
"Jadi apa yang Honey inginkan dariku?", tanya Maxwell kemudian.
"Ah nanti saja. Sekarang aku lapar. Ayo kita pergi makan dulu", Ayesha lalu memakai cadarnya dengan cepat dan menarik suaminya keluar. Para WO yang ada di luar hanya tersenyum dan membungkuk hormat ketika mereka lewat. Dengan ramah, Ayesha pun balas membungkukkan badannya sedikit dan mengucapkan terima kasih dan kemudian berlalu pergi. Para wanita dan pria yang sejak tadi sedang sibuk mempersiapkan perhelatan akbar nan penting sang Big Boss mereka pun terkesima melihat sikap sang Nyonya.
"Sungguh, sikap Nyonya Besar tidak seperti yang ku bayangkan. Tuan Besar begitu dingin dan menakutkan, namun istrinya terlihat cukup bersahabat", ucap salah seorang wanita yang sibuk menyusun beberapa pakaian resepsi yang sebelumnya sudah dicoba oleh Ayesha.
"Bukan hanya sikapnya yang ramah tak seperti para nyonya besar pada umumnya tapi juga.....", sambung seorang wanita yang lainnya.
"Wajahnya....kau tau? Nyonya Besar ternyata luar biasa cantiknya. Sungguh seperti seorang bidadari dari syurga...aku tak pernah melihat wanita secantik dia...dia benar-benar seorang noni Rusia yang semua wanitanya terkenal paling cantik di dunia..." sang wanita melanjutkan kembali kalimatnya tapi seketika menutup mulutnya dengan mata yang melotot. Oh God, mati aku, gumamnya. Ia benar-benar merutuki kebodohannya mengungkapkan sebuah rahasia.
"Benarkah? Mana fotonya...kami ingin lihat...", para wanita pun berteriak heboh. Mereka diliputi penasaran yang tinggi.
"Tidak. Tidak. Sumpah demi Tuhan aku tak berani melanggar janjiku. Aku tak boleh menyebarkan foto mereka bedua kepada siapapun. Ini semua untuk dokumentasi pribadi Tuan dan Nyonya Besar saja...Tolong jangan paksa aku...Aku masih ingin hidup...", sang wanita ketakutan sambil mendekap kameranya.
"Hei jangan takut. Kami hanya ingin melihat wajah Nyonya. Bukan untuk menyebarkannya. Janji. Jadi kau tak usah takut. Hanya melihatnya saja dan merekamnya di otak kami. Bukan di ponsel kami. Jadi jangan takut. Ok?", seru seorang wanita yang paling bersemangat. Yang lainnya pun menimpali dan berjanji yang sama. Mereka terus merayu, membujuk sang kawan dengan berbagai janji. Si fotografer pun menarik nafas dan akhirnya menyerah. Ia percaya pada semua rekannya itu yang notabene sudah dikenalnya dengan baik. Akhirnya mereka para wanita yang penasaran pun ke ruang ganti karena sang kameramen tak ingin ambil resiko di tempat yang ada cctv nya.
"Oh My God....", semua ternganga takjub melihat hasil jepretan sang teman. Berbagai pose mesra sang Tuan dan Nyonya dengan wajah sang Nyonya yang bercadar dan tidak pun membuat mereka berdecak kagum.
"Wow...luar biasa..kau benar...Nyonya sungguh sangat sangat cantik...pantas saja Tuan membungkus wajahnya agar tak dinikmati orang lain...ck ck ck..."
"Hei apa yang kau katakan? Kau pikir Nyonya itu permen harus dibungkus?"
"Maksudku, Tuan tidak rela istrinya dilihat oleh pria lain...makanya Tuan tutupi wajahnya dengan cadar..."
"Ah kau kira jika bukan karena keinginan sendiri Nyonya tahan untuk menutup diri seperti itu?"
"Bukankah Tuan sangat menakutkan. Nyonya tentu tak berkutik melawan perintahnya...."
"Tapi sepertinya Nyonya seorang golongan wanita muslim yang suka menggunakan cadar...dan bukankah Tuan dulunya bukan muslim? Jadi sepertinya Nyonya sejak dulu memang menutupi wajahnya...bukan karena diperintah oleh Tuan Besar..."
"Ya...aku setuju dengan pendapatnya..."
"Bisa jadi begitu...tapi jika pun karena disuruh Tuan Besar...artinya Tuan Besar sungguh possessive dan melindungi Nyonya Besar...oh so sweet...."
