
"Sayang....I love you...", lirih Maxwell setelah melepas ciumannya sesaat, namun ia kembali melahap bibir manis di depannya degan penuh kerinduan.
Ayesha tersadar, namun ia tak tega menghentikan aksi suaminya yang ia rasakan melakukan semuanya dengan penuh perasaan. Ayesha merasa bersalah karena sudah beberapa hari ini mungkin tidak pernah memberikan perhatian khusus dan kemesraan pada suaminya yang terakhir mereka lakukan di kebun bunga. Dia masih mengikuti permainan kissing sang suami dengan malu-malu. Tiba-tiba Maxwell melepaskan ciumannya yang sudah semakin menuntut.
"I'm sorry, I can't control my self", Maxwell langsung berdiri dan menjaga jaraknya. Ia merasa khawatir dengan sikapnya terhadap sang istri yang sudah di luar kendalinya.
"It's ok. Maafkan aku yang belum bisa memberikan hubby hak batin...", Ayesha merasa bersalah. Dia sudah melihat pandangan suaminya yang sudah berkabut menahan hasratnya.
"Aku yang harusnya minta maaf. Tidak seharusnya aku terbawa suasana. Honey jangan marah ya... Aku tidak akan melakukannya lagi...", Maxwell nampak merasa tidak enak hati. Ayesha hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Tidak mengapa hubby...", Ayesha terdiam sesaat.
"Hmm, by the way sore ini mau ku temani jalan-jalan ke kota?"
"Kamu sedang sibuk, bukan?"
"Tidak mengapa, aku akan minta bantuan Linores menyelesaikannya. Ayolah bersiap. Sore ini aku akan menjadi guide yang cantik dan terbaik", Ayesha mengedip-ngedipkan matanya sambil tersenyum manis. Entah kenapa, di depan suaminya dia tidak bisa menjaga sikapnya lagi. Maxwell terpana sejenak. Ia juga merasakan sedikit perubahan pada istrinya. Lebih berani meski masih masih sangat pemalu. Dia sangat senang.
"Ayo. Aku ingin lihat sejauh mana istri cantikku yang seksi ini bisa menjadi guide yang profesional." Maxwell balas tersenyum nakal. Ayesha jadi salah tingkah sendiri dan bergegas memakai cadarnya lalu mengambil tas kecilnya dan menuju pintu.
Keduanya kini sudah berada di dalam mobil sport merah dan perlahan melaju di tengah-tengah jalanan raya menuju Moscow, kota terbesar Eropa yang terkenal di dunia. Maxwell yang kali ini memegang kemudi hanya mengikuti arahan guide cantik bercadar putih di sampingnya.
Tak lama sampailah mereka ke sebuah taman kota yang sangat luas dengan pemandangan danau yang indah dan memukau siapapun yang berkunjung. Moscow memang terkenal dengan 1/3 wilayahnya yang dijadikan taman dan inilah karakter khusus kota unik dan elegan itu.
Ayesha menarik lengan Maxwell dan mengajaknya duduk di bangku taman sambil menikmati semilirnya angin danau dan lalu lalang para wisatawan yang kebanyakan hadir bersama dengan keluarga kecil mereka.
Ayesha mengambil makanan ringan yang dibelinya di jalan tadi dan meletakkannya di antara mereka berdua.
"Makanlah hubby, ini sangat enak"
"Honey yakin?"
"Tentu saja. Hubby tidak akan menyesal untuk memakannya"
"Aku tidak percaya sebelum...."
"Enak bukan?", Ayesha tertawa melihat ekspresi terkejut suaminya. Sebelum mendengarkan jawaban sang suami yang sedang merasakan makanan baru di lidahnya, Ayesha segera menyuapkan kembali makanan tersebut ke mulut suaminya lagi, dan kali ini Maxwell memakannya separuh dan sisanya ia masukkan ke mulut sang istri dari balik cadarnya. Ayesha terkejut namun kemudian ia nikmati dengan cuek dan kini mereka malah suap suapan layaknya pasangan romantis yang sedang kasmaran. Beberapa pasang mata remaja yang tak sengaja melihat momen tersebut dengan diam-diam mengabadikannya dan mengunggahnya di sosmed mereka. Mereka membuat caption 'Lihatlah pasangan romantis di taman sore ini, Lelaki yang sangat tampan, dan aku yakin istrinya yang bercadar ini pasti cantik sekali', begitulah komentar mereka melengkapi foto yang mereka unggah di akun mereka. Dan ternyata, dalam waktu singkat unggahan tersebut sudah viral dan dibanjiri oleh beragam komen dan followernya mendadak booming dari para muslimin dan muslimat Rusia ynag saat ini memang jumlahnya mengalami peningkatan yang sangat pesat. Penduduk muslim Rusia saat ini tercatat sudah berada di angka lebih dari 20 juta orang. Sungguh fantastis.
