A Mafia'S Love For A Muslimah

A Mafia'S Love For A Muslimah
Episode 121. Aku Terlalu Merindukanmu



Ayesha membuka matanya. Sang suami terlihat bahagia menatapnya. Mereka hanya berdua di dalam kamar yang cukup luas dan asri. Tiga buah pot bunga cukup besar menghiasi sudut kamar bertirai hijau muda itu, menguarkan aroma sejuk dan wangi bunga yang alami. Pagi menjelang siang ini jadi terasa segar karenanya. Ayesha tersenyum manakala terbangun langsung disambut pancaran wajah tampan suaminya yang nampak lega melihat sang istri sudah siuman.


"Hubby...."


"Sayang....syukurlah kau sudah bangun...", Maxwell langsung membelai rambut emas istrinya dengan sayang.


"Alhamdulillaah...aku baik-baik saja...jangan cemas...", Ayesha bisa menangkap kekhawatiran di wajah Maxwell.


"Syukurlah...dokter juga mengatakan engkau hanya kelelahan saja...".


"Alhamdulillaah...".


"Honey...kita tinggal di sini dulu ya...untuk keamananmu dan buah hati kita juga..."


"Boleh Hubby...dimanapun bumi Allah...asalkan untuk kebaikan...aku ikut saja..."


"Terima kasih Sayang...engkau harus selalu aman dan sehat...jangan sampai terjadi apapun padamu dan buah hati kita...jika tidak...aku akan menjadi orang yang paling menderita di dunia ini...dan pasti akan merasa paling bersalah untuk kesekian kalinya...".


"Sssttt....jangan bicara seperti itu lagi...lebih baik berdoalah untuk kesehatanku, bayi kita, kesehatan Hubby, juga kesehatan semua orang yang kita sayangi dan yang menyayangi kita dengan tulus..... Itu lebih baik, Sayang..."


"Engkau benar-benar seorang malaikat..."


"Tidak. Aku juga manusia biasa. Banyak sekali melakukan kesalahan, sama seperti Hubby..."


"Tidak. Engkau tidak pernah melakukan kesalahan apapun"


"Pada Hubby mungkin tidak, tapi mungkin pada orang lain, ya. Itu sebabnya setiap orang baik sekalipun akan ada musuhnya bukan?", Ayesha tersenyum bijak. Ia merasa lebih kuat, mungkin suntikan obat ke tubuhnya dari dokter memberikannya energi baru.


"Engkau benar, Sayang", Maxwell selalu dipenuhi rasa kagum pada bidadari cantik di depannya.


"Sayang...sekarang makanlah, biar tubuhmu bisa lebih kuat", Maxwell pun mengambil semangkuk sup hangat di meja kecil dekat bed dan menyuapi dengan hati-hati sang istri yang tersipu karena diperlakukan dengan begitu perhatian oleh sang suami.


"Terima kasih Hubby..."


"Dont mention it untuk sebuah kewajiban, Sayang..."


"Tapi aku sebenarnya masih bisa makan sendiri Sayang..."


"Ijinkan aku melayanimu..."


"Baiklah...", Ayesha kehabisan kata-kata karena suapan demi suapan diberikan Maxwell padanya dengan penuh kelembutan. Sesekali Ayesha juga membalas dengan mengarahkan sendok makanan yang berisi itu ke arah sang penyendok. Keduanya tersenyum bersama.


Sementara itu, di luar kamar, sorot mata lega semua orang di ruang tamu kentara begitu mengetahui sang majikan yang sedang mengandung generasi yang diharapkan sudah sadar dari pingsannya. Ayesha yang tidak sadar selama setengah jam dikabarkan sudah baik-baik saja. Mereka pun bubar dan melaksanakan aktivitas masing-masing. Sang kakek sendiri kembali ke kamarnya yang ada di bagian tengah untuk beristirahat karena sejak beberapa tahun belakangan ini ia memang mudah lelah di tengah penyakit tuanya yang sering kambuh. Sedangkan Mark dan Pavlo masih nampak berjaga di teras rumah. Beberapa pengawal lainnya berpencar di pos mereka masing-masing. Tetap berjaga di mana pun mereka berada.


"Bagaimana kabar pernikahanmu?"


"Ah Tuan tau saja perkembanganku, padahal pernikahanku sangat tertutup"


"Tentu saja. Tak ada yang tak ku tau tentangmu meski jauh dariku"


"Mata Anda begitu banyak Tuan", Mark tersenyum. Ia kembali membayangkan wajah cantik sang istri. Dia pasti sedang kesal sekarang karena aku sudah ingkar janji, keluhnya dalam hati.