Para teman sang fotografer pun heboh dan berkomentar macam-macam. Sang fotografer hanya menggeleng-gelengkan kepalanya gemas dengan ucapan para temannya. Setelah selesai melihat-lihat foto di kameranya, ia pun segera menutupnya dan memeluk kamera dengan erat di dadanya.
"Sudah. Sudah. Ah kalian ini asal menebak saja. Kuingatkan, jangan sekali pun memberitahukan masalah ini pada siapapun. Simpan rapat-rapat. Apapun alasan Nyonya bercadar, yang jelas, menurutku itu sangat bagus", ujar sang kameramen.
"Maksudmu?", serentak rekannya bertanya.
"Jika Nyonya mengumbar wajah dan tubuhnya seperti kebanyakan kita...ku kira banyak pria gila karena salah telah menyukainya...dan satu lagi...tentu para wanita akan iri padanya dan membahayakannya....kalian paham?", tutupnya.
Semua terdiam dan mengangguk. Tak lama mereka pun bubar karena dipanggil sang manajer di luar.
"Ingat janji kalian ya...jaga rahasia ini...", sang pemotret kembali mengingatkan janji para rekan kerjanya tersebut. Para wanita itu pun saling memberikan jempol tanda meyakinkan. Sang wanita pemotret nampak sedikit lega dan bersiap ke ruang kerjanya. Ia harus segera mencetak foto-foto tersebut untuk diberikan pada Nyonya besar dan men-delete filenya di kamera itu segera. Demikian pesan sang Nyonya. Ah aku tidak melanggar janji kan? Aku tidak menyebarkan semua foto ini. Aku hanya menunjukkannya saja pada teman-teman yang bisa dipercaya, pikirnya.
Sementara itu, Ayesha dan Maxwel kini sudah berada di kafe kecil yang nampak bersih di dekat boutique. Awalnya Maxwell tidak mau namun Ayesha meyakinkannya. Kini mereka sedang menunggu pesanan. Tak lama, yang dipesan pun sudah datang.
Semangkuk sup buah segar tanpa susu bertabur lumeran ice cream rasa vanilla dan dua gelas orange juice tanpa ice kini terhidang di meja keduanya yang berada di sudut. Menu yang menggugah selera di tengah musim semi di hari menjelang waktu Juhur di Sydney saat ini. Setelah berdoa Ayesha pun langsung menyantap pesanannya dengan penuh nikmat. Di tempat yang cukup terlindung dari para pengunjung kafe yang belum ramai, Ayesha lebih leluasa mengangkat cadarnya ke atas dan melahap menunya dengan nikmat. Maxwell sesekali meminum juice-nya dan terpana menatap sang istri yang nampak cukup bersemangat melahap santapannya.
"Enak?"
"Tentu saja. Ini sangat enak. Hubby mau coba?"
"Tidak, Sayang. Cukup melihatmu senang aku pun sudah kenyang"
"Wow..so sweet...gombalan lagi..."
"No. Aku memang belum lapar, Sayang...dan juice ini sudah cukup untukku"
"Begitu kah?"
Selang sepuluh menit kemudian Ayesha pun menghabiskan sup buahnya. Ia mengambil juice-nya dan meminum sedikit.
"Bagaimana? Apakah istriku sudah kenyang sekarang?"
"Alhamdulillaah sudah By. Ini sangat enak dan membuat perutku nyaman kembali"
Maxwell tersenyum senang melihat sang istri yang nampak memiliki energi baru.
"Sayang, kandunganmu sudah hampir dua bulan bukan?"
"Ya Bi. Sudah hampir 8 minggu sekarang. Ada apa By?"
"Kita sebaiknya ke dokter lagi untuk memastikan anak kita baik-baik saja bukan?"
"Tapi aku merasa baik-baik saja By. Insyaa Allah everything is fine"
"Tapi Honey kan merasa sering nyeri perut dan cepat lapar. Apakah itu karena perubahan hormon kehamilan atau ada sakit lainnya, aku ingin memastikan. Aku tak mau ambil resiko jika anak dan istriku ini kenapa-napa"
"Insyaa Allah tidak ada hal buruk yang terjadi selama ini. Tapi baiklah...agar Hubby lega...gimana kalau besok saja kita ke dokter?", Ayesha pun mengalah.
