
Maxwell baru saja terbangun ketika suara alarm HP seperti memenuhi gendang telinganya. Ia pun segera meraih HP nya yang ditaruh di atas nakas. Melihat masih ada waktu satu setengah jam menjelang subuh, ia pun kemudian mematikan alarm benda pipih tersebut. Malam tadi ia sengaja memasangnya karena khawatir sulit terbangun disebabkan aktivitas panasnya bersama sang istri semalam. Bibirnya tersenyum merekah mengingat semuanya. Tak bosan sedikitpun, netra biru itu terus menelusuri wajah lembut nan cantik sang istri yang masih tertidur dengan damai sambil memeluknya di bawah selimut. Pelan Maxwell menyibak kain putih tebal itu dan mendapati tubuh menawan Ayesha yang seolah terus memanggil tangannya untuk menjamah. Dan benar saja, pria tampan itu tak sanggup mengendalikan dirinya lagi. Ini untuk yang ke empat kalinya ia ingin terus menyatu dengan istrinya tersebut. Dengan nakal, tangannya terus menjelajahi objek mulus di dekatnya.
Ayesha mengerjapkan matanya manakala sesuatu yang lembut dan basah menyentuh bibirnya. Ia pun tersenyum ketika menyadari apa yang terjadi. Sesaat ia terkenang dengan kegiatan malam zafaf semalam sebelum akhirnya beberapa kali mengulang wudhuk mereka karena berulang kali pula mengulangi ibadah senggama yang menggairahkan.
"Hubby... mau lagi?", Tanyanya lembut. Sebenarnya tubuhnya merasa lelah apalagi rasa sakit di bagian intimnya, namun demi melihat binar hasrat di mata sang suami ia pun tersenyum dan berusaha terlihat segar. Maxwell yang kembali menghangat pun langsung meraih tubuh istrinya dan memintanya kembali untuk melayaninya. Keduanya kembali tenggelam menyalurkan gelora pengantin baru dan akhirnya tumbang kembali setelah sama-sama mendapatkan puncak kenikmatan. Beberapa waktu kemudian Maxwell pun duduk menyandar di kepala ranjang dengan tangan kanan memeluk erat sang istri sementara tangan kiri mengelus wajah Ayesha yang lembut dan terus tersenyum sambil mendongakkan wajah ke arahnya.
"Thanks Honey. Terima kasih atas semuanya. Aku sangat bahagia bisa memilikimu seutuhnya", Maxwell mengecup kening wanita cantik yang kini sudah menjadi istrinya sepenuhnya. Ayesha mendongak dan menatap wajah suaminya dengan intens.
"Aku juga", sahut Ayesha pelan sambil tak henti tersenyum. Jari tangannya yang lembut menelusuri wajah suaminya dan sesekali mengusap dengan lembut. Maxwell memejamkan matanya meresapi setiap sentuhan lembut tersebut. Lalu perlahan tangannya turun ke bawah.
"Semoga di sini akan segera hadir Maxwell junior, hm?", Maxwell mengelus perut polos istrinya.
"Aamiin", Ayesha mengaminkan. Lima menit berlalu. Ketika melirik jam di dinding, Ayesha segera bangkit namun tertahan sejenak ketika merasakan nyeri pada organ vitalnya. Maxwell pun membantunya.
"Maafkan aku Honey...Aku terlalu kasar ya...?", Maxwell menatap khawatir.
"Tidak Hubby. Engkau sudah lembut melakukannya. Ini katanya biasa dan cuma sebentar saja kok", Ayesha mencoba bangun dari ranjang dan berdiri perlahan setelah memakai kardigannya kembali. Maxwell yang menyibakkan selimut mereka refleks terkejut begitu melihat bercak darah di bed cover putih. Oh God, pasti sakit sekali, batinnya ngilu. My Wife, kau selalu tersenyum menyejukkan bahkan dengan rasa sakit ini? Maxwell tercenung sejenak dan semakin kagum dengan sosok istrinya. Engkau sungguh seorang malaikat, benar kata Ali, batinnya.
"Tunggu Honey", Maxwell segera memakai kembali pakaiannya dan begerak turun. Ayesha yang semula hendak berjalan ke kamar mandi menoleh ke suaminya. Mendadak ia merasakan tubuhnya melayang seolah hendak terjatuh. Namun beberapa detik berikutnya ia pun sadar bahwa kini ia sudah dalam gendongan pria tampan suaminya yang dengan gagahnya mengangkat tubuhnya ala bridal style. Ayesha tersipu dan refleks menggelayutkan tangannya dengan manja ke leher Maxwell. Keduanya pun bergegas menuju kamar mandi dan membersihkan diri sambil bercanda. Terdengar kecipak air dan sesekali tawa tertahan dari keduanya yang hanya Allah, malaikat dan keduanya yang tahu. Karena ruangan itu kedap suara.
Setelah adegan mandi bersama, sholat subuh berjamaah dan tilawah bersama, sepasang insan yang sedang kasmaran itu kini sudah duduk bersisian di meja makan untuk makan pagi. Sudah ada Bibi Cristine dan Paman Sam yang berdiri dengan setia menanti di dekat mereka. Ayesha melirik keduanya dengan isyarat meminta mereka duduk bersama, namun keduanya tidak bergeming dan tetap pada posisinya. Maxwell yang menangkap tatapan sang istri lalu berdehem
"Ehm, apakah mereka lebih penting dariku?"
