dengan nada khas seorang musuh.


"Kau tau apa yang harus kau lakukan bukan?"


"Baik, Tuan", Patch segera berlalu diikuti oleh orang-orangnya.


Ayesha mendekati suaminya. Zeny, Mark, Jack dan Todor hanya memperhatikan.


"Mark, kau bisa menjinakkan bom bukan?"


Mark mengangguk.


"Ikutlah dengan Patch dan timnya. Berkoordinasilah"


"I see, Sir."


"Aku tau ini bukan hal sulit untuk kalian"


"Baik, Tuan. Kami akan membawa sandera pulang dengan aman"


"Good"


Mark dan tim nya pun pergi. Tinggal Zeny yang masih setia berdiri di tempatnya karena tugasnya adalah menjadi body guard Ayesha.


"Zeny, beristirahatlah".


"Maaf Nyonya. Saya tidak lelah. Saya akan tetap di sini menunggu perintah", Zeny tak bergeming.


"Saat ini istirahatlah dulu. Kau boleh duduk di sofa melepas penat. Mungkin tak lama lagi akan ada tugas berat yang menanti. Kumpulkan energimu", ucap Ayesha. Ia melangkah ke atas mengikuti sang suami yang sudah lebih dulu naik menuju kamar mereka.


Sesampai di kamar, bukannya beristirahat, ternyata Maxwell mengganti pakaiannya dengan pakaian casual. Ia sudah bercelana santai di bawah lutut dengan kaos berkerah dan topi yang menutupi sebagian wajahnya. Ayesha tercenung menatap penampilan suaminya.


"Honey, aku pergi dulu. Tetaplah di sini"


"Hati-hati, Hubby", Ayesha hanya menarik nafasnya sesaat dan mendoakan suaminya.


"Kembalilah dengan selamat dan bawalah Bibi dalam keadaan hidup", tatapnya ke wajah manly di depannya. Diraihnya tangan Maxwell dan diciumnya.


"Tenanglah. Ini bukan hal pertama terjadi padaku", Maxwell meyakinkan istrinya dan bergegas pergi setelah memastikan perlengkapan senjatanya sudah lengkap tersimpan di bagian tubuhnya.


Di tempat lainnya, Mark sedang sibuk mengutak-atik sesuatu di tangannya. Mereka sudah berada di dekat bangunan kosong tempat penyekapan yang sudah terdeteksi. Setelah 10 menit berusaha keras meretas sistem keamanan musuh, Mark nampak tersenyum tipis.


"Plan B", ujarnya pelan pada beberapa orang di dekatnya. Yang diperintah segera bergerak menerjang ke depan dengan serentetan senjata laras panjang penghancur. Terlihat orang-orang berpakaian hitam bertopeng keluar dari bangunan menyambut serangan tersebut. Baku tembak pun terjadi. Orang-orang Patch yang sudah siaga di sekeliling lokasi pun membantu dengan sniper mereka. Korban pun berjatuhan dari pihak musuh karena jumlah mereka tidak memadai. Mark dengan lihainya sudah masuk dengan memanfaatkan kericuhan yang terjadi. Beberapa orangnya mengikuti untuk memberi perlindungan. Dengan mudahnya mereka menemukan lokasi penyanderaan karena kemampuan hacker-nya. Tanpa suara ia membuka pintu di depannya. Namun baru saja kepalanya masuk, kilatan merah sudah menyambut kepalanya. Ia sudah menduganya namun nampak tenang memandang ke depan. Plan C, gumamnya pelan. Benda kecil tak terlihat terpasang di telinganya.