"Dia gadis yang baik, tapi bersiaplah dengan segala resikonya. Semoga engkau beruntung Mark", Pavlo membayangkan sang majikan yang tidak mudah ditebak jalan pikirannya.


"Maksud Anda?"


"Nanti Engkau tau juga..."


Mark hanya menggelengkan kepalanya bingung. Ia menyerah dan hanya pasrah saja. Ia tak mau ambil pusing dengan rasa penasaran tingkat tinggi akibat perkataan sang Boss, yang penting sekarang ia harus berpikir bagaimana caranya membuat Grace tidak marah karena ia meninggalkannya begitu saja. Mark hanya sempat mengiriminya pesan bahwa ia ada misi penting yang tak bisa diberitahukan saat ini.


Mark menarik nafas sejenak. Pikirannya mengembara mencari ide, hingga kemudian sebuah tepukan di bahu membuyarkan lamunannya.


"Kau ingin lari dari kemarahan wanitamu, bukan?" Suara Pavlo mengejutkannya.


"Dari mana Tuan tau?"


"Tentu saja. Wajah bodohmu itu mudah ditebak", Pavlo menyeringai mengejek.


"Cukup kau berikan apa yang disukai seorang wanita. Apalagi kalian baru saja menikah, bukan?", Pavlo kemudian pergi begitu saja meninggalkan sang anak buah yang termangu mencerna kata-katanya.


"Ah Anda benar, Tuan. Aku tau", gumam Mark tersenyum. Ia pun nampak bersemangat dan bergegas keluar menyambar mobil yang ada, dan dengan bantuan google map di ponselnya kini pria gagah tersebut sudah menjelajahi kota menyusuri beberapa toko dan kembali satu jam kemudian di siang menjelang sore hari dengan wajah sumringah.


"Kau nampak bahagia sekali, Paman", suara sang Big Boss menyambut kepulangan Mark di teras samping rumah besar. Mark merasa asing dengan panggilan sang Boss Besar.


"Bukankah istrimu adalah saudaraku?", Maxwell bertingkah cuek dengan menyeruput kopinya. Ia paham sang ajudan terheran dengan sebutan barunya. Mark pun tersenyum canggung.


"Apa yang kau bawa untuk saudaraku, hah?"


"Aku...", Mark tiba-tiba kemudian membungkuk hormat.


"Maaf Tuan. Mohon ijin Tuan. Saya ingin kembali ke mansion jika Tuan Ijinkan", Mark menunduk dalam. Hatinya was was akan ijin yang diberikan, tapi ia sedang berusaha. Wajah Grace terus membayanginya.


"Tak semudah itu...", Maxwell tersenyum kecil melirik tingkah laku sang ajudan.


"Mohon maaf Tuan jika saya lancang"


"Kau memang sudah lancang"


"Baik, saya tak akan pergi sebelum Tuan memberi ijin", Mark berdiri tegak dan hendak berbalik pergi.


"Siapa yang menyuruhmu pergi?"


Mark pun urung melangkahkan kakinya dan kembali berbalik menghadap sang Boss Besar. Pria yang baru saja menikah itu kemudian menatap sang Boss.


"Kau sudah dua kali minta maaf padaku. Sungguh mudah sekali meminta maaf", Maxwell melirik sang ajudan yang menundukkan kepalanya.


"Kau tadi barusan mengatakan ingin kembali ke mansion, bukan? Apa aku melarangmu?"


"Tuan belum memberikan saya izin"


" Lalu apa jawabku?"


"Tuan mengatakan tak semudah itu..."


"Jadi menurutmu... apa artinya?"


"Maafkan aku Tuan..Aku sangat lancang minta izin padahal kita baru saja sampai di sini", Mark menelan ludahnya kelu.


"Menurutmu engkau lancang meminta begitu?"


"Maaf Tuan", Mark bingung dengan sikap dan perkataan sang majikan. Tidak biasanya Maxwell Powell bersikap sedemikian dan membuatnya bingung.


"Apa aku melarangmu untuk pergi kembali ke mansion? Apa aku ada mengatakan begitu?"


"Tidak ada Tuan".


"Cepat sekali mengambil kesimpulan....hmmm... aku katakan padamu tak semudah itu... artinya ada syarat yang harus engkau kerjakan agar engkau segera kembali ke sana"


"Mark dengan tatapan berbinar langsung mengangkat kepalanya memandang ke sang majikan.