"Sure. A good wife", Maxwell pun tersenyum dan mengusap pelan kepala sang istri. Ayesha pun tersenyum pula.
Setelah mereka selesai dengan urusan di kafe, Ayesha minta sang suami mengantarnya pulang. Entahlah, selain cepat lapar, wanita hamil itu pun sekarang merasa lebih cepat lelah. Setibanya di mansion, pasutri itu pun segera ke kamar. Ayesha yang sudah merasa ingin segera membaringkan tubuh langsung memeluk gulingnya begitu tiba di kasur empuknya. Maxwell menggelengkan kepala melihat tingkah sang istri.
"Sayang, bersihkan dulu tubuhmu dan ganti baju sebelum tidur"
"Aku bukan ingin tidur By...", ucap Ayesha lirih.
"Walaupun tidak ingin tidur...tapi bukankah..."
"Hubby...boleh tinggalkan aku sendiri? aku ingin...memejamkan mata barang sesaat saja...sebelum waktu Juhur tiba sebentar lagi....", Ayesha sudah tak menghiraukan ucapan suaminya. Matanya dipejamkan. Maxwell mengernyitkan dahi melihat sang istri bersikap tidak seperti biasanya. Ayesha tidak pernah mengacuhkan ucapannya selama ini. Dan kini ia merasa tidak didengarkan. Walau cuma masalah kecil, namun ada sedikit rasa di sudut hatinya saat ini yang tidak nyaman. Ah, aku harus ingat, istriku sedang hamil sekarang. Ini mungkin pengaruh perubahan hormon dalam tubuhnya sehingga ia kadang suka berubah sewaktu-waktu, monolog Maxwell dalam hati.
Maxwell kembali mengingat beragam ekspresi yang diperlihatkan sang istri sejak tadi malam hingga saat ini. Sebentar nampak ceria namun beberapa saat kemudian mudah bersedih hanya karena masalah kecil. Sebentar bercanda tapi berikutnya bisa terlihat seperti merajuk. Seperti tadi malam, ia barusan bercerita pada Maxwell dengan gembira karena berhasil zooming dengan seluruh orang yang dirindukannya yaitu sang kakek Vladimir, Bibi Leida, Ali, Ahmed, dan juga dr Anne. Mereka memberi kabar baik yang sangat membahagiakan Ayesha, bahwa teman dekatnya sekaligus sepupunya, Linores, akan dilamar kekasihnya, dan kakaknya Elena, sang perintis Aysh Parfume Company sendiri sudah berhasil mengembangkan bisnis parfumnya menjadi salah satu brand parfum yang diminati kalangan atas. Para konsumennya sudah merambah dunia sosialita dan kaum selebritis. Bahkan ia dan Paman Alex mulai kewalahan melayani pesanan golongan kaum borjuis tersebut. Ayesha sesaat bercerita dengan mata berbinar begitu sang suami mengajaknya beristirahat di kamar dan menutup ceritanya dengan berulang-ulang mengatakan dia rindu pada keluarganya di Rusia. Namun ketika kemudian Maxwell memintanya untuk beristirahat dulu tiba-tiba Ayesha menangis dan mengatakan bahwa suaminya tidak memahami perasaannya. Akhirnya, malam itu Maxwell pun berjuang untuk membujuk sang istri agar memaafkannya dan dengan penuh perkataan yang hati-hati ia pun berjanji akan berusaha lebih peka lagi terhadap sang calon ibu dari anaknya tersebut. Ayesha pun memaafkannya dan tertidur. Tapi tak lama kemudian dia sudah bangun dan meninggalkan Maxwell yang sudah tertidur pula menyusulnya. Dan begitu Maxwell membuka mata menyadari sang istri tidak ada di sisinya, ia pun mencarinya dan menemukan wanita pujaan hatinya itu sedang duduk di dapur seorang diri memakan salad buah yang diambilnya dari kulkas. Sang suami yang baru datang nampak lesu dengan muka bantalnya dan sang istri yang melihatnya seketika tertawa dengan lepasnya. Maxwell pun sontak melihat ke kiri dan kanan karena merasa heran dengan tingkah Ayesha. Waktu menunjukkan jam tengah malam, dan Ayesha dengan santai tertawa di sana sambil melihat ke arahnya.
"Hubby lucu sekali. Bercerminlah Sayang. Sungguh imut sekali. Lihatlah rambutmu itu...", ujarnya sambil tertawa.