"Oh, ya...maaf Hubby... Emm, bolehkah Bibi dan Paman duduk bersama kita? Aku sudah menganggap mereka seperti saudara sendiri", Ayesha melirik suaminya meminta ijin. Tangannya dengan telaten mengambilkan roti dan isi sandwich kesukaan sang suami. Kemudian bergerak kembali menuangkan segelas jus jeruk segar.
"Bibi dan Paman Sam, tidakkah kalian dengar perkataan My Queen?", Maxwell menjawab perkataan Ayesha tanpa menoleh kemanapun kecuali ke suapan roti yang diberikan Ayesha kepadanya. Ayesha tersenyum dari balik cadarnya dan kemudian menatap ke arah kedua orang yang disebut suaminya itu.
Bibi Cristine dan Paman Sam saling berpandangan dan kemudian serentak berucap.
"Maafkan kami Tuan dan Nyonya".
"Apakah kalian tidak mau makan bersama kami?", tanya Ayesha.
"Kami sudah makan tadi. Kami hanya ingin memastikan Tuan dan Nyonya tidak memerlukan apapun lagi ketika makan pagi ini", Paman Sam menjelaskan dengan menunduk.
"Ya, Nyonya. Kami sudah makan tadi. Lain kali kami akan ikut bersama makan di sini. Sekarang kami minta ijin ya Nyonya", Bibi Cristine menambahkan. Keduanya pun pamit setelah Ayesha mengijinkan.
"Sudah cukup Hubby, aku sudah kenyang", Ayesha menggeleng pelan dan menahan tangan Maxwell yang akan menyuapinya dengan sesendok salad.
"Baiklah. Minum lemon tea-nya!"
Ayesha mengangguk dan meminum tea yang diberikan Maxwell ke mulutnya. Keduanya bersitatap dengan pandangan penuh binar-binar cinta.
"Aku juga sudah kenyang", Maxwell menolak ketika Ayesha hendak membuatkan kembali rotinya.
"Habiskan jusnya ya", Ayesha pun berlaku sama dan memberikan gelas jus langsung ke bibir suaminya. Suasana romantis pun terus berlangsung hingga mereka selesai dengan serangkaian hidangan pagi. Maxwell menahan Ayesha untuk berdiri ketika ia melihat sesuatu di bibir sang istri. Sejenak diambilnya tisu dan melap bibir Ayesha dengan penuh kelembutan. Ayesha pun tersenyum dan kini tangannya bergantian terulur ke wajah Maxwell.
"Apakah ada noda?", tanya Maxwell.
"Tidak, aku hanya..."
Tiba-tiba Ayesha berdiri dan mendaratkan ciuman ke kedua pipi suaminya dengan cepat lalu tersenyum nakal. Maxwell terkesima dan langsung menangkap sang istri yang hendak melarikan diri.
"Hendak kemana hm?", Maxwell memeluk istrinya dari belakang dengan erat.
"Honey harus bertanggung jawab sekarang. Ia sudah bangkit lagi.", Maxwell berbisik sambil menggigit pelan telinga wanita pujaannya. Ayesha seketika menoleh ke wajah sang suami untuk menghindari gigitan yang menggelikan itu. Kedua mata mereka pun kembali bertemu dan refleks Maxwell melahap bibir menggoda di depannya.
"Hmmm, siapa takut?", Ayesha menjawab amat pelan di sela-sela kemesraan mereka berdua. Mendadak sang pria yang sudah kembali terhipnotis dengan pesona wajah bidadarinya mengangkat tubuh langsing itu dan sedikit berlari menuju kamar mereka. Ayesha terkejut namun tertawa pelan karena menerima tingkah suaminya yang tak terduga itu. Ia pun mengeratkan pegangannya ke tubuh Maxwell.
"Hubby, hati-hati".
"Aku sudah tidak sabar. Kau seperti candu bagiku"
"Hubby tidak ke kantor?"
"Bukankah aku Boss-nya?", Maxwell tersenyum berlagak seperti orang sombong. Ayesha pun kembali tertawa. Maxwell menyentuhkan hidungnya ke hidung sang istri sambil terus berjalan menaiki tangga. Ayesha tersenyum penuh rasa bahagia dan kemudian memasukkan kepalanya ke ceruk leher sang suami dengan manja. Keduanya pun sudah masuk kembali ke kamar dan menguncinya dan lagi-lagi melampiaskan hasrat menggebu sang pengantin baru.
Sementara itu, dua pasang mata tua yang sedari tadi mengintip semua kemesraan sepasang insan itu kini nampak saling melempar senyum di bawah sana, di balik lemari makan.
"Tuan sudah berubah. Benar-benar berubah", ujar Paman Sam. Yang diajak bicara hanya mengangguk dan turut tersenyum.
"Wanita itu bukan perempuan sembarangan. Kita harus cari tau siapa sebenarnya dia", sahut Bibi Cristine.