"Apa yang harus saya lakukan Tuan?"


Maxwell pun tersenyum.


"Kau.... harus segera kembali ke mansion dan tiba di sana paling lambat sebelum subuh, itu syaratnya", Maxwell dengan cueknya kemudian berlalu meninggalkan Mark menuju ke kamarnya kembali.


"Apa?" Mark terkejut dan segera tahu apa yang dimaksud oleh Maxwell. Lelaki Rusia itu seketika tersenyum sumringah dan kemudian berbalik pergi.


"Terima kasih Tuan", gumamnya sambil berjalan tergesa. Tanpa menunggu lagi Mark pun bergegas pergi menuju kamarnya yang baru beberapa menit dipakainya dan mengemasi barang-barangnya. Tak lama dia pun diantar oleh beberapa pengawal kembali ke bandara dan terbang dengan jet pribadi sang majikan menuju ke kediaman sang istri yang sedang menunggunya dengan galau.


Setiba di mansion, Mark buru-buru membersihkan diri di kamar mandi bawah dan mengenakan pakaian favoritnya yang baru dibeli di perjalanan. Dengan tampilan barunya ia pun menjumpai sang istri yang sedang berada di kamar mereka di lantai dua.


"Tok. Tok. Tok"


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Grace, yang sedang duduk di balkon menikmati sejuknya udara pagi dengan secangkir susu coklat hangat.


"Bibi? Masuk saja", ujar perempuan berambut ikal hitam dan panjang yang sedang tanpa hijab itu. Balkon kamarnya memang terlihat aman dari para pengawal pria di mansion. Terdengar suara pintu dibuka perlahan, dan Grace tidak menyadari siapa yang datang. Tiba-tiba ia merasakan ada sepasang tangan yang menutup kedua matanya dari belakang. Bau parfum dan deru nafas yang cukup dikenalinya menyeruak indra penciumannya. Seketika bibirnya tersenyum.


"Suamiku...", lirih suara sang muslimah menyebut pria yang sedang memberinya kejutan tersebut.


"Sayang...", Mark merasa sangat bahagia mendengar panggilan sang istri. Dengan perasaan sangat lega karena suara Grace yang tidak nampak marah, ia pun melanjutkan aksinya.


"Sayang...pejamkan matamu. Jangan melihat ya...please..."


Grace menurut. Ia tetap memejamkan matanya. Kemudian ia merasakan sesuatu yang dingin menyentuh kulit tengkuknya. Terasa tangan kekar menyibak rambut indahnya dan sebuah benda pun tersemat di lehernya. Tak sampai di situ, kini tangan kirinya juga turut dijamah, dan sesuatu pun melingkari pergelangannya, lalu diakhiri dengan sesuatu yang masuk ke jari manisnya. Grace bisa menebak semuanya. Tanpa mampu menahan lagi, ia pun membuka matanya dan mendapati wajah tampan sedang menatap lekat wajahnya dengan penuh binar cinta. Tak sempat bersuara lagi, bibir sang wanita yang sedang terbuka sedikit karena takjubnya sudah disambar dengan penuh kelembutan. Awalnya sang suami mencium dengan perlahan, namun tak ayal, beberapa waktu kemudian terasa sebuah gairah tertahan turut serta dalam ciuman tersebut, hingga Grace kesulitan bernafas.


"Sayang... maaf....aku terlalu merindukanmu...", Mark menyudahi sentuhan bibirnya.


Grace menundukkan wajahnya dengan pipi merona karena malu yang luar biasa. Ya Allah, untung tadi aku sudah mandi karena merasa gerah di pagi hari, batin Grace mensyukuri apa yang sudah dilakukannya di pagi hari ini, padahal sejak sakit ini dia bahkan belum pernah mandi dengan sempurna seperti hari ini. Tapi entah mengapa, hari ini sepertinya dia sedang diberikan firasat oleh Tuhan untuk membersihkan diri menyambut kepulangan sang suami yang dua hari lalu mendadak pergi.


"Kamu suka?", Mark menatap ke dalam bola mata Grace yang masih menunduk. Tangan kekar itu menyentuh dagu di depannya dan pelan menghadapkan wajah indah di sana ke arah wajahnya.


"Apa?", Grace tergagap.


"Kamu suka dengan yang ku berikan?", Mark menyentuh tangan Grace dimana ada sebuah cincin bermata berlian merah di jari manis tersebut. Grace mengerjapkan matanya dan melihat perhiasan yang sangat indah yang baru melekat di jari, pergelangan tangan dan juga lehernya. Semuanya berwarna putih dengan berlian kecil berwarna merah hati yang nampak bercahaya.