Begitulah, Maxwell merasa heran. Ayesha dalam satu hari bisa menunjukkan mood yang berubah-ubah dan tidak bisa diprediksi sikapnya tersebut.
Maxwell menarik nafas pelan. Ia pun bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Bersiap sholat Juhur yang tidak lama lagi. Setelah beberapa saat kemudian, pria tampan itu pun keluar dari kamar mandi dangan pakaian yang sudah diganti.
"Sayang ... kau sudah bangun?", Maxwell melihat Ayesha yang kini sudah duduk di pinggir tempat tidur. Wanita itu pun tersenyum.
"Ya. Hubby. Aku juga ingin berjamaah dengan Hubby. Tunggu aku ya...", Ayesha pun bangkit bergerak menuju kamar mandi. Ia akan menutup pintunya kembali namun urung. Ia berbalik dan menatap suaminya.
"Hubby, melihat kopiah di kepala...aku menjadi ingat akan sesuatu.... apa sih yang tak bisa Hubby lakukan untukku?", mata Ayesha mengerjap nakal. Wanita tanpa jilbab itu pun menutup pintu kamar mandinya.
Maxwell kembali berdebar. Ya Tuhan, semoga dia tidak meminta hal yang sulit ku lakukan", gumam Maxwell. Ia terus berdoa dalam hatinya. Digelarnya sajadah di sudut kamar dan duduk menunggu waktu sholat. Kata Ayesha, ini adalah sunnah yang dicintai Allah. Sambil memejamkan mata berharap ketenangan dari hiruk pikuk dunia, Maxwell pun mulai berzikir dengan lirih. Selintas ia mengingat tentang pembangunan Masjid di dekat mansionnya. Rumah ibadah umat Islam itu ia bangun di sana, di atas tanahnya sendiri, di dekat perumahan warga sipil yang terdeteksi juga dihuni oleh beberapa warga muslim muallaf Australia. Beberapa kilometer dari sana juga ada beberapa warga muslim lainnya yang berasal dari imigran. Ia berharap pembangunan Masjid satu-satunya di daerahnya itu bisa segera selesai dan ia bisa setiap hari ke sana untuk menunaikan sholat berjamaah. Menurut pendapat beberapa ulama yang pernah dibaca Maxwell dari buku yang diberikan Ayesha, bukankah sholat di Masjid itu amat besar pahalanya? Selain berlipat ganda pahalanya, juga bisa menghapuskan dosa-dosanya. Maxwell menarik nafas hangat. Ia kembali beristighfar dan larut dalam zikir. Sepuluh menit kemudian alarm sholat di HP-nya pun berbunyi. Ia melirik kamar mandi yang belum terbuka. Maxwell kemudian menunggu Ayesha dengan melaksanakan sholat sunnah rawatib qabliyah Juhur. Setelah selesai, ia sudah merasakan sang bidadari yng ditunggunya sudah berdiri di belakangnya menjadi makmum. Ia pun berbalik. Wajah cantik berseri yang basah itu lalu tersenyum dan memberikan isyarat padanya untuk melanjutkan. Berjamaah sholat Juhur di kamar berdua. Sebuah hal yang sekarang jarang mereka lakukan selama Maxwell mulai disibukkan oleh rutinitasnya sebagai seorang Big Boss multi perusahaan di bawah Powell Group, karena milyarder muda tersebut lebih sering berjamaah di Masjid terdekat dengan perusahaannya, sementara Ayesha hanya sering sholat sendirian di rumah jika tidak ikut bersama suaminya.
"Assalaamualaikum warahmatullaahi wa barakaatuh
"Assalaamualaikum warahmatullaahi", Maxwell mengucap salam ke kanan dan kiri sebagai tanda sholat berakhir.
Setelah berdoa masing-masing, kini keduanya larut dalam sholat ba'diyah Juhur. Kemudian duduk berhadapan masih di atas sajadah. Sang imam pun menutup teduh wajah istrinya yang nampak makin berisi namun tetap nampak semakin cantik di matanya.
"Katakanlah Sayang. Apakah yang diinginkan dari calon ibu dari anakku ini?", tanyanya melepas penasaran di hati sejak kemarin.
"Aku ingin calon Daddy dari anak-anaku ini kelak bisa menjadi imam sholat di Masjid Islamic Center yang akan selesai renovasinya sebentar lagi", jawab Ayesha mantap dengan mata berbinar. Maxwell pun spontan menelan ludahnya yang kering.