Sementara, dua orang yang di iklankan tanpa sengaja, malah tidak tau dan mereka masih asyik dengan kegiatan suap menyuap hingga habis cemilan dan minuman mereka. Ayesha dan Maxwell nampak sangat bahagia dan kini duduk sambil menyender di bangku panjang memandang danau. Sesekali Ayesha nampak mengambil foto objek anak-anak di depannya.
"Honey suka dengan anak-anak ya?"
"Tentu saja. Mereka sangat imut dan menggemaskan. Apakah hubby suka juga?"
"Tentu saja. Aku bahkan ingin memiliki banyak anak darimu. Pasti sangat menyenangkan. Bukan sekedar anak orang tapi anak kita sendiri".
Blush. Ayesha tak siap mendengarkan ucapan Maxwell. Ia jadi malu sendiri.
"Hubby mau anak berapa? Lelaki? Perempuan?", Ayesha coba menggali pemikiran pria yang baru beberapa hari ini menjadi suaminya.
"Pokoknya banyak. Itu pun sesuai kemampuan istriku juga. Jika dia sanggu melahirkan setiap dua tahun sekali tentu akan sangat menyenangkan. Rumah kita akan ramai oleh suara tangisan dan tawa anak-anak yang imut, cantik dan tampan, karena anak-anak kita laki dan perempuan akan tampan seperti ayahnya dan cantik tentu seperti ibunya. Bagiku, lelaki dan perempuan sama saja, yang penting mereka anak-anak kita", Maxwell tersenyum sambil menatap jauh. Ada binar kebahagiaan di matanya. Ayesha terkesima.
"Hai, hubby pikir melahirkan itu mudah?"
"Bukankah honey bertanya dan aku boleh menjawab sesuai keinginanku kan? itu aku kembalikan pada kesanggupan istriku tentunya...Aku hanya memberikan flash disk saja...", Maxwell tersenyum nakal.
"Hubby....", Ayesha refleks mencubit pinggang suaminya pelan. Maxwell pura-pura meringis kesakitan.
"Aduh...wah belum apa-apa sudah diserang ini...gimana kalau beneran ya?"
"Hubby pikir mudah melahirkan? taruhannya nyawa tau...?"
"Andai aku bisa pindahkan rasa sakit itu, tentu aku bersedia menanggungnya honey...engkau cukup berbaring dan mengandungnya, biar aku yang merasakan sakit ketika melahirkannya", Maxwell menatap sang istri serius. Tidak ada candaan yang terlihat. Ayesha mengalihkan pandangannya.
"Tapi itu tidak bisa terjadi hubby. Dan aku tentu akan menjadi wanita sempurna jika mampu mennjalaninya. Terima kasih hubby jika ingin berbagi beban dna sakit itu, tapi cukuplah jadi suami dan ayah yang bertanggung jawab untukku istrimu dan untuk anak-anakmu kelak jika Allah mentaqdirkan kita mendapat anugerah yang Maha Indah itu. Dan aku Insyaa Allah akan menerima berapapun jumlah anak yang akan Allah titipkan di rahimku, jika memang Allah percayakan padaku amanah yang besar untuk menjadi seorang ibu", Ayesha tersenyum cantik. Diliriknya sang suami yang sedang menatapnya penuh cinta.
"Sayang...aku semakin mencintaimu. Percayalah, tak sekedar flash disk, seluruh hidupku akan ku berikan untukmu dan anak-anak kita kelak. Ah, kapan kita akan segera mem print nya?", Maxwell mengedipkan sebelah matanya dengan tatapan yang membuat Ayesha merona seketika. Ah, dia buru-buru meluruskan duduknya menghadap ke depan.