"Suamiku...ini terlalu indah...dan pasti sangat mahal...aku...", Grace tak bisa melanjutkan kata-katanya karena sudah tertutup oleh jari tangan Mark yang menutup bibirnya.


"Perhiasan yang indah dan mahal...hanya untuk seorang wanita yang jauh lebih indah dan cantik dari apapun...satu-satunya yang aku cintai... istriku...", Mark lagi-lagi mengejutkan Grace dengan tingkah romantisnya. Pria yang baru beberapa hari ini menjadi pendamping hidupnya itu menarik kedua tangannya dan bergantian mengecupnya dengan lembut. Grace betul-betul tersipu malu dan diliputi bunga cinta dalam kalbunya.


"Suamiku...terima kasih...", Grace tak mampu mengucapkan apapun untuk membalas perkataan Mark. Ia hanya mampu tersenyum malu dan memeluk erat suaminya tatkala lelaki gagah itu telah merengkuh tubuhnya yang sedang duduk di kursi roda ke dalam pelukan yang hangat.


"Kau nampak cantik sekali pagi ini, Sayang..."


"Suamiku juga nampak sangat tampan".


Kedua pasang mata biru dan coklat itu saling berpandangan setelah berpelukan. Mark memandangi wajah Grace yang terlihat lebih cerah dari sebelumnya, dengan pakaian dress sutra putih berlengan pendek. Rambut hitam ikal tergerai masih lembab karena baru keramas dan tercium wangi menyegarkan. Wajah tanpa polesan apapun tapi terlihat segar dengan keharuman tubuh wanita yang lembut menggoda jika didekati dengan jarak sangat dekat. Demikian pula dengan Grace, wanita cantik itu pun terkesima dengan penampilan Mark yang baru. Wajah yang bersih tanpa kumis dan jambang. Rambut coklat yang lebat dan rapi tersisir. Memakai kemeja putih bergaris yang berukuran pas di badan dengan lengan panjang yang digulung sampai siku, dipadukan dengan celana jeans lembut berwarna biru muda yang melekat pas di tubuh kekarnya yang tinggi dan berotot. Grace diam-diam mengagumi ketampanan suaminya.


Mark tak mampu membendung lagi kerinduannya. Ia kemudian meraih tubuh istrinya dan mengangkatnya masuk mendekati tempat tidur. Dibaringkannya Grace di ranjang dan berbalik cepat menutup pintu balkon. Ia bergerak kembali dan mendekati wanitanya yang sedari tadi memperhatikan gerak-geriknya dengan pikiran dan hati yang gelisah.


"Sayang...apakah kaki ini masih sakit sekali?"


"Sudah lumayan membaik..."


"Apakah aku menyakitimu?"


Mark bergerak perlahan naik ke ranjang dan kini menindih sang istri dengan tangan yang kokoh menahan di samping tubuh Grace.


Grace menggeleng pelan.


Mark tersenyum bahagia. Ia mendekatkan wajahnya dan kini keduanya larut dalam ciuman yang memabukkan. Refleks Grace memeluk leher Mark dan menginginkan lebih. Tubuhnya mengikuti hati yang dipenuhi kerinduan yang sama dengan makhluk tampan yang sedang mencumbunya saat ini. Sekilas wanita cantik berkulit putih itu teringat dengan kata-kata di pesan yang dikirim Ayesha tadi malam. Sang Nyonya telah mengirimnya pesan, minta maaf padanya karena harus mengambil suaminya dari sisinya untuk tugas pengawalan yang penting, dan memastikan padanya bahwa Mark sangat menyayangi dan merindukannya. Mark sangat merasa bersalah dan minta maaf karena tidak menepati janjinya untuk selalu berada di sisinya di saat ia sedang sakit akibat kecelakaan yang mematahkan kakinya saat ini.


Grace menyembunyikan wajahnya dengan memalingkan wajahnya ke samping tatkala Mark kini mulai berani membuka kancing bajunya setelah cumbuan panas yang berlangsung beberapa saat lamanya. Wanita itu kini merasa mulai takut. Akankah suaminya meminta malam pertamanya di pagi hari ini? Grace mulai menggigit bibirnya ngilu. Ia pernah membaca betapa sakitnya seorang wanita yang mengalami malam zafaf. Ahhhhh, Grace segera menutup matanya.